
"Apa kabar, Sayang? Sudah lama kita tidak bertemu." Bara berbicara dengan anak-anaknya yang berada dalam perut Embun, dan herannya Embun hanya membiarkan Bara melakukan interaksi itu dengan bayi yang masih berada dalam kandungannya itu.
"Rena, kita bertemu lagi." Ucap Rey sambil mengedipkan sebelah matanya. Jangan tanya bagaimana tanggapan Rena, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain agar tak melihat Rey, orang yang paling menyebalkan menurutnya.
"Bagaimana bisa mereka berada di sini?" Tanya Rena yang menatap tajam pada Belle. Belle langsung terlihat gugup, tapi secepat mungkin dia menetralkan kegugupannya agar tak ketahuan. Bisa gawat kalau dia merasa salah tingkah, bisa-bisa bukan Brandon yang membuka rahasianya, tapi dia sendiri.
"Kenapa melihatku? Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mengajak Brandon. Tidak mengajak tiga pria itu." Sahut Belle yang berusaha sesantai mungkin agar tidak dicurigai.
Sekarang aku tahu, pasti pria ini yang sudah membooking taman bermain ini. Lihat saja, aku tidak akan memudahkanmu!
Embun terus melihat tajam ke arah Bara. Sedangkan Bara, dia hanya cengengesan karena mendapat tatapan seperti itu dari Istrinya itu.
"Jingga, kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Bara sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bukan aku yang melihatmu seperti itu. Tapi ini keinginan anakmu saja. Jadi aku hanya menuruti keinginan mereka. Ada masalah?" Embun menjawab pertanyaan Bara dengan tatapan datarnya.
Mendengar Embun mengucapkan hal yang tidak masuk akal seperti itu, mereka semua berusaha menahan tawanya. Bara menyadari itu, langsung menatap tajam pada mereka semua, 'Jika ada yang berani tertawa, aku akan menghabisinya!' begitulah arti dari tatapan Bara.
Mereka semua langsung terdiam, tapi perutnya seperti digelitik oleh bulu ayam. Seberapa pun mereka mencoba menahan tawanya, tetap saja mereka akan kelepasan.
"Ayo kita cari taman bermain yang lain." Ucap Embun membuat mereka benar-benar berhenti tertawa.
"Kenapa tidak di sini saja?" Tanya Rey yang merasa heran. Dia tahu kalau taman ini sudah di sewa oleh Bara, tapi dia tidak mengatakannya.
"Aku tidak suka di sini, tempatnya terlalu sepi." Jawab Embun. Bara melihat sekeliling, dan benar saja, tempat itu memang benar-benar sepi. Tapi, tempat itu sepi juga karena sudah di sewa olehnya. Mana ada yang berani masuk lagi untuk hari itu.
"Tidak apa-apa sepi, Jingga. Kalau di tempat yang ramai, takut ada yang tidak sengaja bersentuhan denganmu dan berbahaya dengan perutmu." Ujar Bara. Dia memang sangat mengkhawatirkan kandungan Embun. Kalau tidak, tidak mungkin dia sampai menyewa seluruh taman bermain itu, padahal hanya untuk tujuh orang saja.
"Aku ingin liburan, mencari suasana baru di tempat keramaian. Kalau sepi seperti ini, lebih baik aku tidur di rumah saja, kan sama saja suasananya." Jawab Embun datar. Jawabannya juga dibenarkan oleh semua orang termasuk Bara.
"Ya sudah, ayo kita mencari tempat yang lain." Ajak Daniel yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ayo, Sayang. Kita tidak usah bergabung bersama mereka." Bara sudah memegang tangan Embun agar istrinya itu mau naik mobilnya. Tapi, lagi-lagi dia harus kecewa.
"Tadi aku pergi bersama Belle. Jadi, sekarang aku juga harus pergi dengannya." Tolaknya yang memang masih keberatan dengan kehadiran Bara disisinya.
*******
Tujuan mereka tetaplah taman bermain. Sekarang, mereka sedang menuju salah satu taman bermain yang tidak kalah terkenal dari Park Kellermann. Di lihat dari luar saja, sepertinya sangat ramai orang yang berkunjung masuk.
Embun terlihat sangat antusias, dia melihat ramainya orang-orang yang berada di sana perasaannya menjadi senang dan bahagia. Karena perasaannya senang, bayi yang berada di dalam kandungannya juga ikut merasa terbawa dengan perasaan si ibu. Mereka mulai bergerak seirama. Embun sampai menggigit bibir bawahnya karena merasakan ngilunya saat dua bayi bergerak bersamaan.
Mereka turun dari salam mobil. Bara sudah menunggunya di luar dan langsung memegangi tangan Embun seperti takut kehilangan Embun, dia takut kalau wanitanya akan ditelan dalam keramaian.
Embun melihat genggaman Bara yang erat tapi tak menyakitinya, ada perasaan berbeda dalam hatinya, tapi dia juga tidak tahu jelas perasaan apa itu.
"Ayo, aku sudah meminta bawahanku untuk membeli tiketnya. Kita tinggal masuk saja." Bara mulai menyeret tangan Embun. Tapi orang yang ditarik tak beranjak sama sekali, Embun masih diam, terpaku ditempatnya.
"Ayo, Sayang. Kenapa masih berdiri di sini?" Tanya Bara lembut, tangannya masih menggenggam tangan Embun.
Sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan aneh itu? Tapi ya sudahlah. Lupakan, kembali pada rencanaku saja.
"Siapa bilang kita masuk dengan tiket yang diperankan oleh bawahanmu itu?" sarkas Embun.
"Lalu, bagaimana?" Bara sudah mewanti-wanti, entah kenapa perasaanya jadi tak enak.
"Bara, bayi kita ingin kamu mengantri di sana. Dia ingin Ayahnya merasakan jerih payah untuk memperjuangkannya." Ucapnya sambil pura-pura tersenyum. "Iya kan, Sayang?" Dia berbicara dengan perutnya sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Lalu, tiket yang sudah dipesan bagaimana?" Tanya Bara, wajahnya sudah berubah pias. Dia juga bingung, ini benar-benar permintaan bayinya atau hanya akal-akalan Embun saja untuk mengerjainya.
"Biarkan untuk mereka. Biarkan mereka masuk terlebih dahulu." Jawab Embun enteng, dia tidak memikirkan perasaan Bara. Seorang Presdir perusahaan terkenal yang disegani banyak orang, malah di suruh mengantri panjang bersama orang-orang yang tak dikenalnya. Menjadikannya rendah diri dan bersabar dalam menunggu.
"Apakah tidak bisa kita langsung masuk saja?" Bara terlihat keberatan. Sungguh baru kali ini dia diminta seperti itu oleh seseorang, tapi dia masih berusaha menawar. Biasanya, jika ada yang meminta yang aneh-aneh sedikit saja, pasti akan langsung dilempar ke luar olehnya.
Mungkin, inilah hari pembalasan untuknya.
"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan mengantri sendiri!" Tandas Embun, dia mulai berjalan menuju tempat antrian pembelian tiket. Bara melihat kerumunan yang tiada habisnya, tanpa pikir panjang, dia langsung menghentikan langkah Embun.
"Baik, aku akan pergi mengantri." Bara akhirnya mengalah. Dia mulai mengantri, banyak orang yang berbisik-bisik dan memberikannya kesempatan menyerobot antrian. Tapi, dia tidak mau karena takut Embun akan menyuruhnya untuk mengulang dari yang paling belakang lagi. Embun sedari tadi mengawasi Bara dengan duduk di bangku yang tersedia sambil memakan ice cream vanilla nya.
Setelah dua jam mengantri, akhirnya Bara mendapatkan dua buah tiket, sesusia dengan kemauan Embun. Meskipun dia kewalahan, tapi dia tetap menampakkan senyuman termanisnya untuk Embun.
"Ayo kita masuk." Ajak Embun. Embun baru menginjakkan kakinya, dan dia sudah disuguhi dengan pemandangan yang sangat dia impikan selama ini. Dia memang tak pernah datang ke taman bermain sebagus ini, sewaktu kecil dia datang hanya saat ada pameran. Itu pun, dia harus mencuri-curi waktu agar dapat memenuhi permintaan Rena.
"Kamu mau naik yang mana?" Tanya Bara. Bara dapat melihat Embun begitu antusias melihat pemandangan di depannya.
"Semuanya! Aku mau naik semuanya!" Ucapnya sambil memeluk lengan Bara karena gemas dengan yang dia lihat.
"Termasuk roller coaster itu?" Tanya Bara sambil menunjuk ke arah roller coaster yang sedang berada di puncak, terlihat sangat seperti sedang terbang di awan.
"Tidak. Aku masih harus memikirkan dua anak ini. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada mereka." Jawabnya sambil menggeleng cepat. Sebenarnya dia juga ingin naik itu. Tapi, lagi-lagi dia tak boleh egois, harus memikirkan hal lain, karena sekarang dia tidak sendirian.
Bara menghela nafas lega. Akhirnya kekhawatirannya terjawab dan tak akan terjadi. Rena, Rey, Belle dan Daniel datang menghampiri mereka. Mereka terlihat tertawa sambil melompat-lompat seperti anak kecil karena merasa kegirangan.
"Kak, kita naik yang mana dulu? Aku bingung." Ucap Rena menggebu-gebu. Mereka tadi hanya berkeliling untuk melihat-lihat. Belum naik karena menunggu Embun, ingin naik bersama-sama agar lebih seru.
"Kalian sudah naik yang mana saja?" Tanya Embun sembari menatap Belle dan Rena bergantian.
"Belum. Kami menunggumu, Kak. Ayo kita pilih secara random, yang mana yang Kakak ingin naiki?" Tanya Belle.
"Dia sedang dijaga oleh pengasuhnya, Kak. Dia menyuruhku pergi agar tidak mengganggunya." Belle mencebikkan bibir saat menjelaskan tentang Brandon tadi.
Embun melihat ke arah Bara. Saat Embun menatap Suaminya itu, terbesit rasa kasihan dalam hatinya. Tapi, dia langsung mengalihkan pandangannya agar tak terlalu lama menatap dan menjadi semakin kasihan.
"Ayo naik bianglala." Ajak Embun.
"Ayo!" Jawab Rey dan Daniel bersamaan. Sejenak mereka saling pandang dan tertawa.
Permainan yang pertama mereka naikin adalah bianglala sebagai tahap pembukaan. Dalam satu bianglala, mereka duduk secara berpasang-pasangan. Embun bersama Bara, Belle dan Daniel, dan yang terakhir, Rey dan Rena.
Awalnya Rena menolak, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin dia menolak dan mengganggu kebersamaan Belle atau Embun. Jadi, meskipun dengan wajah kecut, dia juga terpaksa naik bersama Rey.
Bianglala pun terus berputar, Bara yang awalnya duduk berhadapan dengan Embun, kini berpindah posisi duduk di samping Embun. Dia merebahkan kepalanya di bahu Embun dan mengusap perut Embun perlahan. Mungkin dua bayi itu tahu, yang mengusap mereka adalah Ayahnya. Dua bayi itu bergerak-gerak hingga Embun dibuat meringis.
"Jingga, bisakah kita berbaikan? Aku sangat merindukanmu. Aku menyesal dengan semua yang pernah aku lakukan padamu. Mohon, maafkan lah aku, Jingga!" Seru Bara memohon.
Embun menghela nafas. Dia sangat gundah kalau Bara sudah mulai membicarakan tentang ini lagi. Hati kecilnya masih sangat berat untuk memberi satu kesempatan pada Bara lagi. Setiap dia ingin memaafkan Bara, kejadian-kejadian lalu kembali bermunculan di kepalanya, seperti rekaman yang sedang diputar. Dan, keraguannya pun kembali muncul.
"Bara, aku sudah memaafkan kamu. Tapi, kalau untuk kembali seperti dulu, aku harus berpikir ulang seribu kali. Atau, mungkin saja tidak akan pernah sama sekali." Sahut Embun dengan berat hati.
"Jinga, ku mohon, jangan seperti ini. Cobalah untuk saling memaafkan aku. Aku berjanji, tidak akan menyakitimu lagi seperti yang sudah-sudah." Ucap Bara bersungguh-sungguh.
"Tapi, Bara...." Belum sempat Embun menyelesaikan ucapannya, Bara sudah membuatnya diam dengan membungkam mulutnya.
Sekarang bianglala sedang berada di paling atas, searah jarum jam angka dua belas. Bara tak mau lagi mendengar alasan yang menyakitkan dari mulut Jingganya. Jadi dia membungkam mulut itu dengan caranya sendiri.
__ADS_1
CUPP
Bara mengecup bibir Embun. Tapi, lidah Bara mulai bermain menuntut agar Embun membuka mulutnya. Embun tetap menutup mulutnya sekuat tenaga. Akhirnya, Bara terpaksa menggunakan jurus terakhir yang terpikirkan begitu saja olehnya.
Bara menyentuh pinggang Embun membuat wanita itu merasa geli, dia ingin tertawa karena merasa geli. Jadi, secara refleks Embun membuka mulutnya. Tak membuang-buang kesempatan, Bara langsung memperdalam ciuman itu menjadi semakin panas dan semakin menuntut.
Setalah dirasa Embun sudah hampir kehabisan nafas, barulah dia melepaskan pagutan mereka.
"Bara, berani-beraninya kau melakukan itu!" Embun memelototi Bara karena tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh pria itu. Berani-beraninya mencuri kesempatan.
"Aku hanya mengambil kesempatan yang ada. Kasihan kalau di sia-siakan." Jawabnya tanpa beban.
Di bianglala yang lain, Belle dan Daniel sama-sama diam. Perasaan Belle sudah menggebu-gebu sekarang. Tapi, tidak tahu dengan laki-laki di depannya itu. Daniel hanya memasang wajah datarnya saja.
Apakah dia sudah memiliki tambatan hati? Kenapa dia dingin sekali terhadapku. Mungkin hanya aku yang mencintainya.
"Kak, Daniel?!" Panggil Belle membuat Daniel yang semulanya melihat ke arahnya, menjadi menatap ke arahnya dan menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda bertanya.
"A-apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?" Tanya Belle. Meskipun terbata-bata, tapi ucapan itu lolos juga dari mulutnya.
Daniel hanya terkekeh pelan mendengar pertanyaan konyol dari Belle. Dia juga bingung harus menjawab apa. Tapi, menurutnya lebih baik dia jujur dan menjawab apa adanya saja.
Jujur itu lebih baik, kan?
"Kekasih belum ada," Jawab Daniel membuat Belle tersenyum dan wajahnya juga ikut cerah.
"Tapi, kalau orang yang aku sukai, tentu ada." Imbuhnya lagi membuat senyum di wajah Belle menyurut dan wajahnya tak secerah tadi, alias mendung.
"Orang yang kamu sukai? Si-siapa, Kak?" Tanya Belle memaksakan senyumnya.
"Hahaha. Kamu ingin tahu? Rasanya sangat konyol jika aku menceritakan tentangnya." Daniel kembali terkekeh sembari menerawang seseorang.
"Hehe, itu juga kalau Kakak mau menceritakannya. Kalau tidak, tidak apa-apa sih." Jawab Belle.
"Hahaha. Kamu kenapa cemberut begitu?" Daniel mencuil hidung Belle karena gemas.
"Ayo, Kak. Cepat ceritakan tentangnya."
Agar aku bisa berubah seperti dirinya, dan belajar darinya cara membuatmu jatuh hati padanya.
"Aku menyukai Adik temanku sendiri. Konyol kan?"
"Tidak. Lalu, apakah dia juga menyukaimu?" Tanya Belle. Dia berharap wanita yang dimaksud Daniel tidak menyukai Daniel, jadi dia masih punya kesempatan.
"Aku tidak tahu. Aku terlalu takut untuk bertanya. Takut jawabannya membuatku patah hati."
"Hem, begitu...." Belle memaksa senyumnya agar tak terlalu terlihat kalau dia sedang patah hati.
"Dan bagaimana denganmu? Apakah ada seseorang yang kamu sukai?" Tanya Daniel gantian.
Mendapat pertanyaan itu, Belle juga merasa harus jujur dengan jawabannya sendiri. Tidak ada gunanya berbohong.
"Ada. Tapi, sepertinya aku hanya bertepuk sebelah tangan. Dia sudah lebih dulu menyukai orang lain!" Pungkas Belle tak bersemangat.
Mendengar jawaban itu, Daniel terkejut dan tersenyum miris. Dia langsung merasa kecewa dengan jawaban Belle.
"Terkadang, rasa cinta terbesar, tak selamanya harus memperjuangkan. Melihatnya bahagia juga merupakan wujud cinta yang tulus. Mungkin, kita sebagai manusia biasa juga harus bisa belajar melepaskan dan merelakan." Ucap Daniel sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar, berikan gift dan vote. Tambahkan ke daftar favorit dan berikan rate 5 ya akak-akak
Terima kasih ❤️❤️❤️