Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
DIA CALON SUAMIKU


__ADS_3

Mereka pun mulai menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh pramusajinya.


Saat mereka sedang sibuk menyantap makanan untuk mengisi perut agar nanti kuat beraktivitas, ada seseorang yang memanggil nama Belle.


"Belle, kamu di sini? Sama siapa?" tanya orang itu dengan suara yang sangat dikenali Belle dan teman-temannya.


Merasa namanya disebut, Belle dan teman-temannya kompak menoleh ke arah suara. Terlihat beberapa orang laki-laki sedang berdiri di dekat mereka. Dan yang menyapa Belle tadi adalah Kevin.


"Kevin?" ucap Belle setelah melihat orang yang memanggil namanya tadi.


Kevin berjalan mendekat. Berdiri di tengah-tengah antara Belle dan Daniel.


"Kamu sama siapa di sini?" tanyanya lagi. Kevin mengitari pandangannya melihat teman-teman Belle, kemudian dia tersenyum dan berkata, "Mereka semua membawa pacarnya. Tapi kenapa kamu tidak? Kamu bisa menghubungiku untuk menemanimu," tuturnya dengan memasang senyum manisnya.


Cih, menghubungimu? Aku saja dibohongi olehnya.


Daniel bermonolog dalam hatinya sambil memperhatikan tingkah laku Kevin. Dia hanya diam saja, tidak mau merusak rencana Belle.


"Kevin, bisakah kau menjauh dariku?" ketus Belle kesal.


"Maaf aku tidak bisa. Aku hanya mau selalu berada di dekatmu. Kalau kamu keberatan, itu urusanmu!" balas Kevin membuat Belle bertambah kesal dengan perkataan tak tahu dirinya.


"Ckck, itu memang urusanku. Makanya aku minta kamu sadar diri dan menjauh dariku!" pekik Belle kesal. Kevin benar-benar membuat mood Belle hancur.


"Bolehkah aku bergabung bersama kalian?" tanya Kevin pada teman-teman Belle dengan sangat percaya diri.


"Kami tidak suka kau berada di sini. Tapi, semua ini dibayar olehnya." mereka menunjuk ke arah Daniel yang masih terdiam dan menyantap makanannya dengan santai. "Jadi, kau harus bertanya padanya."


Kevin melihat ke arah Daniel, wajahnya langsung tersenyum. Dia merasa sudah akrab dengan Daniel, jadi mengira kalau Daniel akan memudahkan semua urusannya.


"Om, bolehkan aku bergabung bersama kalian?" tanyanya sambil menepuk bahu Daniel sebagai tanda persahabatan.


Daniel melihat ke arah tangan Kevin yang dengan berani menepuk pundaknya. Dengan santai dan sambil tersenyum Daniel memindahkan tangan Kevin dari bahunya. Membuat senyuman Kevin seketika lenyap.


"Maaf, tapi aku juga tidak mengizinkannya," ucap Daniel.


"Kenapa, Om? Bukannya kita teman?"


"Aku tidak pernah menganggapmu teman," celetuk Daniel ketus membuat semua orang yang menyaksikan itu tertawa.


"Mana mungkin dia menganggapmu teman. Yang benar, dia menganggapmu saingan cintanya!" sorak teman-teman Belle membuat Kevin dirundung kebingungan.


"Saingan cinta?"


Melihat Kevin kebingungan, Belle langsung bangkit dari duduknya. Dia menatap mata Kevin tajam.

__ADS_1


"Perkenalkan, dia calon suamiku!" ucap Belle lugas, tidak ada keraguan sedikitpun di dalam setiap kata-kata yang barusan dia ucapkan.


Kevin tertawa mendengar pengakuan dari Belle yang dianggapnya hanya guyonan semata. Dia menepuk punggung Belle sambil tertawa.


"Belle, kalau bercanda jangan berlebihan. Nanti kalau menjadi kenyataan, itu tidak lagi lucu," ucap Kevin.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, itu urusanmu!" Belle membalas kata-kata Kevin tadi.


"Jangan karena kamu mau menghindariku, kamu menyeret nama Om Daniel ke dalam permasalahan kita berdua," tuturnya lagi seolah sok bijak menasehati.


"Kalau begitu, tunggu saja undangan pernikahan kami. Aku akan segera mengirimkannya ke rumahmu. Ingat, jangan datang dengan membawa air mata penyesalan!"


Belle kembali duduk di kursinya dan menikmati makannya yang sempat tertunda. Kevin pun pergi bersama teman-temannya masih dengan tawa yang menggelegar. Seolah sedang menertawakan kebohongan yang dibuat oleh Belle.


"Kevin, memangnya kau kenal dengan pria tadi?" tanya teman Kevin sembari mereka berjalan ke arah tujuan.


"Kenal. Dia temannya Kak Bara," sahutnya merasa bangga karena mengenal orang-orang hebat.


"Berarti, dia pemilik Rex Club itu?" tanya temannya lagi.


"Ya, aku mengenalnya juga saat di rumah Belle," ujar Kevin.


"Wah, sesekali traktir kami di Rex Club lah, itukan punya temanmu, Vin!" ucap teman-temannya kompak.


"Ah? Hahahaha, boleh-boleh saja! Lain kali jika ada waktu aku pasti akan membawa kalian ke sana. Dan dipastikan, semuanya gratis!" seru Kevin.


"Kevin, apa kamu yakin Belle tidak ada hubungan apapun dengan Daniel?" tanya teman Daniel. Temannya yang satu ini selalu berpikir secara logis, dan jika menebak sesuatu pasti akan selalu tepat.


"Aku yakin. Dia hanya mau membuatku semakin menjauh darinya saja. Tidak mungkin mereka benar-benar punya hubungan spesial!" sangkal Kevin.


"Lagi pula, Belle pernah mengatakan padaku kalau Om Daniel itu sudah punya pacar," imbuhnya lagi.


"Bagaimana kalau ternyata pacarnya itu Belle?" teman Kevin kembali menerka.


Kevin terdiam, tapi lagi-lagi dia menyangkal semua yang diucapkan oleh temannya yang satu ini.


"Tidak-tidak. Itu semua tidak mungkin!" sangkal Kevin menggelengkan kepalanya berkali-kali.


**************


Nita sekarang sedang panik, dia sedang mencari rumah manager yang pernah menjanjikannya bisa menyingkirkan Belle. Namun pada kenyataannya, Belle masih bisa hidup dengan tenang dan damai, malah sang manager itu yang hilang jejaknya seperti di telan bumi. Dia resah, hanya alamat yang tertuliskan di secarik kertas yang sedang digenggamannya lah yang menjadi pedomannya dalam mencari jejak sang manager.


"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa menemukannya, tidak peduli apa pu alasannya, dia harus bisa menepati janjinya! Aku tidak terima, orang yah sudah merusak hidupku malah bisa hidup dengan nyaman!" gerutunya dalam hati.


Nita sekarang masih berada di dalam taxi. Jelas tujuannya ke mana. Perjalanan yang harus ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Karena rumah yang dituju berada di pelosok desa yang lumayan jauh dari jangkauan kota.

__ADS_1


"Sial! Jauh sekali rumahnya. Kuharap, aku akan mendapatkan hasil yang memuaskan setelah sampai di sana," ucapnya bergumam.


"Pak, apakah masih lama sampai di tujuan!" entah sudah pertanyaan ke berapa yang ditanyakan oleh Nita pada sang supir. Untung supir taxinya baik, jadi selalu menjawab dengan sabar.


"Masih, Nona."


Lagi-lagi Nita hanya bisa menghela nafasnya. Pantatnya sudah terasa panas karena kelamaan duduk. Jika dia bisa memberhentikan taxi yang ditumpanginya, pasti akan segera ia lakukan. Tapi, itu hanya akan memperlambat waktunya untuk sampai di tempat tujuan.


"Nona, kita sudah hampir sampai. Hanya butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit lagi untuk sampai," seru sang supir yang kasihan melihat Nita, dari raut wajahnya dapat terlihat kalau wanita itu sudah sangat kelelahan.


"Jalannya memang seperti ini ya, Pak?" tanya Nita, dia semakin pusing karena tubuhnya terhentak-hentak akibat jalan yang mereka lalui berbatu dan berliku. Jalannya juga terbilang curam. Apa lagi, sekarang langit sudah menggelap karena malam telah tiba.


Setelah beberapa saat mereka berhasil melewati jalan curam itu dengan selamat, mereka pun tiba di sebuah perkampungan yang rumahnya terbilang rapat-rapat.


Nita turun dari dalam taxi dengan maksud hati ingin bertanya rumah yang ditujunya. Karena dia hanya mengetahui alamat rumahnya saja, untuk letak pastinya dia tidak tahu.


"Pak, Bu, apakah kalian mengenal orang ini?" tanya Nita pada dua pasang pejalan kaki yang mereka lewati.


"Oh, ini. Saya kenal. Rumahnya sudah tidak jauh dari sini," ucap mereka sambil menunjuk-nunjuk.


"Di mana ya, Bu?" tanya Nita.


"Diujung jalan ini, rumahnya warnanya putih."


"Terima kasih, Bu," ucap Nita kemudian berpamitan.


Dua orang itu hanya mengangguk. Nita kembali masuk ke dalam taxi. Dia kembali mencari ciri-ciri rumah yang telah di sebutkan tadi.


"Sepertinya ini rumahnya, Pak!" ucap Nita sembari memperhatikan rumah yang mirip dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh dua orang tadi.


Supir taxi itu memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah. Dengan tergesa-gesa Nita mengetuk pintu itu. Tapi ternyata pintunya tak dikunci, buru-buru Nita masuk ke dalam.


"Pak?" panggil Nita, namun tidak ada yang menyahut, rumahnya juga terlihat sepi dan senyap.


"Apakah ada orang?" tanyanya lagi memecah keheningan malam.


Namun tiba-tiba...


"Ahhhh ... tolong!"


Dukung terus karya ini dengan berikan like, komentar gift dan vote sebanyak-banyaknya.


Berikan juga rate 5 ya guys...


Jangan lupa untuk dukung karya baru author SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU 🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2