Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
WAJAH KEDUA BELLE


__ADS_3

Sampainya di depan Mading, mata Kevin dan Nita terbelalak kaget. Wajah mereka sama-sama terkejut. Wajah Nita berubah padam dan panik. Namun berbeda dengan Belle, wajahnya terlihat tersenyum puas dan menyeringai.


Tapi, sejurus kemudian, dia langsung merubah wajahnya menjadi terkejut dan bersedih.


"Nita, ini ka-kamu, kan?" ucapnya dengan suara lantang sambil menunjuk ke arah Nita. Membuat seisi kampus melihat ke arah


Para mahasiswi dan mahasiswa juga mulai saling berbisik, dan ada beberapa orang juga yang terang-terangan mencibir Nita karena mading itu.


"Cih, ternyata dia orangnya! Memang sangat murahan!" umpat mereka terang-terangan.


"Ya benar. Memang dia orangnya. Lihatlah, sangat mirip." mereka melihat antara foto dan wajah Nita, memang sangat mirip.


"Nita, kenapa kamu seperti itu? Aku turut sedih karena kamu teman dekatnya Kevin!" pekik Belle sambil menutup mulutnya. Tangannya masih mengait dengan tangan Kevin.


Nita tidak memperdulikan semua cibiran dan makian yang dia dapat, yang dia pedulikan sekarang hanyalah pendapat Kevin tentang ini.


Wajah Kevin begitu merah, seperti sedang memendam amarah yang sangat mendalam. Kepalanya juga sudah berasap, tanduknya sudah tumbuh. Jika itu semua terlihat dengan mata telanjang, pastilah terlihat sangat menakutkan.


"Kevin...?" cicit Nita mencoba meraih tangan Kevin.


"Nita, apa yang kamu lakukan, sekarang kamu mau menggoda pacar Belle juga?" pekik orang-orang yang masih mengepung Nita di sana.


Nita menggeleng pelan, dia juga menggelengkan kepalanya. Kevin menepis tangan Nita cepat dan memeluk Belle bertambah erat.


"Belle, ayo kita pergi dari sini sekarang!" Kevin menggandeng tangan Belle dan meninggalkan Nita yang wajahnya sudah memerah karena menahan tangis.


"Kevin?!" Nita tetap berusaha memanggil Kevin meskipun laki-laki itu tak sudi menoleh sedikitpun.


Melihat Kevin yang berjalan semakin jauh darinya sambil memeluk wanita lain, Nita mengepalkan dan menggemeretakkan giginya.


"Awas sana!" dia menolak semua orang dan menerobos kerumunan. Berlari tanpa tujuan yang pasti sambil mengusap air mata keperihan.


Sementara Belle, sekarang sedang duduk di bersama Kevin di sebuah kafe langganan mereka. Dari tadi, wajah Kevin terlihat sangat kusut, tak seperti biasanya.


"Kevin, kamu kenapa? Masih memikirkan masalah Nita?" tanya Belle sengaja sambil menyeruput jus jeruknya.


"Aku hanya kasihan padanya," jawab laki-laki itu menatap Belle nanar.


"Apa Nita punya pacar?" tanya Belle santai sambil memakan camilannya. Tapi, gara-gara pertanyaan Belle, Kevin jadi tersedak dengan minuman yang diminumnya.


"Ti-tidak tahu, mungkin saja punya. Aku tidak sedekat itu dengannya, Belle," ucap Kevin pasrah.


"Wah, kasihan sekali pacarnya ya, Kevin? Dia melayani begitu banyak pria, dari yang muda hingga yang tua. Dari yang kurus hingga yang bertubuh gempal. Dia sudah tahu bagaimana rasanya enak-enak. Aku ingin bertanya padanya, bagaimana rasanya," celotehnya sengaja di depan Kevin. Melihat wajah Kevin yang datar, dia semakin memanjangkan cerita ironinya.


"Menurutmu, apakah pria lain mau menerima kekurangannya itu? Ah, maksudku pacarnya. Apakah pacarnya masih mau bersamanya? Dan aku juga penasaran, dia sebenarnya melakukan itu demi kebutuhan keluarganya, atau memang karena kemauannya ya? Tapi, walaupun ekonominya kurang, bukankah juga tidak boleh seperti itu, masih banyak pekerjaan lain yang halal untuk dilakukan. Iya kan, Kevin? Benarkan yang aku katakan ini?" Menurutmu bagaimana?"

__ADS_1


"Cukup, Belle! Kenapa hari ini kau begitu banyak bicara? Aku pusing sekarang, jadi diamlah!" bentak Kevin membuat Belle bungkam.


"Hiks, kau ... kau memarahiku, Kevin?" Belle menitikkan air mata, entah air mata dari mana yang menetes itu.


"Belle, maafkan aku. Aku tidak sengaja memarahimu. Aku sungguh tidak bermaksud begitu," bujuk Kevin yang kini berpindah duduk di samping Belle dan mengusap-usap punggung Belle agar lebih tenang.


"Sudahlah, Kevin. Aku tahu, aku memang tidak sebanding dengan temanmu itu. Tapi, jangan sampai memarahiku seperti ini. Aku sangat sedih." Belle menambahkan jumlah tetesan air matanya.


"Belle, maafkan aku. Aku tidak memikirkan Nita, aku sepertimu, memikirkan pacarnya. Sesama laki-laki, aku justru ikut prihatin," Kevin berusaha menjelaskan dan menarik Belle ke dalam pelukannya. "Sudah, jangan marah lagi, maafkan aku."


Belle langsung menarik diri dari pelukan Kevin, Sekarang, dia merasa sangat-sagat benci jika bersentuhan dengan pria itu.


"Aku tidak marah lagi, Kevin. Sekarang, antarkan aku ke kampus." Belle mengambil tasnya dan langsung berjalan ke mobil, meninggal Kevin.


Di dalam mobil, mereka hanya diam-diam saja. Belle pun tidak berniat mengatakan apapun. Kalau bukan untuk membalaskan rasa sakit hatinya, dia sangat muak kalau harus berurusan dengan mereka lagi.


"Aku pergi dulu, ya?" Belle mau turun, tapi Kevin kembali menarik tangannya. Belle mengerti apa yang ingin dilakukan Kevin, jadi dia buru-buru turun agar Kevin tak bisa melancarkan aksinya.


"Belle!" panggil seseorang dari kejauhan.


"Nita? Ada apa?" tanya Belle khawatir.


"Aku perlu bicara denganmu," ucap Nita dengan wajah tak bersahabat.


"Ya sudah, katakan saja." Belle menunggu, dia yakin, Nita sudah akan membuka wujud aslinya.


"Jadi, di mana? Aku masih ada kelas." Belle melihat jam tangannya seolah-olah sangat sibuk.


"Ikut aku!" Nita langsung menarik tangan Belle kasar agar mengikutinya. Dia menyeret Belle ke taman belakang yang jarang dilalui oleh siapapun.


Setelah sampai di tempat dekat hutan, Nita menghempaskan tangan Belle kasar membuat Belle agak terhuyung ke belakang.


"Ada apa?" tanya Belle dengan melipat tangannya di dada.


"Aku tahu, kau pasti sengaja membesarkan suaramu tadi, agar orang-orang mengetahui kalau itu aku, kan? Ngaku kamu Belle!" hardik Nita sambil memelototi Belle. Nita masih berpikir, Belle wanita yang mudah ditindas.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Kalaupun aku tidak berteriak, semua orang juga tahu kalau itu wajahmu!" balas Belle dengan wajah tersenyum miring.


"Jangan-jangan, foto-foto itu ulahmu juga?" terka Nita yang langsung diangguki Belle dengan cepat.


"Kau memang sangat pintar, Nita!" akunya sambil tersenyum.


"Sialan kau, Belle! Apa salahku padamu? Apa karena aku dekat dengan Kevin, kau merasa cemburu? Takut tersaingi, kah?" Nita mengibaskan rambutnya, dia merasa kalau dia sudah berhasil membuat Belle cemburu.


"Cih, aku cemburu padamu karena dekat dengan pria sialan itu?" Belle tertawa mengejek.

__ADS_1


"Asal kau tahu, Belle. Aku dan Kevin memang sepasang kekasih. Dia mendekatimu hanya karena taruhan dengan teman-temannya," ucap Nita seolah sudah memberitahukan sebuah fakta besar, dan sebentar lagi Belle akan berterima kasih padanya.


"Aku tahu!" jawaban Belle membuat Nita membatu karena terkejut.


"Ti-tidak mungkin. Kau hanya berusaha tenang."


"Aku tahu itu semua, Nita. Memang aku yang terlalu bodoh sejak awal telah mempercayai kebaikan kalian. Dan ini, awal dari pembalasanku," ucap Belle.


"Aku akan membuatmu dibenci oleh Kevin, menghancurkan kalian berdua secara bersamaan secara perlahan-lahan!" desis Belle.


"Kau tidak akan mungkin bisa melakukan hal itu. Kau hanya wanita lemah, Belle. Tidak perlu berpura-pura mengancamku seperti ini. Aku tidak takut padamu."


"Kapan aku pernah mengancammu? Buktinya sudah ada. Bahkan, masih tertempel di mading," ucap Belle enteng tanpa rasa bersalah.


"Dasar kau wanita jahat, Belle!" teriak Nita dan hendak menolak tubuh Belle. Namun, yang tidak diketahui Nita, tiba-tiba ada yang datang menyusul mereka.


"Nita!" pekik orang itu geram karena melihat Belle yang sudah terjerembab ke tanah karena menurut penglihatannya, Nita lah yang mendorong Belle.


"Kevin?" "Bagus kau sudah datang, Kevin. Dia, dia sudah tahu rencana kita." Nita menunjuk Belle dengan tergesa-gesa.


Kevin menoleh ke arah Belle, namun Belle menggeleng pelan dengan wajah yang sudah bercucuran air mata.


"Ren-rencana apa, Kevin? Beritahu aku!" pekik Belle meneriaki Kevin.


"Tidak, Sayang. Dia hanya asal bicara saja." Kevin berjongkok dan membuka kemejanya dan menyelimuti tubuh Belle yang sudah kotor dengan tanah.


"Sebentar ya, aku mau bicara dengannya," bisik Kevin penuh kelembutan, membuat hati Nita teriris perih.


Kevin langsung menarik tangan Nita kasar, membawanya sedikit jauh dari jangkauan Belle. Setelah menghempas tangan Nita, Kevin menepuk-nepuk tangannya seolah baru terkena kotoran.


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah berkata apapun pada Belle. Jika kau berani mengatakan secuil pun, aku akan memotong lidahmu itu!" ancamnya.


"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa, Kevin. Tapi dia sudah tahu semuanya. Bahkan, dia yang menyebarkan foto-foto itu, Kevin."


Kevin menoleh ke arah Belle yang terlihat menyedihkan.


"Tidak mungkin, dia itu wanita lemah. Tidak mungkin dia bisa melakukan hal-hal seperti itu." bisik Kevin penuh penekanan. Kemudian dia kembali mengatakan, "Dan bagus kalau ada yang menyebarkan foto prostitusi mu itu. Aku jadi tahu kalau kau adalah wanita kotor! Mulai sekarang, jangan dekati aku dan Belle! Kita putus!"


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣


Like, komentar, gift dan vote.


Berikan rate 5.


Dukung juga karya baru author yang masih sepi, SAHABATKU SUAMI MUHALLILKU.

__ADS_1


Terima kasih ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2