
"Apakah orang itu? Aku harus mengecek panggilan masuknya!" Ujar seseorang yang ditugaskan Daniel untuk mengawasi Pras.
*****
Ini adalah hari kedua setelah Bara sadar, Sekarang Bara sudah bisa kembali berbicara seperti biasanya, tapi kakinya masih belum bisa digunakan untuk berjalan seperti biasanya. Karena kakinya masih cidera akibat terhantam dengan body mobil.
Bara selalu saja meminta Embun dan dua bayi kecil itu menemaninya di ruangannya. Namun, permintaannya tidak bisa selalu dituruti, karena mereka juga pasien. Bara selalu saja menggendong kedua bayinya secara bergantian.
Sedangkan Embun, kini dia juga sudah mulai membaik, ASI-nya juga mulai banyak, namun tetap saja tak cukup bila harus mencukupi kebutuhan untuk kedua baby twins nya itu.
Setiap hari, Eson juga selalu melaporkan masalah perusahaan padanya. Membawa berkas-berkas yang perlu ditanda tangani oleh Bara. Jadi, meskipun Bara sedang berada di rumah sakit, masalah perusahaan tetap berjalan dengan baik.
"Hanya ini saja?" Tanya Bara pada Eson yang masih berdiri di hadapannya.
"Ya, Tuan." Jawab Eson hormat.
"Apakah ada sesuatu yang salah di kantor?" Tanya Bara sambil menutup berkas yang baru saja selesai ditanda tangani olehnya.
"Tidak ada, Tuan. Semuanya berjalan dengan baik." Jawab Eson masih setia berdiri.
"Lalu, bagaimana dengan Deva?" Tanya Bara lagi.
Tumben Tuan Bara menanyakan wanita centil itu.
"Hem, dia seperti biasa, Tuan." Jawab Eson lagi.
"Dia sangat cocok denganmu, Eson. Kenapa kau tidak mencoba mendekatinya saja?" Bara menggoda bawahannya yang sudah berumur tapi masih betah dengan menjomblo itu.
"Saya?" Dia menunjuk dirinya sendiri, kemudian terkekeh pelan, "Hehehe, tidak lah, Tuan. Aku masih betah dengan kesendirianku." Eson kini mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Dia langsung menggelengkan kepalanya secepat kilat karena sangat-sangat menolak jika dijodohkan dengan wanita seperti Deva.
Dari pada dengan wanita centil itu, mending aku sendiri saja seumur hidupku. Lagi pula, sepertinya pria idaman wanita itu seperti Tuan Bara. Kenapa harus aku yang dijodohkan dengannya.
KRIETT
Pintu ruangan Bara pun terbuka, terlihat Embun masuk menggunakan kursi roda. Di belakangnya, terdapat dua orang perawat yang membawa dua bayi mungilnya.
Belle tidak berada di sana karena dia masih ada jam kuliah. Sedangkan Rena, dia masih sibuk mengurusi toko karena sangat ramai. Dua pria itu pun masih sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Jingga?" Sapa Bara, dia begitu senang saat melihat kehadiran Embun dan kedua bayinya datang ke ruangannya.
__ADS_1
"Hem!" Embun hanya menyahut dengan berdehem saja. Entah apa alasannya, wajahnya terlihat cemberut.
"Saya permisi, Tuan." Eson undur diri karena sudah ada Embun di sana, dia tak ingin mengganggu Tuannya.
Bara memanggil Embun agar berada di sampingnya. Namun, meskipun melihat Bara yang melambaikan tangannya, dia tak menggubrisnya sama sekali. Bara menautkan alisnya keheranan, kenapa sikap Embun sudah berbeda sekarang.
"Jingga, kamu kenapa?" Tanya Bara. Dia memang sudah sangat mengenal Embun. Sedikit saja sikap wanita itu berbeda, dia bisa langsung menyadarinya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, sepertinya kamu sangat perhatian dengan sekretaris ****mu itu, ya? Kamu merindukannya?" Embun terlihat mengerucutkan bibirnya. Saat dia menyindir Bara seperti itu, dia hanya melirik ke arah Bara.
Mendengar penuturan Embun, Bara terlihat berusaha menahan tawanya. Dia melihat Embun dengan tatapan gemas ingin mencubit, tapi tangannya tak sampai karena dia belum bisa menggeserkan posisi tubuhnya untuk lebih dekat dengan Embun.
"Kamu kenapa? Kamu sedang....."
"Aku sedang duduk di kursi roda. Belum bisa berjalan seperti biasanya. Tidak seperti sekretaris ****mu itu!" Embun menyela ucapan Bara. Padahal, bukan itu yang ingin dikatakan oleh Bara.
"Hahaha! Kamu sangat menggemaskan, Jingga Sayang!" Celetuk Bara yang makin tertawa saat melihat sikap Embun seperti itu. Dia juga bertambah senang karena Embun merasa cemburu pada wanita lain.
"Sudahlah. Lebih baik aku kembali ke ruanganku saja. Maaf, aku sudah mengganggumu, kamu jadi tidak bisa bertanya lebih banyak tentang Deva!" Cibir Embun.
"Jingga, kamu sedang cemburu?" Terka Bara yang langsung disangkal mentah-mentah oleh Embun.
"Tidak. Mana mungkin aku cemburu dengan wanita seperti itu!" lirihnya.
"Jangan besar kepala. Aku hanya tidak suka saja kalau kamu dekat-dekat dengan wanita seperti itu. Tidak bisakah kamu mengganti sekretarismu?" Sangkal Embun.
"Bisa. Tentu saja bisa. Tapi, susah mencari seorang sekretaris yang kompeten seperti itu." Sahut Bara apa adanya, membuat Embun menatap Bara berang. Emosinya kembali kalut karena mendengar Bara memuji wanita lain yang jelas-jelas dia tak menyukainya.
"Maksudmu apa? Katakan saja kalau kamu tak mau mengganti sekretarismu. Takut kalau tidak ada yang berpakaian seminim dia?" Sindirnya.
"Jingga, kenapa kamu semakin berbicara yang aneh-aneh? Aku tidak mengatakan apa-apa. Kenapa kamu malah menyimpulkannya seperti itu?"
"Lalu, kenapa kau malah memujinya di depanku? Aku hanya memintamu untuk mengganti sekretarismu itu, tapi kenapa seperti sulit sekali?" Kini Embun menatap Bara dengan tatapan menantang.
"Iya. Aku akan segera mengganti sekretarisku secepatnya." Jawab Bara yang ingin segera mengakhiri perdebatan karena Istrinya yang telah terbakar api cemburu.
Saat mereka sedang sama-sama menggendong bayi mungil mereka. Ada tamu tak diundang yang datang. Ada seorang pria tua yang masuk, dan di belakangnya ada seorang wanita yang dikenal oleh Embun. Wanita yang sangat-sangat dibencinya.
Mata Embun menatap pria tua itu yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Dia terlalu fokus memperhatikan orang yang tak dikenalinya itu, sampai lupa melihat wajah Bara saat melihat kehadiran tamu tak diundang ini.
__ADS_1
"Keponakanku, bagaimana kabarmu?" Tanyanya sambil memukul pelan punggung Bara.
"Baik, Paman. Paman sendiri, sehat-sehat saja, kan?" Tanya Bara balik.
"Tentu saja aku sehat. Hanya umurku saja yang semakin tua." Sahutnya sambil tertawa. Tak sekali pun dia melihat Embun.
"Paman, perkenalkan ini Istriku." Bara menunjuk ke arah Embun. Dan Albert langsung menoleh ke arah Embun.
"Oh, maaf. Aku terlalu keasikan mengobrol dengan keponakanku hingga tak melihat kehadiranmu di sini." Ucap Albert ramah sambil memamerkan senyumnya. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Embun, "Panggil saja aku Paman Albert!" Ujarnya.
Embun termenung sejenak. Sesaat, dia langsung kembali tersadar dan menjabat tangan Paman Albert. "Aku Embun." Balas Embun.
"Ya,ya. Maaf karena saat pernikahan kalian aku tidak hadir. Kehadiranku saat itu sedang tidak sehat." Paparnya seperti merasa tak enak.
"Oh, ya, ya. Tapi, seharusnya orang seperti Paman bisa membedakan antara benar-benar tidak sehat, dengan tidak suka, kan?" Ketus Embun.
"Maksudmu?" Kini Deva yang menyahut dari belakang Albert. Dari wajahnya pun terlihat kalau dia tidak suka dengan Embun.
"Tidak bermaksud apa-apa." Sahut Embun enteng.
"Kau!" Pekik Deva. Tangan Albert langsung menghalang tubuh Deva yang berusaha menyerang Embun.
"Deva, jangan berperilaku sesukamu. Jika kau berani melukai istriku. Tidak ada tempat lagi untukmu!" Ucap Bara yang kesal melihat tingkah wanita itu.
Sontak Deva langsung diam dan menghela nafasnya kasar. Dia memang tak boleh gegabah dan sesukanya. Bisa-bisa Bara mengusirnya dari perusahaan dan dia pun tak bisa lagi mendekati Bara.
"Maafkan Deva, Bara. Dia masih belum bisa menguasai emosinya." Ujar Albert.
"Bagaimana perusahaanmu? Apakah semuanya berjalan normal?" Tanyanya lagi.
"Semuanya berjalan baik." Sahut Bara.
"Aku punya sebuah pendapat untukmu. Bagaimana kalau selama kamu sakit, biarkan Deva yang mengurus perusahaan itu." Ucap Albert tanpa sungkan.
"Aku tidak sakit untuk selamanya, Paman. Masih ada asistenku yang bisa mengurus semuanya menggantikan aku." Sahut Bara tampak tak senang.
"Maksudku hanya untuk sementara saja. Lagi pula, Deva juga sudah mengenal semua partner bisnis kalian. Jadi, semuanya bisa lebih mudah." Jelasnya lagi.
"Anda memang tidak pernah berubah, Paman. Selalu saja penuh siasat dan licik!" Ucap seseorang dari balik pintu.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komentar, gift, dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih ❤️❤️❤️