
"Aku yakin, dia masih polos, Pak! Kau bisa mempermainkannya. Namanya Belle!" ucap Nita menjelaskan, membuat laki-laki itu tersenyum penuh gairah.
"Aku pasti akan melakukannya dengan baik." seperti biasanya, mereka mulai bercinta dengan berbagai gaya di dalam ruangan itu.
******
Setelah selesai bergulat, Nita pun pulang, sepanjang jalan dia memasang senyuman yang tak bisa ia sembunyikan. Bukan karena ia puas sehabis bercinta. Tapi karena dia merasa senang, karena sebentar lagi akan menghancurkan Belle, meskipun bukan dengan tangannya.
Tapi, melihat kehancuran lawannya, pasti menyenangkan untuknya.
Dia hanya belum tahu, siapa yang akan hancur diakhir.
Manager yang dipercayakan Nita untuk menghancurkan Belle menghubungi kepala bodyguard untuk meminjam beberapa bodyguard perkasa.
"Hey kau! Aku mau kau pilihkan dua ... tiga saja, bodyguard yang tubuhnya besar-besar. Aku akan membawa mereka sebentar," titahnya sudah seperti seorang bos di sana.
"Maaf, Pak. Jika ingin meminjam bodyguard dari Rex Club, harus minta persetujuan dari Tuan Daniel dulu," ucap kepala bodyguard tetap hormat. Padahal, tubuhnya lebih besar dari manager sombong itu, kalau dia melayangkan tinjuan ke wajah sang manager, mungkin gigi-giginya akan rontok.
"Siapa yang perlu datang ke kantor Tuan Daniel? Aku atau kau?" tanyanya lagi yang malah menunjuk wajah kepala bodyguard.
"Biasanya saya yang akan melapor Tuan."
"Biar aku saja yang pergi," ucap sang manager yang memiliki niat lain dalam hatinya. Mungkin dia mau mengambil kesempatan ini untuk dekat dengan atasan.
"Maaf. Tidak bisa, Pak. Kita melapor harus sesuai dengan jabatan yang kita pegang. Kalau tidak Tuan Daniel bisa marah."
"Hem baiklah. Segera pergi sekarang. Karena aku membutuhkannya secepat mungkin," lanjutnya.
"Tapi, untuk apa Anda meminjam bodyguard ini, Pak? Harus ada kejelasan."
"Untuk menggoda seorang wanita. Ini, aku berikan fotonya padamu. Kamu perlihatkan pada Tuan Daniel, dia pasti sangat senang."
"Sepertinya aku pernah melihat Nona ini beberapa kali," gumam kepala bodyguard.
"Siapa namanya?" tanya kepala bodyguard penasaran, karena sepertinya dia sangat sering melihat wanita itu.
"Ahhh, ku rasa kau tidak perlu tahu. Tapi, aku akan memberitahumu, namanya Belle!" manager itu tertawa dan masuk ke dalam ruangannya.
Laki-laki tegap yang bekerja di bagian kepala bodyguard itu langsung menuju ke ruangan Daniel yang terletak di lantai atas. Sebenarnya dia sudah sering ke sana, untuk melaporkan keamanan di Rex Club.
TOK TOK TOK
"Ada apa?" tanya Daniel, suaranya terdengar dari arah belakang. Divisi kepala bodyguard terlonjak kaget karena melihat Daniel yang sudah berdiri di belakangnya.
"Tuan, saya ingin bertemu dengan Anda," ucapnya menunduk sebagai tanda hormat.
"Masuk!" titah Daniel. Kepala bodyguard membuka pintu agar bosnya itu bisa masuk.
Daniel masuk, dan langsung duduk di kursi kebesarannya, memangku kepalaku dengan tangan dan memperhatikan pria yang sedang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Bukankah kau ingin bicara? Jadi, kenapa sekarang kau hanya diam saja?" tanya Daniel tak sabaran.
"Maaf, Tuan. Manager kita yang baru, ingin meminjam beberapa orang bodyguard. Apakah Anda mengizinkannya?" pria itu berbicara langsung keintinya.
"Untuk apa?" tanya Daniel sambil mulai melihat berkas-berkas yang perlu ia bubuhkan tanda tangannya.
"U-untuk mengejar wanita," jawabnya jujur seperti yang dikatakan managernya tadi.
Meski tak melihat ke arah lawan bicara, tapi pengakuan itu cukup menggelitik perut Daniel membuat dia tertawa geli.
"Jika dia ingin mengejar wanita, sewa preman jalanan saja," cetus Daniel sambil tertawa-tawa.
"Nama wanita itu, Belle!" Dia sengaja menyebutkan nama wanita yang akan dikejar oleh managernya. Karena dia merasa tidak asing dengan nama dan wajah yang ada di foto tadi.
Perkataan terakhir bawahannya, membuat Daniel mendongak sambil menyipitkan matanya.
"Siapa namanya? Coba kau ulangi?" tutur Daniel.
"Namanya Belle, Tuan," ulang bawahan Daniel.
"Apa kau punya foto wanita itu?" tanya Daniel masih menyipitkan matanya.
"Ti-tidak, Tuan. Tetapi, tadi dia sempat menunjukkan foto wanita itu," akunya.
Daniel merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada bawahannya.
"Apakah wanita ini yang dimaksud tadi?" tanya Daniel.
Seketika Daniel menggebrak meja, membuat bawahannya terkejut tapi tak berani melihat langsung. Dia mengepalkan tangannya dan rahangnya ikut mengeras. Menandakan kalau ia sedang marah besar saat ini.
Sepertinya benar dugaanku. Untung saja aku sengaja menyebutkan nama Nona Belle. Kalau tidak, saat sesuatu terjadi pada Nona Belle, aku juga jadi sasaran kemarahannya. Tapi, apa hubungan mereka. Kenapa Tuan Daniel terlihat sangat marah.
"Panggil manager baru kurang ajar itu kemari, segera!" teriaknya marah. Suara amukannya menggema diseisi ruangan. Membuat bawahannya mengangguk lalu langsung kocar-kacir melarikan diri.
Jika Daniel tak mengontrol dirinya, bisa dipastikan kalau barang-barang yang ada di ruangan itu akan menjadi serpihan. Namun, dia langsung mengingatkan dirinya sendiri untuk kembali tenang, jangan terlalu ikut dengan emosi yang gampang tersulut.
Tapi kali ini, bagaimana emosinya tak terpancing, orang yang paling berusaha dia jaga, malah ingin diganggu oleh orang lain.
"Cih, memikirkannya saja membuatku ingin menelan pria itu hidup-hidup," decaknya. Dia masih berdiri dengan menumpu tangannya di atas meja. Wajahnya menunduk.
TOK TOK TOK
"Hem!" Daniel hanya berdehem. Dan kedua pria itu masuk.
Manager itu terlihat tersenyum senang, karena dia dipanggil ke ruangan bosnya. Pasti ada sesuatu yang menyenangkan.
Aku harus mengambil kesempatan ini untuk membuatnya terkesan padaku. Dan aku, akan cepat naik tingkat, bisa menjadi tangan kanannya.
Dia tersenyum miring seiring dengan dirinya sedang menyusun rencana matang. Sepertinya, semua rencana sudah tersusun rapi di kepalanya dengan beriring langkah dia berjalan ke ruangan Daniel. Mengambil hati Daniel dengan memujinya, menuruti setiap perintahnya, lalu bisa dengan cepat naik tinggi dan memerintah orang sesuka hati. Ah, rencana yang sangat sempurna baginya.
__ADS_1
Yang tidak ia ketahui adalah, kenapa dia dipanggil ke ruangan Daniel, dan bagaimana kelanjutan hidupnya nanti?
"Kau manager baru di sini?" tanya Daniel, dia duduk di kursi kebesarannya dengan membelakangi bawahannya.
"I-iya, Tuan," jawabnya cepat.
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanyanya lagi.
"Su-sudah sebulan,Tuan. Nama saya...." setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Daniel, sangat cepat dijawabnya.
"Sssttt!" Daniel meminta manager itu untuk diam. "Aku tidak mau mengetahui namamu.
Kau yang meminjam para bodyguard ku?" semakin lama suara Daniel semakin dingin. Mengalahkan sejuknya AC yang terpasang di ruangan itu.
"I-iya, Tuan."
"Apakah kau tahu, semua itu tidaklah gratis?"
Kedua bawahan Daniel terkejut mendengarnya. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum di Rex Club, kalau para pekerja di sana mau menggunakan fasilitas yang ada di sana, semua diperbolehkan dan gratis. Termasuk bodyguard ini. Tapi, semua boleh digunakan selama alasannya jelas dan tidak merugikan Rex Club.
Tapi, kenapa kali ini berbeda? Dan bahkan, Daniel meminta bayaran? lelucon macam apa ini?
"Tapi, Tuan. Yang saya tahu, para pekerja di sini diizinkan menggunakan fasilitas itu, termasuk para bodyguard."
"Ya, kau benar!" Daniel berpusing, menunjukkan wajah tampannya pada bawahannya yang sedang ia targetkan karena berani mengganggu miliknya. Dia menyilakan kakinya dan menyandarkan punggungnya.
"Lalu saya? Kenapa?"
"Karena mulai sekarang, kau bukan lagi staf di sini," jawab Daniel enteng.
"Mak-maksud anda, Tuan?" tanya manager itu terbata-bata karena masih mencerna ucapan atasannya.
"****! Kenapa orang bodoh sepertimu bisa jadi manager di sini?" umpatnya kesal.
"Daniel!" panggil seorang wanita yang langsung mencelos masuk tanpa mengetuk pintu.
"Belle?" Wajah seram Daniel langsung berganti lembut saat melihat sang pujaan hatinya.
Belle langsung datang memeluk dan menci*m bibir Daniel sekilas. Dia seperti tidak melihat orang lain di sana.
BRUGH
Lutut yang sedari tadi gemetaran, kini tak lagi dapat menumpu berat tubuh yang juga ikut gemetar. Sang manager langsung jatuh berlutut saat melihat pemandangan di hadapannya.
Kini dia sudah mengerti, kenapa dia dipanggil ke sini, dan juga telah mengerti apa maksud ucapan atasannya barusan.
Belle yang masih berada di dalam pelukan Daniel langsung melihat ke arah suara. Daniel tambah mengeratkan pelukannya di pinggang Belle, dan dengan santainya dia berkata kepada para bawahannya, "Perkenalkan, dia tunanganku. Lebih tepatnya, calon istriku."
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 juga ya agar Author tambah semangat.
__ADS_1
Dukung juga karya baru author SAHABATKU SUAMIKU MUHALLILKU 🙏
Terima kasih ❤️❤️❤️