
Rena mengangguk membenarkan," Benar, Yah. Rena harap Ayah akan hadir di pernikahan Rena nanti," pinta Rena memohon.
Pras mengangguk. "Ayah pasti akan hadir. Ayah tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Ayah sudah bersalah pada Kakakmu, sekarang Ayah berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama padamu," ucap Pras.
Air mata Rena menetes, rasanya ia sangat terharu saat mendengar ucapan Pras yang begitu menyentuh relung hatinya. Merasakan kasih sayang dari seorang Ayah yang sesungguhnya.
Setelah merasa puas berbincang-bincang, Embun dan Rena pulang. Tak lupa Embun meminta Eson untuk mencabut tuntutan agar ayahnya dapat segera bebas dari rumah besi itu.
...******...
Beberapa bulan telah berlalu, bulan depan pernikahan Rena dan Rey juga akan segera terlaksana.
Belle dan Daniel juga telah dipercayakan oleh Tuhan untuk menjadi orang tua dengan menitipkan malaikat kecil di perut Belle. Kandungannya baru menginjak sepuluh Minggu.
"Rena, kamu jangan seringkali keluar rumah lagi. Ingat untuk selalu mengoleskan lulur buatan Ibu. Kalau tidak, siap-siap saja mendengar omelannya yang tidak pernah berakhir cepat itu!" cecar Embun menakuti Rena.
"Iya, Kak. Tapi aku bosan jika harus berada di rumah terus. Sudah tiga bulan lebih aku tidak pernah menginjakkan kaki melangkah keluar dari rumah ini, Kak!" keluhnya sambil melemparkan tubuhnya ke sofa di samping Embun.
"Jadi kamu maunya bagaimana? Apakah aku harus mengadu pada Ibu kalau kamu bosan di rumah dan ingin jalan-jalan keluar?" goda Embun sambil menaik turunkan alisnya.
"Kak Embun...!" pekik Rena sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Tak lupa ia juga memanyunkan bibirnya.
Dalam sehari, Eson langsung bisa mengeluarkan Pras dari jeruji besi yang menahannya. Setelah pulang dari menjemput Pras, Mika langsung mengeluarkan ultimatumnya pada Rena agar wanita itu tak boleh melangkahkan kakinya sejengkal pun keluar dari rumah.
Rena hanya boleh berdiam diri di rumah sambil merawat dirinya. Bahkan, Mika juga membuatkan lulur khasnya untuk anaknya yang akan menikah itu. Pernah sekali Rena keluar dari rumah dan ketahuan oleh Mika, Rena dimarahi habis-habisan oleh Mika.
"Kak, kenapa sih Ibu terlalu over posesif padaku?" Rena kembali mengeluarkan kalimat-kalimat keluhan yang sangat membosankan di telinga Embun.
"Kenapa sih kau selalu mengeluh? Membuat telingaku sakit. Bahkan Hilsa dan Hansel juga pasti bosan mendengar keluhan mu itu, Rena!" canda Embun dengan wajah datarnya. "Iya, kan Hansel? Hilsa?" Embun berpura-pura bertanya pada kedua anak kembar yang sedang sibuk bermain itu. Dan kedua anak kecil itu malah mengangguk sambil bertepuk tangan.
"Bukan seperti itu, Kak. Aku senang dengan sikap Ibu. Tapi, kenapa Ibu terlalu cepat mengurungku di rumah seperti ini?" lanjutnya dengan menghembuskan nafas kasar dan panjang.
"Seharusnya kau senang, kan, Rena? Lalu, kenapa ucapan yang keluar dari mulutmu itu isinya keluhan semua?" gerutu Embun.
"Karen aku sudah merasa sangat bosan di rum--"
Belum juga Rena sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada seorang ART yang berlari ke arahnya sambil membawa telepon rumah.
"Nona Rena, ada telepon dari rumah sakit!" ucap sang ART dengan wajah panik.
Rena langsung merebut telepon yang dipegang sang ART.
__ADS_1
"Halo?"
"Rena, ini aku Ranti. Amanda, Amanda...." ucapan Ranti terhenti karena dia wanita itu sudah terisak.
"Amanda kenapa? Cepat katakan padaku! Nanti saja kau menangisnya," protes Rena kesal. Jujur saja, jantungnya sudah berdetak kencang. Bukan karena dia sedang jatuh cinta, tapi karena sedang merasa cemas dan khawatir dengan apa yang terjadi di sana.
"Amanda tadi terjatuh dari tangga, dan dia mengalami pendarahan, Rena! Se-sekarang dia sedang berada di dalam ruangan operasi!" ucap Ranti sambil terisak. Meskipun kalimat yang diucapkan Ranti terputus-putus, namun Rena masih dapat mengerti ucapan Ranti.
"Kirim alamat rumah sakitnya sekarang. Aku akan segera menyusul ke sana sekarang!" titah Rena dalam kepanikan yang melanda. Tubuhnya gemetar, rasa cemas dan bayangan aneh mulai hingga di kepalanya.
Melihat adiknya yang wajahnya terlihat pucat pasi, Embun menjadi penasaran.
"Rena, kamu kenapa?" tanyanya.
"Kak, Amanda...."
"Kenapa?"
"Amanda jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan, Kak!" Rena terduduk dan dan meremas jemarinya.
Embun menutup mulutnya sendiri, khawatir juga menggerayanginya.
Rena mengangguk, dia buru-buru naik ke tangga dan menuju ke kamarnya.
Rena mengambil ponselnya, melihta ada banyak sekali panggilan yang berasal dari Ranti dan pegawai-pegawai lain yang dia yakini menghubunginya untuk memberitahukan berita buruk ini.
"Sial! Kenapa aku harus meninggalkan ponselku di kamar?" dia merutuki kebodohannya.
Dengan cepat dia menyambar tas jinjingnya. Sambil menuruni anak tangga dia memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas.
"Ayo!" ajak Embun saat melihat Rena.
"Bagaimana dengan Hansel dan Hilsa?"
"Tidak apa-apa. Aku sudah menitipkan mereka," jawab Embun.
Rena dan Embun berlari ke mobil, buru-buru meminta supir untuk segera mengantarkan mereka ke rumah sakit tujuan.
"Ranti, bagaimana keadaan Amanda?" tanya Rena penuh harap dengan jawaban yang dapat membuatnya puas.
"Ti-tidak tahu. Dia masih berada di dalam," jawab Ranti yang masih sesegukan.
__ADS_1
Rena mendengus pasrah, dia kembali terduduk di kursi tunggu di depan ruangan operasi. Matanya melirik ke dalam ruangan. Terlihat lampu terang masih menyala, bertandakan sedang ada kegiatan upaya penyelamatan di dalam sana.
Embun menggenggam tangan Rena.
"Rena, berpikirlah yang baik-baik. Doakan Ibu dan bayinya selamat. Dan yakinkah semua akan baik-baik saja," ucap Embun menguatkan.
Rena hanya mengangguk. Namun, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Kekhawatiran yang terus menerus menenggelamkan ketenangannya, membuat kecemasan bertumbuh dengan baik. Kerisauan terus saja menggelayuti hati dan jiwanya yang sama sekali tak dapat dihilangkan.
"Sudah lama sekali, Kak. Tapi kenapa masih belum ada kabar? Apakah ada sesuatu yang terjadi di dalam sana?" Rena bertanya-tanya dengan kerisauan yang terus menghantui hatinya.
"Rena, tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja."
Embun tahu, Rena memang sudah sangat menyayangi Amanda seperti saudaranya sendiri. Meskipun tak ada ikatan darah diantara mereka, namun waktu yang mereka lalui, cukup untuk menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat diantara mereka berdua.
"Ranti, bagaimana? Kenapa Amanda bisa terjatuh? Apakah lantainya licin? Kau lupa mengepel lantainya?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Rena. Semua itu karena dia sangat mencemaskan wanita yang sedang tidur di atas meja operasi di dalam ruangan dingin itu.
"A-aku juga tidak tahu, Rena. Tiba-tiba semua pegawai menjerit histeris saat melihat Amanda terjatuh dari tangga. Kami juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Ranti menjelaskan.
Rena menghela nafas panjang. Berkali-kali melihat ke ruangan yang pintunya masih tertutup rapat dan lampu terangnya masih menyala itu.
Setelah satu jam, ada seorang Dokter yang masih mengenakan Scrub Suits.
Rena berlari mensejajarkan langkahnya dengan sang Dokter, memaksa Dokter itu berhenti dan memberikan penjelasan padanya.
"Dok, bagaimana keadaan pasien di dalam? Bagaimana dengan Ibu dan bayinya?" tanya Rena menggebu-gebu.
Sebelum menjawab, sang Dokter menarik nafas panjang nan berat. Dia menatap wajah Rena dengan raut yang sulit dijelaskan.
"Bayinya berhasil kami selamatkan," ucapnya.
"Lalu, bagaimana dengan ibunya?" potong Rena tak sabaran.
"Maafkan kami, Ibunya tidak berhasil kami selamatkan," ucap sang Dokter penuh penyesalan.
Maaf karena udah beberapa hari tidak update. Dikarenakan di rumah sedang ada acara.
Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote sebanyak-banyaknya.
Berikan juga rate 5 ya guys ❤️❤️❤️
Terima kasih untuk semua dukungan dari kalian ❤️❤️❤️
__ADS_1