Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MELIHAT TAPI TAK BERTEMU


__ADS_3

Ternyata toko itu adalah milik Nyonya Embun. Sekarang aku sudah bisa sedikit tenang, karena sudah mendapatkan satu informasi.


"Kita sudah dua jam berada di sini, sekarang waktunya ganti mobil." Ucapnya sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku masih ada pekerjaan lain, kalian terus awasi Nyonya Embun. Jangan sampai Nyonya berada dalam situasi yang berbahaya. Kalau Nyonya Embun dan Anaknya terjadi sesuatu yang buruk, kalian akan dikebiri oleh Tuan Bara!" Ancamnya lagi.


Meskipun dia tahu kalau semua bawahannya dapat diandalkan, tapi dia juga takut kalau mereka akan berbuat kekacauan, walaupun hanya dengan kesalahan kecil. Jadi, dia hanya bisa mengancam seperti itu, agar para bawahannya tidak lengah. Sebenarnya bukan mengancam sih, tapi memperingatkan. Karena Bara memang akan mengebiri mereka kalau ada sesuatu yang salah terjadi pada Istri dan calon Anaknya.


Tidak seperti biasanya, yang setiap harinya akan menghubungi Eson hanya sekedar untuk bertanya kabar terbaru tentang pencarian Embun. Sudah seminggu ini, Bara tidak menghubungi Eson, bawahannya sekalipun. Dia juga tidak berani menghubungi Tuannya duluan, karena takut kalau Bara sedang banyak pekerja.


Seperti pagi ini, Bara sudah mulai masuk kantor seperti biasanya. Dia menghubungi Eson melalui telepon kantornya dan meminta laki-laki paruh baya itu masuk ke ruangannya.


TOKK TOKK TOKK


"Masuk!" Titah Bara, karena dia memang sudah tahu siapa yang berada di luar.


CEKLEK


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Eson hormat.


"Bagaimana kabar terbaru dari pencarian Jingga? Apakah kamu sudah menemukan sesuatu yang membuatku senang, Eson?" Tanyanya datar sambil memainkan Bolpoin nya.


"Sudah, Tuan. Tapi, saya tidak tahu, apakah kabar ini dapat membuat Anda senang atau tidak." Sahutnya takut. Walaupun dia sudah lama bekerja dengan Bara, tapi nyalinya akan langsung menciut jika sudah berhadapan dengan laki-laki yang pikiran dan kemauannya susah ditebak itu.


"Katakan! Kalau aku tidak senang. Aku akan segera memindahkanmu ke kutub Utara." Ucapnya yang sudah memberikan peringatan diawal.


GLEKK


Eson menelan saliva-nya sendiri karena sudah merasa tertekan duluan. Mulutnya masih terkatup rapat, dia tidak ingin mengatakan informasi yang dia ketahui karena dia tidak siap kalau-kalau akan dipindahkan ke kutub Utara.


"Kenapa masih bungkam? Cepat beritahu aku, kabar apa yang kau dapatkan selama aku pergi ke luar kota?" Tanya Bara lagi dengan raut wajah yang sulit diartikan, membuat jantung Eson semakin berdetak cepat, seperti orang yang baru jatuh cinta.


Ini semua salah Anda, Tuan. Anda bilang sebulan, tapi kenapa hanya seminggu dan Anda sudah kembali? Dan Anda mendesakku dengan informasi yang harus membuat Anda puas? Oh, aku sangat ingin memecatmu jika kau bukan atasanku!


Tentu saja Eson hanya berani mengumpat Bara di dalam hatinya. Kalau sampai dia mengumpat atasannya sendiri secara terang-terangan, bisa saja sebelum dia mengatakan informasi itu, dia sudah lebih dulu dikirim ke Benua Antartika.


"Menurut dari hasil analisaku, dan bukti di lapangan juga sepertinya sudah mendukung, saksi yang bisa dipercaya juga sudah ada...."


"Eson!" Pekik Bara karena geram dengan Eson yang bertele-tele, "Kenapa kau tidak langsung mengatakan intinya saja?" Geram Bara.


"Maafkan saya, Tuan. Menurut hasil penyelidikan kami selama ini, Nona Embun tinggal di toko yang dia miliki selama ini." Ucapnya cepat.


"Tinggal di toko?" Bara mengulang ucapan Eson karena seakan dia tak percaya.


"Benar, Tuan." Jawab Eson mengangguk.


"Toko miliknya? Sejak kapan dia membuka Toko?" Tanya Bara pada bawahannya itu dengan gurat keheranan.

__ADS_1


Mana saya tahu, Anda saja yang Suaminya tidak tahu, apa lagi saya, Tuan?


"Saya tidak tahu, Tuan."


"Apakah informasi ini akurat dan bisa dipercaya?"


"Bisa, Tuan. Karena saya mendapatkan info ini langsung dari orang dalam. Bawahan Nyonya Embun."


"Baiklah. Karena aku merasa puas dengan informasi mu ini, aku akan menambahkan gajimu dua kali lipat, dan akan memberikan bonus tahunan yang lebih besar padamu." Ucap Bara memberikan hadiah untuk mengaplikasikan hasil kerja kerasnya Eson.


"Terima kasih, Tuan! Kenapa tidak dari tadi saja Anda mengatakan kalau ada bonus besar." Ucapnya menggerutu.


"Apa yang kau katakan?"


"Tidak. Saya hanya berterima kasih."


"Antar aku ke toko milik Jingga. Aku ingin menemuinya sekarang."


"Tuan, apa tidak sebaiknya Anda jangan menemui Nyonya dulu? Mungkin Nyonya belum siap untuk bertemu dengan Anda."


"Kau tidak mengerti perasaanku. Kau kan masih sendiri, mana mengerti perasaan rindu sepertiku ini." Sindirnya.


"Baiklah, saya akan memanggil Bram untuk membawa Anda ke sana." Ucapnya.


Kini Bram sedang membelah jalanan, membawa Bara pada kekasih hati yang sudah lama dia rindukan. Sedari tadi Bram mengintip dari kaca spion dalam mobil, berusaha melihat wajah Tuannya yang sedari tadi tampak tersenyum-senyum tak jelas.


"Seperti di rumahku. Banyak sekali bunga mawar berwarna-warni." Gumam Bara. Dia masih sibuk memperhatikan sekeliling toko sebelum dia memasuki toko itu.


Toko itu tampak ramai, dan dia melihat nama toko itu. Kemudian dia langsung mengingat-ingat seperti pernah melihat nama toko itu sebelumnya.


"Aku ingat sekarang, ini adalah toko roti yang rotinya pernah dibawa pulang oleh Jingga. Pantas saja dia bisa membuatnya, ternyata dia adalah pemilik toko roti yang sedang terkenal ini." Gumamnya.


"Ayo turun!" Ajaknya pada Bram.


"Baik, Tuan."


Mereka turun secara bersamaan. Saat mereka mulai berjalan ke toko itu, sangat banyak pasang mata yang memperhatikan Bara yang berjalan di depan Bram. Tapi dia memang tidak pernah memperhatikan tatapan-tatapan mendamba dari orang-orang itu. Dia hanya fokus jalan ke depan, dan dia juga sudah menggebu-gebu karena ingin menemui Embun, sang pujaan hati.


Habislah aku, pasti aku akan bertemu kembali dengan wanita pendek itu, batin Bram. Wanita pendek yang dia maksud adalah Ranti ya teman-teman, hehe.


KRIETT


Bara mulai mendorong pintu kaca toko itu perlahan, tapi tetap saja menimbulkan bunyi dan menyita perhatian orang-orang yang sedang memilah-milah roti dan kue untuk mereka beli.


"Selamat datang, Tuan. Roti atau kue yang sedang Anda cari?" Tanya salah satu pegawai Embun yang berusaha melayani pelanggannya dengan profesional, meskipun wajahnya sudah memerah bak tomat yang baru matang, dan hidungnya mungkin sudah mimisan karena melihat ketampanan Bara. Lebay dikit gak apa ye, kan?


Bara tidak menjawab, dia hanya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru sudut untuk melihat wanita yang sedang dia cari.

__ADS_1


Terlihat para pembeli mulai berbisik-bisik karena ketampanan Bara.


"Lihat itu, pria itu sangat tampan. Tapi, aku seperti mengenal pria itu." Ucap salah satu datu mereka.


"Ya, seperti Presdir dari perusahaan Wirastama." Sahut yang lain, Bara susah dikenali karena saat itu dia sedang memakai kacamata hitam.


"Tuan?" Pegawai Embun yang tadi kembali memanggil Bara.


"Aku sedang tidak ingin roti atau kue." Jawab Bara tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Lalu?" Pegawai itu mungkin merasa heran, tampan tapi kenapa sedikit aneh kelakuannya.


"Aku sedang mencari pemilik toko ini!" Ucap Bara. "Apakah aku bisa menemuinya sekarang?"


"Bisa, Tuan. Sebentar, aku akan memanggilkan."


"Hem." Bara masih berdiri sambil melihat-lihat varian roti dan kue yang beranekaragam itu.


"Kak Rena, ada yang ingin menemui Anda." Ucap pegawai tadi yang memanggil pemilik toko.


"Siapa?" Tanya Rena yang sedang memasukkan adonan roti ke dalam oven untuk dipanggang.


"Aku tidak tahu, seorang laki-laki tampan."


Rena mengernyit heran karena selama ini dia tidak merasa pernah berurusan dengan pria mana pun. Tapi karena tidak ingin membuat tamunya menunggu lama, dia langsung melepaskan apron dan berjalan ke depan untuk menemui tamu yang tak diundang itu.


"Tuan, ini pemilik toko kami." Ucap pegawai itu menunjuk ke arah Rena.


Rena masih mengernyit bingung karena belum bisa mengenali siapa pria yang sedang berdiri dihadapannya ini. Tapi, dia merasa seperti familiar dengan laki-laki ini, seperti pernah melihatnya tapi dia juga lupa. Susah untuk mengingat, karena dia melihat Bara secara langsung hanya sekali, yaitu saat pernikahan Embun.


Berbeda dengan Rena, Bara langsung mengenali Rena meskipun dia hanya pernah melihat sekali. Dia tahu kalau Rena adalah adik tiri Embun. Saat dia meminta Eson mengumpulkan informasi tentang Embun, sebelum menikah pun, foto Rena juga ada pada saat itu.


"Anda mencari siapa, Tuan?" Tanya Rena.


"Aku mencari Kakakmu, Jingga!"


"Kak Embun? Dia sedang keluar membeli buah-buahan. Mungkin tidak akan lama."


"Bolehkah aku menunggu di sini?" Seru Bara, kemudian dia melepaskan kacamata hitam yang ia gunakan.


"Kak Bara?" Kata itulah yang terucap dari mulut Rena.


"Bara?" Kata itu juga terucap dari mulut Embun yang hendak membuka pintu. Dan suaranya yang keras mengalihkan perhatian Bara padanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2