Istri Miskin Presdir

Istri Miskin Presdir
MASIH MENERKA-NERKA


__ADS_3

"Tidak, Embun. Itu bukan keinginan Ayah." Pras memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.


"Lalu, keinginan siapa?" Tanya Embun


Pras ingin mengatakan sesuatu, tapi dia juga tidak tahu siapa orang itu. Dia ingin memberikan nomor ponsel orang itu, namun dia merasa takut karena orang itu telah mengancamnya. Jadi, sekarang dia hanya bisa diam dan mencoba membujuk Embun untuk meminta dikeluarkan dari rumah dingin itu.


"Tidak ada yang menyuruhku, Embun. Tapi, tolong keluarkan aku dari sini." Pintanya memohon, tapi kata maaf tak terucap dari mulutnya. Dan wajahnya, tak tersirat penyesalan sedikitpun karena telah melukai anaknya.


Dia tidak mau mengakuinya, apakah sudah ada yang mengancamnya? Aku harus mencari tahu semuanya sampai tuntas!


"Maaf, Ayah. Kesalahan tetaplah kesalahan. Aku melaporkan kamu bukan karena mau menghukummu atau menghakimi kamu. Aku hanya ingin Ayah tahu, aku terluka dengan perbuatan Ayah ini." Desis Embun, kemudian dia berlalu keluar meninggalkan Pras yang masih terpaku di tempatnya. Seperti masih syok mendengar kata-kata Embun yang tidak mau membebaskan dirinya.


Embun keluar, wajahnya terlihat sendu. Melihat wajah istrinya yang seperti itu, Bara langsung menarik Embun ke dalam pelukannya. Dia tahu, Istrinya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Meskipun tak bisa menenangkannya seperti anak kecil yang butuh sebuah bujukan. Tapi, sebuah pelukan hangat seperti ini pasti akan jauh lebih menenangkan.


"Semua akan baik-baik saja, Sayang." Bara berusaha menenangkan Embun yang masih betah memeluknya. Meski tak menangis atau menuangkan keluhnya, tapi dia sangat tahu. Tak mudah Embun mengambil keputusan ini. Terlebih, orang itu adalah Ayahnya sendiri.


Saat mereka masih saling berpelukan berbagi rasa, tiba-tiba....


"Duarr...!" Dengan suara besarnya, Rey mengagetkan Bara dan Embun, membuat mereka kaget setengah hidup.


"Rey!" Tegur Daniel.


"Apa? Aku hanya ingin menghibur mereka saja!" Tukasnya membela diri.


"Tapi tidak disaat seperti ini bodoh!" Sungut Daniel kesal dengan tingkah sahabatnya itu.


"Besar sekali mulutmu, seperti kudanil! Sampai kau bisa mengeluarkan suara sebesar itu untuk mengagetkan orang!" Ketus Bara marah.


Rey ingin menyahuti, tapi diurungkan karena ada seorang petugas polisi yang menghampiri mereka.


"Tuan, saya menemukan ponsel milik Tuan Pras di mobil kami." ujar petugas kepolisian itu sambil memberikan ponsel itu pada Bara.


"Terima kasih." jawab Bara balas.


Setelah petugas kepolisian itu pergi, Daniel langsung meminta ponsel itu untuk dilihatnya. Mungkin saja, melalui ponsel ini, mereka bisa menemukan sebuah petunjuk yang lebih memperjelas semuanya. Karena, tuduhan mereka terhadap Albert, hanya tudingan tanpa bukti yang kuat.

__ADS_1


"Berikan ponselnya padaku. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin." Daniel langsung menyambar ponsel yang masih berada dalam genggaman Bara.


Bara membuatkannya begitu saja. Dia tahu, Daniel pasti bisa membuat mereka puas dengan penemuannya. Tidak butuh waktu lama, setelah mengotak-atik ponsel jadul itu, Daniel melihat panggilan terkahir yang dilakukan oleh Pras.


Seketika keningnya tampak berkerut namun bibirnya menyunggingkan senyum. Membuat orang-orang disekitarnya menerka, kalau Daniel pasti telah menemukan sesuatu.


"Katakan! Apa yang sudah kau temukan?" Tanya Bara sambil duduk santai. Di sampingnya, ada Embun dan Rena.


"Tentu saja menemukan sesuatu yang menarik!" Jawabnya ambigu, namun dapat dimengerti oleh dua sahabatnya yang masih menatapnya.


"Apa?" Tanya Rena yang juga ingin tahu.


"Rena, jangan bertanya padanya. Tanyakan saja padaku." Sela Rey yang merasa tak terima jika Rena, sang pujaan hati harus berbicara dengan pria lain. Namun, wanita itu tampak acuh, dia tak memperdulikan ocehan Rey.


"Aku menemukan nomor ponsel yang menghubungi Pras tepat di hari kalian kecelakaan." Jujur Daniel yang akhirnya buka suara, menghilangkan rasa penasaran dari orang-orang di sana.


"Benarkah? Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rena senang, karena mereka telah menemukan sebuah harapan dalam masalah ini.


"Tenang saja. Aku tahu apa yang harus kita lakukan." Sahut Daniel masih dengan senyum smirknya.


Daniel langsung mengeluarkan kemampuan Hacker nya. Dia kembali mengotak-atik ponsel jadul itu. Kemudian keningnya berkerut dalam.


"Aku mencari alamat IP orang yang mempunyai nomor ponsel ini. Tapi, sekarang orang itu berada di sekitar kantor polisi ini." Serunya yang masih menatap lekat ponsel digenggamannya.


"Ya. Bahkan sepertinya dia berada disekitar kita." Timpal Bara yang ikut melihat hasil investigasi Daniel.


TAKK TAKK TAKK


Terdengar suara sandal yang membentur lantai. Orang itu langsung berlari ke arah Rena dan Embun dengan perasaan campur aduk.


"Embun, kenapa kau melakukan ini?" teriak Mika marah. Dia hendak memukul Embun tapi kalah cepat dengan Rena yang langsung menariknya menjauh.


Embun begitu terkejut dengan serangan brutal yang dilakukan Mika secara mendadak tadi. Dia tadi sedang melamun melihat foto Hansel dan Hilsa di layar ponselnya.


Dia mengatur laju nafasnya kemudian menatap Mika dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Bu, Ayah memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tidak ada alasan kita membela sebuah kesalahan." Jelas Embun, dari jawaban itu, Mika bisa melihat kalau Embun benar-benar berniat untuk memperpanjang kasus ini, membuat Mika semakin berang.


Jangan tanya, dari mana Mika tahu kalau Embun lah yang melaporkan Pras.


"Diam! Jangan panggil aku Ibu! Aku bukan Ibumu." bentak Mika kesal.


"Nyonya Mika, Ayahku memang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jadi, tolong mengertilah." Embun mengganti nama panggilannya terhadap Mika, membuat wajah wanita merah padam.


Dulu, jika Mika mengatakan itu pada Embun, wanita itu akan menangis dan memohon kepada Mika untuk menganggnya sebagai anak. Jadi, dia mau meminjam kesempatan itu untuk meluruhkan keyakinan Embun. Yang tidak disangka, Embun malah mengganti panggilannya. Kalau seperti ini, mana mungkin dia bisa membuat Embun mencabut gugatannya.


"Bu, ayo kita pergi dari sini. Kasihan Kak Embun, Bu." Rena menarik-narik tangan Mika agar bisa membawa wanita itu pergi dari sana. Agar tak terjadi keributan yang lebih besar.


"Lepas, Rena! Kenapa kau membela anak tidak berbakti ini?" cetus Mika masih melihat ke arah Embun.


"Bu, mengertilah sedikit." Bujuk Rena.


"Nyonya Mika, dari mana Anda tahu kalau Embun lah yang melaporkan Pras?" tanya Bara, pertanyaan itu membuat semua orang menoleh ke arah Mika menunggu jawaban. Mika terlihat kebingungan menjawab, dia tergugu dan seperti orang kebingungan.


"Ada orang yang menghubungiku." jawabnya lirih.


"Siapa?" tanya Bara lagi.


Bara sungguh heran darimana Mika tahu kalau Embun lah yang sudah melaporkan Pras. Karena Pras saja baru mengetahui hal itu saat dia telah tiba di kantor polisi.


"Aku tidak tahu. Aku akan pergi dari sini. Kuharap Embun akan berubah pikiran." ucapnya sambil berjalan.


"Siapa kira-kira?" Embun bertanya-tanya dibenaknya.


"Kita tidak perlu menunggu lama untuk segera mengetahuinya. Karena, orang itu sedang menuju kemari." Sahut Bara tersenyum simpul.


Suara sepatu mendekat kembali berbunyi. Terlihatlah dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka dengan tergesa-gesa. Bara kembali memunculkan senyumnya saat melihat siapa yang datang. Ternyata, kedua sahabatnya memang tak pernah salah menuduh meskipun tanpa bukti.


"Paman, kenapa kamu datang kemari?" tanya Bara yang sudah memasang wajah datarnya.


"Aku mendapat kabar dari bawahanku, kalau orang yang hendak mencelakai kalian telah ditangkap. Jadi aku buru-buru datang ke sini untuk melihatnya." jawabnya dengan wajah resah nan gundah.

__ADS_1


DUKUNG AUTHOR DENGAN LIKE, BERIKAN KOMENTAR, GIFT DAN VOTE.


TERIMA KASIH UNTUK SETIAP DUKUNGAN YANG KALIAN BERIKAN. SEMOGA TIDAK PERNAH BOSAN DENGAN CERITA RECEHKU INI ❤️❤️❤️


__ADS_2