Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Papa Datang


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari ini adalah hari dimana Zio, Shanum dan bu Suyamti bersiap untuk berangkat ke tanah Suci. Mutiara jauh-jauh hari sudah di kabari untuk bisa hadir, dan ikut serta mengantarkan mereka sampai ke bandara.


"Tiara, nanti ikut nganterin ibu ya." pinta bu Suyamti.


"InshaaAllah bu." jawab Mutiara.


"Kamu ke sini sama dokter Dzen kan?" tanya bu Suyamti lagi.


"Iya bu." jawab Mutiara.


Setelah berpamitan dengan para warga sekitar kemarin malam, pagi ini bu Suyamti, Zio dan Shanum sudah berada di kantor pelayanan haji dan umroh, mereka akan berangkat bersama rombongan lalu menuju embarkasi. Mutiara dan Dzen ikut serta mengantar sampai di embarkasi,


"Hati-hati ya bu, jaga kesehatannya, disana nanti akan banyak kegiatan fisik yang menguras energi. Banyakin minum air putihnya, dan istirahat yang cukup. Serta kalau bingung, terpisah dari pak Zio dan mbak Shanum, ibu bisa langsung hubungi panitia atau orang yang ada didekat ibu ya." pesan Mutiara kepada bu Suyamti dengan penuh rasa khawatir.


"Ya ampun Tiara, kamu ini, ibu jadi tersanjung dapet perhatian begini darimu. Iya, InshaaAllah ibu akan selalu ingat pesanmu " kata bu Suyamti dengan tersenyum bahagia.


"Dokter Dzen, ibu titip Tiara ya, Tolong jaga dia baik-baik, dia sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri." kata bu Suyamti berpesan pada Dzen.


"Iya bu, InshaaAllah. bu Suyamti hati-hati ya." kata Dzen.


"Ya, InshaaAllah." jawab bu Suyamti.


Giliran Zio dan Shanum yang berpamitan. Shanum menyalami Mutiara dan Zio menyalami Dzen.


"MaasyaaAllah, betapa bahagianya ya mbak Shanum dan pak Zio ini, bulan madunya langsung ke mekah, di tanah suci. Semoga Allah kabulkan segala do'a kedua mempelai pengantin baru ini, dan segera launching ya Zio juniornya." kata Mutiara menggoda.


"Ish, Tiara, ternyata kamu ni ya, kecil kecil ngerti banget masalah begituan?" komentar Shanum bercanda.


"Ya, kan memang itu harapan setiap pasangan pasutri kan mbak?" tanya Mutiara tak mau kalah.


"Hahaha, iya sih. Kenapa, kamu udah kepingin juga kaya kita?" tanya Zio sambil merangkul tubuh istrinya.


"Dzen...sinyal tuh." kata Shanum menggoda Dzen.


"Ya, gue sih, siap siap aja. Dianya yang kayaknya malah belum siap." kata Dzen menoleh ke arah Mutiara.


Seketika Mutiara tertunduk malu.


"Titip Tiara ya bro." kata Zio kepada Dzen.


"Siap mas Bro. Hati-hati." kata Dzen.


Setelah berpamitan, Mutiara dan Dzen segera kembali ke mobil Dzen, beserta bu Mia dan pak Yuda, juga Nilam dan Pian.


Dzen mengantarkan Mutiara kembali ke kosan nya, setelah tadi Mutiara dan Dzen diajak makan bersama oleh bu Mia sekeluarga beserta Nilam dan suaminya.

__ADS_1


"Perlu mas anter ke kosan?" tawar Dzen yang sudah dihafalkan Mutiara setiap kali sampai di pinggir jalan masuk ke gang kosan Mutiara.


"Ga usah mas. Makasih." selalu itu jawabannya.


Dzenpun segera melajukan mobilnya, setelah berpamitan dengan Mutiara. Sesampainya di apartemen, Dzen terkejut dengan kedatangan orang yang tak disangka datang ke apartemennya. Sepasang suami istri, Mereka menunggu Dzen di lobi.


"Papa?" kata Dzen.


"Dzen. Sudah pulang kamu?" tanya Pak Panca, papa Dzen.


"Iya pa, kapan papa datang?" tanya Dzen sambil menyalami papa dan ibu tirinya dengan takdzim.


"Ya, sudah sekitar setengah jam yang lalu." jawab Pak Panca.


"Ya udah, ayo pa, bu. Kita masuk." ajak Dzen ramah.


Dzen memang seorang anak yang baik dan patuh pada kedua orangtuanya, sekalipun dengan ibu tirinya. Tetapi, dia juga anak yang memiliki prinsip, dengan pendirian yang kuat, sehingga tak jarang dia juga bertengkar dengan papanya, karena terkadang mereka berbeda pendapat dan Tak ada yang mau mengalah.


Dzen membukakan pintu rumahnya, dan mempersilakan keduanya masuk.


"Papa mau kopi apa teh?" tanya Dzen sambil berjalan menuju dapur.


"Kopi aja Dzen." jawab pak Panca.


"Ibu?" tanya Dzen.


Dzenpun segera membuatkan kopi untuk keduanya.


"Kamu tadi dari rumah sakit, atau dari mana Dzen? Kok ga pake jas dokter?" tanya pak Panca.


"Abis nganter temen berangkat haji pa. Alhamdulillah, temen SMP Dzen udah bisa berangkat haji di usia muda. Karena dulu mamanya daftar haji, tapi belum sampe berangkat, mamanya udah meninggal. Jadi, dia yang gantiin mamanya." kata Dzen.


"Oh, teman SMPmu ada yang tinggal di kota ini juga?" tanya pak Panca.


"Ada pa. Shanum, anaknya pak Kuncoro." jawab Dzen.


"Oh."


"Ini pa, ma, diminum." kata Dzen meletakkan kedua cangkir kopi dihadapan pak Panca dan bu Lastri.


"Terimakasih Dzen." jawab bu Lastri.


"Gimana program Dokter Spesialismu Dzen?" tanya Pak Panca lagi.


"Alhamdulillah lancar pa." jawab Dzen.

__ADS_1


"Syukurlah." jawab pak Panca.


"Ini, ga ada angin, ga ada hujan. Maaf ni pa, bu. Kok tumben berkunjung ke apartemen Dzen, ada apa ya? Apa ada kabar dari Makassar?" tanya Dzen sopan, sambil duduk di sofa berhadapan dengan papa dan ibu tirinya.


"Ya, biasalah. Papa tu kangen sama kamu Dzen. Sekarang kamu sudah jarang berkunjung ke Makassar. Kabarnya, kamu juga jarang pulang ke Jakarta ya?" tanya Pak Panca.


"Ehm, iya pa." jawab Dzen.


"Masih sibuk di rumah sakit ya?" tanya pak Panca.


"Iya pa. Apalagi, sekarang Dzen juga sudah harus mulai fokus dengan jurnal dan desertasi Dzen, serta sering bolak balik Solo Semarang juga untuk bimbingan dengan Professor dan beberapa kali harus mengikuti Seminar ke berbagai kota." jawab Dzen yang memang jadwalnya sangat padat.


"Jadwal sepadat itu, membuatmu lupa dengan umurmu Dzen?" tanya pak Panca.


"Maksud papa?" tanya Dzen.


"Kamu masih berhubungan baik dengan anaknya dokter Herman kan?" tanya pak Panca yang mengetahui hubungan asmara antara Dzen dengan Lala.


"Ehm, kalau komunikasi, masih baik pa. Tapi..." kata Dzen menggantung.


"Kalian sudah putus?" tanya pak Panca.


Dzen mengangguk.


"Kamu tau kan, apa konsekuensinya kalau kalian putus? Kamu ingat kan Dzen, siapa yang membawamu bisa bekerja di rumah sakit itu, sampai kamu mapan seperti sekarang ini?" tanya pak Panca yang sudah mulai masuk pada topik maksud kedatangannya ke Semarang.


"Dzen ga pernah putusin dia pa. Dia yang ninggalin Dzen, dan dia juga yang memutuskan untuk masing-masing." kata Dzen berusaha membela diri.


"Ga mungkin. Lala itu sangat mencintai kamu. Dia ga mau kehilangan kamu. Kemarin dia nangis-nangis, hampir saja dia bunuh diri, gara-gara kamu putusin. Dia mau ngajak kamu balikan, tapi kamu ga mau." kata pak Panca dengan nada tinggi.


"Oh, jadi ini alasan papa datang jauh jauh dari Makassar ke Semarang?" tanya Dzen.


Pak Paanca hanya diam.


"Dokter Herman menghubungi papa?" tanya Dzen.


"Iya."


"Dasar, anak papa." Batin Dzen kesal.


"Dzen. Kamu tau kan, Kalau kamu berani nyakitin hati anaknya, dokter Herman bisa berbuat sesuatu terhadap kariermu. Kariermu bisa hancur Dzen. Dan selain itu, saham dia di perusahaan papa, juga bakal dicabut. Kamu tau itu kan?" kata Pak Panca dengan kesal.


"Kapan dokter Herman menghubungi papa?" tanya Dzen mulai menganalisis.


"Kemarin."

__ADS_1


"Asal papa tau, Dzen dan Lala sudah putus satu tahun yang lalu. Dan dokter Herman baru menghubungi papa kemarin? Saat dimana Lala mulai mengajak balikan lagi, setelah dia ninggalin Dzen demi laki-laki lain." kata Dzen mulai tidak bisa mengontrol emosi.


Pak Panca terkejut, dia tidak tau kalau ternyata anaknya sudah putus sejak satu tahun yang lalu. Dan apa yang diceritakan dokter Herman, semua seolah baru saja terjadi.


__ADS_2