Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Kisah Tiga Saudara


__ADS_3

Keesokan harinya, Dzen memutuskan untuk kembali pulang ke apartemennya. Tetapi, sebelum pulang ke apartemennya, Dzen dan Mutiara pulang ke rumah pak Bowo dulu sebentar, karena walau bagaimanapun itu adalah rumah Mutiara. Sedangkan, keluarga Dzen sebagian pamit pulang ke kota masing-masing, dan keluarga inti Dzen memutuskan untuk liburan di Tawangmangu sekaligus menyewa vila di sana.


Sesampainya di rumah pak Bowo, Mutiara dan Dzen mencium tangan pak Bowo dan pak Bowo mempersilakan keduanya masuk. Kebetulan, keponakan mereka belum kembali pulang ke kota masing-masing, sehingga Dzen dan Mutiara tampak Have Fun bermain bersama mereka. Namun, kemudian, saat waktunya makan siang, Mutiara ke dapur untuk membantu ibu dan kedua mbaknya menyiapkan makanan.


"Ehem, manten baru. Gimana pengalaman malam pertama nya semalem?" tanya Khotim menggoda adiknya.


"Apaan sih mbak?"


"Ga usah malu, semua juga pernah ngalamin kali dek." kata Khotim dengan tangannya sibu mengiris daun bawang.


"Hem, gini ya mbak. Kalau menurut islam, ada baiknya jika kita merahasian urusan ranjang kepada orang lain." kata Mutiara.


"Hem... ga seru banget sih kamu dek. Tapi, udah belah duren kan?" tanya Khotim lagi.


"Lagian kamu ini Tim, kepo banget sih masalah begituan? Ga semua pengantin baru itu bisa melakukan malam pertama nya dengan seru." sanggah mbak Fatimah yang memang dulu saat malam pertama mereka baru saling kenalan.


"Yee,,, bilang aja mbak Fatim ngiri, karena dulu malam pertama ga seru." kata Khotim mengejek.


"Ya gimana mau seru? Kita aja baru kenal. Masih sungkan juga kali. Emang kamu, yang udah pacaran bertahun-tahun, udah kaya perangko aja, kelet terus." ejek Mbak Fatimah membalas.


Mutiara hanya tersenyum menanggapi kedua kakaknya yang kalau bertemu memang selalu tidak akur, tetapi dekat dengan mereka itu adalah sesuatu yang membahagiakan.


"Ya wajar dong mbak, namanya juga cinta." sanggah Khotim.


"Enak ya, kalau nikah udah saling cinta gitu." kata Fatimah dengan raut wajah berubah.


"Tetapi lebih enak. kalau kita menikah di niat kan ibadah. Ga ada beban, tetapi berpahala. Karena ketika belum halal, sudah dicicil, nikmatnya pun akan terasa berbeda dengan yang ketika belum halal belum berani melakukan apa-apa, dan langsung dibayar kontan ketika sah." kata Mutiara menjelaskan adab yang baik dalam menghadapi sebuah perasaan cinta, dengan sambil menguleg sambal.

__ADS_1


"Hem... nyindir..." kata Khotim yang memang merasa tersindir akan nasihat adiknya.


"Tapi kalian beruntung , kalian tetep bisa nikah sama orang yang kalian pilih, lha mbak Fatim? Harus merasakan rasanya perjodohan. Tak ada rasa cinta sama sekali saat di pelaminan, yang ada hanya rasa canggung dan takut ini itu, karena masih belum saling kenal." kata Khotim sambil mengaduk sayur di panci.


"Tapi, sekarang justru mbak Fatim lebih lengket sama mas Panji, daripada aku sama mas Juno." kata Khotim menilai.


"Ya itu karena masanya udah gitu Khotim. Lagipula, pekerjaan suami juga ngaruh. Suamiku banyak waktu dirumah, sedangkan suamimu kan sering kerja keluar kota." kata Fatimah.


"Yang jelas kita harus bersyukur dengan rejeki jodoh kita masing-masing ya mbak." kata Mutiara.


"Kalian ini... Seru sekali ceritanya." komentar bu Hindun yang sedari tadi mendengarkan cerita ketiga putrinya sambil mencuci beras.


"Dari ketiga putri ibu ini, memang rejeki jodoh nya berbeda-beda, benar kata adik kalian, harus disyukuri." lanjut bu Hindun.


"Fatim dijodohin bapak, karena memang Khotim sudah punya calon, kemana-mana bareng terus, udah lengket banget. Bapak dan ibu sudah sangat khawatir dengan kedekatan kalian. Sampai ibu angkat tangan menghadapi Khotim yang keras kepala. Sehingga bapak turun tangan sendiri untuk mengurus kamu, lalu berusaha mencarikan jodoh terbaik untuk mbakmu, Fatim. Memang berat bagi mbak Fatim menerima perjodohan, dimana dia belum mengenal calon suaminya. Namun, dengan keyakinan bapak, supaya mbak Fatim ga dilangkahi sama adiknya, makannya bapak langsung menikahkan kamu sama Panji. Alhamdulillah, kan Panji itu suami yang baik untukmu. Begitupun denganmu Khotim, Juno itu pilihanmu. Apapun kelebuhan dan kekurangannya, ya kamu harus menerimanya. Toh kalian juga sudah saling kenal satu sama lain sejak lama, bapak ibu cuma khawatir kalau kamu ga bisa menjaga kesucianmu. Itu amanah bapak dan ibu nak, kalau sampai sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi padamu, bapak dan ibu akan merasa gagal menjaga amanah. Karena, orang tua yang memiliki putri, itu lebih berat bebannya dibandingkan dengan yang memiliki putra." kata bu Hindun panjang lebar.


"Yaa Allah, terimakasih ya bu, ibu bapak sudah sangat peduli sama kita." kata Mutiara memeluk ibunya dengan manja.


"Makasih ya bu." kata kedua kakaknya yang ikut serta menyusul Mutiara memeluk ibunya.


Mereka bertigapun saling berpelukan.


"Ibu ga meminta kalian Jadi wanita karier yang sukses diluaran sana nak, ibu dan bapak cuma ingin kalian taat pada suami kalian, mampu menjadi istri, dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak kalian. Karena karier seorang wanita yang sebenarnya adalah di rumah. Jika dia berhasil menjadi istri dan ibu yang baik, itu berarti karier kalian juga sudah bagus. Tetap semangat anak-anakku." kata bu Hindun menasehati.


"Kami sayang ibu." kata Mutiara.


"Ibu juga sayang kalian." kata bu Hindun.

__ADS_1


"Ayo dilanjut masaknya, nanti gosong. Kalau sudah beres, ayo ditata di depan." perintah bu Hindun.


"Siap bu." jawab mereka.


Setelah adzan dzuhur, semua sudah sholat, dan semua makanan sudah tersaji diatas tikar, karena merekaa akan makan bersama secara lesehan, mengingat kursi makan di rumah itu terbatas, sehingga mereka memutuskan uhtuk makan secara lesehan. Anak bungsu Fatimah dan dua anak Khotim yang masih kecil, sudah duduk anteng di dekat om baru mereka, Yaitu Dzen. Karena memang Dzen begitu luwes dengan anak-anak. Sedangkan kedua anak Sulung Fatimah sudah bisa membantu ibu mereka untuk menyiapkan makanan, dan anak sulung Khotim yang cowok, sudah duduk bersila dengan ayahnya. Mutiara pun duduk di samping suaminya. Mutiara, Khotim, Fatimah dan bu Hindun saling bergantian untuk mengambilkan makanan untuk suami mereka masing-masing.


"Ayo, suaminya dilayani sendiri- sendiri ya." kata bu Hindun dengan nada bercanda.


"Nggih bu." jawab mereka bersama.


Sambil makan bersama dengan menu seadanya, mereka tampak akrab dan sangat rukun, meski mereka jarang sekali bertemu. Karena domisili mereka yang berjauhan. Setelah selesai makan yang dipimpin oleh pak Bowo, merekapun saling bertukar cerita, dan bercengkrama.


"Bu, pak. Semoga ibu dan bapak diberi umur panjang, biar masih bisa momong anak cucu ya." kata Khotim yang perginya lebih jauh dari Fatimah dan Mutiara.


"Aamiin." jawab pak Bowo dan bu Hindun bersama.


"Nanti, siapa yang akan menjaga bapak dan ibu?" tanya Fatimah khawatir.


"InshaaAllah, nanti biar Mutiara yang menjaganya mbak." jawab Dzen.


"Tapi nak..." sanggah pak Bowo.


"InshaaAllah, jika bapak mengijinkan, saya akan menetap dan pindah domisili di Solo pak, agar bapak dan ibu ada temannya. Karena InshaaAllah, setelah saya saya dinobatkan sebagai dokter spesialis nanti, saya justru akan banyak praktik di kota ini." kata Dzen.


"Lho? Tidak dines di Semarang lagi nak?" tanya pak Bowo.


"InshaaAllah, saya mau mutasi pak." jawab Dzen, yang memang sudh ada problem disana, karena ulah Lala, mantan pacarnya. Dzen memutuskan untuk mengambil tawaran menjadi dokter spesialis di salah satu rumah sakit swasta di kota asal istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kalo gitu, kita jadi tenang." kata Khotim dan di setujui oleh Fatimah. Sedangkan Mutiara hanya tersenyum dalam diamnya.


__ADS_2