Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Sisi Berbeda


__ADS_3

Sore itu Mutiara sudah selesai perkuliahan, dan menunggu sepupunya menjemput, seperti biasa, sambil menunggu, dia menghabiskan waktunya di perpustakaan, selain untuk baca-baca, Mutiara juga sambil mengoreksi beberapa pekerjaan mahasiswanya pak Zio.


📩Pak Zio


Kamu dimana?


"Pak Zio? Tumben nge chat." gumam Mutiara.


📨Mutiara


Di perpustakaan pak.


📩Pak Zio


Tetap disitu!


Mutiara heran, kenapa dosennya mencari dirinya?


"Waduh, jangan-jangan pak Zio mau nambahin kerjaan lagi. Hhhh...." keluh Mutiara.


"Koreksian baru aja selesai, masak mau dikasih lagi?" gumamnya.


Mutiarapun melanjutkan membaca buku yang dia pinjam dari perpustakaan.


"Ehem." deheman Zio membuat Mutiara menoleh seketika.


"Eh, pak Zio. Assalamu'alaikum pak. Silakan duduk pak." kata Mutiara menyiapkan sebuah kursi kosong didekat tempat duduk nya.


"Hem, Wa'alaikumsalam. Terimakasih." jawab Zio dingin.


"Ada apa ya pak?" tanya Mutiara.


"Ini, milikmu bukan?" tanya Zio sambil menyerahkan sebuah buku catatan kecil, berwarna biru muda.


"Oh. iya pak. Bener ini milik saya, kok ada di pak Zio?" tanya Mutiara sambil menerima bukunya dari tangan Zio.


"Lain kali, jangan ceroboh!" kata Zio dengan dinginnya.


"Ya pak. Maaf." jawab Mutiara sambil menunduk merasa bersalah.


"Semalem ketinggalan di rumah, ditemuin bi Saodah." kata Zio menjelaskan.


"Oh, terimakasih pak." kata Mutiara.


"Buku itu dikasih identitas, biar kalo tertinggal dimana-mana gampang ngembaliinnya." komentar Zio lagi.


"Oiya, lupa pak. Belum saya kasih identitas ya pak?" jawab Mutiara sambil membuka-buka bukunya.


"Oya, koreksiannya udah selesai belum?" tanya Zio.


"Sudah pak, baru saja." jawab Mutiara.


"Okey, mana saya bawa sekalian." kata Zio.


"Ini pak." kata Mutiara sambil menyerahkan beberapa lembar penilaian.


"Oya, saya minta nomer rekeningmu." kata Zio sambil menerima lembar penilaian.


"Nomer rekening? Buat apa pak?" tanya Mutiara heran.


"Iya, kamu kirim ke nomer saya sekarang!" kata Zio sambil memainkan ponselnya.


Mutiarapun segera mengirimkan nomer rekeningnya yang tercatat di ponselnya, lalu dikirimkan ke contac dosennya.


"Sudah pak." kata Mutiara dengan masih memegang ponselnya.


"Okey, udah masuk. Saya tf sekarang." kata Zio.


"Untuk apa pak?" Mutiara masih tak mengerti dengan tujuan Zio.

__ADS_1


"Sudah sebulan kan kamu jadi asisten saya, itu buat ganti lelah kamu." kata Zio masih dengan menatap layar ponselnya.


"Oh. maksudnya gaji?Aku dapet gaji ya?" batin Mutiara.


"Sudah saya transfer. Bisa dicek dulu." kata Zio.


"Oh, ya pak." Mutiara segera membuka aplikasi Mbankingnya, dan benar saja, sejumlah uang masuk dalam rekeningnya dengan jumlah yang menurutnya cukup banyak.


"Pak, maaf. Ini apa ga salah ya jumlahnya?" tanya Mutiara memastikan.


"Engga." jawab Zio santai sambil tetap menatap layar ponselnya.


"Tapi pak, saya kan cuma ngerjain koreksian, kenapa sebanyak ini pak transferannya?" komentar Mutiara.


"Ga masalah. Kamu terima aja." kata Zio sambil berjalan meninggalkan Mutiara.


"Terimakasih." lanjutnya lagi.


"Ah? Pak Zio bilang apa? Terimakasih? Tumben?" gumam Mutiara masih terheran-heran.


Namun, Mutiara segera tersadar, diapun melanjutkan kegiatannya membaca literasi yang dia pinjam. Kemudian suara adzan ashar berkumandang, Mutiara segera bergegas menuju masjid, dan rencananya dia akan segera pulang.


Namun, setelah Sholat, Mutiara membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Kenzo.


📩Kenzo


Mbak, aku belum bisa pulang sekarang, ini tugas kelompoknya masih akan berlanjut, kemungkinan sampai nanti malem, soalnya deadline hari ini, besok harus sudah dikumpul. Jadi aku belum bisa jemput kamu mbak. Maaf ya.


Mutiara menarik napas dalam, selalu begitu. Kenzo sering kalau meminjam motor selalu terlewat waktu. Tapi tidak masalah bagi Mutiara.


📨Mutiara


Ya, gapapa. Yang penting ga buat nongkrong aja. Nanti mbak bisa nebeng temen, atau nanti juga bisa naik bis


Mutiarapun memutuskan untuk segera meninggalkan masjid dan berjalan menuju keluar kampus untuk menunggu bus di halte depan kampus. Namun, saat dalam perjalanan, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya, suara klakson mobil mengagetkannya.


"Astagfirullah." spontan Mutiara beristighfar sambil memegang dadanya.


"Pak Zio?" kata Mutiara tak menyangka.


"Kenapa jalan?" tanya Zio.


"Motor saya dipinjam sepupu pak, buat tugas kelompok." jawab Mutiara.


"Terus, mau kemana?" tanya Zio lagi.


"Ke Halte depan." jawab Mutiara.


Seketika Zio membukakan pintu sebelah kirinya,


"Masuk!" perintah Zio.


"Saya?" tanya Mutiara menunjuk wajahnya.


"Hem." Zio hanya berdehem, dengan menatap ke depan, sambil tangannya masih memegang setir.


"Ayo. Cepet, Keburu buat lewat jalannya." kata Zio ketus.


"Oh, ya pak." jawab Mutiara sambil segera masuk ke dalam mobil dosennya, saat melihat ada sebuah mobil di belakang mobil Zio mau lewat.


Selama dalam perjalanan, keduanya hanya diam, sampai tiba di halaman sebuah resto yang biasa mereka datangi.


"Kok, kesini lagi pak?" tanya Mutiara.


"Saya lapar." jawab Zio singkat sambil membuka pintu mobilnya.


Mutiarapun mengikuti dosennya, sampai di tempat biasa, meja pojok di lantai dua.


"Eh. Zio, bareng lagi sama nona Tiara. Dari mana?" tanya Rey.

__ADS_1


"Eh, bang Rey." sapa Mutiara ramah.


"Dari kampus Lah." jawab Zio.


"Owh, ya udah, nih, diisi dulu, mau pesen apa aja." kata Rey.


"Saya ganti menu ya bang." kata Mutiara yang sudah mulai akrab dengan Rey.


"Oh, ga kaya biasanya?" tanya Rey heran.


"Engga kak, pingin ganti menu lain aja, pingin ngerasain yang lainnya." kata Mutiara.


"Okey, tunggu ya." kata Rey.


Sambil menunggu menu, Zio bermaksud mengajak Mutiara berbincang.


"Tiara." panggil Zio.


"Ya pak?" jawab Mutiara.


"Selain kuliah, kesibukan mu apa?" tanya Zio.


"Saya? Saya kerja dipasar pak kalo pagi." kata Mutiara.


"Jam berapa? Bukannya kamu masuk kuliah terkadang juga pagi?" tanya Zio heran.


"Dari jam setengah tiga dini hari sampai ham tujuh pak." kata Mutiara.


"Pagi sekali? Kenapa ga nyoba magang di sekolahan aja?" tanya Zio.


"Belum pak, karena jam kuliahnya juga masih sering pagi." jawab Mutiara.


"Oh, gitu?"


Pembicaraan terjeda, karena pesanan sudah tiba


"Ayo dimakan." kata Zio mempersilakan.


"Ya pak. Terimakasih." jawab Mutiara.


"Oya pak, maaf. Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Mutiara.


"Ya."


"Kemarin, waktu saya ke rumah pak Zio, saya seperti tidak melihat ayahnya pak Zio ya?" tanya Mutiara.


"Beliau sudah meninggal, setaun yg lalu." jawab Zio.


"Itulah kenapa, saya minta kamu jadi asisten saya di kampus, karena saya harus mengurus perusahaan papa saya." lanjut Zio.


"Owh, begitu?"


"Maaf, jika saya sering merepotkan mu." kata Zio.


"Oh, tidak masalah pak, malah saya beruntung, bisa buat belajar juga. Siapa tau kelak saya bisa jadi dosen juga kaya pak Zio " kata Mutiara.


"Kamu pingin jadi dosen?" tanya Zio.


"Ehm, ya, baru sekedar pingin aja sih, pak. Kan kalo jadi dosen, kuliahnya juga paling ga harus S2. Sedangkan saya, bisa S1 lulus aja sudah alhamdulillah pak. Itu sudah lebih dari cukup." kata Mutiara.


Saat Mutiara mulai berbicara itu, Zio langsung menatap intens mahasiswanya itu, dia melihat, ada sisi berbeda dari gadis di hadapannya. Ziopun tersenyum tulus, membuat Mutiara yang sempat melirik dosennya, jadi beralih untuk menatap senyuman itu. Senyuman yang sulit dia dapat, dan baru kali ini dia melihat senyuman itu muncul dari bibir dosennya.


"Manis juga kalo senyum" batin Mutiara yang terpesona dengan senyuman dosennya.


"Kamu pasti bisa. Karena kamu punya ini." komentar Zio sambil menunjuk kepala bagian kanan.


"Ga cuma S2, atau S3, bahkan untuk jadi Professor pun, kamu pasti bisa." lanjut Zio lagi.


Mutiara tak percaya dengan ucapan dosennya, rasanya itu terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Aamiin pak. Semoga Allah kabulkan do'a do'a pak Zio. Terimakasih pak." jawab Mutiara dengan wajah malu-malu.


Merekapun melanjutkan dengan memakan hidangan yang sudah terhidang.


__ADS_2