
"Tiara, ayo, giliran kita." ajak Nadia menggandeng tangan Mutiara untuk masuk wahana kapal kora-kora.
"Ehm, kok aku deg degan ya Nad?" kata Mutiara ragu.
"Ya itu karena kamu belum pernah naik, Ra. Ayo Ra, sekali-kali, buat pengalaman." kata Nadia.
Mutiarapun mengikut saja, mereka bertiga duduk bersama dalam satu baris. Hingga semua penumpang sudah penuh, mesin dibunyikan dan kapan kora-kora mulai bergerak. Jeritan para penumpang menghiasi malam itu, begitupun dengan Nadia dan Mila, mereka juga berteriak histeris sambil berpegangan dengan kencang. Ayunan kapan kora-kora semakin kencang, membuat para penumpang semakin histeris jeritannya. Namun tidak dengan Mutiara, yang juga berpegangan kencang, dengan jantung berdetak tak karuan, namun dia sama sekali tidak menjerit, melainkan terus beristighfar dan mengucap kalimat toyibah.
Hingga akhirnya, waktu bermain telah selesai, semua penumpang turun dengan kepala pusing, tak terkecuali Mutiara yang tiba-tiba perutnya juga mual tak tertahankan, dan badan lemas. Mutiarapun segera mencari tempat untuk mengeluarkan isi perutnya,
"Uwek, uwek."
"Eh, Nad, Tiara tuh." kata Mila menepuk pundak Nadia dan menunjuk Mutiara yang sedang mabuk setelah naik kapal kora-kora.
"Tiara." panggil Nadia dan Mila berlari ke arah Mutiara, yang sudah lemas di dekat tempat sampah.
"Badanku lemes banget Nad." kata Mutiara lemah.
Saat Mutiara sedang lemas, dan hampir pingsan dirinya bersandar di pangkuan Mila, tiba-tiba ponsel Mutiara berbunyi, tanda panggilan masuk. Nadia yang sudah mulai panik, tanpa meminta persetujuan si tuannya, langsung mengambil ponsel Mutiara.
"Mas Salah Sambung?" gumam Nadia, namun tanpa pikir panjang, Nadia langsung mengangkat telpon itu.
"Halo." kata Nadia.
📞"Halo, Tiara kemana? Ini siapa?" tanya orang di seberang.
"Ini, saya Nadia. Yang punya hape Lagi lemas, ga bisa angkat telpon. Ini siapa ya?" tanya Nadia.
"Tiara kenapa? Kalian dimana?"
"Kita di pasar malam." kata Nadia.
"Maksud saya, tepatnya dimana? Saya susul."
"Kita masih di area wahana Kapal Kora-kora, dekat tempat sampah." kata Nadia lagi.
"Okey, tetap disitu. Saya ke sana sekarang." kata orang di seberang.
"Siapa?" tanya Mila.
"Ga tau, nama kontaknya mas Salah sambung." kata Nadia sambil memasukkan ponsel Mutiara kedalam tas Mutiara yang dia ambil.
"Terus?" tanya Mila.
"Dia mau ke sini. Kita suruh tetap disini. Kayaknya dia khawatir banget sama keadaan Tiara." kata Nadia.
"Jangan-jangan itu dokter Dzen." duga Mila.
"What? Dokter ganteng itu?" tanya Nadia, yang kemudian muncul sosok laki-laki yang sedang dibicarakan.
"Tiara!" panggil Dzen sambil berlari ke arah Mutiara.
"Apa yang terjadi?" tanya Dzen sambil mengambil alih posisi Mila.
"Tiara tadi mual muntah dok, terus pingsan." kata Mila.
"Kita bawa ke mobil saya." kata Dzen sambil menggendong Mutiara.
Mila dan Nadia mengikuti dari belakang sambil membawakan barang bawaan Mutiara.
Banyak pasang mata memandang mereka berempat, dan tentunya kusak kusuk sana sini tanpa tindakan, hanya rasa empati melalui kata yang mereka tunjukkan.
Sesampainya di mobil, Dzen meletakkan Mutiara di kursi belakang, dan segera mengambil stetoskopnya di tas dokternya.
__ADS_1
"Dia hanya pingsan biasa. Tolong ambilkan minyak angin di kotak obat saya, di bagasi." kata Dzen meminta Mila atau Nadia.
Dengan sigap, Nadia mengambilkan aoa yang dibutuhkan, sedangkan Mila terus memijit-mijit telapak kaki Mutiara yang terbungkus kaos kaki.
"Ehm, tolong oleskan di bagian dada, kepala dan telapak kakinya ya. Jilbabnya tolong dilonggarin dikit, sama kucirannya, dan untuk bagian pinggang juga dilonggarin. Saya akan segera kembali." kata Dzen memberi intruksi pada kedua sahabat Mutiara.
"Baik dok." kata Nadia.
"Ya Allah, Ra, bangun dong, Ra." kata Nadia penuh rasa bersalah, dia duduk disamping Mutiara.
Tak berapa lama, Mutiara tersadar dari pingsannya.
"Hhh... di mana aku?" kata Mutiara sambil memegang kepalanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Ra." kata Nadia sambil membantu Mutiara bangun dari tidurnya.
"Kamu di mobilnya dokter Dzen, Ra. Tadi kamu pingsan." kata Mila sambil memijit kaki Mutiara.
"Dokter Dzen?" tanya Mutiara heran.
"Iya, tadi pas kamu mau pingsan, dia nelpon kamu, aku angkat dan aku bilang kalo kamu lemes banget, ternyata malah udah pingsan." kata Nadia.
"Dokter Dzen dimana?" tanya Mutiara celingak celinguk sambil membenahi jilbabnya yang tadi sempat di longgarkan.
"Dia pergi duku, sebentar katanya." kata Mila.
"Ra, maafin aku ya, kamu jadi begini." kata Nadia sedih.
"Iya, gapapa. Lagipula aku udah mendingan juga kok." kata Mutiara sambil memakai kembali kaos kakinya.
"Assalamualaikum." sapa Dzen.
"Wa'alaikumsalam." jawab Nadia, Mila dan Mutiara bersamaan.
"Sudah dok." jawab Mila.
Kemudian Mila keluar mobil, dan gantian Dzen ke dalam.
"Tiara, gimana keadaanmu?" tanya Dzen penuh perhatian.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik mas." jawab Mutiara.
"Terimakasih sudah menolong saya." kata Mutiara lagi.
"Ya, sama-sama. Ini, kamu minum dulu ya, Ra. Teh hangatnya, biar lebih fresh." kata Dzen menyerahkan segelas teh hangat.
"Terimakasih, mas." kata Mutiara sambil menerima teh hangat itu.
"Hati-hati. Masih agak panas." kata Dzen memperingati.
"Oh, iya mas." kata Mutiara menyeruput pelan-pelan.
"Gimana ceritanya Tiara bisa pingsan?" tanya Dzen kemudian.
"Maaf dok, saya akui, ini kesalahan saya. Saya yang memaksa Tiara ikutan naik kapal kora-kora. Ternyata setelah abis naik itu, dia mual muntah dan pusing hingga pingsan." kata Nadia menyesal.
"Gapapa, Nad. Bukan salah kamu sepenuhnya kok." kata Mutiara.
"Owh, ya lain kali, kalau keadaan kurang fit, mending ga usah naik wahana permainan yang menguji adenalin, yang ekstrim. Takutnya ya begini jadinya." kata Dzen menasehati.
"Iya dok. Maaf." kata Nadia.
"Lagipula, Tiara kan baru aja sembuh dari sakit, keadaannya belum terlalu fit, dan kurang baik juga untuk keluar malam begini, udara malam kurang baik untuk kesabaran." kata Dzen lagi
__ADS_1
"Ya mas. Maaf." giliran Mutiara yang meminta maaf.
"Dokter kok ya kebetulan ada di pasar malem juga sih? Terus, kok tau kalo Tiara di pasar malem?" tanya Nadia.
"Iya, tadi saya dan Tiara kan udah ketemu di penjual martabak. Katanya kalian tadi pas lagi di stand pakaian." kata Dzen.
"Oh, gitu? Kok Tiara ga cerita?" tanya Mila.
"Orang kalian aja asyik belanja sama sibuk nyariin cowok ganteng." kata Mutiara santai.
"Oya, Kalian tadi naik apa?" tanya Dzen.
"Motoran dok, Tiara tadi aku boncengin." kata Mila.
"Nadia?" tanya Dzen.
"Aku juga naik motor sendiri kok dok." jawab Nadia.
"Okey, kalo gitu, Tiara saya antar pulang saja. Kalian langsung pulang saja ya. Sudah malam juga, ga baik buat anak gadis pulang terlalu malam." kata Dzen sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ya Dok." jawab Nadia dan Mila.
"Tiara, ini barang-barangmu ya." kata Nadia menyerahkan oleh-oleh yang dibeli Mutiara tadi.
"Banyak sekali, buat apa ini, Ra?" tanya Dzen.
"Buat oleh-oleh dok katanya. Tiara kan mau mudik." kata Mila.
"Mudik? Kapan?" tanya Dzen.
"Iya mas. InshaaAllah besok Jum'at, setelah ujian selesai." kata Mutiara.
"Ya udah dok, kami permisi dulu ya dok." kata Nadia dan Mila.
"Okey. Kalian gapapa pulang sendiri?" tanya Dzen.
"Iya dok." jawab Mila.
"Saya antar saja ya. Saya ikutin dari belakang." kata Dzen.
"Ga usah dok. Kita mah udah biasa dok. Lagipula, Tiara langsung diantar pulang aja dok, biar bisa segera istirahat." kata Nadia.
"Ehm, gitu ya? Okey. Kalian hati-hati ya." kata Dzen.
"Ya dok." jawab Nadia dan Mila.
Setelah kepergian Mila dan Nadia, Dzenpun segera masuk ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin mobil, lalu berjalan, sedangkan Mutiara dibiarkan duduk di belakang, agar leluasa jika ingin tiduran lagi.
Sedangkan, dalam perjalanan dari mobil ke parkiran motor, Nadia dan Mila membicarakan Mutiara dan Dzen.
"Aku rasa, Hubungan mereka ga sekedar hubungan teman deh Nad." kata Mila.
"Maksud kamu? Mereka pacaran?" tanya Nadia. Milapun mengangguk.
"Kalo aku rasa, engga Mil. Tapi dokter Dzen emang suka sama Tiara." kata Nadia memberikan pendapatnya.
"Ehm, apa gitu ya?" gumam Mila.
"Besok tanya aja langsung ke orangnya." kata Nadia sambil menaiki motornya lalu menstater.
"Udah ah, ayo pulang, keburu malem." kata Nadia yang melihat Mila masih tampak berfikir.
"Okey." jawab Mila.
__ADS_1