Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Melepaskan Fasilitas


__ADS_3

"Lalu, Apa mau papa? Apa tujuan papa datang ke sini?" tanya Dzen.


"Papa mau kamu minta maaf sama dokter Herman, dan kamu balikan sama Lala." kata Pak Panca.


"Ga bisa." kata Dzen singkat.


"Kenapa Dzen? Karena cewek kampung itu? Cewek dari kampung, yang kuliah aja belum lulus, dan orang tuanya ga berpendidikan?" kata pak Panca lagi dengan menjelek jelekkan Mutiara.


"Apa maksud papa? Tiara? Sejauh apa sih Lala bercerita tentang Dzen? Tentang wanita pilihan Dzen? Tiara itu perempuan baik-baik pa, dia memang masih mahasiswa, tetapi dia wanita terpelajar. Orang tuanya memang ga sekolah, tapi mereka beradab, meski mereka ga berpendidikan tinggi." bela Dzen.


"Dzen! Kamu tau kan apa resikonya kamu ngelepasin Lala? Karier kamu bakal hancur Dzen. Karier yang udah kamu bangun susah payah selama bertahun-tahun lamanya." kata pak Panca mulai takut akan karier anaknya.


"Dzen ga peduli." jawab Dzen santai.


Pak Panca tersulut emosi.


"Dzen, papa susah payah kuliahin kamu sampe jadi dokter, kamu cuma mau lepasin karirmu gitu aja?" tanya pak Panca emosi.


"Emang Kenapa? Ga ikhlas? Masalah buat papa? Okey." jawab Dzen sambil berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.


"Dzen!" panggil pak Panca.


Dzen tak perduli. Hingga akhirnya dia keluar sudah dengan membawa ransel berisi beberapa potong pakaian dan barang berharga lainnya.


"Ini kunci apartemen, ini kunci mobil, dan ini kartu kredit. Dzen balikin semua sama papa. Terimakasih sudah memfasilitasi Dzen selama ini, dan mulai hari ini, Dzen akan berusaha sendiri, dari nol." kata Dzen sambil meletakkan semua fasilitas dari papanya selama dia menjadi seorang dokter di meja tamu, tepat di dekat cangkir kopi papanya.


"Apa maksudmu?" tanya pak Panca.


"Pa, udah pa. Sabar." kata bu Lastri mengelus punggung suaminya yang mulai berdiri menanggapi sikap anaknya.


"Dzen akan pergi dari sini. Dzen ga perduli dengan karir, ga perduli dengan miskin. Dzen akan berusaha sendiri, tanpa berhutang budi pada siapapun termasuk sama dokter Herman, dan papa." kata Dzen sambil melangkah keluar rumahnya.


"Dzen! Dzen! Berhenti!" panggil Pak Panca yang tak dihiraukan Dzen.


Melihat pak Panca yang tersulut emosi, dan Dzen yang tetap pergi dari rumahnya, Bu Lastri segera menenangkan pak Panca dan mendudukkan tubuh pak Panca di sofa, agar lebih terkontrol emosinya.


"Sabar pa." kata bu Lastri.


"Dia sudah keterlaluan ma." kata pak Panca tak terima.


Bu Lastri hanya diam, menanggapi suaminya yang sedang emosi.


Sedangkan Dzen keluar rumahnya, dan berpapasan dengan Andi yang baru pulang dari rumah sakit di lobi.


"Dzen? Mau kemana lo? Bawa ransel segala. Mau muncak lo?" tanya Andi.

__ADS_1


"Gue titip bokap ya. Dia di rumah gue. Gue pergi dulu." kata Dzen yang masih menahan emosinya.


"Ha? Bokap lo di sini? Kapan datang?" tanya Andi.


"Iya. Barusan datang." jawab Dzen.


"Lah, elo sendiri mau kemana?" tanya Andi.


"Ngikutin kaki melangkah." kata Dzen.


"Ya udah ya Gue pamit. Titip bokap." lanjut Dzen menyalami Andi, lalu melangkah pergi.


Andi yang ditinggal merasa kebingungan dengan sikap Dzen.


" Sepertinya tu anak lagi ada masalah." batin Andi. Lalu saat Dzen mulai tak terlihat di lobi, Andi segera melanjutkan langkah nya menuju lift, dan masuk ke rumahnya.


💞💞💞


Hari itu, setelah diantar Dzen, Mutiara tadinya mau mencuci pakaian, tetapi sabun cuci nya habis, akhirnya Mutiara memutuskan untuk belanja bulanan sekalian ke supermarket langganannya yang ada di dekat kampus, bagi dirinya, harga di sana lebih miring, sehingga uang bulanan nya bisa dibagi-bagi dengan baik. Dan tentunya biasanya ada promo dan diskonan.


Setelah belanja, Mutiara kembali pulang dengan motor matic putihnya, saat di jalan, dia melihat sosok yang dikenalnya, tetapi dia ragu, karena orang itu berjalan kaki.


"Mas Dzen bukan ya?" batin Mutiara yang terus melakukan motornya sampai di depan orang itu agak jauh, lalu Mutiara melihat dari kaca spionnya. Dan betapa terkejutnya Mutiara, orang itu benar-benar Dzen. Mutiarapun menghentikan motornya, lalu Mutiara menuntun mundur motornya


"Mas Dzen?" sapa Mutiara.


"Tiara? Kamu kok ada disini?" tanya Dzen.


"Tiara abis belanja bulanan mas. Mas Dzen sendiri, kenapa jalan kaki? Mobil mas mogok?" tanya Mutiara.


Dzen hanya diam dan menunduk.


"Ya udah, ayuk sama Tiara naik motor mas." ajak Mutiara.


"Tapi..." kata Dzen hendak menolak.


"Ayo mas." kata Mutiara lagi.


"Baiklah." jawab Dzen pasrah.


"Ini mas, mas depan ya. Sini, ranselnya biar Tiara bawain." kata Mutiara tanpa banyak tanya ada masalah apa Dzen, dan meminta ranselnya Dzen untuk dia gendong.


Dzenpun menurut, kemudian melajukan motor putih itu.


"Kemana kita Ra?" tanya Dzen.

__ADS_1


"Mas Dzen mau kemana?" tanya Mutiara balik.


"Aku ga tau." jawab Dzen.


"Okey, karena udah mau adzan maghrib, mending ke masjid agung dulu aja ya mas. Atau mas Dzen mau makan dulu?" tanya Mutiara.


"Ya udah, kita ke masjid dulu aja ya." kata Dzen.


"Ya mas."


Sesampainya di masjid, mereka tak segera masuk. Mereka berdua duduk di serambi dulu, menunggu adzan maghrib berkumandang.


"Mas, diminum dulu." kata Mutiara memberikan sebotol air mineral yang baru saja dia beli dari supermarket.


"Makasih, Ra." jawab Dzen sambil menerima botol itu. Lalu diminumnya.


"Mas Dzen tadi jalan dari mana?" tanya Mutiara iba.


"Dari rumah." jawab Dzen.


"Oh." Mutiara mulai paham, bahwa Dzen sedang ada masalah. Mutiara tak berani bertanya lebih, dia tau kalau Dzen membutuhkan waktu untuk menyendiri.


"Tiara." panggil Dzen.


"Ya mas?"


"Kalau mas jatuh miskin. Mas ga punya apa-apa, apa Tiara masih mau sama mas?" tanya Dzen sambil tetap menunduk.


"Mas, semua harta yang ada pada diri kita itu sejatinya hanya titipan. Ketika semua itu diminta oleh pemilik nya, ya wajar. Kita tidak perlu sedih, susah maupun emosi. Karena itu memang hanya titipan. Ya kita sabar, kita jalani dengan ikhlas, InshaaAllah akan ada hikmahnya." kata Mutiara dengan tenang.


"Kalau mas miskin, dah ga jadi dokter, apa Hubungan ini akan terus terjalin?" tanya Dzen.


"Jika Allah menjodohkan kita dalam satu ikatan suci, InshaaAllah apapun masalahnya, halangan rintangannya, kita akan jalani bersama mas. Tiara menerima mas Dzen bukan karena mas itu Dokter, bukan karena mas anak orang kaya, justru Tiara ga tau kalau mas itu anak orang kaya. Bukan pula karna rupa, tetapi karena Hati mas, karena mental mas Dzen. Mas Dzen itu baik, mas Dzen punya jiwa sosial yang tinggi, mas Dzen juga ramah. InshaaAllah, untuk agama, Tiarapun masih taraf belajar, jadi kita akan belajar sama-sama." kata Mutiara dengan tersenyum sedangkan Dzen menatap wajah Mutiara.


"Terimakasih Tiara." kata Dzen tulus.


Mutiara menatap Dzen lembut,


"Sama-sama mas. Mas Dzen jangan sedih lagi ya. Mas yang sabar. Innallahama'ashobirin. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." kata Mutiara tersenyum tulus.


Ada desiran ombak di hati Dzen saat melihat manik Mutiara dan bibir merah yang tersenyum tulus padanya Begitupun dengan Mutiara yang merasakan jantungnya berdetak tak menentu. Suasana senja itu, akhirnya terpecah kan oleh suara adzan maghrib yang berkumandang.


"Kita sholat dulu ya mas. Biar hati tenang." kata Mutiara.


"Ya Ra." jawab Dzen.

__ADS_1


Merekapun beranjak dari duduk, lalu menuju tempat wudlu masing-masing, kemudian menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah di masjid.


__ADS_2