Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Wisuda


__ADS_3

Waktu terus berlalu, rasa cinta Dzen dan Mutiara semakin menggebu, keduanya semakin mesra dan tanpa ada rasa canggung maupun malu-malu. Hingga saat Dzen di wisuda dokter spesialis, Mutiara mendampingi suaminya dengan penuh cinta, semua teman kuliahnya juga mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


Setelah Wisuda, Dzen mengajak Mutiara dan keluarganya makan bersama di sebuah agrowisata, sambil menikmati wahana disana. Baik kolam renang, memancing, maupun sekedar jalan-jalan. Kedua adiknya sangat puas menghabiskan waktu liburnya di sana, begitupun dengan orangtua Dzen, tak luput, keluarga Mutiara yang juga diikutsertakan di acara syukuran wisuda Dzen, keponakan mereka sangat antusias berenang, bersama Dzen. Sedangkan kedua pasang kakaknya Mutiara, asyik menikmati pemandangan disana. Pak Bowo dan Bu Hindun cukup duduk di tempat istirahat sambil melihat ikan-ikan di kolam.


Mutiara hanya mengamati dari atas kolam, dengan sesekali tertawa bahagia melihat tingkah konyol suaminya yang menggoda keponakan keponakannya. Hingga senja tiba, mereka pun kembali pulang. Dzen mengantar keluarganya ke bandara, karena hari itu hari terakhir mereka di Solo. Sudah satu pekan lamanya mereka di Solo, pak Panca sudah gusar dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk di sana. Mutiara ikut serta mengantar, lalu Dzen memutuskan langsung pulang ke Apartemen, karena keesokan harinya Dzen masih ada tugas kemanusiaan di Semarang, yaitu menangani pasien nya.


Sesampai nya di Apartemen, Mutiara sudah bersiap mengambil air wudlu untuk ikut sholat isya' berjamaah dengan suaminya, karna tadi, setelah mengantar ke bandara keluarganya, Mereka belum sempat sholat isya'.


"Sayang, kamu udah sholat?" tanya Dzen sambil menatap istrinya yang mengambil mukena.


"Sudah mas, baru saja ini tadi Tiara mandi besar." kata Mutiara.


"Ehem, berarti..." kata Dzen dengan pandangan nakalnya.


"Ish... sholat dulu ah... Awas lho nanti pas sholat ngebayangin yang engga-engga, ga sah sholatnya." ancam Mutiara.


"Iya iya sayangku... ya udah yuk, kita sholat bareng." kata Dzen.


Merekapun sholat isya' berjamaah di kamar, lalu setelah selesai, Mutiara mencium tangan Dzen dan Dzen mencium kening Mutiara dengan penuh cinta.


"Ehm, sayang..."


"Hem?" Tanya Mutiara dengan deheman, sambil melipat mukenanya, setelah sholat.


"Ehm... udah seminggu lho mas puasa. Malam ini, boleh minta dong." kata Dzen mengangkat alisnya.


"Hem..." Mutiara menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba mencari secercah kesabaran dalam hatinya menghadapi suaminya yang sudah ketagihan. Mutiarapun mengangguk sambil tersenyum.


"Sekarang yuk." ajak Dzen sambil mendekati istrinya, memeluk istrinya, dan memainkan jarinya di wajah Mutiara.


"Tiara ganti baju dulu gimana?" tanya Mutiara.


"Okey. Mas tunggu ya sayang. Ummuach." kata Dzen dengan memonyongkan mulutnya , cium jauh.

__ADS_1


Mutiarapun ke toilet, dan mengganti bajunya dengan lingeri pemberian sahabatnya. Setelah keluar dari toilet, ternyata Dzen juga sudah siap dengan membuka bajunya, hingga bertelanjang dada, dan hanya mengenakan boxer saja.


Dzen langsung menghampiri istrinya yang baru keluar dari toilet, dan langsung digendongnya Mutiara dan di letakkan di kasur dengan perlahan. Setelah seminggu berpuasa, Dzen mulai memainkan aksinya dengan semangat 45.


"Sayang, malam ini, mas mau kamu puasin mas ya." kata Dzen dengan wajah penuh hasrat. Mutiara hanya mengangguk dan tersenyum, pasrah. Malam panas itupun terjadi lagi, untuk yang kedua kalinya setelah libur cukup lama.


💞💞💞


Tak terasa sudah satu bulan usia pernikahan Dzen dan Mutiara. Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen dahuku, sebelum urusan Mutiaara di kampusnya Belum selesai. Sehingga waktu mutasi Dzen masih diulur lagi. Lagipula, Dzen masih punya tanggungan beberapa pasien yang harus selalu dalam penanganannya, salah satunya kakek yang tinggal tak jauh dari pasar tempat Mutiara berjualan. Dan bulan ini, adalah bulan dimana Mutiara akan diwisuda. Pak Bowo dan Bu Hindun sudah dijemput Dzen, dan diajak tinggal bersama di apartemen, untuk menghadiri acara wisuda nya Mutiara.


Pagi itu, Mutiara sudah dandan cantik dengan mengenakan gamis broklat yang dibelikan Dzen sebagai hadiah wisudanya, sejaligus dengan jilbab pashmina syar'i yang dipesankan Dzen khusus untuk istrinya dengan size jumbo, lalu memakai baju kebesarannya. Serta topi wisuda yang sudah disiapkan bersama tas kecilnya. Tiba-tiba saja saat keluar kamar dan hendak bergabung di ruang makan, Mutiara merasa mual.


"Huek,,," Mutiara segera berlari ke toilet yang tak jauh dari ruang makan.


"Sayang, are you okey?" tanya Dzen yang khawatir dengan keadaan istrinya.


"Huek..." Mutiara belum bisa menjawab, perutnya masih terasa mual.


"Terimakasih mas." kata Mutiara.


"Ehm, sayang, apa ga sebaiknya kamu ijin aja?" kata Dzen hati-hati.


"Ijin mas? Engga, ini momen yang Tiara tunggu-tunggu mas. Rasanya ga afdhol kalo lulus belum diwisuda " kata Mutiara dengn raut wajah tak suka.


"Tapi. kamu Ga papa kan?" tanya Dzen memastikan keadaan Mutiara.


"Iya, Tiara gapapa mas." kata Mutiara sambil berjalan gontai ke ruang makan.


"Nduk, kamu ga enak badan?" tanya bu Hindun, saat Mutiara mendekati meja makan.


"Huek..." lagi-lagi Mutiara berlari ke washtafel dan memuntahkan isi perutnya.


Dan Dzen berlari mendekati istrinya lagi, mengelus punggung Mutiara perlahan. Pak Bowo dan Bu Hindun saling pandang, lalu mereka tersenyum. Sepertinya mereka tau sesuatu.

__ADS_1


"Sayang, mending kamu ijin dulu aja ya. Keadaanmu lemes gini, kamu pucet lho sayang." kata Dzen dengan rasa cemas.


"I am Fine mas, Aku gapapa." kata Mutiara bersikeras.


"Ehm, mas. aku ga ikut makan ya, bau nasi ga enak banget, bikin pingin muntah lagi." kata Mutiara.


"Ha? Bau nasi kamu ga suka? Terus kanu makan apa? Perutmu harus diisi sayang, dari tadi kamu muntah terus, isi perutmu keluar banyak, pasti perutmu sekarang kosong." kata Dzen.


"Ehm, roti aja deh mas." kata Mutiara.


Dan benar dan, setelah Dzen memberi roti, Mutiara baik-baik saja, hingga akhirnya mereka berangkat menuju kampus. Hari ini adalah hari wisuda yang akan dilaksanakan di auditorium kampus tempat Mutiara kuliah.


Saat dijalan.


"Dzen, coba misal periksa dulu gitu gimana?" tanya bu Hindun yang juga khawatir dengan keadaan Mutiara.


"Ga bisa ibu, ini sudah terlambat, waktunya sudah habis. sebentar lagi acara dimulai." kata Mutiara bersikeras.


"Tapi, kami yakin, kamu ga papa kan sayang?"tanya Dzen memastikan.


"Iya, Tiara gapapa." kata Mutiara berusaha meyakinkan.


"Ga biasanya aku kaya gini, kenapa ya? Mana ini pundakku pegel banget lagi. Duh, jangan sampe deh, nanti aku muntah lagi. Uh, ini bau asap kendaraan, ga enak banget sih." Batin Mutiara.


"Huek..." Mutiara mulai panik mencari tempat untuk membuang hai perutnya.


Dengan sigap bu Hindun memberikan keresek hitam untuk Mutiara.


Setelah selesai muntah, Mutiara kelelahan dan bersandar di kursi tempat dia duduk.


"Nanti sepulang dari acara wisuda, ada baiknya kamu periksa dulu Tiara." nasihat pak Bowo yang di iya kan namanya nantinya


"Oh, ya pak." jawab Mutiara menurut, karena kini dia merasakan kepalanya pusing. Hingga akhirnya merka tiba di kampus, dan Mutiara bersiap masuk gedung, dan duduk bersama teman-teman peserta lain yang akan diwisuda.

__ADS_1


__ADS_2