
Sore itu, Zio dan Diego baru saja sampai rumah, setelah sedari pagi tadi mereka bepergian.
"Mama, Diego pulang!" kata Diego sambil berteriak.
Nilam yang mendengar suara anaknya segera turun dari tangga dan menyambut kedatangan anaknya yang sejak pagi tidak dia temui.
"Astaga Diego, kamu tu dari mana aja sih? Sedari pagi mama cariin, kata bi Saodah kamu ikut om Zio, diajak ke mana sama dia?" tanya Nilam menginterogasi.
"Diego akan sekolah lagi mah." kata Diego dengan mata berbinar.
"Apa maksudmu?" tanya Nilam tak mengerti.
"Diego dicariin sekolah sama om Zio mah. dan mulai besok, Diego akan sekolah lagi." kata Diego senang.
Nilam yang mendengar perkataan anaknya, menatap Zio meminta penjelasan.
"Zio? Apa maksudnya? Mbak kan belum mengurus mutasi nya dia?" tanya Nilam.
"Nunggu mamanya ngurus mutasi, Diego keburu Lupa semua pelajarannya." kata Zio sambil melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Maksud lo?" tanya Nilam lagi, masih tak mengerti.
"Hm, ternyata mbakku tak sepintar yang kupikir." keluh Zio.
"Zio, mbak nanya serius." kata Nilam mulai hilang kesabaran.
"Gue udah urus mutasi nya tadi pagi. Semalem gue udah bilang sama Shanum, gue minta dia bantu ngurus persiapan mutasi nya Diego, dan pagi tadi, udah langsing gue urus. Terus langsung daftar sekolah ke sekolahan milik temen gue. Ya udah, daftar, dan mulai besok, Diego udah mulai bisa sekolah." kata Zio.
"Lo daftarin dia dimana?" tanya Nilam.
"Di SMP Swasta. SMP IT Nurul Mustofa " kata Zio.
"Basic islami?" tanya Nilam.
"Hm." jawab Zio.
"Kamu yakin? Diego ga bisa ngaji Zi." kata Nilam.
"Justru itu, karna mamanya ga bisa ngajarin dia ngaji, makannya gue daftarin dia di sekolah islam, biar dia bisa ngaji." kata Zio sambil berdiri, hendak melangkah ke lantai atas menuju kamar mamanya.
Nilam tampak masih berfikir.
"Ga usah banyak mikir, gue udah konsultasiin masalah Diego sama ahlinya." kata Zio saat melihat mbaknya mematung.
"Tapi Zi..." kata Nilam terputus dengan pertanyaan Zio.
"Mama tidur atau lagi apa?" tanya Zio.
"Seharian gue ga ke kamar mama Zi, yang ke sana bi Saodah." kata Nilam merasa bersalah.
__ADS_1
"Gila lo, mama lagi sakit kenapa malah ga lo tengokin? Kalo mama kenapa-napa gimana?" kata Zio memarahi mbaknya, kemudian berlari ke kamar mamanya.
"Engga gitu Zi, Zio!" kata Nilam yang tadinya mau memberi penjelasan, namun sudah terlanjur Zio naik ke lantai atas.
Ceklek.
Hendel pintu kamar Bu Suyamti dibuka Zio, dan berapa terkejutnya Zio, ternyata apa yang dikhawatirkan benar ternjadi.
"Mama!" Zio segera berlari ke tubuh mamanya yang sudah tersungkur di lantai, dengan hidung yang mengeluarkan darah. Zio segera mengecek nadi di tangan kiri mamanya.
"Astaga, mama." kata Zio yang langsung menggendong mamanya keluar kamar.
"Mbak Nilam, Bi Sodah,!" teriak Zio sambil membopong tubuh mamanya.
"Astaga, Zio. Apa yang terjadi sama mama?" tanya Nilam panik.
"Oma? Oma kenapa om?" tanya Diego yang juga panik.
"Siapin mobil sekarang. Kita bawa mama ke rumah sakit." kata Zio lagi.
"Okey." kata Nilam dengan linangan air mata.
"Diego, kamu dirumah aja dulu sama bi Saodah ya, mama ikut anter oma ke rumah sakit sama om Zio. Okey?" kata Nilam memberi pengertian anaknya.
"Ya ma." jawab Diego menurut.
Zio dan Nilam segera membawa bu Suyamti ke rumah sakit dengan mengendarai mobil milik Zio.
"Maafin Nilam mah." kata Nilam dengan masih menangis.
"Elo, Gila lo mbak. Tau mama lagi ga sehat kenapa elo malah ga nengokin mama seharian hah?" kata Zio frustasi.
"Gue ga berani Zi, mama marah sama gue. Tadi pagi gue coba buat deketin mama, gue bawain sarapan buat mama, tapi mama memanggil bi Saodah untuk menggantikan gue di situ, dan minta gue keluar kamarnya. Kata mama, mama masih belum mau ketemu gue Zi." kata Nilam menceritakan kejadian tadi pagi.
"Tapi elo juga ga nengokin mama, ketika mama tidur?" tanya Zio.
Nilam menggeleng.
"Gue tadi dapet telpon dari Mas Pian, dia nyeritain semua yang terjadi, gue frustasi Zi, gue marah banget sama dia. Gue pusing, jadi gue seharian juga mengurung diri di kamar. Sampe tadi Diego pulang." kata Nilam.
"Hhhh, ya udah. Kita do'ain aja, semoga mama baik-baik aja." kata Zio pasrah.
"Maafin gue Zi." kata Nilam memeluk tubuh adiknya.
"Hem," jawab Zio.
Dokter keluar, dan memberi penjelasan tentang keadaan bu Suyamti kepada Zio dan Nilam, bahwa bu Suyamti mengalami hypertensi akut, sehingga pembuluh darahnya pecah, namun bu Suyamti mendapat penanganan segera, sehingga nyawanya masih tertolong. Hingga malam tiba, Bu Suyamti masih belum sadar dari pingsannya.
"Zi, tadi kata bi Saodah, mama nyariin Tiara." kata Nilam melepas pelukannya.
__ADS_1
"Tiara?" tanya Zio.
"Iya, kata bi Saodah, mama kangen sama Tiara Zi, coba elo telpon dia. Bisa ga dia ke sini buat jengukin mama, siapa tau bisa jadi obatnya mama Zi." kata Nilam.
"Kemarin gue udah bilang sama dia, tapi mungkin dia lagi sibuk." kata Zio.
"Ya gimana usaha elo lah, biar Tiara bisa jengukin mama." kata Nilam.
"Terus, maksud elo, gue suruh telpon dia gitu? " tanya Zio.
"Ga cuma telpon, malam ini juga elo jemput dia, bawa Dia ke sini." kata Nilam.
"Apa lo bilang? Gue jemput dia?" tanya Zio.
"Iya, coba lo jemput dia, demi mama Zi." kata Nilam.
Ziopun menurut, dan diapun menelpon asisten dosennya itu.
💞💞💞
"Gimana pak?" tanya Dzen saat montir yang ditemuinya sudah mengecek keadaan mobil Dzen.
"Wah, ini harus dibawa ke bengkel dulu mas, kemungkinan ga bisa hari ini mas jadinya. Kebetulan, ini sudah sore juga, karyawan saya sudah pada pulang, dan ini juga sudah mau hujan mas, mau saya bawa ke bengkel dulu saja." kata bapak montir.
"Oh, ya baik pak. Ga masalah. Kira-kira, kapan jadinya ya pak?" tanya Dzen.
"Belum tau juga mas. Saya belum bisa memastikan. Mending mas kasih saya nomer HPnya aja dulu, nanti saya hubungi mas." kata pak Montir.
"Oh, ya pak. Baiklah." kata Dzen sambil mengambil tasnya dari dalam mobil. Lalu dia mengambil secarik kartu nama.
"Ini kartu nama saya pak." kata Dzen memberikan kartu namanya.
"Ya mas." kata oak Montir menerima kartu nama itu.
"Ya sudah pak, saya nitip mobil saya dulu ya pak." kata Dzen lalu berjalan ke arah Mutiara.
"Tiara, ehm." kata Dzen ragu dan sungkan.
"Kenapa mas? Belum bisa dibenerin sekarang ya?
"Iya Ra." kata Dzen nyengir kuda.
"Ya udah, mas Dzen bareng Tiara aja yuk, Tiara anter." kata Mutiara menawarkan diri.
"Tapi naik motor sih mas. Soalnya ini mendung banget lho mas, mending ikut naik motor saya dulu aja." kata Mutiara.
"Ehm, emang beneran gapapa?" tanya Dzen ragu.
"Gapapa mas. Ayo." kata Mutiara.
__ADS_1
Mutiara dan Dzenpun berboncengan dengan motornya Mutiara. Dzen mengantarkan Mutiara dulu ke kosnanya, barulah dia pulang kerumahnya.