Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Cerita Sebenarnya


__ADS_3

Setelah selesai kuliah, Mutiara langsung ke masjid, untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur. Sedangkan kedua kawannya katanya keburu laper, sehingga mereka ke kantin terlebih dahulu.


Sambil menunggu adzan berkumandang, Mutiara mencoba menghubungi Dzen.


📨Mas Dzen


Assalamualaikum. Mas Dzen. Mas, nanti sore sibuk ga?


Tak menunggu waktu lama, sepertinya, Dzen sedang istirahat juga, sehingga whatsappnya online.


📩Mas Dzen


Wa'alaikumsalam Tiara. Ada apa nih, kok tumben tanya-tanya, mau ngajak ketemu ya😉


"Ish, mas Dzen ini, apaan sih. Jadi malu kan akunya." gerutu Mutiara


📨Mas Dzen


Iya mas. Tiara mau ketemu.


📩Mas Dzen


Okey. Bisa. Jam 4 mas dari RS.


📨Mas Dzen


Ya mas. Nanti ketemu di alun-alun aja ya mas.


📩Mas Dzen


Ok. Btw, lagi apa nih?😉 gimana bimbingannya tadi?


📨Mas Dzen


Mau sholat mas. Alhamdulillah, bimbingan lancar. Maaf, Tiara sholat dulu. Nanti saja ngobrolnya pas ketemu ya mas.


📩Mas Dzen


Ok


Mutiara menutup matanya mencari ketenangan Hati. Ya, dia mengirim pesan dengan perasaan tak menentu. Kemudian diapun beristighfar, lalu mendengar kumandang suara adzan. Mutiara pun segera melangkah ke tempat wudlu untuk mensucikan dirinya.


💞💞💞


Sepulang kuliah, Mutiara langsung ke kosannya untuk merebahkan tubuhnya yang terasa berat, karena menahan kantuk sejak semalam suntuk. Karena terlalu letih nya, hingga Mutiara tertidur pulas, sampai tak sadar, sudah sore. Mutiara terbangun oleh suara ponsel yang berdering, tanda panggilan masuk.


📞Mas Dzen.


"Astagfirullah, jam berapa ini? Yaa Allah. udah jam empat seperempat? Haduh, aku telat." kata Mutiara panik sambil memegang ponselnya. namun belum mengangkat telponnya.


"Halo, assalamualaikum." salam Mutiara panik.

__ADS_1


'Wa'alaikumsalam. Tiara, kamu dimana?' tanya Dzen.


"Ehm, maaf mas, Tiara masih di kosan, ini baru aja bangun tidur, maaf. Tadi ketiduran mas."


'Oh, ya ampun. Okey, okey. Ya udah, santai aja, ga usah buru-buru, nanti mas Jemput aja ya." kata Dzen.


"Ga usah mas, ga usah. Dah, ini Tiara segera siap-siap. Tunggu ya mas. Assalamualaikum."


Belum sempat Dzen menjawab salam dari seberang, sambungan telponnya langsung tiara matikan begitu saja tanpa meminta persetujuan lawan bicara. Mutiara bersegera mandi, dan menunaikan sholat ashar. Setelah selesai, Mutiara segera keluar dari kosan nya, dan hendak menstater motornya, namun tiba-tiba ponselnya berdering lagi.


"Astaghfirullah, siapa sih, lagi buru-buru juga, ganggu aja." gerutu Mutiara.


"Mas Dzen lagi? Duh, ga sabaran banget sih?"


📞Mas Dzen


"Halo, Bentar mas, tunggu aja dulu, ini Tiara otw." kata Mutiara sambil mengeluarkan motornya.


'Mas bilang ga usah buri-buru Tiara. Ini mas udah di deket gang masuk kosanmu. Mas tunggu di sini ya.' kata Dzen.


"Ha? Mas Dzen jadi jemput Tiara?" tanya Mutiara tak percaya.


"Iya."


"Oh. ya okey."


Lagi-lagi Mutiara langsung mematikan panggilan, lalu bergegas ke jalan raya, tampak olehnya mobil yang sudah dia kenal terparkir di sana.


"Oh, ya. Masuk Ra." kata Dzen dengan senyum tulusnya. Sangat bahagia bagi Dzen bisa kembali bertemu dengan pujaan hatinya, setelah beberapa lama tak bertemu, karena kesibukan masing-masing. Mutiara pun mengangguk lalu masuk ke mobil.


"Maaf ya mas, Tiara terlambat." kata Mutiara kecewa dengan dirinya sendiri.


"Santai aja kali Ra. Lagian tadi pas telpon, mas belum sampe di alun-alun kok, mas baru perjalanan dari RS. Kamu kok tumben, ketiduran sampe ga denger telpon? Mas tadi miscall Tiara beberapa kali lho." kata Dzen sambil menyetir.


"Ehm, semalem cuma tidur dua jam mas, kayaknya kecapekan." jawab Mutiara dengan wajah datar.


"Oh.... oiya, ini jadi ke alun alun Atau kemana?" Tanya Dzen.


"Tetep ke alun alun aja mas."


"Okey."


"Tiara kok beda ya? Lebih dingin. Kenapa ya? Apa dia ada masalah? Kok tumben dia yang ngajak ketemuan duluan?" batin Dzen.


Mobil Dzen melaju ke alun alun, tanpa berbincang, hingga mereka telah Sampai lokasi. Merekapun keluar dari mobil, lalu berjalan beriringan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.


"Mas."


"Ya?"


"Tiara boleh tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Boleh. Tanya apa Ra?"


"Mas Dzen semalem, sepulang dari kosan Tiara kemana?" tanya Mutiara sambil terus berjalan mencari tempat duduk.


"Tuh kan? Perasaan gue ga enak nih, Tiara kok nanyain kepulanganku semalem. Ehm, jujur ga ya? Jujur, harus jujur dan terbuka. Apapun nanti penyikapan dia gimana, aku harus terima. Itu konsekuensinya." batin Dzen.


"Mas?" panggil Mutiara lagi sambil menghentikan langkahnya.


"Ehm, kita duduk di bawah pohon itu dulu gimana?" tanya Dzen menunjuk pohon beringin di pojok barat daya alun-alun. Mutiarapun mengangguk, Merekapun berjalan ke sana.


Setelah mereka duduk,


"Semalem, mas pulang dari kosanmu, hampir saja menabrak orang, karena khawatir kenapa-napa, mas keluar dari mobil, dan memastikan orang itu baik-baik saja. Ternyata kakinya terkilir, sehingga dia harus mas bawa ke mobil untuk mas obati dulu lukanya. Tetapi dia minta langsung dibawa ke rumahnya, karena dia lagi dikejar orang jahat." kata Dzen memulai ceritanya.


"Terus?" tanya Mutiara yang tak sabar dengan kelajutannya.


"Ya, mas bawa dia ke rumahnya, karena dia ga bisa jalan, ya mas gendong dia. Karena dipapahpun, dia ga bisa katanya." kata Dzen.


"Cewek ya?" tanya Mutiara dengan wajah dingin.


"Ehm, iya. Maaf." kata Dzen yang sejak tadi berusaha menutup jenis kelamin orang yang dia tolong.


"Terus?"


"Mas bawa dia kerumahnya, terus mas obati lukanya pakai alat alat medis mas, lalu mas pamit pulang."


"Gitu aja?" tanya Mutiara menyelidik.


"Iya. Kenapa emangnya" tanya Dzen penasaran.


Tanpa kata, Mutiarapun mengambil ponselnya, membuka galeri dan menyodorkan pada Dzen.


"Itu mas Dzen kan?" tanya Mutiara dengan ketus.


"Astagfirullahal'adzim. Tiara, ini kamu dapet foto dari mana?" tanya Dzen kaget dan syok.


"Ga tau. Dari nomer tak dikenal. Captionnya cuma bilang 'Ini kelakuan calon suamimu.' begitu." kata Mutiara sambil menahan air mata yang hendak tumpah.


"Ra, Demi Allah. Mas ga pernah melakukan hal serendah ini, sekalipun mas ini playboy. Jelas, ini mas dijebak Ra. Tolong kamu percaya sama mas Ra. Pelase." kata Dzen mengangkat kedua jarinya keatas.


"Tapi itu mas Dzen kan? Itu foto nyata kan? Video itu juga bukan editan kan?" tanya Mutiara sambil menangis.


"Ra, iya, memang video ini bener, dan mas ga tau siapa yg memvideonya. Seperti yang mas bilang tadi, perempuan itu ga bisa jalan, makannya mas gendong ke rumahnya, sesampai nya di ruang tamu, mas obati lukanya, terus mas tinggal. Tapi.... " kata Dzen terputus.


"Tapi kenapa mas?"


"Memang ada yang ganjil sih. Semalem, seinget mas, setelah mengobati luka perempuan itu, seinget mas, mas mau pulang, mas keluar dari rumahnya, tapi setelah itu... mas udah ga sadar. Bangun-bangun, mas udah di dalam mobil." kata Dzen.


"Maafin Tiara mas." kata Mutiara.


"Maaf? Maaf kenapa? Tiara, kamu kecewa sama mas? Ra, mas mohon, jangan hentikan hubungan kita ini. Mas di fitnah. Demi Allah Ra, Mas ga pernah melakukan hal serendah itu." kata Dzen mulai khawatir dan terus memohon.

__ADS_1


__ADS_2