
"Terimakasih pak." kata Mutiara saat sudah sampai di gang kecil menuju kosnya.
"Ya, sama sama." jawab Zio dengan wajah bersahabat dan sedikit senyum.
"Istirahat lah. Persiapkan diri untuk Ujian pekan depan." lanjut pak Zio.
"Ya pak. Terimakasih." jawab Mutiara.
"Jangan putus asa, gapai cita-citamu." kata Zio dengan tersenyum tulus kepada Mutiara saat Mutiara sudah membuka pintu mobil, akan melangkah keluar.
"Ya pak. InshaaAllah." jawab Mutiara santun.
"Okey."
"Saya permisi ya pak." kata Mutiara berpamitan.
"Ya." jawab Zio singkat.
"Hati-hati pak." kata Mutiara saat dia sudah berada di luar mobil.
Zio hanya mengacungkan jempolnya saja sambil membunyikan klakson mobil, pertanda pamit. Mobil Zio melaju menuju rumahnya.
Sedangkan Mutiara, sesampainya di kos, dia teringat kata-kata dosennya tadi di resto.
"Ga cuma S2, atau S3, bahkan untuk jadi Professor pun, kamu pasti bisa."
"MaasyaaAllah, kalau benar kata-kata pak Zio tadi terjadi, betapa beruntungnya aku. Aku akan kasih hadiah untuk kedua orangtuaku, hadiah yang paling mereka rindukan, yaitu pergi ke mekkah. Aamiin" gumam Mutiara sambil rebahan membayangkan kata-kata dosennya sebagai mood boosternya.
"Yaa Allah, mudahkanlah." do'a Mutiara.
💞💞💞
Malam itu, Shanum belum juga bisa tidur, hingga jam dinding menunjukkan pukul 12 malam.
"Shanum, kamu pucet banget?" tanya Dzen, teman sekelasnya yang kebetulan berdiri didekat Shanum saat upacara bendera hari senin. Kala itu, acara baru pengibaran bendera.
"Aku ga gapapa kok Dzen." kata Shanum sambil tetap hormat bendera.
"Num, kamu pucet banget, mending mundur deh, aku anterin ya." kata Dzen lagi pada gadis berambut panjang sebokong, dengan dikuncir biasa.
"Ga usah Dzen." jelas Shanum lagi.
"Kamu udaj sarapan belum?" tanya Dzen lagi.
"Belum." jawab Shanum.
"Udahlah, fokus aja sama bendera, nanti kita dihukum lho ketauan ngobrol." lanjut Shanum lagi.
Dzenpun kemudian kembali menatap bendera yang berkibar. Namun tak berapa lama kemudian, tiba-tiba
Brugh
Shanum pingsan, ambruk ke arahnya.
"Ya ampun, Num." spontan Dzen langsung mencari pertolongan. Karena dia sendiri belum kuat, jika harus membopong tubuh gadis di sampingnya, karena badan Dzen juga kecil.
Shanum langsung digendong oleh pak guru yang bertugas jaga di belakang barisan. Shanum segera dibawa ke UKS dengan ditemani Dzen.
"Aku dimana?" Shanum sadar dan melihat, ada Dzen disampingnya.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar Num." kata Dzen berbinar.
"Aku dimana?" tanya Shanum.
__ADS_1
"Kamu lagi dk UKS, Num. Tadi kamu pingsan." kata Dzen menjelaskan.
"Ya ampun, maaf ya Dzen, jadi ngerepotin." kata Shanum merasa bersalah sambil bangun dari tidurnya.
"Santai aja." kata Dzen.
"Kamu ga masuk kelas Dzen?" tanya Shanum.
"Tadi aku udah pamitan kok, kalau mau jagain kamu." kata Dzen.
"Oya Num, kamu makan dulu ya." kata Dzen sambil mengambil sebuah mangkuk berisi nasi soto.
"Engga Dzen, aku ga mau." kata Shanum.
"Tapi kamu harus sarapan. Kamu lemes lho." kata Dzen.
"Aku suapin ya." lanjut Dzen, sambil menyendokkan nasi soto, lalu disiapkan pada Shanum. Seketika Shanum terpesona dengan sosok Dzen yang baik hati.
"Apa besok gue ngajak ketemu Dzen aja ya?" gumam Shanum.
"Tapi, dia udah punya istri belum ya?" Shanum kembali ragu, mengingat usianya sudah tidak lagi muda, bisa jadi Dzen sudah beristri.
"Tapi kan, besok kalo ketemu gue bisa nanya dia langsung." lanjut Shanum.
"Okey, gue harus segera tidur, biar besok bisa segera ngajak Dzen ketemuan." kata Shanum lagi. Diapun berusaha memejamkan matanya, hingga akhirnya dia tertidur.
💞💞💞
Pagi itu Dzen sudah bersiap akan pergi ke Rumah Sakit, tetapi ada notif pesan masuk dari nomer tak dikenal.
📩 (nomer baru)
Hai Dzen, ini gueShanum☺
"Shanum?" gumam Dzen.
📨Dzen
Kemudian Dzen menyimpan nomer baru itu dalam kontaknya.
📩 Shanum
Nanti Siang kamu sibuk ga?
📨Dzen
Nanti siang jam makan siang, saya longgar Num, kenapa?
📩Shanum
Gue pingin ketemu.
📨Dzen
Oh, ya Num. bisa. Di Mentari kafe ya, deket Rumah sakit tempat kerjaku. Soalnya jam dua aku masih harus tugas lagi.
📩Shanum
Okey Dzen😉
Dzenpun memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu dia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke tempat kerja.
Siangnya, seperti yang di rencanakan, Dzen dan Shanum bertemu di Mentari Kafe. Namun Dzen datang agak terlambat.
__ADS_1
"Hai Num, maaf ya nunggu lama." kata Dzen yang baru datang langsung menarik kursi dihadapan Shanum.
"Its okey, no Problem Dzen." kata Shanum sambil menyeruput minuman yang dia pesan.
"Oya, lo mau pesen apa?" tanya Shanum.
"Aku udah pesen kok tadi di depan. Udah bisa soalnya sama karyawan disini." kata Dzen.
"Oh ya, langganan ya?" tanya Shanum.
"Yup, hampir tiap siang pasti ke sini " kata Dzen.
"Oya Dzen, gimana kabar lo?" tanya Shanum.
"Alhamdulillah, baik Num, kamu sendiri gimana?" tanya Dzen.
"Ya seperti yang lo liat sekarang, Gue fine." jawab Shanum dengan merentangkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah, Oya, kamu di kota ini juga? Sejak kapan?" tanya Dzen.
"Iya, Ya udah lumayan lama sih, sekitar enam bulan." kata Shanum.
"Ehm, lumayan lama ya? Tapi kok kita ga pernah ketemu, emang kamu tinggal di mana Num?" tanya Dzen.
"Gue ikut om gue, tinggal di perumahan Asri, deket kampus negeri." kata Shanum.
"Oh, Terus, kesibukan kamu apa Num?" tanya Dzen.
"Gue, ya di rumah aja, kalo pagi sampe sore, ngajar di sekolah swasta fullday scool." kata Shanum.
"Lah, berarti ini harusnya masih jam tugas dong Num?" tanya Dzen heran.
"Ijin bentar." kata Shanum santai.
"Abisnya gue pingin banget ketemu sama elo Dzen." kata Shanum.
"Oh, iya ya. Abisnya kita juga udah lama banget ga ketemu ya Num." kata Dzen.
"Iya, sekitar sepuluh tahunan kali ya." kata Shanum.
"Ya, sejak kita lulus SMP ya." kata Dzen mengingat-ingat.
"Iya, Sejak lulus kan kita beda sekolah, terus pas gue nyariin elo, katanya elo pindah keluar kota, karena nyokap lo meninggal." kata Shanum.
"Iya, bener. Sejak mama meninggal, aku pilih pindah sekolah, lanjut di luar kota ikut papa." kata Dzen.
"Terus, pas kelas tiga SMA, papa aku nikah lagi. Sampe akhirnya aku lulus SMA, aku memutuskan lanjut kuliah ke kota ini. Dan alhamdulillah, kuliah di kota ini, sampe lulus, dan dapet kerja di kota ini juga." lanjut Dzen.
"Jadi, elo ninggalin Jakarta udah lama ya Dzen?" tanya Shanum.
"Ya begitulah." kata Dzen.
"Eh, tapi, gue ga nyangka lho, cita-cita lo beneran tercapai, buat jadi dokter." kata Shanum.
"Iya Num, Alhamdulillah." kata dzen.
"Terus, rencananya, elo mau lanjutin hidup elo di kota ini? Apa mau pindah lagi?" tanya Shanum.
"InshaaAllah, di sini aja Num, nyari jodoh juga di sini." kata Dzen.
"Eh, jodoh? Emang elu belum maried Dzen?"
"Hahaha, belum Num. Emang wajah aku keliatan udah beristri?" tanya Dzen bercanda.
__ADS_1
"Serius Dzen? Sama dong? Gue juga masih Single." kata Shanum spontan girang.
Dzen membaca air muka Shanum, seperti ada harapan tentang asmara disana. Dzen pun mengalihkan pembicaraan nya, dan merekapun berbincang tentang masa lalu mereka. Hingga jam istirahat telah habis, dan akhirnya mereka berpisah.