Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Dibalik Penolakan


__ADS_3

Disebuah rumah yang cukup megah, tampak seorang laki-laki yang tampak berdiri di balkon kamarnya, menatap kosong pemandangan didepannya.


"Yusuf." sapa Bunda Rahma. bundanya Yusuf.


"Eh, Bunda." kata Yusuf berbalik badan.


"Kamu kenapa nak? Bunda perhatikan, beberapa waktu ini kamu tampak murung. Ada masalah ya?" tanya Bunda Rahma.


"Eh. engga kok bun." jawab Yusuf.


"Yakin?" Bunda Rahma meyakinkan.


"Yakin bunda." jawab Yusuf.


"Ehm, Suf... Gimana? Kamu bilang, kamu mau menikah nanti kalau sudah lulus, ini kamu sudah lulus lho." kata bunda Rahma.


"Ehm..."


"Suf. niat baik itu jangan ditunda tunda. Nikah itu sunnah." kata bunda Rahma.


"Yusuf tau bunda."


"Hem...Tadi, bunda ditanyain lagi sama bu Rani, dia kembali menanyakanmu Suf. Anak gadisnya sudah lulus pendidikan perawat nya. Kalau kamu mau. bu Rani ingin sekali kita bisa besanan." kata bunda Rahma lagi.


"Maksud bunda?"


"Suf, bunda tau, sebenarnya kamu paham. Cuma kamu pura-pura ga paham." kata Bunda Rahma yang sudah hafal wajah anaknya.


"Suf, ayolah. Kamu masih menunggu apa lagi? Sudah puluhan gadis yang kamu tolak, dengan banyak alasan. Terus, mau kamu apa? Bunda sudah ingin sekali kamu menikah. " kata bunda Rahma.


"Maaf bunda, Yusuf minta waktu lagi ya bun." kata Yusuf masih minta nego.


"Sampai kapan nak?" tanya bunda Rahma.


"Sampai Yusuf siap bunda." kata Yusuf.


"Suf, kamu itu sudah kerja, mapan, penghasilan mu juga sudah jelas, masih mau menunggu apa Suf? Ga baik, ketika sudah diberi kemampuan, tetapi tidak segera melaksanakan." kata bunda Rahma.


"Yusuf masih butuh waktu bunda." kata Yusuf sambil menunduk.


"Apa sebenarnya kamu sedang menunggu seseorang Suf? Cerita lah sama bunda nak." kata bunda Rahma menatap putranya dengan penuh kasih sayang.


"Ehm... Bunda..."


"Ya?"


"Boleh ga sih, kita melamar seseorang sedangkan orang itu sudah ada yang meminangnya?" tanya Yusuf.


"Kalau jelas sudah dikhitbah, tidak boleh nak kita mengkhitbahnya. Kecuali jika gadis itu menolaknya." kata Bunda Rahma.


"Gitu ya?" jawab Yusuf lesu.


"Hem... anak ibu ini kenapa to? Gadis yang kamu sukai sudah dikhitbah orang?" tanya Bunda Rahma.


"Ehm, Entahlah bunda. Yusuf butuh waktu." jawab Yusuf dengan nada frustasi.


"Nak, terkadang apa yang kita inginkan itu, tidak bisa kita dapat kan, karena Allah sudah menyiapkan sesuatu yang terbaik untuk kita. Boleh jadi, sesuatu yang baik bagimu. justru itu yang kau benci, dan apa yang kau sukai, justru itu tidak baik bagimu." kata bunda Rahma menasehati.


"Bunda, tolonglah bun, do'ain Yusuf, agar Allah membalikkan hatinya untuk Yusuf." pinta Yusuf.


Bunda Rahma tersenyum.

__ADS_1


"Boleh bunda tau, siapa gadis itu nak? Sehingga kamu bersikeras untuk bisa mendapatkannya?" tanya bunda Rahma.


"Dia... Dia adik tingkat Yusuf bunda. Dia gadis kuat, pintar, cerdas dan Sholihah. Parasnya ayu, natural dan busananya selalu rapi dengan balutan hijab syar'inya. Dia dambaan setiap pria bunda." kata Yusuf.


"MaasyaaAllah."


"Dia gadis yang dulu pernah nolongin bunda, waktu bunda jatuh di toilet masjid, saat kita ikut acara pengajian di masjid Agung." kata Yusuf. Bunda Rahma tampak mengingat ingat.


"Oh, gadis itu? MaasyaaAllah, iya. Gadis itu baik budinya, santun perangainya, lemah lembut tutur katanya." komentar bunda Rahma.


"Tuh. kan? Bunda juga tau kan? Ayolah bun, tolong bantu do'a. Agar Allah membalikkan hatinya untuk memilih Yusuf." rengek Yusuf.


"Yusuf sayang, bunda tau, dia sangat baik, bahkan mendekati sempurna. Tetapi, jangan pernah kamu ada fikiran untuk memaksa dia menjadi milikmu nak. Pasrah kan semua PadaNya, jika memang dia jodohmu, pasti dia akan didekatkan padamu. Tetapi, jika dia bukan jodohmu, Allah pasti sudah menyiapkan yang terbaik untukmu sayang." nasehat bunda Rahma yang turut iba atas perasaan putranya.


"Tapi bunda...."


"Kenapa tidak dari dulu kamu mengkhitbahnya? Ke duluan orang kan jadinya?" kata Bunda Rahma.


"Yusuf pikir, dia belum punya calon bunda. Karena dia lempeng-lempeng aja gitu." kata Yusuf.


"Itulah kesalahanmu. Harusnya dulu saat perasaan itu hadir, kamu segera menemuinya, menemui orangtuanya, dan segera kamu sampai kan niat baikmu." kata Bunda Rahma.


"Maaf bunda, tadinya juga mau begitu, tetapi dia anak bidikmisi bunda, dia belum boleh menikah sebelum dia dinyatakan lulus." kata Yusuf.


"Tapi harusnya, meski begitu, kemarin kamu temui orangtuanya dulu dong. Kan ga ada salahnya nak." kata bunda Rahma.


"Terus Yusuf harus gimana bunda?" tanya Yusuf putus asa.


"Ya... kita berdoa'a sama-sama ya nak. Semoga saja dia menjadi jodohmu, jika tidak, ya... pasti Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Laa Tahzan Hubbi." kata bunda Rahma yang berhasil menghibur hati Yusuf yang tidak karuan rasanya.


Malam itu, Yusuf terpekur dikamarnya, sambil memegang ponselnya. Ingin sekali dia menghubungi gadis dambaannya. Menanyakan kabarnya. Karena saat melihat story WAnya, Mutiara sudah lulus sidang.


📨Mutiara


Tak berapa lama kemudian, pesan itu dibalas oleh Mutiara.


📩Mutiara


Wa'alaikumsalam kak. Alhamdulillah, Tiara baik kak. Alhamdulillah, sudah selesai tadi siang kak, dan hasilnya lulus. Terimakasih banyak ya kak. Aamiin yaa Robbal 'alamin.


📨Mutiara


Ehm, Tiara. Maaf, boleh kak Yusuf tanya sesuatu?


📩Mutiara


Boleh kak. Tafadzol.


📨Mutiara


Apakah Tiara sudah siap menikah?


📩Mutiara


Kenapa kak?


📨Mutiara


Boleh tidak kakak silaturahmi ke rumah Tiara?


Yusuf mengetik pesan itu dengan tangan bergetar, entah kenapa, dia merasa pesimis untuk bisa mendapatkan gadis itu.

__ADS_1


Cukup lama pesan itu tak terbalas. Yusuf berfikir, sepertinya Mutiara sedang berfikir.


📩Mutiara


Ehm, tafadzol kak. Kapan?


"Ha? Boleh? Yes!" pekik Yusuf.


📨Mutiara


InshaaAllah besok sabtu sore saya kesana ya. Bisa share lok kan?


📩Mutiara


Ya kak.


💞💞💞


Sedangkan di sebuah kamar kecil, Mutiara tampak kebingungan.


"Aduh, aku salah ga ya jawab gitu? Tapi kan kak Yusuf bilang cuma mau silaturahmi aja. masa' ga boleh sih?" gumam Mutiara.


"Aku harus kasih kabar bapak." kata Mutiara.


📞Bapak


'Assalamualaikum nduk.'


"Wa'alaikumsalam bu, Anu, ini bu. Tiara cuma mau kasih kabar, kalau besok sabtu sore, temen Tiara ada yang mau main ke rumah bu. Boleh ga bu?"


'Temen? Ya boleh to nduk. Tapi ya gini, keadaan rumahmu kan begini, kalau kamu ndak malu, ya ndak papa.'


"Ya bu."


'Lha kamu mau ke sini nya kapan?'


"InshaaAllah sabtu pagi bu."


'Ya wis. Ati-ati ya nduk. Nanti kamu sama nak Dzen kan?'


"Ha? Harus sama mas Dzen ya bu?" tanya Mutiara yang semakin galau.


'Ya ga harus sih. Tapi, ya lebih baik begitu.'


"Ehm, ya nanti gampang lah bu. Lagipula mas Dzen kan masih dinas bu kalau sabtu pagi."


'Ya wis. Terserah kamu saja. sing penting, hati-hati ya.'


"Ya bum Tolong sampaikan ke bapak ya bu, kalau ada temen Tiara mau silaturahmi ke rumah sabtu sore."


'Iya, InshaaAllah nduk.'


"Ya sudah bu, sudah dulu ya bu. Ibu sehat sehat ya di rumah."


'Iya nduk. Kamu juga.'


"Assalamualaikum bu."


'Wa'alaikumsalam.'


Panggilan terputus, Mutiara terasa sangat bingung malam itu, karena ada dua laki-laki yang akan bersilaturahmi ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2