
"Dzen?" panggil seseorang dari kejauhan.
Dzenpun menghentikan langkahnya, saat dia berada di koridor menuju ruang IGD.
Alis Dzen mengernyit, saat melihat sosok wanita cantik, berjilbab pashmina dengan celana kulot dan baju kemeja lurik.
"Ehm, maaf. Siapa ya?" tanya Dzen hati-hati.
"Ya ampun Dzen, lo lupa sama gue?" tanya wanita itu.
"Ehm, mungkin kalau lupa, engga ya, tapi pangling deh kayaknya. Siapa ya?" tanya Dzen lagi
"Gue Shanum. Temen SMP lo. Inget?" kata wanita bernama Shanum itu dengan wajah ceria.
"Shanum? Oh, Shanum anak sembilan D?" tanya Dzen memastikan.
"Yup, betul banget." kata Shanum dengan gaya genit, sambil mengerilngkan matanya dan menjentikkan jarinya.
"Yaa Allah Shanum, maaf. Saya bener-bener pangling sama kamu." kata Dzen mulai tersadar.
"Yah, wajar kok, karena banyak temen yang pangling juga sama gue." kata Shanum.
"Lo, sekarang jadi dokter, Dzen?" tanya Shanum sambil melihat penampilan Dzen.
"Alhamdulillah, iya Num." kata Dzen tersenyum lembut.
"Duh,,,hebat ya lo. Dulu waktu SMP ga kebayang lho kalo lo tu bakal jadi dokter. Tugas di sini juga?" tanya Shanum.
"Iya Num. Kamu sendiri, kenapa ada di sini? Siapa yang sakit?" tanya Dzen yang tiba-tiba membuat Shanum air mukanya berubah.
"Ehm, iya, abis periksa. Nganter periksa kakak." kata Shanum gugup.
"Owh, semoga lekas sembuh ya." kata Dzen yang tak terlalu bisa mengerti kegugupan Shanum.
"Oya Dzen, boleh minta contac lo ga?" tanya Shanum mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ya tentu. Ini karu namaku." kata Dzen sambil menyerahkan kartu namanya dari dalam sakunya.
"Oh, okey. Thank's ya Dzen." kata Shanum bahagia.
"Oya maaf ya Num, aku harus segera ke IGD ini, ada pasien yang harus segera saya tangani." kata Dzen.
"Oya, gapapa Dzen, semangat ya." kata Shanum dengan senyum penuh kebahagiaan.
Dzenpun segera menuju IGD, tempat dimana dia bertugas. Dzen adalah seorang dokter muda yang ditugaskan menjadi dokter IGD, sehingga dia harus bertanggung jawab dengan pasien yang ada di IGD.
"Yes, akhirnya. Gue ketemu elo juga Dzen, setelah bertahun-tahun gue harus memendam rasa ini." gumam Shanum sambil memainkan kartu nama di tangannya, sepeninggal Dzen.
__ADS_1
Shanum pun segera memasukkan kartu nama itu kedalam tas nya.
"Shanum!" panggil seorang laki-laki dari arah kasir.
Seketika Shanum menoleh ke sumber suara.
"Ya ampun Num, dari tadi om nyariin kamu, kamu kemana sih?" tanya Yuda om nya Shanum dengan nafas terengah-engah.
"Hehe, maaf om. Tadi Shanum ngeliat ada temen Shanum, jadi lupa ga pamit sama om dulu." kata Shanum meringis.
"Ya sudah, ayo kita pulang." kata Yuda.
"Ya om."
Sesampainya di dalam mobil. Ponsel Yuda berdering, tanda ada telpon masuk.
📞Pak Zio
"Halo pak Yuda."
"Ya pak, Halo. Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Yuda.
"Ya pak. Saya hari ini ada ujian dosen di kampus, tolong meeting dengan client hari ini, anda handel dulu ya."
"Oh, ya pak. Baik pak."
Yudapun melihat jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 10.30. Waktunya tidak cukup jika harus mengantarkan keponakannya kembali ke rumah. Sehingga Yuda memutuskan untuk langsung saja ke kantor.
"Num, kita langsung ke kantor aja ya. Pak bos hari ini tidak bisa ke kantor untuk hadiri meeting dengan client." kata Yuda.
"Ya om, Shanum ngikut aja lah."kata Shanum.
Selama perjalanan, Shanum banyak diam, dia kembali mengingat masa lalunya bersama Dzen, teman dekatnya yang berhasil mengisi hatinya, tetapi dia tidak tau, apakah Dzen memiliki rasa yang sama dengannya atau tidak. Semenjak lulus SMP, Mereka pisah sekolah, Shanum kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan, sehingga Shanum harus ikut dengan om Yuda ke kota ini. Sedangkan Dzen masih melanjutkan sekolah SMA di kotanya dahulu, di Jakarta, hingga akhirnya mamanya meninggal dunia, dan papanya menikah lagi. Kehidupan keduanya terpisah jauh dan losh kontak.
"Num, kamu tunggu om di ruangan om dulu ya. Om harus segera menggantikan pak Zio untuk memimpin meeting." kata Yuda.
"Ya om. Ruangan om dimana?" tanya Shanum.
"Dilantai tiga, nanti kamu tanya saja sama karyawan disana. Ada tulisannya juga, Ruang Asisten." kata Yuda.
"Okey om." kata Shanum yang langsung menuju lift. Sedangkan Yuda berjalan menuju ruang tamu, untuk mengecek ponselnya dan beberapa berkas yang harus disiapkan.
💞💞💞
"Tiara." panggil seorang pemuda di dekat ruang kelas Mutiara.
Seketika Mutiara menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Kak Yusuf? Ada apa kak?" tanya Mutiara.
"Ehm, tadi malem, kamu ke mana Ra?" tanya Yusuf.
"Tadi malem?"
"Iya, tadi malem aku ke kosan kamu Ra, tapi kata bu kos kamu lagi ada acara, berangkat dari sore abis ashar, aku pikir, ba'da isya' kamu sudah pulang, aku tunggu, ternyata kamu belum pulang-pulang juga. Memangnya kamu pulanh jam berapa, Ra?" tanya Yusuf.
"Oh. Tadi malem ya kak. Aduh maaf ya kak, sampe bikin kak Yusuf nungguin Tiara. Iya kak, Tiara ada acara dirumah temen Tiara, dia jemput sore abis ashar, padahal acaranya abis isya', jadi pulangnya malem, karena Tiara juga nunggu temen Tiara nganterin pulang." kata Mutiara menjelaskan.
"Owh, emang acara apa, Ra?" tanya Yusuf.
"Pengajian kak, mamanya minta Tiara untuk hadir." kata Mutiara.
"Owh, terus tadi malem pulang jam berapa, Ra?" tanya Yusuf penasaran.
"Jam setengah sebelas kak." jawab Mutiara.
"Malem banget ya?" gumam Yusuf.
"Iya." jawab Mutiara.
"Oya, emang kak Yusuf nyariin Tiara ada perlu apa kak?" tanya Mutiara.
"Oiya, lupa. Ini, Ra, aku mau ngembaliin flashdisk kamu yang ketinggalan pas kemarin kita breafing." kata Yusuf menyerahkan sebuah flashdisk berwarna biru kepada Mutiara.
"Oh, ya ampun, pantesan kemarin Tiara cariin ga ada, ternyata ketinggalan? Terus ditemuin kak Yusuf?" tanya Mutiara.
"Engga, yang nemuin Fahri kok, Ra. Tapi katanya suruh nyimpen saya. Ya udah, saya coba kembaliin ke kosan kamu, khawatir kalo kepake. Karena pas aku buka, ada beberapa file tugas tugas kuliah." kata Yusuf.
"Iya kak. Bener. Terimakasih banyak ya kak, sudah di simpenin." kata Mutiara sambil memasukkan flashdisk nya ke dalam tasnya lalu melempar senyum tulusnya pada Yusuf.
"Iya Tiara, sama-sama." kata Yusuf kikuk.
"Ehm, ya udah Tiara, saya permisi dulu ya, ada jam kuliah ini." kata Yusuf.
"Oh, iya kak. Sekali lagi, terimakasih ya kak. Baarokallahufikum." kata Mutiara tulus dengan senyum manisnya.
"Iya Tiaram Ya udah. Assalamualaikum." kata Yusuf sembari meninggalkan Mutiara.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara sambil menatap punggung Yusuf.
Dan tiba-tiba dia dikagetkan kembali oleh sebuah suara yang tak asing baginya.
"Ehem." sebuah deheman yang membuat Mutiara menoleh ke sumber suara.
💞💞💞
__ADS_1
Suara siapa ya?🤔 yuk simak Bab berikutnya ya😍