
Sesampainya di kosan, Mutiara segera menyiapkan diri untuk berangkat ke Solo. Diapun menghubungi Dzen.
📨Mas Salah Sambung
Assalamualaikum mas Dzen, Tiara sudah siap mas.
Tak menunggu waktu lama. Pesan itu segera terbalas.
📩Mas Salah Sambung
Wa'alaikumsalam. Ok Tiara. Otw. Kamu tunggu di kosan aja ya, nanti saya jemput.
Mutiara mengernyit, tak mengerti apa maksud Dzen.
📨Mas Salah Sambung
Kenapa?
Pesan sudah terbaca, kemudian ponsel Mutiara berdering, tanda ada panggilan masuk.
📞Mas Salah Sambung
'Halo Tiara."
"Ya mas. Kenapa harus dijemput ke kosan mas?"
'Karena saya tau pasti bawaan kamu banyak kan? Makannya saya akan jemput kamu untuk membawa barang-barang kamu.'
"Hehehe, mas Dzen ini, tau aja." jawab Mutiara tertawa.
'Ya tau dong. Namanya orang mau pulang kampung, itu ga mungkin cuma bawa tas kecil kan? Emang kamu ga bawa oleh-oleh buat orang rumah? Ga bawa pakaian ganti?" tanya Dzen.
"Iya mas. Iya. Memang ini ada beberapa barang bawaan Tiara." kata Mutiara.
'Makannya. Nanti saya jemput aja ya. Tuan putri tetap di singgasananya. Okey?' kata Dzen bercanda.
"Hehehe, mas Dzen ini lucu deh. Iya mas. Iya."
'Okey, saya otw ya.'
"Ya mas."
Panggilan pun terputus. Mutiara menyiapkan dan memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal. Lalu Mutiara berpamitan dengan bu Sri. Tak berapa lama kemudian, Dzen datang, Mutiarapun bersiap pulang ke kampung halamannya bersama Dzen.
"Titip Nak Tiara ya mas Dokter." kata bu Sri.
"InshaaAllah bu." jawab Dzen.
"Sukur sukur kalo kembali, bawa kabar gembira ya mas, kabar do'a restu dari ibu bapaknya Tiara." goda bu Sri.
"Hahaha, bu Sri ini. Aamiin bu. Mari, kami pamit dulu." kata Dzen sambil membawa dua kardus yang entah berisi apa, yang jelas cukup berat.
__ADS_1
Sesampainya di mobil, Dzen memasukkan barang bawaan Mutiara ke dalam bagasi mobilnya.
"Ini berat banget, isinya apa sih Ra?" tanya Dzen.
"Ehm, bahan bahan dapur mas. Gula pasir, Garam, minyak goreng, gula jawa, bawang merah bawang putih dan lainnya." kata Mutiara.
"Setiap pulang kampung selalu bawa kaya gituan Ra?" tanya Dzen heran.
Mutiara mengangguk.
"Tiara kan emang kerjanya di warung bumbu mas, itu udah jatah dari juragan." kata Mutiara.
"Oh, gitu?" jawab Dzen mengerti.
"Ya udah yuk, segera berangkat." kata Dzen.
"Engga terlambat mas nanti sampe sananya?" tanya Mutiara.
"Mobil lewatnya Tol Tiara, jadi lebih cepat." kata Dzen.
"Oh, iya. Lupa. Kalo motor kan lewat jalur biasa, bayangannya Tiara, bakal terlambat nanti mas Dzennya." kata Mutiara menepuk keningnya.
"Engga kok, santai aja." kata Dzen sambil mengemudikan mobilnya.
Sepanjang jalan, Mutiara dan Dzen berbincang banyak hal, dan saling tukar pendapat dan sharing. Hingga tiga perempat perjalanan, Mutiarapun tak kuat menahan rasa kantuknya, karena sudah beberapa malam, dia ngelembur. Saat mobil sudah keluar tol, Dzen yang bingung harus ke arah mana, dia tak berani membangunkan Mutiara, sehingga dia memutuskan untuk melajukan mobilnya ke kampus nya terlebih dahulu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30, sudah mendekati waktu sholat jum'at. Dzenpun memutuskan untuk sholat jum'at di masjid kampus. Saat dia memarkirkan mobilnya, Mutiara terbangun.
"Astaghfirullah. Maaf mas. Tiara tadi ketiduran ya." kata Mutiara terjaga dari tidurnya.
Dzen tersenyum, melihat wajah bantal nya Mutiara yang natural.
"Oh, iya mas. Gapapa mas. Malah Tiara yang minta maaf. Enak enak tidur." kata Mutiara.
"Gapapa Tiara, namanya juga abis ngelembur beberapa hari." kata Dzen memaklumi.
"Ini, kamu mau ikut turun, singgah di masjid, apa di sini aja?" tanya Dzen.
"Ikut ke masjid aja mas." kata Mutiara.
"Okey. Ayo." kata Dzen mengajak Mutiara keluar mobil.
Merekapun masuk masjid, dan mengikuti sholat jum'at berjamaah di masjid.
Setelah selesai sholat, Dzen mengajak Mutiara untuk makan siang terlebih dahulu, di warung makan belakang kampus yang dekat dengan masjid tempat mereka sholat. Sambil menunggu Dzen dihubungi profesor yang mengampunya.
"Rumah kamu masih jauh dari sini Ra?" tanya Dzen saat mereka sudah menikmati hidangan yang mereka pesan di warung bakso.
"Ga terlalu kok mas. Tinggal sekitar seperempat jam lagi sampai." kata Mutiara.
"Tapi gapapa kan, ini aku ngurusin urusanku dulu di kampus, baru nanti aku antar kamu pulang." kata Dzen.
"Gapapa kok mas. Lagipula, kalo ke rumah dulu, pasti ga bisa sebentar mas. Karena modelnya bapak ibu itu pasti minta tamunya masuk dulu, dan menikmati jamuan mereka dulu. Itu unggah ungguhnya orang jawa mas." kata Mutiara.
__ADS_1
"Oh, gitu ya?"
"Lagipula, ya maaf juga mas, tadi berangkatnya kesiangan juga sih kita, Masih mampir mampir juga. Jadinya ga bisa sampe rumah sebelum dzuhur." kata Mutiara memperkirakan.
"Iya, gapapa. Yang penting Tiara mau kan tungguin aku dulu untuk ketemu Profesor?" tanya Dzen.
"Iya mas. Tiara tunggu kok. Nanti Tiara nunggu di masjid aja ya mas." kata Mutiara.
"Okey." jawab Dzen.
Dzen dan Mutiarapun melanjutkan makan mereka sampai akhirnya habis, dan Dzenpun segera menemui dosennya di gedung progam pendidikan Dokter Spesialis. Sedangkan Mutiara menunggu di masjid kampus.
Setelah satu jam bertemu dengan profesornya, Dzenpun menjemput Mutiara yang sudah menunggu di masjid.
"Yaa Allah, kenapa gue jadi deg degan gini ya? Kaya berasa mau ketemu calon mertua nih. Hehe. Ya semoga aja, bener deh. Calon mertua." batin Dzen setelah mengirim pesan pada Mutiara bahwa dirinya perjalanan ke masjid.
"Maaf Tiara, nunggu lama." kata Dzen setelah Mutiara masuk ke dalam mobil.
"Gapapa mas. Santai aja. Tadi Tiara malah bisa jalan-jalan dulu ke perpustakaan masjid, baca-baca buku dulu kok." kata Mutiara dengan tersenyum.
"Oya, kamu ada rencana jenguk bapaknya Kenzo ga Ra?" tanya Dzen.
"InshaaAllah ada rencana mas. Kenapa emangnya?" tanya Mutiara.
"Aku juga mau jenguk. Boleh?" tanya Dzen.
"Ya boleh lah mas. Kenapa ga boleh? Menjenguk orang sakit itu baik kok." kata Mutiara.
"Ya udah, kamu tau rumah sakitnya kan? Jam besuknya jam berapa?" tanya Dzen.
"Jam Lima sore sampai jam tujuh malam mas biasanya." jawab Mutiara.
"Oh, okey. Nanti abis maghrib aja gimana kita jenguk bapaknya Kenzo." usul Dzen.
"Boleh." jawab Mutiara.
"Oya Tiara, hotel deket deket sini, dimana ya? atau penginapan gitu?" tanya Dzen.
"Tadi aku belum sempet browsing soalnya." lanjut Dzen.
"Mas Dzen mau nginep?" tanya Mutiara.
"Iya. Soalnya besok kebetulan ada acara seminar dokter di gedung Rumah sakit UNS, itu mana ya Ra?" tanya Dzen.
"Itu Kartasura mas. Dari sini, masih lumayan jauh mas. Kalo mobil, ya sekitar setengah jam sampe satu jam lah perjalanannya. Tergantung macet engga nya." kata Mutiara.
"Oh, gitu?"
"Kenapa mas Dzen ga nginep di rumah Tiara aja? Ga dipungut biaya kok mas. Kebetulan, rumah bapak luas, ada beberapa ruang kamar yang menganggur juga, karena mbak mbak Tiara pada ikut suaminya. Bapak Ibu pasti juga ga keberatan jika mas Dzen bermalam di rumah." kata Mutiara.
"Tapi, entar ngerepotin Ra." kata Dzen sungkan.
__ADS_1
"InshaaAllah engga mas." kata Mutiara.
Merekapun sudah sampai rumah Mutiara, setelah Mutiara memberi arahan kepada Dzen untuk belok belok nya.