
Siang itu, Nadia dan Mila selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur di masjid kampus, setelah sepagi mengikuti jam perkuliahan yang padat. Tak ada Mutiara membuat mereka kurang bersemangat hari itu.
Nadia dan Mila bermaksud mengambil sepatu mereka di rak sepatu, namun tiba-tiba seseorang memanggil Nadia, suara itu tak asing bagi Nadia tentunya.
"Nadia." panggil Fahri.
"Eh, kang Fahri." kata Nadia malu-malu.
"Ada apa kang?" tanya Nadia.
Nadia dan Fahri memang sudah saling kenal sejak saat mereka di bangku Tsanawiyah, saat di pondok, sehingga panggilan terhadap kakak tingkat, memang dengan panggilan Akang.
"Ini, Yusuf mau tanya sesuatu sama kalian." kata Fahri.
"Oh, ada apa kak Yusuf?" tanya Nadia.
"Ehm, Tiara di mana ya?" tanya Yusuf.
"Tiara hari ini ga masuk kak. Sakit." jawab Mila.
"Sakit? Sakit apa? Di mana?" tanya Yusuf dengan wajah khawatir.
"Duh, duh. Biasa aja kali Suf." goda Fahri. Kedua gadis itu hanya tersenyum menanggapi sikap ketua LDK itu terhadap kabar kurang sedap dari mereka.
"Katanya sih cuma kecapekan aja kak. Kayaknya di kosan." jawab Mila lagi.
"Oh, ya syukurlah kalau bukan sesuatu yang mengkhawatirkan." kata Yusuf lega.
"Ada apa emangnya kak?" tanya Nadia kepo.
"Oh ya, ini, saya mau nitip buku panduan kongres buat dia. Didalamnya ada sistematika penyusunan LPJ tiap-tiap organisasi mahasiswa. Tadi saya ke kelasnya, tapi dia ga ada, ya udah ketemu kalian di sini, saya titipkan kalian saja ya." kata Yusuf memberikan buku cukup tebal kepada Mila.
"Oh, ya kak." jawab Mila.
"Terimakasih sebelumnya." kata Yusuf.
"Ya kak sama-sama." jawab Mila.
"Yuk Ri." ajak Yusuf, namun sepertinya Fahri sedang asyik memandangi Mila.
"Fahri." panggil Yusuf lagi sambil menggoyangkan bahunya.
"Astaghfirullah. Pelan napa Suf." omel Fahri.
"Dari tadi ane panggil ga nyahut, ternyata ente ngelamun?" tanya Yusuf.
"Engga juga." jawab Fahri.
"Ghodul Bashor. Tundukkan pandangan bro!" kata Yusuf lagi .
"Astaghfirullah. Afwan." spontan Fahri menundukkan pandangan.
"Ayo balik." kata Yusuf.
"Okey." jawab Fahri.
"Ya udah, nitip ya. " kata Yusuf lagi kepada Mila.
"Ya kak." jawab Mila.
Sepeninggal Yusuf dan Fahri, Nadia dan Mila berencana main ke kosan Mutiara sambil menjenguk sahabatnya. Dan sekaligus menyampaikan pesan dari ketua LDK bernama Yusuf.
__ADS_1
Siang itu juga mereka sudah sampai di kosan Mutiara, namun Mutiara tak ada di kosan, kata bu kos, Mutiara sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Setelah bu Kos memberi tahu nama rumah sakitnya, merekapun langsung ke RSUD, tempat Mutiara dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, mereka bertanya pada petugas informasi, kebetulan mereka juga datang pada waktu jam jenguk pasien.
Tiba di depan pintu ruang rawat VIP, mereka tertegun, mereka ragu untuk masuk.
Tok tok tok
"Assalamualaikum." salam Nadia yang mengawali.
"Ga ada sahutan tu Mil. Coba kamu." kata Nadia.
Tok tok tok
"Assalamualaikum." salam Mila.
"Ga ada sahutan juga. Langsung masuk aja kali ya?" kata Mila.
"Ish, sembarangan aja lho." kata Nadia mengingatkan.
Saat mereka baru membicarakan gimana baiknya, tiba-tiba dokter muncul dihapan mereka.
"Selamat Siang. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Dzen yang juga bermaksud untuk masuk ke ruangan.
Nadia dan Mila saling pandang.
"Selamat siang dokter." jawab Mila.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Dzen ramah dengan senyuman.
"Ehm, ini dok. Saya Nadia, dan ini temen saya Mila. Kami ke sini mau menjenguk teman kami yang dirawat di rumah sakit ini. Namanya Mutiara Hati. Katanya dirawat di ruangah VIP ini. Tapi dari tadi kami ketuk pintunya, tidak ada sahutan." kata Nadia.
"Oh, kalian temennya Tiara?" tanya Dzen.
"Perkenalkan, saya Dzen, saya dokter yang merawat Tiara." kata Dzen mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
"Oh, ya dok. Saya Mila." kata Mila.
"Nadia." kata Nadia sambil tersenyum.
"Mari masuk saja. Mungkin Tiara baru ke toilet, atau sedang tidur." ajak Dzen yang membuka hendel pintu sambil berucap salam.
Masih tak ada sahutan, tetapi suara air dari dalam kamar mandi terdengar. Berarti memang Mutiara sedang ada di toilet..
"Oh, Tiara di toilet itu." kata Dzen.
"Tiara sendiri?" tanya Nadia.
"Ya." jawab Dzen.
Tak lama kemudian Mutiara keluar dari toilet.
"Lhoh, kalian? Kok tau aku di sini?" tanya Mutiara heran.
"Tadi kita ke kosan, kata bu kos, kamu dirawat disini." kata Mila.
"Oh, ya udah. Bentar ya, aku sholat dulu." kata Mutiara berjalan perlahan sambil membawa infusnya menuju tempat sholat.
Dzen yang membawa paper bag dan juga plastik, meletakkan dinakas. Begitupun dengan Mila yang membawakan makanan untuk Mutiara, dia letakkan juga di dekat meja.
"Kamu sendirian, Ra disini?" tanya Nadia.
__ADS_1
"Engga kok, ada yang jagain aku, tadi kebetulan sedang keluar." kata Mutiara melihat kearah Dzen.
"Tadi kata dokter, kamu sendirian." kata Nadia setelah Mutiara selesai sholat.
"Iya, kadang juga sendiri." kata Mutiara.
"Oya, kalian kenapa harus repot-repot nyariin aku sih?" tanya Mutiara.
"Hehe, ya namanya sahabat ya pengertian dikit lah Ra, tau sahabatnya sakit ya dijenguk." kata Mila.
"Oh, gitu? Tumben?" tanya Mutiara menyindir.
"Hahaha, dasar kamu Ra, dibilang tumben lagi." jawab Mila dengan gelak tawa.
"Sebenarnya ini kita nyariin kamu, karena ini." kata Mila memberikan sebuah buku.
"Apaan tu Mil?" tanya Mutiara menatap buku itu sambil menerimanya.
"Panduan Kongres?" Mutiara bergumam.
"Dari kak Yusuf, Ra. Tadi dia nitip buku itu buat kamu, supaya kamu bisa mempelajarinya, buat mengerjakan LPJ." kata Mila.
"Tadi kak Yusuf nitip salam buat kamu, Ra." kata Nadia yang seketika mendapat hadiah sikutan dari Mila sekaligus tatapan tajam.
"Oya, wa'alaikumsalam." jawab Mutiara datar tanpa ekspresi.
"Dia nanyain keadaan kamu, Ra. Kayaknya dia khawatir deh." kata Nadia lagi yang masih tidak mengerti dengan isyarat dari Mila.
Dan diwaktu yang sama, Dzen yang tadinya bermain ponsel, tiba-tiba berhenti, dan tatapannya tertuju pada Mutiara.
"Yusuf? Siapa dia?" batin Dzen.
"Apaan sih Mil?" kata Nadia yang tak mengerti dengan maksud Mila
Nadia memberi isyarat pada Nadia ke arah Dzen.
"Oh iya. Lupa. Maaf." kata Nadia pelas sambil menepuk keningnya.
Mutiara yang awalnya terfokus melihat buku yang dipegangnya, tiba-tiba melihat ke arah Nadia dan Mila bergantian.
"Ada apa?" tanya Mutiara yang juga tidak mengerti.
"Ga papa kok Ra." jawab Mila santai.
"Ehem, Tiara. Ini saya bawakan susu, jus dan air mineral buat kamu, serta bolu untuk cemilan kamu ya, dimakan." kata Dzen sambil menunjuk paper bag dan plastik yang dia taruh di nakas.
"Ya ampun dok, repot repot." kata Mutiara sungkan.
"Santai aja. Oya. Tiara belum makan ya?" tanya Dzen yang melihat makanan dari rumah sakit masih utuh di meja.
"Belum dok. Tadi pas ahli gizinya datang membawakan makan, saya baru bangun tidur, terus saya ke toilet." kata Mutiara.
"Oh, baru aja brati datangnya?" tanya Dzen.
"Iya dok." jawab Mutiara.
"Ya udah, segera dimakan, dan itu obatnya diminum. Jangan banyak pikiran dulu kalau mau segera sembuh. Ga usah banyak melakukan aktivitas dulu, karena badanmu belum pulih betul. Jika sudah benar-benar membaik, besok sudah bisa pulang." kata Dzen panjang lebar dengan tanpa ekspresi.
"Ya dok. Terimakasih banyak." jawab Mutiara yang heran dengan perubahan sikap Dzen yang biasanya ramah, namun berubah dingin.
"Saya tinggal dulu. Silakan dilanjut." kata Dzen sambil memberikan isyarat permisi kepada kedua sahabat Mutiara. Lalu Dzenpun keluar ruangan.
__ADS_1
Mutiara tampak menatap kepergian Dzen dengan penuh tanda tanya.
Apakah Dzen Cemburu? Kita simak di cerita berikutnya ya...😉