Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Ziarah


__ADS_3

"Pa..." panggil bu Mia.


"Shanum belum sembuh total kan?" tanya bu Mia yang tau dengan penyakit yang diderita Shanum.


"Papa tau. Tapi kalau kita mengejarnya, dia akan tambah emosi dan itu dapat membuat sakitnya kambuh ma." kata pak Yuda.


"Sebenarnya dia kenapa sih pa?" tanya bu Mia.


"Papa juga ga tau ma. Sedari dulu, kalau kejiwaannya terganggu, dia selalu menyebut nama laki-laki itu, yang ga jelas siapa dia." kata pak Yuda.


"Kalo kata dokter gimana?" tanya bu Mia.


"Dia mengalami Trauma." kata pak Yuda.


"Iya, mama tau. Tapi trauma atas apa pa?" tanya bu Mia.


"Papa juga ga tau ma. Shanum sangat pandai menyimpan ceritanya." kata pak Yuda.


"Pa, coba kita pastikan, Shanum udah sampe asrama belum?" kata bu Mia yang khawatir dengan keadaan keponakannya.


"Ya ma."


Pak Yuda pun menelpon ke asrama tempat Shanum bekerja, dan betapa terkejutnya mereka, bahwa pihak asrama mengatakan bahwa Shanum belum sampai di asrama. Padahal bila perjalanan normal, harusnya Shanum sudah sampai di asrama. Lalu, pak Yuda meminta pihak asrama memberi kabar, jika Shanum sudah sampai di asrama.


💞💞💞


"Kamu kenapa Num?" tanya Dzen saat mereka sudah duduk sambil menikmati hidangan.


"Gapapa. Aku cuma kangen mamaku aja." kata Shanum.


"Kan kita kirim do'a aja bisa Num. Kalau mau ziarah, bisa besok kan? Di waktu yang ga gelap gelap gini, apalagi kamu cewek, sangat rawan di tempat umum kaya terminal gitu." kata Dzen.


"Hem. Gitu ya?" kata Shanum.


"Terus, ini rencana aku anter kemana dulu nih? Sebelum kamu ke Jakarta." tanya Dzen.


"Aku tetep mau ke Jakarta Dzen." kata Shanum dengan tatapan kosongnya.


"Ehm, okey. Ya udah. Malam ini kita ke Jakarta. Aku anterin kamu ke sana ya. Jangan naik kendaraan umum sendiri." kata Dzen yang membuat Shanum menoleh ke arah pria tampan idaman nya.


"Kamu mau anterin aku?" tanya Shanum tidak percaya.


"Yap." jawab Dzen dengan anggukan.


Shanumpun tersenyum.


"Makasih ya Dzen." kata Shanum sendu.


"Iya. Sama-sama. Udah itu dimakan lagi, mubadzir kalo ga dimakan." kata Dzen, meski dalam benaknya, dia harus berfikir keras untuk bersiap menuju ke Jakarta. Bukan jarak yang dekat untuk pergi dari Semarang menuju ke Jakarta, tetapi, malam-malam begini, justru bagus untuk perjalanan ke luar kota. Karena tidak akan kena macet.


"Kamu, udah minta ijin sama om dan tantemu?" tanya Dzen, yang membuat Shanum kembali teringat oleh kedua orang yang selalu memintanya untuk menikah, namun keduanya sangat menyayangi nya, Shanum merasakan itu.

__ADS_1


Shanum hanya menggeleng.


"Kamu ada masalah sama mereka?" tanya Dzen.


Kembali Shanum menoleh ke wajah tampan itu. Lagi-lagi Dzen bisa menebak apa yang sedang terjadi pada dirinya.


"Engga." jawab Shanum.


"Ya udah, kabari mereka dulu dong. Biar mereka tenang." kata Dzen yang sebenarnya tau, bahwa Shanum sedang ada masalah dengan om dan tantenya.


"Ehm..." Shanum tampak ragu.


"Jadi ke Jakarta ga?" tanya Dzen.


"Iya."


"Ya udah, kabari dulu mereka." kata Dzen.


"Baiklah." kata Shanum.


Lalu Shanum mengirim pesan kepada om nya, bahwa dia akan ke Jakarta untuk ziarah ke makam mamanya bersama sahabatnya. Dan diharapkan om nya tidak perlu cemas.


Tak berapa lama, ponsel Shanum berbunyi, tanda ada panggilan masuk.


📞Om Yuda


'Halo Num, kamu dimana?'


"Aku Lagi makan di rumah makan. Aku gapapa. Ada temenku bawa mobil, dia siap anterin aku ke makam mama."


"Iya."


'Om mau bicara dengan temanmu.'


"Dzen, om ku mau bicara." kata Shanum menyerahkan ponselnya pada Dzen.


"Halo."


'Apa benar, ini teman Shanum?'


"Ya pak. Saya teman SMPnya Shanum pak. Saya Dzen."


'Saya titip Shanum ya mas.'


" Iya. InshaaAllah pak." kata Dzen.


Setelah itu panggilan diakhiri, merekapun melanjutkan makan malam mereka sampai habis, lalu Dzen menuruti kemauan temannya, untuk pergi ke Jakarta.


Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Hingga Tengah malam, Shanum terlelap dalam tidurnya. Dzen terus menyetir menyusuri jalan tol dengan iringan suara murotal di mobilnya.


Hingga tak terasa waktu pagi tiba, Dzen menghentikan mobilnya di rest Area, untuk istirahat dan dia hendak menunaikan ibadah sholat subuh. Saat Dzen melepas sabuk pengaman nya, Shanum terjaga dari tidurnya.

__ADS_1


"Udah sampe?" tanya Shanum sambil mengucek matanya.


"Belum. Kita istirahat dulu. Aku mau sholat subuh dulu." kata Dzen.


"Gue ikut." kata Shanum.


Merekapun keluar dari mobil. Dan berjalan menuju mushola. Setelah sholat subuh berjamaah, Dzen mohon ijin pada Shanum untuk menunggunya sebentar, karena dirinya mau mandi. Sejak dari Solo, Dzen belum mandi, sehingga badannya terasa lengket. Setelah mandi, Shanum diajak Dzen untuk sarapan terlebih dahulu, karena perjalanan mereka masih cukup lama.


"Dzen." panggil Shanum.


"Ya?"


"Makasih banyak ya."


"Santai aja. Kebetulan juga aku lagi longgar." kata Dzen.


"Ehm ya." jawab Shanum.


"Ya, nanti biar aku juga sekalian ziarah juga ke makam mama dan adek. Udah lama juga aku ga ziarah." kata Dzen.


"Iya Dzen."


"Abis Ziarah, rencana mau kemana Num?" tanya Dzen.


"Engga tau. Yang penting ke makam mama dulu." kata Dzen.


"Oh, okey."


Merekapun menghabiskan sarapan mereka, lalu Dzen dan Shanum kembali naik mobil dan melanjutkan perjalanan mereka menuju Jakarta Pusat.


Sesampainya di lokasi yang dituju, Dzen dan Shanum memasuki TPU tempat mama Shanum di kebumikan. Shanum berjalan menuju makam mamanya, diikuti Dzen yang berjalan mengekor.


"Assalamualaikum ma. Ini Shanum ma. Maafin Shanum, udah lama ga ziarah ke makam mama." kata Shanum sambil mengelus bati nisan bertuliskan nama mamanya.


"Ma, Shanum dapet kabar, kalau nama mama tahun ini akan berangkat haji. Shanum yang gantiin ya ma. Mama dulu ga sempat ngasih pesen buat shanum, tapi Shanum akan gantiin nama mama, dan Shanum akan berangkat ke tanah suci, berdo'a di depan ka'bah buat mama. Mama tau ga, Shanum sekarang berhijab ma, sejak lulus kuliah, Shanum memutuskan berhijab, seperti yang mama mau. Shanum sayang sama mam, Shanum kangen sama mama. Shanum kangen ma..." kata Shanum dengan isak tangis nya. Dzen yang duduk di samping Shanum tetap menatap makam itu dengan mendengarkan yang diutarakan Shanum. Dzen merasa, ada banyak beban yang dipikul sahabatnya itu.


Shanum kemudian membaca do'a untuk mamanya. Kemudian meletakkan buket bunga di nisan mamanya.


"Dzen, ayo kita lanjut ke makam mamamu." kata Shanum beranjak pergi.


"Tapi Num, itu makam papamu kan?" tanya Dzen yang menunjuk makam disebelah mama Shanum, yang tertulis nama papa Shanum, setau Dzen.


"Kenapa?" tanya Shanum.


"Ga sekalian?" tanya Dzen.


"Gue cuma beli satu buket. Dah biarin aja." kata Shanum hendak melangkah.


"Bukan masalah buketnya, tetapi do'a anak untuk orang tuanya, itu bagian dari kasih sayang, Num." kata Dzen membuat Shanum kembali berhenti dari langkahnya.


"Ayo kita segera ke makam mamamu. Besok kita sudah mulai beraktivitas." kata Shanum tak menoleh ke belakang.

__ADS_1


Dzenpun menuruti kemauan Shanum dengan meninggalkan banyak pertanyaan terkait papa Shanum.


"Kenapa Shanum tak mau ziarahi makam papanya?" batin Dzen.


__ADS_2