
Tiga hari kemudian, Dzen mengajak Mutiara untuk menjenguk baby nya Shanum dan Zio, dengan Senang hati, Mutiara menerima ajakan itu Merekapun segera melaju ke rumah Zio, mumpung waktu cuti Dzen masih.
"Assalamualaikum." salam Dzen Mutiara bersama sesampai nya di depan rumah bu Suyamti.
"Wa'alaikumsalam." jawab seseorang dari dalam, yang ternyata itu bu Saodah.
"Eh, mbak Tiara, sama mas dokter. Mari, silakan masuk." kata bu Saodah senang.
"Siapa bi?" tanya bu Suyamti yang turun dari tangga.
"Mbak Tiara bu, sama suaminya." jawab bi Saodah.
"Yaa Allah, pengantin baru?" tanya bu Suyamti antusias, dan segera menyalami Mutiara dan memeluknya penuh rasa rindu.
"Iya bu, maaf, siang-siang mengganggu istirahatnya." kata Mutiara santun.
"Kami kemari, mau jenguk adek bayi bu." kata Dzen yang berganti mencium tangan bu Suyamti.
"Oh, ya, silakan. Baby Zi di kamar nya, tadi abis nangis terus." kata bu Suyamti.
"Mari, ikuti ibu." kata bu Suyamti.
Mereka berdua pun mengikuti bu Suyamti menuju kamar Baby, dimana baby nya sedang tidur. Namun, Dzen memilih menunggu di luar dulu. dan mempersilakan Mutiara masuk duluan, karena merasa tidak enak, jika nanti si ibu sedang memberi ASI baby nya.
"Assalamualaikum." salam Mutiara.
"Wa'alaikumsalam." jawab Shanum yang sedang mengganti popok anaknya.
"Eh, yaa Ampun, Tiara? Kamu ke sini sama siapa?" tanya Shanum yang kaget dengan kedatangan Mutiara.
"Sama mas Dzen mbak." jawab Mutiara.
"Lho, mana Dzennya?" tanya Shanum.
"Nak Dzen, silakan masuk." kata bu Suyamti.
"Oh, iya bu." jawab Dzen yang kemudian menyusul Mutiara masuk ke kamar baby.
"Pak Zio ga ada mbak?" tanya Mutiara celingak celinguk.
"Kenapa?" tanya Dzen dengan wajah datar.
"Ra, hati-hati lho, nanyain papanya Zi ada yang siap marah tu." kata Shanum yang melihat wajah Dzen berubah.
"Eh, maaf mas. Bukan maksud Tiara nyariin pak Zio, cuma kan beliau ayahnya." kata Mutiara merasa tak enak hati dengan suaminya.
"Mas Zio lagi ada jadwal ngajar Ra, jadi ga di rumah." jawab Shanum.
"Oh..."
"Ehem, Kamu ke sini mau jenguk baby apa ayahnya baby sih?"tanya Dzen yang mulai cemburu.
"Ya jengukin dedek bayi lah mas, sama jengukin mamanya, udah pulih belum gitu." kata Mutiara.
__ADS_1
"Kenapa tadi nanyain pak Zio?"
"Maaf." jawab Mutiara menunduk.
"Dzen, biasa aja kali. Gitu aja dipermasalahin." komentar Shanum yang tak suka dengan sikap Dzen.
"Lagian mas Zio kan suamiku, ayahnya Zizah." kata Shanum.
"Siapa mbak namanya?" tanya Mutiara mengalihkan pembicaraan.
"Azizah putri Anggoro tante." kata Shanum membahasakan anaknya.
"MaasyaaAllah, cantik sekali." kata Mutiara gemesh.
"Ehm, mbak, boleh gendong?" tanya Mutiara.
"Ga boleh." jawab Zio tiba-tiba yang baru muncul dari pintu.
"Mas? Kamu udah pulang?" tanya Shanum yang langsung mencium tangan suaminya dan mengambil tas kerja suaminya.
"Pak Zio?" kata Mutiara terkejut.
"Assalamualaikum mas bro." sapa Dzen yang langsung menyalami Zio.
"Wa'alaikumsalam bro. Sehat?" tanya Zio.
"Alhamdulillah mas." jawab Dzen.
Mutiara hanya diam, karena merasa bersalah.
"Bukannya pak Zio tadi melarang Tiara menggendong baby Zi?" tanya Mutiara.
"Hahaha, bercanda Tiara." jawab Zio sambil tertawa melihat kepolosan mantan mahasiswinya.
"Ya ampun pak. bercandanya kelewatan. Saya sampe takut, saya kira, baby Zi kaya anaknya Rafi Ahmad yang ga boleh digendong sembarang orang." kata Mutiara dengan tampang polosnya.
"Gendong aja Ra." kata. Shanum sambil mengambil baby Zi dari tempat tidurnya.
"Ini, hati-hati ya." kata Shanum sambil memberikan baby Zi kepada Mutiara, dan dengan hati-hati pula, Mutiara menerima baby itu.
"Wih, ini sih, udah siap pah. Pengantin baru udah gendong baby." kata Zio.
"Oh, iya ya pa. Difoto pa, buat kenang-kenangan." kata Shanum.
Dengan senang hati, Dzen merapatkan tubuhnya kepada Mutiara dan ikut mengelus baby Zi dengan bahagia.
"Ehm, betewe, udah belah duren belum nih? Siap nyusul kita kan?" tanya Zio kepada Dzen dan Mutiara.
"InshaaAllah siap lah mas Bro." jawab Dzen semangat.
"Semoga segera ya, ga lama-lama. Karena kemarin, kita cukup lama menunggu kehadiran malaikat kecil ini hadir di rajin Shanum." kata Zio mengelus pundak istrinya yang sejak tadi dipeluknya dari samping.
"Aamiin." jawab Dzen lagi.
__ADS_1
"Tiara kok diem aja sih?" tanya Shanum.
"Ah, ehm...gapapa kok mbak." kata Mutiara gugup.
"Biasa Num, dia masih malu-malu." kata Dzen.
"Tapi, kalian udah melakukan malam pertama kan? Jangan bilang kalo belum." kata Shanum menunjuk kedua pasutri baru itu.
"Emang, kalo belum kenapa?" tanya Dzen.
"Ya ngapain kalian nikah buru-buru, dengan persiapan cuma sebulan, tapi kalian ga segera berhubungan?" tanya Shanum.
"Tujuan pernikahan itu kan, biar bisa dapet keturunan kan?" tanya Zio.
"Hehe, iya." jawab Dzen.
"Tiara baru ga sholat kok mbak." kata Mutiara.
Seketika semua menatap Mutiara yang masih menggendong baby Zi.
"Astaga Ra... abis ijab qobul malah kamu liburin? Duh, kasian banget aih kamu Dzen." kata Shanum merasa iba.
"Sabar bro. Kalo nanti udah selesai, genjot terus sampe berhasil ada benih di dalem." kata Zio menyemangati.
"Siap mas bro." jawab Dzen sambi tersenyum dan melirik ke arah istrinya yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Ehm, mbak, ini kayaknya dedek mau nen ya?" tanya Mutiara yang melihat gelagat baby Zi mencari ASI.
"Iya Ra." jawab Shanum yang langsung menerima baby Zi dan digendongnya.
"Kita keluar dulu ya." kata Dzen kepada Zio dan Shanum sambil menggandeng tangan Mutiara.
"Oh, iya." jawab Shanum yang mengerti tujuan Dzen.
Sesampainya di ruang tamu, Dzen dan Mutiara disuguhi makanan dan minuman oleh bi Saodah. Bu Suyamti ikut menemani mereka.
"Ibu senang sekali, Tiara akhirnya sudah menikah juga. Rencana akan menetap di mana Tiara?" tanya bu Suyamti.
"InshaaAllah di Solo bu." jawab Mutiara.
"Lho, ga di Semarang aja? Bukannya dokter Dzen dinesnya di Semarang?" tanya bu Suyamti.
"Iya bu, tetapi InshaaAllah bulan depan saya sudah pindah tugas di Solo bu. Sebagai dokter Spesialis." kata Dzen.
"Oh, begitu?"
"Lagipula, bapak sudah semakin renta bu, dirumah tidak ada anak yang bisa menjaganya, sehingga kami memutuskan untuk menemani hari tua bapak." kata Dzen.
"Oh, begitu, iya juga sih, ibu jua meminta Zio untuk tidak pindah rumah, karena ibu tidak mau sendirian ndi rumah ini." kata bu Suyamti.
"Iya bu."
"Semoga, dimudahkan ya segala urusan kalian, niat baik pasti akan dimudahkan oleh Allah. Ujian di tahun pertama kedua itu wajar, dijalani saja, jangan putus asa ya." kata bu Suyamti mendo'akan.
__ADS_1
"Aamiin, terimakasih bu." jawab Dzen dan Mutiara bersama.
Merekapun lanjut bercengkrama hingga sore tiba.