
Pagi itu, seperti biasa Zio melakukan olahraga pagi, dengan lari pagi ke taman dekat komplek. Sekembalinya Zio, dia melihat Nilam ada di ruang makan dengan raut wajah sedih bersama mamanya.
"Pagi." Sapa Zio.
"Nah, itu Udah dateng." kata bu Suyamti.
"Kenapa lo mbak? Ada masalah?" tanya Zio sambil berjalan menuju dispenser untuk mengambil air putih.
"Duduk dulu lah Zi." kata bu Suyamti.
Ziopun duduk, setelah mengambil segelas air putih dari dispenser.
"Kenapa?" tanya Zio duduk di kursi makan sebelah samping kirinya Nilam.
Zio, meski usianya terpaut cukup jauh dari mbaknya, tapi setiap suami Nilam berlayar, Zio menjadi tumpuan mbak nya, jika ada masalah.
"Diego." kata Nilam.
"Kenapa dia?" tanya Zio sambil meneguk air minum dari dalam gelasnya.
"Kabur dari asrama." kata Nilam yang sontak sukses membuat Zio menyemprotkan kembali air minumnya, hingga dia tersedak dan terbatuk-batuk.
"Uhuk, uhuk..."
Seketika bu Suyamti memberikan minum pada Zio untuk mengurangi rasa sakit akibat tersedak.
"Hati-hati dong Zi." kata bu Suyamti mengelus punggung putranya.
"Mbak Nilam serius?" tanya Gusti.
"Serius. Baru aja pihak asrama telpon mba, nanyain Diego ke rumah engga. Karena dari semalem dia ga ada di asrama." jawab Nilam dengan air mata berlinang.
"Hm..." Zio tampak berfikir keras. Namun, baru akan berkata, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Biar Zio yang buka." kata Zio langsung berdiri lalu berjalan menuju pintu utama.
Zio membuka pintu, dan dilihatnya seorang anak laki-laki ABG dengan menggendong ransel dan berjaket tampak berdiri lesu didepan pintu.
"Diego?" gumam Zio.
"Ini kamu Diego kan?" tanya Zio sambil memegang pundak anak itu tak percaya.
Anak itu mengangguk, lalu memeluk Zio dengan eratnya.
Terdengar suara Zio menyebut nama Diego, Bu Suyamti dan Nilam segera menuju pintu utama, tempat Zio membuka pintu.
Berapa terkejutnya Nilam, melihat sosok anak laki-laki yang sangat dia kenal tampak memeluk adiknya dengan wajah sendu.
"Diego?" gumam Nilam yang masih terpaku di dekat kursi.
Pemilik nama mendongakkan kepalanya, dan perlahan melepaskan pelukannya pada om nya, dan beralih menghambur tubuh wanita yang paling disayanginya. Mamanya.
"Mama." panggil Diego sambil memeluk mamanya.
"Sayang. Anak mama." kata Nilam sambil memeluk erat tubuh anaknya dengan pinangan air mata. Kemudian bu Suyamti juga memeluk cucunya dengan penuh cinta dan tak mampu membendung air matanya.
"Maafin Diego mah." kata Diego sambil menangis.
__ADS_1
"Iya sayang Yang penting kamu sudah pulang Nak." kata Nilam.
"Diego sudah makan belum sayang?" tanya bu Suyamti pada cucunya.
"Belum oma."
"Kita makan dulu ya." ajak bu Suyamti pada cucunya.
"Iya oma" jawab Diego lalu Diego langsung berjalan ke arah ruang makan di gandeng omanya.
Sedangkan Zio dan Nilam saling pandang dengan apa yang terjadi pada Diego.
"Ku rasa, dia sedang ada masalah." kata Zio.
"Iya Zi, Diego anaknya konsekuen dengan pilihannya. Tinggal di asrama, ini bukan kehendak mama papa nya. Murni keinginan dia sendiri. Tapi kenapa dia pergi dari asrama tanpa pamit?" gumam Nilam.
"Kita tunggu sampai Diego tenang dulu, baru kita tanyakan mbak." kata Zio.
"Iya Zi." jawab Nilam.
🌾🌾🌾
"Assalamualaikum. Maaf, mengantar makan siangnya mbak." kata petugas dapur rumah sakit.
"Eh, iya bu. Terimakasih." kata Mutiara pada petugas.
"Ya, sama-sama. Selamat menikmati." kata petugas.
"Dokter Dzen?" sapa petugas saat melihat Dzen ada di ruangan itu.
"Ya bu." jawab Dzen ramah.
"Teman bu." jawab Dzen dengan tersenyum.
"Ow. Semoga jadi teman hidup juga dok." kata bu Hayati dengan tersenyum lebar.
"Aamiin." batin Dzen. Tampak raut muka Mutiara kemerahan, dia tampak menunduk saat petugas tadi berkata seperti itu.
"Ya sudah dok, saya permisi. Mari mbak. Semoga lekas sembuh." kata bu Hayati pamit.
"Eh, iya bu." jawab Dzen sambil membungkukkan badannya.
"Ya bu." jawab Mutiara.
Sepeninggal bu Hayati,
"Maaf ya, Ra. Kalau kata-kata bu Hayati kurang berkenan buat kamu. Beliau memang suka bercanda." kata Dzen sungkan.
"Iya dok, gapapa." kata Mutiara.
"Ehm, kamu butuh sesuatu?" tanya Dzen.
"Belum ada Dok." jawab Mutiara.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba pintu kembali diketik seseorang dari luar.
"Assalamualaikum." suara orang dari luar.
__ADS_1
"Sebentar ya, saya buka pintu dulu." kata Dzenm
"Ya dok." jawab Mutiara.
Saat pintu dibuka, tampak sosok seorang laki-laki yang tak asing bagi Mutiara.
"Yaa Allah mbak, kenapa bisa sampe di rawat di sini? Mbak Tiara sakit apa?" tanya Kenzo.
"Cuma kecapekkan aja kok Ken." jawab Mutiara.
"Hem, ya jelas kecapekan, kerja ga kenal waktu, perut diajak puasa muluk, Tidur juga pasti kurang. Jadinya gini kan?" omel Kenzo sambil memberikan buah-buahan di meja.
"Ada titipan nih, dari ibu-ibu yang ada di pasar. Kenzo ga tau, siapa. Katanya namanya bu Kanti." kata Kenzo.
"Oh, ya Ken. Makasih ya." kata Mutiara.
"Hem. Tadinya gimana ceritanya bisa sampe sini mbak? Mana kamar VIP lagi, tadi aku pikir di bangsal biasa." kata Kenzo.
"Tadi Tiara pingsan di depan pasar, kebetulan saya dokter dirumah sakit ini. Jadi saya langsung bawa dia ke sini saja, dan untuk kamarnya juga saya yang urus dan biayanya juga sudah saya urus kok mas." kata Dzen mengambil alih jawaban Mutiara.
"Lho, mas ini bukannya yang waktu itu di..." kata Kenzo terputus sambil mengingat-ingat.
"Di toko buku." jawab Mutiara.
"Oh, ya ya. Jadi mas nya ini dokter?" tanya Kenzo.
"Ya." jawab Dzen.
"Wah, terimakasih banyak mas sudah menolong mbak saya. Ya gini mas, mbak Tiara ni orangnya keras kepala, dibilangin jangan capek-capek masih aja mkasain diri. Pagi udah kerja di pasar, lanjut kuliah eh, masih ambil sambilan jadi asisten dosen." kata Kenzo.
"Asisten dosen?" tanya Dzen.
"Ehm, iya dok." jawab Mutiara.
"Kamu jadi asisten dosen?" tanya Dzen lagi.
"Iya dokm Kebetulan dosen saya juga menjadi CEO di perusahaan papanya, jadi di kampus beliau rada keteter, jadi saya diminta jadi asistennya." kaya Mutiara.
"Owh, gitu?" jawab Dzen.
"Ya, lain waktu, bisa lebih di kurangi lagi urusannya ya. Kasian tubuhnya, dia punya hak istirahat juga." kata Dzen lagi.
"Ya dok."
"Karena kamu terserang typhus, kamu baiknya jangan puasa dulu ya. Biar lambungnya sembuh dulu." kata Dzen memberi saran.
"Baik dok, terimakasih masukannya." jawab Mutiara.
"Nah, gitu dong." kata Kenzo.
"Ya Ken, nanti malam, bisa temenin mbak disini ga?" tanya Mutiara.
"Bisa mbak. Tenang aja." jawab Kenzo.
"Tapi hari ini, aku ada acara ngerjain tugas kelompok mbak. Dikumpulin besok." kata Kenzo.
"Gapapa. Yang penting nanti malam. Karena kasian dokter Dzen kalo nanti malem yang jaga." kata Mutiara.
__ADS_1
"Okey, siap." kata Kenzo.
Merekapun mengobrol, lalu Dzen pun bertugas ke ruang IGD, dan Kenzo pergi belajar kelompok.