
Di kawasan perumahan elite, Zio sampai di rumahnya,
"Zi, kamu dari mana?" tanya bu Suyamti yang sejak tadi duduk diruang keluarga.
"Tadi mama mau ajak kamu sarapan, tapi kata bi Saodah kamu udah pergi duluan, ga dengan pakaian olahraga, tapi kamu naik mobil. Kenapa pagi-pagi sekali di hari minggu kamu buru-buru pergi." kaya bu Suyamti.
"Zio, dari rumah sakit ma." jawab Zio.
"Dari rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya bu Suyamti.
"Ehm, keponakannya pak Yuda mah." jawab Zio.
"Sakit apa dia?" tanya bu Suyamti.
"Keracunan." jawab Zio.
"Keracunan apa minum racun?" tanya bu Suyamti dengan sengit.
"Apa maksud mama?" tanya Zio.
"Gimana keadaannya?" tanya Bu Suyamti tanpa menjawab pertanyaan Zio.
"Tadi sempet koma ma, kritis. Tapi, ini tadi sudah melewati masa kritisnya." jawab Zio.
"Syukurlah." kata bu Suyamti.
"Ma, apa maksud mama tadi?" tanya Zio
"Kamu suka sama dia?" tanya bu Suyamti.
"Ehm..."
"Kita bicara di taman ya. Mama mau bicara." ajak bu Suyamti.
"Ya ma." jawab Zio mengikuti langkah mamanya menuju taman belakang rumahnya.
Sesampainya di taman, bu Suyamti dan Zio duduk di kursi taman saling berhadapan.
"Kamu menyukai gadis itu Zi?" tanya bu Suyamti.
Zio mengangguk.
"Kalau Tiara?" tanya bu Suyamti.
"Maksud mama?" tanya Zio tak mengerti.
"Zio, mama memang menginginkan mu segera menikah, tetapi bukan berarti dengan orang sembarang orang. Mama mau kamu menikah dengan orang yang berbobot." kaga bu Suyamti.
__ADS_1
"Mutiara Hati gadis yang baik, dia Sholihah, ramah, suka menolong, rajin dan pekerja keras." kata bu Suyamti, sedangkan Zio hanya diam mendengarkan.
"Mama sedari awal ketemu dia, sudah suka dengan gadis itu Zi. Mama harap kamu bisa memilihnya menjadi istrimu." kata bu Suyamti.
"Engga ma." jawab Zio cepat.
"Kenapa?" tanya bu Suyamti.
"Tiara itu masih kuliah ma, dia mahasiswa ku. Dia mahasiswa bidikmisi, ada aturannya, dia ga boleh menikah sebelum lulus." kata Zio menjelaskan.
"Kamu kan dosen, kamu harusnya bisa melakukan sesuatu." kata bu Suyamti.
"Kalau dengan Tiara, mama ga akan memintamu segera, menanti diapun tidak apa-apa. Asalkan kamu bersamanya." kata Bu Suyamti.
"Apa itu alasan mama mengundangnya untuk mengajari mengaji? Apa itu alasan mama mengundangnya datang ke acara pengajian di rumah? Apa itu juga alasan mama memintaku menjemput Tiara dikala mama sakit?" tanya Zio beruntun.
"Iya. Semua itu benar." jawab bu Suyamti.
"Tapi sayangnya, Zio ga bisa mah." jawab Zio.
"Kenapa?"
"Pokoknya Ga bisa ma. Lagian Zio ga ada rasa apapun sama Tiara." kata Zio.
"Dia itu gadis baik Zi, mama rasa ga ada salahnya kamu mencoba belajar untuk mencintainya." kata bu Suyamti.
"Tetap ga bisa ma. Cinta ga bisa dipaksa, sulit bagi Zio mencintai wanita ma, dan hanya Shanum yang bisa menembus hatiku ma." kata Zio dengan penuh keyakinan.
"Justru itu, justru dia sempurna, baik agamanya, baik tutur katanya, baik perilakunya, bagus semangatnya, nilai-nilai akademik dan prestasinya pun juga baik, bahkan sempurna... tapi justru itu yang membuatku tak tertarik kadang ma. Umurnya jauh dibawahku, dia terlalu baik bahkan terlalu sempurna untuk Zio ma. Jadi Zio ga bisa nerima dia di hati Zio ma." kata Zio panjang lebar memberi alasan penolakannya terhadap Mutiara Hati.
"Ehm... tapi kenapa harus Shanum yang kamu pilih?" tanya bu Suyamti.
"Karna, hatiku yang memilihnya ma." kata Zio.
"Apa ga bisa dengan wanita lain saja? Jangan sama gadis itu." tanya bu Suyamti.
"Memang Kenapa ma?" tanya Zio.
"Dia itu gadis gila Zi." kata bu Suyamti.
"Tapi itu dulu ma." kata Zio.
"Sekarang pun sama. Dia pasti bukan keracunan, tapi dia pasti minum racun." kata bu Suyamti, membuat Zio tertegun.
"Dari mana mama mengerti?" batin Zio.
"Dia keponakan pak Yuda, sudah lama dia tinggal bersama pak Yuda, karena dia mengalami depresi semenjak mamanya meninggal. Dia masih harus selalu kontrol pada dokter Dion, dokter spesialis kejiwaan. Selain itu, Dia sama sekali ga mau berhubungan dengan laki-laki, mama rasa, dia punya kelainan." kata bu Suyamti.
__ADS_1
"Ga mungkin ma." jawab Zio.
"Ga mungkin gimana? Jelas jelas sampai umur dia hampir kepala tiga, dia belum juga mau menikah." kata bu Suyamti.
"Tetapi belum tentu dia ga normal ma." tolak Zio.
"Zi, pokoknya mama ga mau kamu sama dia." kata bu Suyamti.
"Ga bisa ma. Zio mencintainya. Zio sudah janji padanya, kalau Zio akan menikah dengan Shanum." kata Zio.
"Apa?" bu Suyamti terkejut.
"Maaf ma."
"Zio, ga seharusnya kamu mengatakan itu pada perempuan itu. Mama sudah memilihkan jodoh terbaik untukmu. kenapa kamu justru memilih orang lain yang justru memiliki masa lalu yang kurang baik ?" tanya bu Suyamti.
"Maaf ma. Zio hanya cinta sama Shanum" kata Zio.
"Tapi Zi..."
"Atau Zio ga akan nikah selamanya." kata Zio sambil melangkah pergi.
"Zio, Zi." panggil bu Suyamti.
"Kamu akan menyesal Zi, jika kamu tetap menikahi Shanum." kata bu Suyamti.
"Ga ma, Zio justru akan menyesal jika melepaskannya. Shanum gadis baik ma, dia hanya korban." kata Zio.
"Tapi dia..."
"Zio tau masa lalu nya, Zio tau masalah masa lalunya, termasuk dia menjadi korban kejahatan papanya, yang membuatnya takut menjalin hubungan serius dengan laki-laki lain, termasuk laki-laki yang jatuh cinta padanya, dan itu pula yang membuat dia derpesi hingga kini. Zio sudah pikirkan semua ini matang-matang, Zio akan tetap menikahi Shanum, meskipun mama ga ngijinin kami." kata Zio melanjutkan langkahnya.
Bu Suyamti merenung sendiri di taman. Putranya itu memang tak pernah sejalan dan se pemikiran dengan dirinya sejak dulu Tetapi, Zio adalah anak yang begitu menyayangi nya.
"Kenapa Zio? Kenapa dia begitu memilih gadis itu daripada pilihanku, Mutiara. Apa yang harus ku lakukan? Di satu sisi, aku ingin Zio segera menikah, namun disisi lain, aku tak mau keponakan pak Yuda itu menjadi istri Zio. Dia itu Gila." batin bu Suyamti.
Zio yang sudah masuk kamarnya, segera mandi dan berbenah diri. Rencananya hari ini dia akan kembali menjenguk Shanum lagi di rumah sakit.
"Maafkan Zio mah...Maaf." gumam Zio sesampainya di dalam kamarnya.
💞💞💞
Sedangkan di kosan, Mutiara hati segera membereskan barang-barangnya. Dia teringat dengan kejadian singkat selama perjalanannya dari kota Solo ke Semarang.
"Kenapa mas Dzen memilihku? Kenapa mas mas Dzen mencintaiku?" batin Mutiara.
"Kenapa bapak memilih mas Dzen untuk jagain aku. Rasanya aku...terlalu beruntung mendapatkannya." gumam Mutiara.
__ADS_1
"Mas Dzen..." gumam Mutiara sambil memainkan pulpennya.
"Astaghfirullah. Tiara, stop kamu mikirin hal yang ga penting. Kamu masih harus kuliah, ga boleh mikirin cowok dulu. sebelum nanti kamu lulus. Inget itu!" kata Mutiara mengingatkan hatinya yang sedang gundah gulana. Mutiara pun menyibukkan diri dengan membuka leptopnya, dia membuka-buka file organisasi yang dia ikuti, untuk dia cek adakah yang harus dia selesaikan. Lalu membuka ponselnya, mengecek adakah sesuatu hak yang penting. Lalu Mutiara kembali berkutat dengan leptopnya dengan menyalakan Wifi dari ponselnya untuk membaca-baca artikel.