Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Dijaga Calon Istri


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, Setelah sholat subuh, Kenzo membantu Dzen bersih-bersih badannya, dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, Kenzo pamit untuk pulang ke kosan dulu, karena jam delapan dia ada jam kuliah.


"Mas, Tiara belum memberi kabar keluarga mas Dzen di Makassar lho. Tadi malem mau ngabarin, ga punya nomernya. Terus, pas perawat ngasih ponsel dan dompetnya mas, ternyata ponsel mas mati." kata Mutiara.


"Oh, ya. Boleh pinjam ponselmu? Biar mas hubungi sendiri." kata Dzen.


"Boleh mas, silakan." kata Mutiara sambil memberikan ponselnya pada Dzen.


"Di sandi ga nih?" tanya Dzen.


"Engga mas."


"Okey. Ada pulsanya ga?" tanya Dzen.


"Ada mas." jawab Mutiara.


"Eh, tapi telpon WA aja lah." kata Dzen lalu membuka aplikasi WA, lalu memasukkan nomer papanya yang memang dia sudah hafal. Lalu Dzen menelpon papanya.


📞Papa


'Halo, Maaf dengan siapa ini.' tanya seseorang sari sebrang.


"Assalamualaikum pa, ini Dzen." kata Dzen.


'Eh, Wa'alaikumsalam. Oh, ya Dzen. Ada apa? Apa kamu baik baik saja?' tanya pak Panca.


"Ehm, Itulah. Dzen mau kasih kabar papa, tapi cuma kasih kabar aja pa." kata Dzen.


'Kabar apa Dzen?'


"Begini pa, ini, Dzen semalem abis nganterin papa sekeluarga dari bandara, Dzen kecelakaan pa." kata Dzen.


'Apa? Kecelakaan? Terus kamu gimana? Ini kamu dimana?' tanya pak Panca panik.


"Pa, papa tenang dulu. Dzen cuma ngasih kabar aja kok. Papa ga usah khawatir, Dzen baik-baik aja. Dzen semalem kecelakaan tunggal, dan ini juga cuma sakit di tangan aja. Ini Dzen juga udha ada yang jagain di rumah sakit, ada Tiara kok pa." kata Dzen berusaha menenangkan.


'Papa mau video Call.' kata pak Panca.


"Okey." jawab Dzen.


Kemudian panggilan berubah menjadi video call.


🎥Papa


'Dzen.'


"Ya pa." jawab Dzen tersenyum tenang, dengan ponsel dipegangi Mutiara.


'Itu kening kamu juga diperban. Katanya cuma tangan.' protes Pak Panca.


"Iya, ini cuma luka ringan aja kok pa."


'Tiara mana?'


"Ini. Ra, sini." panggil Dzen.


Mutiarapun mendekat dan menampakkan dirinya di layar ponsel, sehingga jarak antara Mutiara dan Dzen cukup dekat.


"Assalamualaikum om. Tiara disini om." kata Mutiara sambil tersenyum.


'Wa'alaikumsalam. Baguslah. Itu, Dzen beneran yang sakit cuma tangan sama kening? Kata dokter Gimana Tiara?' tanya pak Panca masih tak percaya.

__ADS_1


"Iya om. Semalem dokter bilang, kening mas Dzen luka cukup dalam, sehingga tadi malam di jahit, lalu kata dokter pergelangan tangannya patah, sehingga pagi ini nanti akan di pasang pen, menunggu persetujuan pihak keluarga dulu om." kata Mutiara.


'Okey, ini om kebetulan lagi banyak kerjaan Tiara, om titip Dzen dulu ya. Untuk masalah pasang pen, tolong kamu urus dulu saja, masalah biaya, nanti om transfer.' kata pak Panca.


"Baik om. InshaaAllah." jawab Mutiara.


"Papa tenang aja, Dzen gapapa kok pa." kata Dzen meyakinkan.


'Itu ceritanya gimana? kamu kok bisa kecelakaan ha?' tanya pak Panca.


"Yang jelas kecapekan pa, abis main terus sama Laila dan Destia, ngantuk ga segera istirahat, ya udah, nabrak Marka jalan deh, di jalan tol." jelas Dzen.


'Astaga Dzen, makannya, lain waktu lebih hati-hati lagi. Kalau capek, ngantuk, istirahat dulu.' nasehat pak Panca.


"Siap pa."


'Ya sudah, pakai istirahat dulu, sebentar lagi pasang pen kan?'


"Iya pa."


'Tiara, tolong semua urusan rumah sakit, kamu urus ya. Pokoknya om minta tolong, maaf merepotkan mu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan telpon om.'


"Baik Om, InshaaAllah."


'Ya sudah. Sudah dulu ya.'


"Ya pa. Assalamualaikum."


'Oiya, wa'alaikumsalam.'


Panggilan video pun terputus. Mutiara kembali menjaga jarak dari Dzen.


"Mas Dzen perlu ijin ke rumah sakit lagi ga?"


"Ya mas."


Dzenpun menelpon bagian kantor, dan menghubungi Sahabatnya Andi, bahwa dia sakit. Tak lama kemudian, datang seorang perawat yang menginformasikan bahwa sebentar lagi Dzen harus dipindah ke ruang bedah, untuk dipasangi pen.


Dzenpun menjalani proses pemasangan pen pada pergelangan tangannya. Tentunya didampingi Mutiara di luar ruangan. Setelah selesai, Dzen kembali ke ruangannya, lalu siangnya, dokter yang semalam menanganinya kembali ke ruangannya untuk mengecek keadaan Dzen.


"Hai bro." sapa dokter Bayu.


"Eh, bro? Elo?" tanya Dzen terkejut.


"Santai aja. Semalem gue yang nanganin elo." kata dokter Bayu.


"Wah, thank's bro." jawab Dzen.


Sedangkan Mutiara tetap berdiri di samping tempat tidur Dzen dengan wajah terkejutnya, karena ternyata dokter yang semalam menangani Dzen sudah mengenal Dzen, dan ternyata teman seprofesi.


"Itu, calon bini lo?" tanya dokter Bayu.


"Hehe, iya." jawab Dzen.


"Cantik juga. Pinter juga lo milih calon istri. Gue ga nyangka, pertemuan ga sengaja elo waktu itu, justru malah mengantar elo pada jodoh lo ya." kata Dokter Bayu.


"Maksud lo?" Dzen sepertinya lupa dengan kejadian saat pertama kali bertemu dengan Mutiara.


"Waktu di Kafe Mentari." kata Dokter Bayu.


"Oh,iya. Yang pas elo bilang, jodoh salah sambung itu ya?" tanya Dzen memastikan.

__ADS_1


"Yup, gue kira elo lupa." kata Bayu.


"Hahaha, ya emang lupa." jawab Dzen.


"Oya, gimana keadaan gue? Gue rasa, gue udah boleh pulang nih." kata Dzen.


"Gile aje lo, mentang-mentang dokter, elo seenaknya aja ngira-ngira. Pulang lo masih besok. Hari ini elo fokus dulu aja sama tangan lo, kalo ga ada masalah, besok lo pulang, tapi kalo ada keluhan, ya maaf, elo kudu berlama lama di sini." kata Dokter Bayu menjelaskan.


"Hahaha, okey deh, siap." kata Dzen.


"Semangat bener lo, mentang-mentang dijagain calon istri." kata Dokter Bayu.


"Bawel lo."


"Kapan kalian tunangan? Kok gue ga tau kabarnya?" tanya Dokter Bayu.


"Kemarin lusa."


"Baru aja?"


"Iya."


"Terus, kapan hari H nya?"


"Bulan depan, tanggal 25n Dateng ya." kata Dzen.


"What? Sebulan doang persiapan nya?"


"Iya. Biasa aja kali."


"Wah, bener-bener ni orang. Keburu ga sabar ya lo, waktu cuma sebulan, singkat banget lho bro."


"Hahaha, ortu yang ga sabar. kita mah cuma ngikut."


"Ortu apa ortu?"


"Ortu. Soalnya bulan depan gue wisuda pendidikan dokter spesialis, bokap gue mau, wisuda nanti gue udah punya istri."


"Oh, gitu? Lha mbaknya? Udah lulus kuliah juga?" tanya dokter Bayu menoleh ke arah Mutiara.


"Baru aja lulus dok, sekitar satu setengah bulan lagi, wisuda." kata Mutiara.


"Widib, berarti emang sengaja ngepasin momen ya." tanya dokter Bayu.


"Ya begitulah."


"Oya, bini lo udah hamil belum?" tanya Dzen yang memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Bayu, semenjak Bayu menikah dan pindah dari apartemennya.


"Udah umur setengah tahun bro, cowok." jawab Dokter Bayu.


"Widih, manteb." jawab Dzen.


"Gue periksa dulu ya bro, ini mau lanjut meriksa pasien yang lain juga." kata dokter Bayu.


"Okey."


"Wah, jantung lo detakannya kenceng bro, kayaknya lo punya penyakit jantung juga ya?" goda Dokter Bayu.


"Masa'?" tanya Dzen tak percaya.


"Hahaha, serius. Ini karena elo didampingi bidadari cantik sih." kata Dokter Bayu menggoda.

__ADS_1


"Sialan lo!" umpat Dzen.


Kemudian Dokter Bayu pun pamit, melanjutkan tugasnya. Sedangkan Dzen kembali bersama Mutiara, setelah diperiksa, Mutiara menyuapi Dzen karen sudah waktunya makan siang.


__ADS_2