
"Okey, Sampai disini materi kita, mohon maaf, saya tidak membuka sesi tanya jawab, karena waktu sudah sore. Untuk yang kurang jelas, mau bertanya bisa chat pribadi saya ya." kata pak Andi, dosen muda yang ramah.
"Ya pak." jawab para mahasiswa.
"Selamat menempuh ujian semester, semoga dilancarkan, dan kalian mampu melalui dengan baik, dan hasil yang baik. Jaga kesehatan kalian ya. Saya mohon maaf jika selama satu semester ini saya banyak salah, dan Sukses selalu untuk kalian semua. Sekian. Selamat sore." kata pak Andi sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan.
"Sore pak!" jawab semua mahasiswa. Kemudian para mahasiswa di kelas itu, satu persatu keluar meninggalkan ruangan.
"Wah, bakal kangen nih aku sama pak dosen ganteng satu ini. Udah ganteng, ramah, baik lagi." kata Mila sambil membereskan buku-bukunya.
"Iya ya, sayangnya udah beranak istri." sambung Nadia.
"Ya, kita berdoa'a aja, semoga semester depan, kita masih diajar sama beliau." kata Mutiara.
"Emang bisa, Ra?" tanya Mila dan Nadia bersama.
"Ga tau juga, kan kita belum tau KRSan kita semester depan." kata Mutiara.
"Iya juga sih." jawab kedua sahabatnya.
"Beda banget sama pak Zio." kata Mila.
"Ish, kenapa disamakan? Jelas-jelas mereka beda." kata Nadia.
"Ya kan mereka sama-sama ganteng, dan muda. Bedanya pak Zio masih single, pak Andi udah berkeluarga." kata Mila.
Mutiara hanya tersenyum simpul mendengarkan celoteh dua kawannya. Dalam hati Mutiara, kembali terbayang akan sisi lain dari seorang pak Zio, dosen bermata Elang yang terkenal dingin, dan tegas.
"Ah, malah ghibah, udah yuk, kita pulang." kata Mutiara sambil berdiri dan akan melangkah dari kursinya, namun tiba-tiba, pandangannya gelap.
"Astaghfirullah." spontan Mutiara memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Tiara!" Mila dan Nadia sama-sama kaget dan memegang tubuh Mutiara.
"Are you ok?" tanya Mila khawatir.
"Iya, aku gapapa. Biasa, kadang pandangan gelap, kepala pusing kalo duduk terlalu lama." kata Mutiara.
"Oh, apa kita anter aja Ra?" tawar Nadia.
"Ga usah Nad, aku gapapa kok." kata Mutiara.
Merekapun menuju parkiran untuk mengambil motor mereka masing-masing, lalu pulang.
__ADS_1
💞💞💞
Jam dua dini hari, Mutiara terbangun dari tidurnya, ternyata Mutiara semalem ketiduran dengan memegang buku, karena Mutiara harus mempelajari beberapa materi kuliah untuk Ujian semester yang tinggal menghitung hari.
"Astaghfirullah." kata Mutiara spontan memegang kepalanya yang terasa berat. Namun kemudian Mutiara berusaha menguasai dirinya, lalu mendirikan sholat. Jam setengah tiga dini hari, setelah sholat malam, Mutiara bersiap berangkat ke warung.
Mutiarapun melayani pembeli dengan baik seperti biasanya, meski dia menahan tubuhnya yang semakin melemah dan wajah yang pucat.
"Nduk, Ra. Kamu sakit?" tanya bude Kanti, pemilik ruko.
"Ehm. ya kurang enak badan bude." kata Mutiara jujur.
"Yowis, kamu pulang dulu aja nduk, kerjaan bisa diatur nanti sama ibu." kata bu Kanti.
"Ya bu." jawab Mutiara dengan wajah pucat sambil mencium punggung tangan bu Kanti untuk pamitan pulang.
"Badan kamu panas nduk, pucet banget. Biar dianter Rendi ya." kata bu Kanti sambil memegang kening Mutiara.
"Ga usah bu. Tiara masih bisa sendiri. Tiara masih kuat kok bu. Lagipula mas Rendi kan masih harus bantu angkat-angkat barang bu." kata Mutiara menolak tawaran bu Kanti.
"Gapapa nduk, kamu pucet banget, nanti kalo kamu pingsan, gimana?" kata bu Kanti khawatir.
"InshaaAllah tidak bu." kata Mutiara meyakinkan.
"Tiara pamit ya bu. Assalamualaikum." kata Mutiara.
"Ra, kalo ada apa-apa, hubungi mas ya." kata Rendi, keponakan bu Kanti yang bekerja sebagai tukang panggul di sana.
"Ya mas."
Mutiarapun berjalan menuju parkiran, hendak mengambil motornya. Saat baru keluar dari pasar, tiba-tiba keringat dingin keluar banyak, pandangannya semakin kabur, dan akhirnya diapun hampir ambruk, namun ada orang yang berhasil menangkapnya, sebelum tubuh itu tergeletak ke tanah.
"Tiara!" panggil seseorang sambil memegang tubuh Mutiara yang panas.
💞💞💞
Pov. Dzen
Pagi itu hari minggu, Dzen yang tadinya mau bersiap olahraga setelah menjalankan sholat subuh dan mengaji, mendengar ponselnya berdering. Saat diangkat, ada panggilan dari pasien nya, yang mengabarkan kalau kakeknya jatuh pingsan, dan dokter Dzen diminta datang ke rumahnya.
"Terimakasih banyak ya mas dokter, maaf merepotkan pagi-pagi, dna hari minggu pula " kata seorang anak laki-laki bernama Bima yang menelponnya tadi.
"Gapapa mas, santai aja. Kakek ini kan pasien saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk segera bertindak, jika terjadi apa-apa dengan kakek." kata Dzen sambil membereskan alat-alatnya.
__ADS_1
"Maaf mas, kami baru ada uang segini untuk perawatan kakek." kata Bima sambil menyerahkan beberapa uang receh kepada Dzen.
"Bima, ga usah. Ini uangnya disimpen aja buat beli makan ya." kata Dzen menolak uang itu.
"Tapi mas."
"Udah, saya bilang ga usah, ya ga usah." kata Dzen lagi.
"Sekali lagi, terimakasih ya mas." kata Bima.
"Iya, sama-sama. Jangan lupa, nanti kalau kakek sudah bangun, makanan ini disuapin kakek, lalu obatnya dikasihkan ya." kata Dzen sambil memberikan dua bungkus nasi beserta lauknya dan obat untuk kakeknya Bima.
"Ya mas. Sekali lagi, terimakasih banyak ya mas." kata Bima.
"Ya sudah, saya pamit dulu ya." kata Dzen.
"Kalau ada apa-apa sama kakek lagi, jangan sungkan hubungi saya." lanjut Dzen.
"Ya mas."
Dzenpun keluar dari sebuah kontrakan kecil yang berada di kompleks pasar, namun, saat dia berjalan akan menuju mobilnya, Dzen melihat orang yang dikenalnya baru keluar dari pasar.
"Tiara?" gumam Dzen.
"Tapi kok dia kaya megangin kepala? Apa dia sakit? Coba aku dekati dia." lanjut Dzen.
Saat hampir dekat dengan Mutiara, tiba-tiba Mutiara berhenti melangkah, lalu badannya mulai ambruk.
"Tiara!" panggil Dzen yang langsung menangkap tubuh Mutiara yang hampir jatuh ke lantai.
Dzenpun segera membopong tubuh Mutiara yang lemah, dan dibawanya ke mobilnya untuk dibawa ke IGD.
"Mas, mas kenal sama mbak ini?" tanya seorang bapak-bapak tukang panggul.
"Dia teman saya." kata Dzen.
"Lho, mbak Tiara kan? yang kerja di warungnya bu Kanti?" tanya seorang tukang parkir yang sudah hafal dengan Mutiara.
"Iya mas. Mas kenal?" tanya Dzen.
"Kenal mas, dia biasa nitipin motornya ke saya." kata Dul, langganan parkirnya Mutiara.
"Oh. Ya mas. Titip motornya Tiara dulu ya, ini Tiara saya bawa dulu ke IGD, saya dokter yang bertugas di RSUD." kata Dzen.
__ADS_1
"Ya mas. Nanti saya sampaikan ke bu Kanti, bos nya mbak Tiara." kata Dul.
Dzen pun pamit membawa Mutiara ke RSUD segera.