
Saat Mutiara menegakkan tubuhnya, setelah melantunkan beberapa do'a dan dzikir serta bersholawat, dia baru sadar bahwa dosennya sudah berada disampingnya.
"Eh, pak Zio." kata Mutiara sambil mengusap matanya yang tadi sempat basah oleh air mata.
"Saya permisi pak." kata Mutiara sambil berbalik, berniat meninggalkan ruangan dingin itu.
"Tunggu." dehem Zio sambil tangan kanannya menahan lengan Mutiara yang akan pergi, dengan wajah yang masih menatap wajah mamanya.
"Ehm, maaf pak." kata Mutiara sambil melepaskan tangan Zio dari lengannya.
"Eh, ehm, sorry." kata Zio gugup lalu tangannya beralih mengusap tengkuknya.
"Tetaplah disini." kata Zio dingin.
"Tapi pak..." kata Mutiara tetapi terputus.
"Maksimal yang boleh menunggu pasien itu dua orang, jadi kamu tetap disini. Jangan pergi." kata Zio yang mengerti maksud Mutiara.
"Ehm, baik pak." jawab Mutiara.
"Terimakasih sudah jagain mama. Do'ain mama." kata Zio.
"Ehm, ya pak." jawab Mutiara sungkan.
Ziopun mendekatkan wajahnya pada wajah mamanya.
"Ma, ini Zio ma. Zio udah bawa Tiara ke sini. Mama pingin ketemu Tiara kan? Mama bilang, mama kangen Tiara kan? Ini Tiara udah di sini ma. Tadi dia nemenin mama." kata Zio lembut, di sebelah kiri bu Suyamti.
Mutiara yang melihat sikap dosennya terhadap Mamanya, membuat Mutiara semakin salut dengan sosok dingin pria bermata elang itu.
"Dibalik sikap dinginmu, ada sikapmu yang menghangatkan juga pak Zio." batin Mutiara.
"Ibu,,,bu Suyamti, ini Tiara. Tiara datang buat ibu. Ibu bangun ya." kata Mutiara yang juga mendekatkan wajahnya ke telinga bu Suyamti sebelah kanan.
Mutiara menoleh ke arah Zio, begitupun Zio juga menoleh ke arah Mutiara, sehingga tatapan mereka bertemu, seketika keduanya mendunduk menatap wajah pucat bu Suyamti.
"Ibu, Tiara tau ibu orang baik, ibu adalah mama yang hebat, mama yang kuat. Ibu masih sangat di butuhkan oleh pak Zio dan mbak Nilam. Ibu bangun ya." kata Mutiara lagi dengan isakan kecilnya.
__ADS_1
"Ibu, kemarin ibu pernah bilang, kalau tidak diundur, tahun ini jadwal ibu berangkat haji kan? Ayo bu, bangun, biar ibu bisa berangkat Haji, ibu bisa bersujud di tanah suci, berdo'a dan mengadukan semuanya pada sang maha suci. Ibu do'akan bapak, dan anak anak ibu, agar Allah senantiasa memberkahi setiap langkah ibu sekeluarga. Ibu do'akan agar bapak di sana, diringankan siksanya, dan diampuni setiap dosanya. Ibu do'akan jodoh yang terbaik untuk pak Zio, dan ibu do'akan keluarga mbak Nilam menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah." kata Mutiara.
"Mama udah mau berangkat haji? Kapan? Kenapa mama ga pernah cerita?" batin Zio dengan terheran-heran.
"Ibu, wujudkan impian ibu ya, ibu sudah lama menunggu, dan ini sudah tiba waktunya kan bu? Ibu harus kuat, ibu semangat. Meski bapak sudah tiada, ibu harus tetap semangat memenuhi panggilan Allah. Pak Zio siap kok bu untuk dampingi ibu pergi haji." kata Mutiara sambil menoleh ke arah Zio. Seketika itu juga, Zio tampak terkejut, dan menuntut pernyataan dari Mutiara atas kealncangannya.
"Gila ni cewek, ngomong sembarangan sama orang koma, gue kan belum kasih persetujuan bisa dampingin mama apa engga. Kenapa dia malah nunjuk gue langsung?" batin Zio memberontak tidak terima.
"Pak Zio akan menemani perjalanan ibu ke tanah suci, mendampingi ibu kemanapun ibu mau beribadah. Nanti di sana, ibu bisa mendapat saudara banyak, teman banyak dan tentunya ilmu dan pengalaman yang banyak pula." kata Mutiara lagi.
"Ibu juga pernah bilang kan, kalau ibu masih mau lihat pak Zio menikah dulu. Kita do'akan ya bu, semoga pak Zio segera menemukan tambatan hatinya, yang baik dan Sholihah seperti yang ibu mau." lanjut Mutiara. Zio seketika menoleh lagi ke arah hadis yang berbicara itu, namun Mutiara tak bergeming.
"Ni cewek kalo ngomong seenaknya aja ya. Heran gue." kata Zio.
"Bu Suyamti bangun ya, ibu wujudkan impian impian ibu itu. Alfatihah." Mutiarapun mendo'akan bu Suyamti dengan mengirim Alfatihah, dan do'a mohon kesembuhan untuk bu Suyamti.
Dan benar saja, tak lama kemudian, jari tangan bu Suyamti bergerak.
"Mama, ma. Ini Zio ma. Mama udah sadar?" Zio sangat bahagia melihat jari tangan mamanya yang bergerak, itu berarti mamanya memang sudah sadar. Sedangkan Mutiara tanpa di komando segera menelpon dokter jaga yang bertugas di ruang itu dengan microfon yang disediakan di ruangan itu untuk panggilan darurat.
"Dokter, pasien atas nama ibu Suyamti sudah sadar." kata Mutiara.
📞Mbak Nilam
Halo mbak Nilam, mama udah sadar mbak.
'Kamu serius Zi?' tanya Nilam diseberang.
"Serius mbak. Baru aja, ini lagi ditangani dokter."
'Okey. Tiara masih di sana kan?' tanya Nilam.
"Masih."
'Mbak ke sana nya besok aja ya Zi.'
"Okey."
__ADS_1
Panggilan terputus.
"Kamu tu ya, kalo mau ngomong, tanya tanya dulu dong." omel Zio tiba-tiba.
"Maksud pak Zio?" tanya Mutiara.
"Kamu tadi ngapain harus bilang, kalau saya bakal dampingin mama berhaji? Emang saya mau?" tanya Zio sambil duduk di kursi sebelahnya Mutiara.
"Lhoh? Pak Zio tidak mau menemani berhaji?" tanya Mutiara heran.
"Ga gitu, maksud saya, kamu itu bilang saya dulu dong, saya mau engga. Kamu ga tau, saya tu sibuk, makannya saya minta kamu bantu saya, karena saya sangat sibuk." kata Zio berusaha merapat ucapannya.
"Banyak anak muda yang menginginkan bisa berangkay haji diusia muda pak. Ini pak Zio sangat beruntung, karena pak Zio ada kesempatan berhaji dengan menggantikan posisi bapak. Dan bu Suyamti bisa berangkat asalkan ada mahrom yang mendampinginya, kalau tidak ada mahrom, kemungkinan berangkatnya sangat tipis. Lha saya pikir, pak Zio kan mahromnya bu Suyamti." kata Mutiara.
"Mahrom? Apa sih itu? Saya ga ngerti." kata Zio frustasi, mau beralasan apa. Karena sesungguhnya dia memang belum siap untuk ikut mamanya berhaji, sedangkan dia menyadari, sholatnya saja masih bolong-bolong.
"Mahrom itu, orang yang tidak boleh di nikahi pak. Seperti ibu, saudara perempuan, anak perempuan, nenek. Gitu." kata Mutiara menjelaskan.
"Sebaliknya, kalau bukan mahrom itu, seperti kita. Saya ini bukan mahromnya Pak Zio. Makannya, saya tidak boleh bersalaman dengan pak Zio." kata Mutiara.
"Brati maksud kamu?" tanya Zio.
Belum selesai percakapan mereka, dokter keluar dan mengabarkan bahwa bu Suyamti sudah melewati masa kritisnya. Dan bu Suyamti akan dipindah ke ruang rawat.
Sepeninggal dokter, Zio dan Mutiara masuk ke ruangan itu lagi. Mereka melihat ibu Suyamti sudah sadar, dengan raut wajah yang masih pucat.
"Mama, ini Zio ma." kata Zio bahagia.
Bu Suyamti tersenyum senang.
"Ma, ini Zio udah jemput Tiara, katanya mama kangen sama dia." kata Zio lagi.
Bu Suyamti menoleh ke arah Mutiara, dan tersenyum.
"Terimakasih." kata bu Suyamti dengan lemah.
"Sama-sama bu." jawab Mutiara lembut.
__ADS_1
Kemudian Mutiara dan Zio menemani bu Suyamti, dan saling bertukar cerita, hingga kamar rawat untuk bu suyamti sudah siap, lalu bu Suyamti dipindah ke ruang rawat inap VIP.