Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Kikuk


__ADS_3

Acara telah selesai, beberapa tamu undangan sudah membubarkan diri, namun ada beberapa yang masih berswa foto dengan kedua mempelai. Saat tamu sudah sepi, tampak dari pelaminan, Shanum dengan busana pengantin muslimah modernnya, melambaikan tangan pada Mutiara yang kebetulan menoleh kepadanya. Dengan isyarat, Shanum meminta dirinya ke atas panggung untuk foto bersama pengantin.


"Mas." panggil Mutiara kepada Dzen, saat Dzen sedang asyik menghabiskan es krimnya.


"Hem?" jawab Dzen sambil mengelap bibirnya bekas es krim.


"Itu." kata Mutiara sambil menunjuk kedua pengantin yang menyuruh mereka ke sana dengan isyarat.


Dzen juga menjawab dengan isyarat, telunjuknya menunjuk dadanya dan Mutiara. Shanum dan Zio mengangguk.


"Tiara, diajak foto bareng tuh. Mau ga?" tanya Dzen.


"Ehm, terserah mas Dzen aja." jawab Mutiara.


"Ya udah, ayo. Mumpung sepi." kata Dzen sambil berdiri. Lalu diikuti Mutiara dibelakangnya, hingga sampai di atas panggung.


"Cie, coupelan nih... Kaya udah jadi sepasang pasutri aja sih kalian ini." kata Shanum menggoda.


"Apaan sih Num. Liat tu, Tiara jadi malu kan?" kata Dzen.


"Hahaha, ya udah, yuk, foto dulu." kata Shanum.


Mutiara berdiri didekat Shanum, dan Dzen berdiri di dekat Zio dengan wajah happy semua. Setelah berfoto, Mutiara menyalami Shanum


"Baarokallahulakuma wabaroka'alaikuma wajama'abainahuma fii khoir. Selamat ya mbak Shanum, dan pak Zio. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah til Jannah." kata Mutiara mendo'akan kedua mempelai.


"Aamiin. Terimakasih banyak ya Tiara, semoga kalian juga segera menyusul." kata Shanum.


"Tiara masih kuliah mbak." jawab Mutiara.


"Santai aja, nanti biar saya bantu, agar kamu bisa cepat lulus, karena kamu itu pintar dan cerdas." kata Zio menyela.


"Nah tu. Dosenmu udah siap bantu Ra. Mbak Juga siap bantu untuk penelitianmu, kebetulan, kita kan sama-sama di PGAUD." kata Shanum.


"Hehe, ya mbak, pak. Terimakasih." kata Mutiara sungkan.


"Selamat ya mas bro." kata Dzen menjabat tangan Zio dengan erat.


"Terimakasih. Saya titip Tiara ya. Dia sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri, kalau kamu berani nyakitin dia, berhadapan sama saya." kata Zio dengan tatapan mata elangnya.


"InshaaAllah." jawab Dzen mantab.


Mutiara dan Dzenpun turun dari panggung, lalu menyalami bu Suyamti dan Nilam, serta Geopian. Begitupun saat berjalan ke keluarga mempelai wanita, mereka menyalami Pak Yuda, dan bu Mia. Setelah bersalaman dengan pihak keluarga kedua mempelai, Dzen dan Mutiara didekati seorang wanita


"Dzen." panggil Lisa.


"Lisa? Ada apa?" tanya Dzen.


"Boleh aku kenalan sama calon istrimu?" tanya Lisa.


"Kemana Jelita?" tanya Dzen yang mengalihkan pertanyaan Lisa.

__ADS_1


"Sama omanya." jawab Lisa dengan tetap menatap gadis di samping Dzen.


"Hai nona." sapa Lisa kepada Mutiara dengan tersenyum


"Eh, hai mbak." jawab Mutiara kikuk karena Mutiara sudah tau, bahwa wanita didepannya adalah mantan Dzen.


"Aku Lisa." kata Lisa mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Mutiara. Dan disambut hangat oleh Mutiara.


"Tiara." jawab Mutiara ramah.


"Kamu, udah kerja?" tanya Lisa.


"Belum mbak, saya masih kuliah." jawab Mutiara.


"Semester berapa?" tanya Lisa.


"Semester enam mbak." jawab Mutiara.


"Ehm, fakultas apa?" tanya Lisa lagi.


"FKIP mbak. Prodi PGAUD." jawab Mutiara.


"Di mana?" Lagi-lagi Lisa bertanya.


"Di Universitas Negeri Semarang mbak." jawab Mutiara berusaha tetap ramah dan sopan.


"Oh, berarti, Dzen nunggu kamu lulus?" hanya Lisa.


"Iya. Kenapa?" tanya Dzen dengan nada kurang suka.


"Apa?" tanya Dzen.


"Tolong jaga Dzen. Jangan kamu lepaskan, atau kamu akan menyesal seperti aku. Dzen pria baik baik, kamu sangat beruntung jika bisa menjadi istrinya. Selamat ya, semoga hubungan kalian selalu baik sampai hari H." kata Lisa tulus. Dzen mencari titik ketulusan di mata Lisa, dan Mutiara hanya diam sambil berfikir, kata apa yang harus dia lontarkan untuk menjawabnya.


"Titip Dzen ya." kata Lisa lagi.


"InshaaAllah mbak. Jodoh itu sudah digariskan oleh Allah, jika Allah berkehendak kami bersatu, apapun halangan dan cobaan nya, kami akan tetap bersatu. Namun jika kami tidak ditakdirkan untuk bersama, mau berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankannya, tetap saja tidak akan bersama." kata Mutiara bijak.


"Kamu benar." jawab Lisa.


"Ehm, ya udah Lis, maaf, kita harus segera pulang." kata Dzen.


"Okey. Kalian hati-hati." kata Lisa.


"Ya." jawab Dzen.


"InshaaAllah." jawab Mutiara.


Sedangkan dari kejauhan, Lala terus mengawasi gerak gerik Dzen dan Mutiara, dengan tatapan tidak senang. Hatinya bergemuruh hebat, kobaran amarah di kepalanya semakin menyala.


"Ga seharusnya cewek kampung itu ada disampingmu Dzen, harusnya orang yang disampingmu itu aku. Harus nya aku Dzen, bukan Dia. Aku masih cinta sama kamu Dzen, dan sampai kapanpun, aku cuma mau sama kamu." batin Lala.

__ADS_1


Dzenpun mengantar Mutiara pulang. Sepanjang jalan keduanya diam membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Mas."


"Ya?"


"Mbak Lisa itu, memang sudah punya anak, atau memang itu keponakannya?" tanya Mutiara.


"Kenapa emang?"


"Gapapa. Tanya aja." jawab Mutiara.


"Jelita itu anak kandungnya. Dia dulu pacar mas waktu masih kuliah fakultas kedokteran, sampai lulus Koas, dia di jodohkan sama orangtuanya, dengan pengusaha kaya relasi papanya. Tapi, kemarin pas ketemu, dia mengaku sudah menjanda, karena suaminya menikah lagi, sedangkan dia tidak mau di poligami." kata Dzen.


"Oh, jadi mbak Lisa itu juga dokter, janda?" tanya Mutiara, dan Dzen mengangguk.


"Kalau mbak Lala?" tanya Mutiara.


"Dia anak dokter, dia belum menikah, dan dia minta balikan sama mas, karena pacarnya sudah menikah dengan sahabatnya sendiri." kata Dzen.


"Mbak Lala minta balikan sama mas Dzen?" tanya Mutiara.


"Iya, tapi mas ga mau." jawab Dzen.


"Kenapa?" tanya Mutiara.


"Karena udah ada kamu." jawab Dzen membuat Mutiara bersemu merah. Dzen yang menyetir, menoleh sebentar ke wajah Mutiara, dilihatnya rona merah di pipi Mutiara membuat Dzen berdesir, merasakan aliran darahnya semakin kencang mengalir, gemas pikirnya.


"Yang jelas, karena mas bukan tipe orang yang suka CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Bagi mas, yang lalu ya biarlah berlalu. Dan masa depan ku, adalah orang baru. Karena orang lama, cukup menjadi cerita." kata Dzen sambil terus fokus menyetir.


"Ada berapa mantan mas Dzen?" tanya Mutiara penasaran.


"Mantan? Ehm, berapa ya? Banyak sih. Hehe." jawab kikuk.


"Masih bisa dihitung kan?" tanya Mutiara.


"Ya, masih sih."


"Berapa mas?" tanya Mutiara kepo.


"Waktu SMA, tiga, kuliah dua, lulus koas ya cuma sama Lala. Enam jadinya." kata Dzen kikuk sambil tangan kirinya mengelus tengkuknya.


Mutiara tersenyum geli mendengarnya,


"Lumayan play boy juga ya mas Dzen ini." komentar Mutiara.


"Hahaha, yah, begitulah." kata Dzen.


"Tapi mas akan setia sama yang terakhir. InshaaAllah." kata Dzen membela diri.


Mutiara lagi-lagi tersipu malu, hingga tak terasa mereka sudah sampai di gang masuk kosan Mutiara.

__ADS_1


"Mas anter?" tawar Dzen.


"Ga usah mas. Terimakasih." jawab Mutiara.


__ADS_2