
"Dokter Dzen?" gumam Mutiara.
Pria yang di dalam mobil itupun keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Mutiara.
"Assalamu'alaikum. Motornya kenapa Tiara?" tanya Dzen.
"Wa'alaikum salam, dok. Ehm, ini dokter, bocor." kata Mutiara menunjuk ban motornya.
"Ya Allah, trus, kamu sama siapa di sini?" tanya Dzen sambil celingak celinguk seperti mencari seseorang.
"Sama dokter Dzen." jawab Mutiara dengan meringis sambil memainkan ujung jilbabnya.
"Hahaha, Tiara, Tiara, keadaan kaya gini masih suka bercanda juga ya kamu ini." komentar Dzen.
"Hehe, maaf dok." kata Mutiara sungkan.
"Kamu, sendirian?" tanya Dzen yang masih tidak percaya, karena hari sudah malam, Mutiara masih dijalan, seorang diri. Dan Mutiara hanya mengangguk saja.
"Sudah cari bantuan buat tambal ban?" tanya Dzen.
Mutiara hanya menggeleng.
"Okey, saya panggil kan teman saya yang kerja di bengkel ya, biar motor kamu diambil untuk di tambal, karena kalo malem begini, bengkel tambal ban udah pada tutup." kata Dzen sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Ya dok." jawab Mutiara singkat.
Dzenpun menelpon temannya yang bekerja di bengkel. Kebetulan bengkel temannya tak jauh dari lokasi tempat mereka sedang berdiri.
Halo, Mas Mail, bisa jemput motor temen saya? Di depan ATM bank BCA deket bengkel tempatmu kerja. Ini ban nya bocor, saya bawa mobil, jadi tidak bisa dorongin ke bengkel, kebetulan.
Oh, yaya, saya tunggu disini ya.
Sambungan telpon pun terputus.
"Tiara." panggil Dzen.
"Ya dok?"
"Kenapa kamu pulang selarut ini? Kuliahmu sampe malem?" tanya Dzen.
"Engga kok Dok, kebetulan hari ini jadwal kuliah saya hanya sampai jam dua, tetapi ba'da ashar tadi, saya ada rapat koordinasi organisasi di kampus." kata Mutiara.
"Sampe semalem ini pulangnya?" tanya Dzen menginterogasi.
"Iya dok, karena kebetulan saya diamanahi sebagai sekum organisasi saya, jadi mau tidak mau, saya harus menyelesaikan laporan dari teman-teman dulu untuk saya susun dan akan saya laporkan di rapat besar dengan organisasi lain." kata Mutiara.
"Ga ada temen yang nemenin kamu pulang gitu?" Dzen masih tak habis pikir dengan teman yang membiarkannya pulang sendiri.
"Tadi ada sih yang mau nawarin nganterin pulang, tetapi memang saya tolak dok, karena saya positif thingking, ga bakal terjadi apa-apa." kata Mutiara.
"Cowok?" tanya Dzen.
"Iya dok."
"Kenapa ga diterima aja tawarannya?" tanya Dzen dengan nada kurang suka.
"Ehm, ga enak dok, kebetulan kami juga beda arah." kata Mutiara.
__ADS_1
"Owh."
Saat itu juga, datang dua motor yang salah satunya teman Dzen yang bernama Mail,
"Malam mas Dokter." sapa Mail.
"Malam mas Mail." jawab Dzen.
"Ini mas motornya_?" tanya Mail sambil memegang motor metic milik Mutiara.
"Iya mas." jawab Dzen
"Mbak nya ini yang punya motor?" tanya Mail menunjuk Mutiara.
"Iya mas." jawab Dzen lagi.
"Pantesan, minta dijemput, ternyata pemiliknya cewek cantik ya." kata Mail menggoda Dzen.
"Haha, ya begitulah. Tolong ya mas Mail." kata Dzen.
"Okey siap laksanakan mas dokter." kata Mail dengan gaya tentara hormat. Mail pun membawa motor Mutiara dengan di gandeng bersama teman kerjanya . Sepeninggal Mail dan temannya, Dzenpun mengajak Mutiara untuk naik mobilnya.
"Kamu sudah makan Ra?" tanya Dzen di dalam mobil, saat mobil hendak melaju.
"Sudah dok, tapi makan cilok." kata Mutiara meringia lagi
"Cilok? Maksud saya yang berat." kata Dzen.
"Belum dok." kata Mutiara.
"Ya udah kita makan dulu gimana? Kemaleman ga kamu?" tanya Dzen.
"Ya dok. Gapapa." jawab Mutiara.
"Ehm, kalau misal ke alun-alun aja gimana dok?" tawar Mutiara.
"Oh ya, boleh " kata Dzen
Dzen dan Mutiara pun melaju ke alun-alun kota yang tak jauh dari kos-kosan Mutiara.
Sesampainya di alun-alun, Mutiara hanya mengikuti langkah Dzen yang masih tak tentu arah.
"Dokter, misal makannya di angkringan itu aja gimana?" tanya Mutiara sambil menunjuk sebuah angkringan yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Kamu mau makan di angkringan?" tanya Dzen.
"Kalau saya iya, tapi kalau dokter mau pesan makanan lain, juga gapapa kok dok." kata Mutiara.
"Engga, saya juga akan ikut kamu aja Ra." kata Dzen.
Dzen dan Mutiarapun berjalan menuju angkringan yang dimaksud. Mutiara mengambil lima bungkus nasi sambal dan beberapa gorengan. Lalu memesan minuman hangat, dua porsi, Mutiara memesan susu jahe hangat, dan Dzen memesan kopi susu.
Mutiara dan Dzen pun duduk di tikar yang sudah disediakan, yang tergelar di hamparan alun-alun, dengan kerlap kerlip lampu neon di kanan kiri. Suasana romantis jelas terasa disana, hembusan angin malam, menambah dinginnya malam, menjadi suasana yang terasa indah untuk dua insan lawan jenis seperti Dzen dan Mutiara.
"Dokter juga mau makan nasi sambal?" tanya Mutiara tak percaya saat melihat Dzen membuka bungkus nasi sambal.
"Iya, Kenapa? Nasi kucing kaya gini tu, makanan saya sewaktu jaman masih kuliah." kata Dzen sambil mengepal-ngepal nasi untuk dimasukkan dalam mulutnya.
"Owh."
__ADS_1
"Jadi nostalgia." gumam Dzen.
"Maksudnya dok?" tanya Mutiara.
"Iya, jadi waktu saya masih kuliah dulu, saya sering makna di angkringan gini, sambil makan nasi kucing dan beberapa gorengan, ditemani secangkir kopi susu." kata Dzen.
"Ehm, ternyata hampir setiap mahasiswa tu kenal sama nasi kucing ya dok." kata Mutiara.
"Ya begitulah. Karena nasi kucing itu, ramah kantong, khususnya buat mahasiswa, dan juga bikin perut kenyang." kata Dzen dengan tersenyum.
"Ehm, iya juga sih dok."
"Tiara." panggil Dzen yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Ya dok?"
"Saya boleh minta tolong sama kamu ga?" tanya Dzen.
"InshaaAllah, selama saya mampu, saya akan bantu dok." kata Mutiara sambil menyeruput susu jahenya.
"Ehm, gitu ya?"
"Emang dokter mau minta tolong apa?" tanya Mutiara.
"Ehm. Saya mau minta tolong sama kamu, untuk, Jangan panggil saya dokter, Bisa?" tanya Dzen.
Mutiara yang tadinya mau memasukkan nasi kedalam mulutnya, diurungkannya. Karena permintaan tolong Dzen terasa aneh.
"Maksudnya?" tanya Mutiara.
"Ya, seperti malam ini, kita lagi bersantai di alun-alun. Ya saya maunya kita santai juga, panggilnya engga formal banget gitu, kalau kamu panggil saya Dokter, rasanya saya tu masih berasa di tempat kerja." kata Dzen.
"Lalu, saya manggilnya apa dong?" tanya Mutiara.
"Seinget saya nih ya, pas awal-awal kita kenal dulu, kayaknya Tiara pernah panggil saya dengan sebutan 'Mas' kan ya?" tanya Dzen lagi.
"Ehm, iya." jawab Mutiara sambil mengingat -ingat.
"Ya udah, panggil saya dengan panggilan 'Mas' aja. Gimana?" tawar Dzen.
"Ya, gapapa dok, ehm maksud saya...Mas. Hehe maaf." kata Mutiara.
"Okey, gitu ya, kan enak tu dengernya. Jadi saya bisa merasakan santai gitu di luar tempat kerja." kata Dzen yang sudah berhasil membuat gadis pujaan hatinya memanggil dia dengan panggilan yang dia mau.
"Ya mas. Maaf ya, jika selama ini saya manggilnya kurang membuat mas Dzen terasa nyaman, bahkan terganggu." kata Mutiara sungkan.
"Iya, santai aja Ra." kata Dzen.
"Ya udah, dihabisin makannya, terus saya antar pulang ya. Udah malem ini." kata Dzen.
"Ya mas."
Mutiara dan Dzen pun menghabiskan makanan dan minuman mereka, lalu merekapun jalan-jalan sebentar di alun-alun sambil bertukar pikiran terkait menjadi aktivis mahasiswa. Karena ternyata, Dzen juga pernah menjadi bagian dari organisasi mahasiswa, sehingga obrolan mereka malam itu nyambung dan terasa asyik. Setelah itu Dzenpun mengantarkan Mutiara pulang ke kosan nya.
"Terimakasih ya mas Dzen." kata Mutiara saat Dzen mengantarnya sampai di depan kosan nya dengan berjalan kaki dari jalan raya, karena menuju kosan nya Mutiara, mereka harus berjalan melewati gang sempit yang tidak bisa dilewati mobil.
"Sama-sama Tiara, selamat beristirahat ya." kaya Dzen.
"Ya mas. Mas Dzen hati-hati pulangnya." kata Mutiara.
__ADS_1
"Iya. Terimakasih." kata Dzen melangkah pergi.
Malam itu menjadi malam yang indah bagi Dzen, karena Allah mempertemukan dia dengan Mutiara lagi, setelah beberapa waktu mereka tidak bertemu.