Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Pergi


__ADS_3

Acara seminar telah selesai di laksanakan seharian penuh. Sore itu, setelah acara selesai, jam empat sore, Dzen segera menuju mushola untuk sholat ashar terlebih dahulu, barulah dia ke parkiran untuk menuju pulang. Dia berpisah dengan Lisa di parkiran. Ternyata, Lisa masih menunggu Dzen di sana.


"Sa, kamu ga pulang?" tanya Dzen.


"Aku nunggu kamu Dzen." jawab Lisa.


"Ada apa?" tanya Dzen dengan tanpa menatap wanita itu.


"Aku boleh minta nomermu?" tanya Lisa. Membuat Dzen menoleh.


"Untuk?" tanya Dzen.


"Untuk menjalin silaturahmi." kata Lisa dengan tersenyum.


"Ini kartu namaku." kata Dzen memberikan secarik kertas dari dalam dompetnya.


"Dzen? Bisakah kita...?" belum selesai Lisa berkata, Dzen memotongnya.


"Aku buru-buru, harus segera kembali ke Semarang. Maaf." kata Dzen sambil pergi menuju mobilnya. Lisa menatap punggung Dzen dengan penuh harapan.


"Ada sedikit harapan Dzen, aku masih menginginkan mu." batin Lisa.


💞💞💞


Seperti biasanya, hari sabtu adalah jadwal Shanum pulang ke rumah om Yuda. Setelah beberapa hari kemarin, dia mendapat kabar dari kantor BPKH, kalau jadwal keberangkatan Haji mamanya tahun ini, dan karena mamanya telah tiada, Shanum memutuskan dirinya yang akan menggantikan mamanya. Malam itu, Shanum bermaksud menemui om dan tantenya, untuk membicarakan tentang niatnya ke tanah suci.


"Jadi begitu om, Tante. Shanum mohon ijin untuk menggantikan nama mama yang terjadwal berangkat ke tanah suci." kata Shanum setelah menceritakan hasil obrolannya dengan pihak BPKH.


"Ehm, begitu? Kalau menurut om sih, itu bagus. Gapapa sih Num, niat baik itu memang lebih baik, disegerakan." kata pak Yuda.


"Tapi pa. Shanum ini masih gadis, dia belum punya pendamping untuk berangkat tahun ini. Apa ga sebaiknya, tahun besok saja, biar kuota tahun ini dipakai orang lain dulu, Shanum berangkatnya tahun depan, siapa tau, Shanum sudah bersuami, kita kan lebih tenang melepasnya." kata bu Mia yang membuat Shanum berubah keadaan hatinya.


"Maaf, apa tante bilang tadi? Menikah? Shanum menemui om dan tante di sini, karena Shanum cuma mau minta ijin untuk diijinkan berangkat haji aja kok. Ga usah bawa bawa kata nikah." kata Shanum.


"Eh, engga gitu maksud tante Shanum Tante cuma khawatir aja kalo kamu berangkat sendiri, ga ada pendamping laki-laki, nanti kamu kesulitan gimana?" tanya tante Mia merapat kata-katanya tadi.


"Shanum akan tetap pergi haji tahun ini, tanpa laki-laki. Shanum bisa kok." kata Shanum keukeuh.


"Iya tapi kan, kalo sama suami lebih nyaman Num." kata bu Mia.


"Hem, ketauan kan? Tante sama om itu dari dulu berkali kali ngenlin Shanum sama cowok, supaya Shanum mau sama cowok ini, cowok itu, terus mau nikah sama dia? Terus biar tante sama om bisa tenang, karena aku yang hanya keponakan tante ini selalu jadi benalu di keluarga ini. Iya kan?" kata Shanum mulai emosi.

__ADS_1


Menang beberapa waktu ini, Shanum sering ditanyain orang terkait jodoh, dan kedua pengganti orang tua Shanum, yang tak lain bu Mia dan pak Yuda juga selalu menyindir terkait perjodohan dan pernikahan. Membuat Shanum muak dibuatnya.


"Shanum, jaga bicaramu!" kata Pak Yuda tegas.


"Kenapa om? Ga suka aku ngomong kaya gitu?" tanya Shanum berdiri dan menatap om nya tajam.


"Sampai kapanpun, Aku ga mau Nikah!" kata Shanum menekan kata paling belakang.


"Shanum!" seketika Pak Yuda melayangkan tangannya, hampir menampar Shanum. Sahnum pun menutup matanya.


"Kenapa om? Tampar om, tampar! Ayo cepat!" kata Shanum memegang lengan pak Yuda yang masih tegak di dekat pipinya.


"Selama ini, Shanum ikutin kata om. Om minta Shanum tinggal di sini. Tapi Shanum sadar diri om, Shanum bukan siapa siapa di sini, Shanum ga punya siapa siapa lagi. Semua ini karena laki-laki bejat itu, karena dia mama mati, karena dia, hidup aku hancur, mimpiku hancur!" kata Shanum emosi dengan tangisannya.


"Shanum. Hentikan Shanum. Tante mohon. Tante minta maaf." kata bu Mia memeluk tubuh Shanum dari belakang.


"Shanum! Apa maksudmu mengatakan laki laki bejat? Siapa yang kamu maksud?" tanya pak Yuda.


Shanum hanya menanggapi dengan tertawa dalam tangisan nya.


"Hahahaha. Ga akan ada orang yang percaya kalo aku membuka semua rahasia kematian mama. Dan semua selalu mengatakan, aku terlalu kecil untuk mengetahui hal itu." kata Shanum.


"Num, apa maksudmu nak?" tanya bu Mia. Pak Yuda hanya berdiri tegak, dengan mengontrol emosinya. Dia sendiri heran dengan perubahan Shanum diperpulangan kali ini.


"Num, Shanum!" panggil bu Mia sambil menangis.


"Ma, udah ma. Shanum sepertinya lagi kebawa emosi. Biarkan dia menenangkan dirinya dulu." kata pak Yuda menahan istrinya yang hendak mengejar Shanum.


Malam itu, Shanum keluar rumah pak Yuda dan menaiki taxi langganannya. Dia menangis tanpa suara di sana. Dia kembali terbayang oleh wajah teduh mamanya, dia sangat merindukan mamanya, dia menahan kerinduan itu. Shanum memutuskan untuk pergi ke terminal, dan berniat untuk pergi ke makam mamanya di Jakarta. Namun, tiba-tiba, taxi itu berhenti mendadak.


"Kenapa pak?" tanya Shanum.


"Wah, mobilnya mogok mbak. Sebentar, saya cek dulu." kata sopir taxi.


Malam itu kendaraan masih ramai lancar. Sebuah mobil lewat melalui jalur sebrang, tak lama kemudian mobil itu berhenti di belakang taxi yang dinaiki Shanum.


"Pak Shobri? Mobilnya kenapa pak?" tanya laki-laki itu.


"Eh, mas Dzen. Mogok mas. Mana saya lagi bawa penumpang lagi." kata pak Shobri, sopir Taxi itu.


"Udah telpon bengkel?" tanya Dzen.

__ADS_1


"Belum mas." kata pak Shobri.


"Saya telponin ya pak, biar ke sini." kata Dzen sambil menelpon.


Saat Dzen sedang menelpon bengkel, Shanum yang masih di dalam mobil melihat ke arah depan, tampak olehnya sosok laki-laki yang dikenalinya. Dzen, sahabat masa pubernya. Shanumpun membuka pintu taxi itu.


"Dzen?" panggil Shanum.


Dzen yang sudah selesai menelpon kaget, melihat Shanum ada di situ.


"Shanum? Kamu ngapain di sini? Malem malem gini." tanya Dzen.


"Taxi yang gue naikin mogok." kata Shanum menunjuk taxinya pak Shobri.


"Lha emang kamu mau ke mana malem malem gini?" tanya Dzen.


"Ehm..." Shanum hanya diam.


"Tadi sih bilangnya suruh nganterin ke terminal mas." jawab pak Shobri.


"Kamu mau ngapain ke terminal malem malem Gini Num?" tanya Dzen heran.


"Ehm, Gue mau balik ke Jakarta. Mau ke makam mama." kata Shanum.


"Astaghfirullah. Kamu mau ke sana, naik bis?" tanya Dzen. Shanum pun mengangguk.


"Ya udah, ini tadinya mau dibenerin dulu, montirnya baru perjalanan ke sini. Kamu ikut aku aja." kata Dzen.


"Oh, ya mas. Mas Dzen kenal?" tanya pak Shobri yang dikenal Dzen, karena Pak Shobri sudah sering bertemu dirinya diwarung langganan Dzen. Pak Shobri adalah suami dari ibu pemilik warung langganannya Dzen.


"Dia temen sekolah saya pak. Biar saya yang antar dia pak. Bapak tunggu montirnya datang ya. Bentar lagi datang kok pak." kata Dzen.


"Baik mas." jawab pak Shobri.


Dzenpun mengajak Shanum masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Dzen.


Shanum menggeleng. Dari gelagatnya, Dzen dapat menyimpulkan, bahwa Shanum sedang tidak baik-baik saja.


"Kita makan dulu ya." kata Dzen.

__ADS_1


Shanum mengangguk.


Kemudian Dzen membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan padang.


__ADS_2