
"Itu kan...?" batin Mutiara sambil melihat wanita yang duduk tak buah darinya duduk.
"Mbak, itu kan mas Zio?" kata seorang wanita yang satunya saat melihat ke arah Mutiara dan Zio.
Seketika wanita itu menoleh, sehingga Mutiara dan dirinya juga saling pandang.
"Mbak Shanum?" sapa Mutiara dengan tersenyum. Seketika Zio yang tadinya tidak perduli, menoleh ke arah yang dilihat Mutiara.
Betapa girangnya hati Zio, melihat wanita yang disukainya berada di tempat yang sama tanpa janjian.
"Kamu?" kata Shanum menunjuk Mutiara.
"Kalian saling kenal?" tanya Zio.
"Mbak Shanum ini temannya teman saya pak." kata Mutiara sopan.
"Oh." jawab Zio ber oh ria.
"Tiara udah lama disini?" tanya Shanum menyapa Mutiara Tanpa memperdulikan Bos arogan di hadapannya.
"Lumayan mbak, ini juga sudah mau pulang, karena sudah sore juga." kaya Mutiara.
"Oh iya Tiara." kata Shanum.
"Mas Zio. Mas Zio masih ingat saya tidak?" kata gadis di sebelah Shanum.
"Ehm, siapa ya?" kata Zio mencoba mengingat-ingat.
"Hayo, coba tebak!" kata Ifa sambil tersenyum.
Mutiara hanya melihat keduanya dengan bergantian.
"Mana mungkin si bos arogan ga beretika ini kenal sama elo, Elo tu cuma butiran debu Fa!" kata Shanum melihat Zio dengan sinis.
"Gue yakin kok, mas Zio masih kenal sama gue." kata Ifa ga mau kalah.
"Sial, ni cewek, cakep sih, bikin gue jatuh hati, tapi omongannya pedes juga. Bakal gue buktiin, dugaan elo salah. " umpat Zio dalam hati.
"Ehm, gue akan buktikan, praduga anda salah, bu guru yang terhormat!" kata Zio dengan senyum mengejeknya.
Shanum hanya memutar bola matanya, jengah dengan sikap CEO arogan yang dia kenal itu.
"Kamu Ifa kan? Anaknya pak Yuda?" tebak Zio dengan menatap Shanum penuh kemenangan.
"Yup, bener banget. Mas Zio masih inget aja." kata Ifa sambil membenahi poninya yang sempat menutup satu matanya.
"Wah, sekarang udah gede ya? Dulu masih kecil, masih suka mainan sama saya di rumah. Kelas berapa sekarang?" tanya Zio ramah.
"Baru kelas dua SMA mas." jawab Ifa senang.
"Udah gadis dong, pasti udah punya pacar ya?" goda Zio.
"Ni orang, sok ramah banget sih sama Ifa, heran gue." batin Shanum sebal.
__ADS_1
Sedangkan Mutiara yang melihat percakapan dosennya dengan kedua gadis itu tampak akrab, Mutiara pun merasa dicuekin oleh dosen dinginnya.
"Disisi lain, ada sikap ramah dan bersahabat nya juga ya pak Zio? MaasyaaAllah, Senyumanmu itu tulus pak, andai saja saya bisa mendapatkan sikap seperti itu dari anda pak." batin Mutiara berharap.
"Hahaha, iya mas. Tau aja. Malah mbak Shanum nih mas yang masih setia ngejomblo. Heran juga gue." kata Ifa yang justru meledek mbaknya.
"Wih, keren dong kamu Fa. Anak SMA udah pacaran aja." kata Zio sambil mengacak rambut Ifa.
"Ih, mas Zio, kenapa ngacak rambutku sih? Kan jadi berantakan mas!" omel Ifa dengan cemberut.
"Ehem, maaf pak Zio. Ini urusan koreksian sudah selesai ya pak? Kalau sudah, saya mau pamit duluan." kata Mutiara sopan dengan membawa map berisi lembar kerja mahasiswa.
"Oh, ya Udah. Kamu boleh pulang." kata Zio seketika berubah dingin, saat berbicara dengan Mutiara.
"Baik pak. Saya permisi. Mari mbak Shanum, mbak." kata Mutiara sambil mengangguk isyarat pamit kepada dua wanita dihadapannya.
"Mas Zio sama mbak Shanum aja mas. Kata papa, mas Zio juga masih jomblo kan?" tanya Ifa, yang seketika mendapatkan bonus injakan kaki dari Shanum.
"Apaan sih lo Fa? Sembarangan aja kalo ngomong!" omel Shanum.
"Ehm, gue pikir dulu deh kalo sama ni bu guru judes. Kalo gue sama dia, yang ada nanti gue bakal kena marah terus sama dia, bakal jadi tambah kurus gue. Hahaha." kata Zio meledek.
"Sial ni CEO, nyebelin banget sih? Ngatain gue Judes pula.". batin Shanum mengomel.
"Mas Zio, itu tadi siapa? Pacarnya ya?" tanya Ifa.
"Oh. Asisten dosen gue." kata Zio.
"Wih, keren ya, masih muda udah jadi asisten dosen." kata Ifa terkesima dengan sosok Mutiara.
"Ni anak, bawel bener sih?" batin Shanum kesel.
"Ga menarik, bukan tipe gue." kata Zio sambil menepis wajahnya.
"Ada yang lebih menarik sih sebenarnya, tapi sepertinya masih mahal harganya, dan gue harus banyak nabung dulu " kata Zio menyindir gadis dihadapannya.
"Ups. Maksud mas Zio?" tanya Ifa menoleh ke arah Shanum.
"Apaan sih lo pada? Tuh, pesenan nya udah dateng, ayo dimakan dulu, abis itu kita segera pulang, bokap lo pasti nyariin." kata Shanum sambil mengambil makanannya yang sudah tersaji di meja.
"Mas Zio makan bareng disini aja. Mbak nya tadi udah pulang kan?" kata Ifa.
"Oh, iya ya." kata Zio hendak mengambil makanannya.
"Eh, Fa, sembarangan aja sih lo nyuruh orang duduk bareng kita." protes Shanum.
"Biarin, kasian tau mbak, mas Zio sendirian." kata Ifa.
"Terimakasih ya Fa." kata Zio dengan tersenyum.
"Ish, apaan sih. Sok manis !" kata Shanum sebal.
"Zio, Nona Tiara tadi pulang duluan?" tanya Reyhan tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Iya. Kenapa?" tanya Zio.
"Diluar hujan deras, petir angin pula. Rumahnya nona Tiara jauh ga Zi? Dia kehujanan ga?" tanya Reyhan dengan wajah khawatir.
"Lho, emang pake angin segala?" tanya Zio seketika melihat ke arah jendela. Suasana di luar sangat mencekam, hujan lebat angin dan petir menyambar berkali-kali.
"Astaga, tua anak naik motor pasti. Rumahnya masih jauh kalo dari sini." gumam Zio.
"Ini udah sore pula Zi, menjelang malam. Coba lo hubungi dia Zi, dimana posisinya." kata Reyhan.
"Okey." kata Zio sambil mencari contac bernama Mutiara.
'Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif.' jawab operator.
"Sial! Hapenya ga aktif lagi." umpat Zio.
Ziopun segera mengirim pesan ke nomer yang sama.
📨Mutiara
Udah sampai mana kamu? Hujan deras, angin.
Hanya centang satu.
📨Mutiara
Kamu harus bisa menjaga berkas Lembar kerja mahasiswa itu dengan baik, Jangan sampai basah ataupun kotor.
Sama sekali tak ada respon dari orang yang dituju.
"Gimana mas?" tanya Ifa.
"Handphonenya ga aktif." jawab Zio dengan wajah cemas, sambil bolak balik.
"Lagian, elo juga sih, main ngijinin dia pulang gitu aja, ga liat apa, di luar gelap kaya gitu?" omel Reyhan pada Zio.
"Siapa yang tau kalo di luar gelap? Gue ga tau." jawab Zio membela diri.
"Lagian tu anak juga ngapain nekad pulang, kalau tau cuacanya mendung gelap kaya gitu." omel Zio menyalahkan Mutiara.
"Zio kayaknya kok khawatir banget sih sama tu cewek? Apa istimewanya tu cewek coba, sampe Dzen dan Zio sama-sama Care sama dia." batin Shanum.
🌾🌾🌾
Sedangkan di jalan, Mutiara yang menaiki motor, mulai merasakan rintik hujan dan angin cukup kencang, diapun segera berhenti dan memakai jas hujannya, agar ranselnya yang berisi berkas lembar kerja mahasiswanya Zio tidak basah. Namun, baru beberapa meter berjalan, hujannya terasa sangat deras, sehingga air hujan terasa menembus ke tubuhnya.
"Astaghfirullah, kayaknya aku mending berteduh dulu deh." gumam Mutiara sambil membelokkan motornya ke sebuah tempat untuk berteduh.
Saat dia berhenti didepan sebuah ruko, dia membuka helmnya, dan mengibaskan jas hujannya yang sudah penuh oleh air hujan.
"Tiara?" panggil seseorang yang juga berteduh ditempat yang sama.
🌾🌾🌾
__ADS_1
Ehm, siapa yang yang manggil Tiara? Coba tebak😉