
"Tiara." panggil dua orang gadis yang berlari dari ruang kelas, kearah Mutiara. Mutiara pun menoleh ke sumber suara, namun, kembali tertunduk lesu.
"Ya ampun Tiara, kamu kemana aja sih? Aku telpon ga diangkat, aku chat ga dibales, bahkan ga dibaca. Kamu tu sebenarnya kemana sih, Ra?" tanya Mila beruntun.
"Iya Ra, kamu kemana sih, Ra? Kita tu khawatir sama kamu." kata Nadia sambil memegang pundak Mutiara. Namun Nadia terkejut saat melihat jilbab Mutiara yang ada bekas darah. Karena baju yang dikenakan Mutiara berwarna hitam, namun jilbabnya berwarna Moca, senada dengan rok yang dikenakannya, sehingga jelas bercak bekas darah yang menempel di jilbab dan roknya.
"Astaghfirullah, Ra. Kamu kenapa?" tanya Nadia sambil memegang pundak Mutiara.
"Kenapa sih Nad?" tanya Mila. Namun saat Mila melihat pakaian Mutiara, Milapun juga terkejut.
"Yaa Allah, Ra. Kamu kenapa? Kamu abis kecelakaan?" tanya Mila.
Mutiara hanya diam, sambil menatap sendu kedua sahabatnya. Mutiara menjawab pertanyaan keduanya dengan menggelengkan kepala.
"Trus? Ini kenapa?" tanya Nadia.
"Kita masuk kelas aja ya. Aku lemes banget ini." kata Mutiara.
"Ehm. Apa kita perlu ke kantin?" tanya Mila.
"Ga usah. Ke kelas aja." kata Mutiara.
Mereka bertiga pun masuk kelas. Sesampainya di kursi tempat Mutiara biasa duduk, Mila dan Nadia pun mendekati Mutiara, mereka penasaran dengan cerita Mutiara.
"Ra, ada yang luka ga?" tanya Mila.
"Tadi pak Zio keliatan marah banget lho, Ra." imbuh Nadia.
"Ish, kamu nih Nad, Liat kondisinya Tiara dulu napa?" omel Mila.
"Ups, sorry, Ra." kata Nadia.
Mutiara pun menarik napas dalam, dia akan memulai ceritanya, mumpung dosen selanjutnya belum datang.
"Wajar sih pak Zio marah, Karena aku memang telatnya kebangetan." kata Mutiara.
"Sebenernya, tadi aku juga berangkat jam delapan udah diperjalanan, tapi..." kata Mutiara terpotong.
"Tapi kenapa Ra?" tanya Mila tidak sabar.
"Tapi tadi pas di jalan, aku ngelihat ada ibu-ibu paruh baya ketabrak motor, dan itu tepat di depanku. Terus si penabrak malah kabur melarikan diri. Jadilah, aku harus nolongin ibu itu, sampe dibawa ke rumah sakit, nunggu pihak keluarganya datang." kata Mutiara.
"Ya ampun Ra...gara-gara nolongin orang, kamu sampe ngorbanin nilai kamu Ra?" tanya Mila heran.
"Ya... mau gimana lagi Mil? Aku ga tega. Ngelihat ibu itu berlumuran darah, dan disekitar kejadian sepi, ga ada orang berani mendekat. Ya, hatiku terdorong buat nolongin Mil." kata Mutiara.
"Trus, keadaan ibu itu gimana sekarang?" tanya Nadia.
Namun, saat Mutiara akan menjawab, dosen datang. Merekapun kembali duduk ke kursi mereka masing-masing.
💞💞💞
__ADS_1
Dosen muda itu masuk ke ruang dosen sambil istirahat setelah sedari tadi pagi harus dihadapkan pada situasi yang kurang menyenangkan. Dosen muda itu kemudian menyandarkan tubuhnya di kursinya, sambil mengambil ponselnya dari dalam tas untuk melihat ada yang menghubunginya atau tidak. Ternyata ada banyak panggilan masuk dari kakaknya. Dan ada beberapa chat.
📩 Mbak ku
Zio, kamu dimana? Dikampus apa di kantor? Segeralah nyusul mbak ke RSUD, mama kecelakaan, ketabrak motor, ini lagi dirawat di IGD.
Isi pesan dari kakaknya seketika membuat Zio kembali pusing, setelah tadi dia menghadapi mahasiswanya yang tidak disiplin, dan kini dia syok, mendengar kabar tentang mamanya.
Lalu Zio menelpon kakaknya, untuk memastikan keadaan namanya.
📞"Halo, mbak."
"Halo Zio, kamu kemana aja? Di telpon ga diangkat-angkat dari tadi. Ini mama butuh kita, butuh kamu. Mama ini mau dioprasi Zio, tadi mama sempat kritis, tapi ini udah terlewati masa kritisnya. Soalnya tadi mama cepat dapet pertolongan." omel mbaknya dari seberang.
"Separah itu ya mbak, mama?" tanya Zio.
"Iya, udah, cepet kamu nyusul mbak ke rumah sakit. Nanti mbak ceritain. Yang jelas, ini mama butuh kamu." kata Nilam.
"Oya. Okey. Zio dari kampus kok mbak, langsung meluncur ke sana." kata Zio menutup panggilannya.
Zio pun segera keluar dari gedung dan berlari ke parkiran untuk mengambil mobil nya. Dia sangat khawatir dengan keadaan mamanya, sehingga dia segera melakukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
💞💞💞
Setelah jam perkuliahan selesai, Mutiara dan dua kawannya keluar kelas.
"Ra, lanjutin ceritanya dong." kata Mila.
"Hm... okeylah." kata Mila yang sudah hafal dengan sahabatnya satu ini.
"Nad, ke kantin dulu yuk. Laper nih." kata Mila.
"Yuk, aku juga laper." kata Nadia.
"Ra, kamu mau nitip apa?" tanya Nadia.
"Engga usah Nad, aku niat." kata Mutiara.
"Niat?" tanya Nadia yang masih belum terlalu hafal dengan kebiasaan Mutiara.
"Niat puasa Nad." kata Mila mencoba menjawab rasa penasaran Nadia.
"Oh...Sorry Ya Ra." kata Nadia.
"Santai aja. Ya udah, aku ke masjid dulu ya." pamit Mutiara.
"Ya Ra." kata kedua sahabatnya.
Saat Mutiara sudah sampai masuk, hendak mengambil air wudlu, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk.
📞Mas Salah sambung
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum." sapa Mutiara.
"Wa'alaikum salam. Tiara. Nanti pulang kuliah jam berapa?" tanya Dzen dari seberang.
"Sekitar jam setengah tiga dok." jawab Mutiara.
"Nanti saya jemput ya." kata Dzen.
"Ga usah dok, nanti saya nebeng temen aja." kata Mutiara.
"Tapi ini keluarga korban kecelakaan tadi, pingin ketemu kamu, Tiara." kata Dzen.
"Ehm, ya sudah, Tapi saya ditemenin dokter Dzen kan? Nanti saya nebeng temen aja ke Rumah sakitnya, kita ketemu di rumah sakit aja ya dok. Daripada dokter Dzen bolak balik." kata Mutiara.
"Oh, gitu ya. Okey." kata Dzen. Panggilan pun diakhiri.
Mutiara menjalankan ibadah sholat dzuhur terlebih dahulu, sebelum nanti jam satu siang, siang akan melanjutkan perkuliahannya sampai selesai.
💞💞💞
"Maaf dok, agak lama ya nunggunya?" tanya Mutiara sesampainya di lobi RSUD, tempat janjian Mutiara dengan dokter Dzen.
"Engga kok. Gapapa." jawab Dzen.
"Ya udah yuk, kita langsung masuk aja. Sudah ditunggu." kata Dzen. Mutiara dan Dzen pun berjalan beriringan menuju ruang rawat, tempat korban tabrak lari tadi dirawat.
"Tadi dianter siapa, Tiara?" tanya Dzen.
"Temen dok, namanya Nadia." kata Mutiara.
"Oh. Kirain pacar." canda Dzen.
"Bukan dok." jawab Mutiara.
Sesampainya di ruang rawat yang dimaksud, Dzen mengetuk pintu,
tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab seseorang dari dalam, lalu membukakan pintu.
"Oh, dokter. Dan mbak Mutiara. Silakan masuk." kata Nilam.
"Terimakasih mbak." kata Mutiara dengan tersenyum.
"Zi, ini lho mbaknya yang nolongin ibu." kata Nilam kepada adiknya.
Adik Nilam itu pun menoleh ke arah gadis yang dimaksud kakaknya. Dan betapa terkejutnya dia, gadis yang dimaksud adalah orang yang dikenalnya.
"Kamu?"
__ADS_1