Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Galau


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Zio dan Diego masuk rumah dan langsung menuju ruang TV, dimana Nilam sedang duduk disana bersama bu Suyamti.


"Kami pulang." kata Diego.


"Diego, Zio? Kalian udah pulang? Gimana tadi hasil ketemuan nya?" tanya Nilam sudah tidak sabar.


"Om Zio bakal cepet nikah mah." kata Diego sembarangan sambil duduk di sova depan TV mendekati omanya.


"Eh, sembarangan aja kamu Die, kan tadi om bilang, jangan dengerin kata-kata om Rey, malah kamu bilang ke mama sama oma." hardik Zio.


"Hahaha, ya sorry om. Keceplosan." kata Diego.


"Dasar kamu nih." omel Zio sambil berjalan ke ruang makan untuk mengambil segelas air mineral.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya bu Suyamti.


"Ceritain sama mama dan oma dong." pinta Nilam sambil ikut duduk di sofa.


"Tadi kita ketemuan sama bu Shanum mah, pembina pramuka di sekolahan Diego. Yang waktu itu dampingan Diego lomba PBB, ternyata bu Shanum mah yang dimaksud om Zio itu, dan ternyata om Zio suka sama bu Shanum." kata Diego jujur.


"Uhuk.uhuk." Suara Zio tampak tersedak. Semua mata tertuju pada Zio.


"Bagus dong. Brati sebentar lagi oma akan punya menantu perempuan." kata bu Suyamti sumringah, berjalan mendekati Zio yang sedang terbatuk-batuk.


"Minum yang tenang Zi." kata bu Suyamti sambil mengelus punggung anak bungsunya.


"Apa yang dikatakan Diego itu ga bener ma, jangan di percaya." kilah Zio.


"Eh, bener kok. Tadi kata om Rey juga gitu." Diego masih membela diri.


Bukannya mendapat penjelasan tentang hasil pertemuan mereka, justru Nilam mendapat celoteh dua laki-laki om dan keponakannya tentang jodoh. Sesuatu yang menggembirakan memang.


"Sudah sudah. Sekarang, ceritain deh, apa hasil dari pertemuan kalian." kata Nilam tidak terlalu mengindahkan kata-kata anaknya. Karena dalam hati Nilam, masih nama yang sama until bisa menjadi pendamping hidup adiknya, yaitu Mutiara Hati.


"Ehm, Shanum bisa bantu mbak. Menurut dia, langkah kita ini bener, aku ga turun tangan langsung. Jadi nanti Shanum akan bekerjasama dengan temannya yang bertugas bertanggung jawab di asrama putra. Serta dia juga akan menyelidiki di Sekolah SMAnya juga tentang latar belakang anak itu." kata Zio menjelaskan.


"Alhamdulillah. Bagus dong." jawab Nilam bahagia.


"Mama." panggil Diego.


"Diego berhenti aja ya mah sekolah asramanya." kata Diego.


"Sayang, kamu yakin?" tanya bu Suyamti yang sudah kembali duduk di ruang TV lagi.


"Dulu kan kamu yang minta tinggal di asrama. Biar mandiri." kata Nilam.


"Itu dulu mah, sekarang engga. Diego mau pindah sekolah aja." kata Diego dengan wajah sendu.


"Kamu mau pindah sekolah?" tanya Zio tiba-tiba tak percaya.


"Diego takut mah. Diego ga mau di sekolahan itu lagi." kata Diego.

__ADS_1


"Die, kan udah mau diurus bu Shanum, kenapa masih takut?" tanya Zio.


"Tetep aja om, Diego mau sekolah umum jaa, biar bisa nemenin mama di rumah." kata Diego memberi alasan yang masuk akal.


"Okey sayang, nanti akan mama urus." kata Nilam senang, akhirnya putra tunggalnya berkenan menemani dirinya di rumah.


"Kalau Diego keluar dari sana, berarti tidak ada alasan bagiku ketemu Shanum lagi? Ya sudahlah, yang penting ada nomernya." batin Zio.


💞💞💞


Dzen berjalan mengikuti langkah kakinya berjalan menuju kantin. Siang itu Dzen memang belum makan siang, tadi seusai sholat dzuhur, dia sengaja menjenguk Mutiara dulu, melihat keadaanya. Ternyata sudah ada teman kuliahnya yang menemani, sehingga dia memilih keluar untuk mencari makan terlebih dahulu.


"Bu, timlo ya. Satu, sama lemon tea." kata Dzen kepada ibu kantin langganannya.


"Siap mas dokter." jawab ibu itu.


Tak menunggu waktu lama, pesanan sudah diantar di meja tempat Dzen duduk.


"Silakan mas dokter." kata ibu kantin.


"Terimakasih bu." jawab Dzen.


Namun, timlo didepannya hanya dia aduk-aduk saja, tidak segera dimakan.


"Hei bro." sapa Bayu.


"Astagfirullah." spontan Dzen terkaget dan melayangkan tangannya pada lengan sahabatnya.


"Elo, ngagetin aja." lanjut Dzen.


"Gapapa." kata Dzen sambil menyeruput lemon tea nya.


"Yakin?" tanya Bayu tak percaya.


"Hem." jawab Dzen tak berselera.


"Itu soto kayaknya nganggur ya? Buat gua aja ya. Cuma diaduk aja kagak dimakan." kata Bayu rese sambil mengambil mangkuk timlo dihadapan Dzen.


"Enak aja lu, pesen sendiri aja sana." kata Dzen sewot.


"Okey." kata Bayu tanpa pikir panjang.


"Bu, menu yang sama kaya punya Dzen ya." kata Bayu.


"Siap mas Dokter." jawab ibu kantin.


"Makannya, jangan ngelamun. Gegana lo ya?" goda Bayu.


"Gegana? Apaan tu?" tanya Dzen.


"Dasar dokter kudet! Kalo kata bini gue ni ya, Gegana itu, Gelisah Galau Merana." kata Bayu sambil memberikan ejaan.

__ADS_1


"Sok tau lo!" kata Dzen ketus.


Pesanan Bayupun datang, lalu Bayu melanjutkan pertanyaannya.


"Eh, Betewe, gimana tu pasien cantik elo? Udah baikan belum?" tanya Bayu yang sudah tau, bahwa Dzen merawat Mutiara. Bayu sahabat Dzen, yang senantiasa menjadi tempat curhat Dzen tentang apapun itu. Karena bagi Dzen, Bayu adalah orang terpercaya yang sangat pandai menyimpan rahasianya, dan suka memberi solusi.


"Maksud elo? Tiara?" tanya Dzen.


"Ya iyalah. siapa lagi?" jawab Bayu.


"Udah sehat." jawab Dzen datar sambil memasukkan sesendok timlo kedalam mulutnya.


"Alhamdulillah." kata Bayu sambil menatap wajah sahabatnya.


"Ehm, pantesan lo galau, pasien nya udah sembuh, udah mau pulang sih." kata Bayu masih menggoda.


"Apaan sih lo? Bukan itu alasannya." jawab Dzen.


"Terus? Apa dong?"tanya Bayu.


"Ehm. Dulu, pas lo deket sama Kayla, Ada saingan nya engga?" tanya Dzen.


"Oh, jadi itu masalah nya? Hahaha Elo dapet saingan?" tanya Bayu sambil tertawa.


"Malah ketawa. Seneng lo liat sahabatnya susah?" tanya Dzen.


"Lagian, elo nih lucu. Kaya ga pernah pacarana aja sih lo? Emang, dulu elo pas mau dapetin hati Lala, elo sendiri? Elo punya saingan juga kan?" tanya balik Bayu.


"Kan beda ceritanya. Si Lala itu cewek cantik, modis, centil, kaya, wajar lah banyak saingan gue. Lha ini, Gadisnya sederhana, jarang jalan sama cowok, tertutup pake jilbab, pendiem. Gue pikir kan, dia itu ga ada yang naksir." kata Dzen.


"Elo salah bro. Justru jaman sekarang, cewek yang diincer banyak cowok itu justru yang kaya pasien kesayangan elo ini. Banyak yang ngantri buat siap samperin ortunya, dan nikahin dia. Ga cuma sekedar macarin doang." kata Bayu.


"Gitu ya?"


"Terus, gue harus gimana?" tanya Dzen galau.


"Hahaha, gue kaya ga kenal sosok Dzen lagi deh sekarang." ejek Bayu.


"Sialan lo!" umpat Dzen sambil melayangkan sendok nya di kepala Bayu.


"Ish, sensi amat lo? Lagi dapet ya lo? Hahaha." kata Bayu lagi masih dengan bercanda.


"Dasar lo ya Bay, diajak curhat malah ngeledek mulu. Ya udahlah, gue mau balik aja." kata Dzen sewot.


"Hahaha, just keed brow. Sorry sorry. Duduk lagi dah, nikmatin lagi tuh timlonya, mubadzir kalo ga diabisin." kata Bayu.


"Ya elo yang sabar bro. Elo harus tunjukin sikap peduli lo, perhatian elo dan elo juga harus siap untuk serius sama dia. Temuin ortunya, lamar, nikah. Happy ending." kata Bayu dengan santainya.


"Gitu ya?" gumam Dzen.


"Coba aja!" kata Bayu.

__ADS_1


💞💞💞


Yuk Dzen, tunjukkan semangatmu. Gimana kelanjutannya, simak episode selanjutnya ya.


__ADS_2