Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Pasrah


__ADS_3

Disebuah kampus negeri, seorang pria berbadan maskulin, dengan berwajah putih dan berhidung mancung, serta bermata Elang. Pria itu mengenakan setelan celana dan jas berwarna navy dan kemeja biru langit, dipadukan dengan sepatu pantofel hitam menjinjing tas kantornya. Pria itu berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas Prodi PGPAUD dia akan dihadapkan dengan mahasiswa yang didominasi para wanita.


"Assalamualaikum." ucap Zio diruangan yang baru saja dia masuki sambil membuka pintu kelas.


"Wa'alaikum salam pak." jawab para mahasiswa serempak.


"Selamat pagi semuanya." sapa Zio lagi.


"Selamat pagi pak." suara koor oleh penghuni kelas PGPAUD.


"Okey, hari ini kita lanjutkan untuk perkuliahan kita." kata Zio sambil membuka leptopnya.


"Baik pak." seluruh mahasiswa menjawab dengan bersama.


Zio pun membuka daftar nilai, untuk mengabsen jadwal siapa selanjutnya yang akan persentasi hari ini.


"Mutiara Hati." panggil Zio.


Hening. Tak ada jawaban, hanya bisik-bisik penghuni ruangan, yang saling tengok kanan dan kiri.


"Tiara, kamu kemana sih?" batin Mila teman dekat Mutiara di kelas dengan panik.


"Sst, Mil, Tiara mana?" bisik Nadia yang duduk disampingnya.


"Ga tau Nad, dia ga kasih kabar. Tadi aku chat juga ga dibales." jawab Mila berbisik.


"Ya ampun... Tiara. Ga biasanya deh kamu telat begini." gumam Nadia.


"Mutiara Hati." kembali Zio menyebut nama mahasiswanya. Sambil menyapu pandangan di hadapannya, berharap pemilik nama segera berdiri dan berjalan ke depan kelas.


"Mutiara belum datang pak." jawab Mila.


"Belum datang?" tanya Zio mengernyitkan keningnya. Baru kali ini, ada mahasiswa di jam mata kuliahnya terlambat, padahal dirinya jadwal persentasi.


"Hm, baru kali ini ada mahasiswa berani terlambat di jam mata kuliah saya. Dari awal saya sudah memberi ultimatum, bahwa untuk mata kuliah saya, tidak boleh ada yang terlambat, dengan alasan apapun. Dan tidak diperkenankan bermain ponsel. Kalian semua paham?" tanya Zio dengan tatapan yang sedang menahan Amarah.


"Paham pak." jawab serentak seisi ruangan.


"Aduh Ra, kamu kemana sih? Bisa terancam kan beasiswa kamu. Duh... kenapa pula kamu Ra...ga biasanya begini." batin Mila panik. Rasanya ingin sekali menelpon sahabatnya itu, tetapi dia urungkan. Karena dosen satu ini memang killer, kalau sampai ketahuan bermain ponsel di jam mata kuliahnya, bisa disita ponselnya, dan akan dikembalikan pada akhir semester.


"Okey. Sambil menunggu yang harusnya persentasi hari ini, saya akan lanjutkan materi terlebih dahulu." kata dosen menejemen pendidikan itu.


💞💞💞

__ADS_1


Digedung RSUD, tepatnya diruang IGD, seorang gadis mondar mandir sambil memilih ujung jilbabnya.


"Hm...duh... Gimana ini? Udah jam 9, pak dokter itu belum juga keluar. Apa aku tanya suster untuk pinjam kunci mobilnya pak dokter. Ah, rasanya ga sopan deh. Hem... mana ini pelajarannya pak Zio lagi. Ah... yaa Allah, gimana ini?" batin Mutiara.


"Permisi suster, saya pihak keluarga korban tabrak lari tadi." seorang wanita dewasa tampak panik menghadap petugas pendaftaran.


"Oh, iya bu. Pasien ibu-ibu yang dibawa dokter Dzen?" tanya petugas.


"Ehm, iya kayaknya.Pokoknya korban kecelakaan tabrak lari, ibu-ibu paruh baya. Itu ibu saya sus." kata wanita itu.


Mutiara yang mengetahui kedatangan pihak keluarga korban, segera berjalan menghampiri.


"Assalamualaikum, mbak. Saya Mutiara, yang tadi membawa ibu anda ke sini." kata Mutiara memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Wa'alaikum salam. Oya mbak. Terimakasih banyak mbak. Saya Nilam. Anka dari ibu yang tadi korban tabrak lari." jawab wanita itu menerima uluran tangan Mutiara.


"Tapi mohon maaf mbak, karena ibu tidak membawa identitas, jadi saya belum mendaftarkan nama ibu di formulir pendaftaran. Mbak bisa mengisi formulirnya dulu mbak." kata Mutiara ramah.


"Oh, ya. Terimakasih mbak." kata Nilam.


Nilam pun mengisi formulir pendaftaran. Lalu Nilam pergi menuju ruang IGD, tempat ibunya sedang ditangani. Saat Nilam mau masuk ruangan, Dokter Dzen keluar.


"Tiara." panggil Dzen.


"Pihak keluarga korban sudah datang?" tanya Dzen.


"Sudah Dokter." jawab Mutiara.


"Ini anaknya." lanjut Mutiara sambil menggandeng Nilam.


"Ya dok, saya anaknya bu Suyamti." kata Nilam.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Nilam.


"Oh, ya. Alhamdulillah, syukurlah ini tadi langsung mendapat pertolongan dan penanganan mbak. Karena ibu anda mengalami luka cukup serius di bagian kepalanya. Tadi pasien sempat mengalami pendarahan, namun alhamdulillah, ini tadi langsung ditangani, dan InshaaAllah nanti akan saya rujuk pada dokter sayaraf dan dokter bedah, untuk memeriksa lebih lanjut keadaan beliau." kata Dokter Dzen.


"Yaa Allah ibu..." kata Nilam pilu.


"Dok, apa saya boleh melihat keadaan ibu saya?" tanya Nilam.


"Oh,ya silakan." jawab Dzen memberikan jalan.


" Saya permisi dulu ya mbak Mutiara." kata Nilam.

__ADS_1


"Ya mbak." jawab Mutiara.


Sepeninggal Nilam ke dalam, Mutiara memberanikan diri bertanya pada Dzen terkait tas nya yang tertinggal di mobil.


"Ehm... Dokter Dzen..." panggil Mutiara ragu.


"Ya Tiara?" jawab Dzen.


"Kok dia panggil saya Dokter ya? Apa karena saya sedang dinas, jadi dia tak enak memanggil mas?" batin Dzen.


"Ehm... Maaf dokter. Tas saya ketinggalan di mobil dokter, boleh minta tolong dibukakan dulu mobilnya? Saya ada jam kuliah ini." kata Mutiara.


"Oh ,ya ampun. Tentu boleh Tiara. Mari, saya antar." kata Dzen, kemudian berjalan menuju mobilnya yang diparkirkan di tempat parkir karyawan.


Setelah tas Mutiara sudah diambil, Mutiara mohon ijin untuk pamit kuliah terlebih dahulu.


"Maaf dokter, saya pamit dulu ya. Sudah terlambat ini." kata Mutiara.


"Saya antar ya." kata Dzen membuka kunci mobilnya.


"Oh, tidak perlu dok, saya naik ojol aja." kata Mutiara.


"Tidak Tiara, saya antar saja. Nanti kamu tambah terlambat." kata Dzen.


"Maaf dok, kalo ojol kan nanti bisa gebut dok, jalanan kan lumayan macet." kata Mutiara.


"Ya udah, kalo gitu, saya antar. Ayo." kata Dzen sambil berjalan keluar parkiran.


Mutiara yang bingung, hanya mengikut saja di belakang Dzen.


"Pak Sidiq, saya pinjam motornya bentar ya." kata Dzen kepada scuriti di RSUD.


"Oh, ya pak dokter. ini kuncinya pak." kata pak Sidiq.


"Ayo Tiara." kata Dokter Dzen sambil menaiki motor Revo milik scuriti yang diparkirkan didekat pos satpam.


"Eh, Ya dok." kata Mutiara, lalu duduk di jok belakang.


"Pegangan ya, saya akan gebut ini" kata Dzen.


"Ya dok." jawab Mutiara.


Sepanjang jalan Mutiara panik dengan tugas kuliahnya hari ini. Khawatir dengan nasibnya hati ini, akankah dosen killer bermata elang itu bisa memaafkan nya atau tidak, karena dia ingat betul, diawal perkenalan dosen itu sudah mengultimatum, bahwa dia tidak mentoleransi mahasiswa yang datang terlambat.

__ADS_1


"Hhh...Yaa Allah... mudahkanlah yaa Robb. Saya tidak sengaja terlambat, karena saya menolong orang yang sakit yaa Allah. Mudahkanlah urusan saya yaa Allah." Batin Mutiara sepanjang jalan.


__ADS_2