Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Dokter Cinta


__ADS_3

Disaat Mutiara sedang menyuapi Dzen, yang tangan kanannya masih sakit, dan tangan kirinya diinfus, tiba-tiba pintu diketuk. Dan masuklah dua orang yang tak disangka mereka datang menjenguk.


"Assalamualaikum." salam mereka.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara dan Dzen bersamaan sambil menoleh ke arah pintu.


"Shanum?" seketika Dzen terkejut dengan kedatangan Shanum bersama suaminya, Zio.


"Aduh, aduh. Kayaknya kita ke sini nya ga tepat deh sayang, kita kayaknya ganggu momen Romantis mereka." kata Shanum yang merasa tak enak hati masuk ruangan itu, dan melihat Mutiara sedang menyuapi Dzen.


"Eh, engga kok mbak, mbak Shanum ini apaan sih, ayo masuk mbak." kata Mutiara yang langsung menyambut Shanum dan menggandengnya ke dekat hospital Bed. Dan Zio hanya mengikuti dari belakang istrinya sambil membawa bingkisan buah, yang kemudian dia letakkan di meja dekat sofa jaga.


"Kalian kok bisa sampai di sini? Siapa yang ngasih tau?" tanya Dzen penasaran.


"Adik sepupu gue. Ifa." kata Shanum.


"Ifa?" kening Dzen mengernyit tak mengerti, lalu menoleh ke arah Mutiara, mencari jawaban dari Mutiara, namun Mutiara juga menggeleng, tak tau.


Mengetahui isyarat itu, Shanum kemudian menjelaskan asal muasal dia tau Keberadaan Dzen dan Mutiara di rumah sakit ini.


"Ifa itu adik sepupu gue. Dia pacaran ya Kenzo, adik sepupu nya Tiara. Yang ngasih tau Kenzo." kata Shanum menjelaskan.


"Oh..." jawab Dzen dan Mutiara bersamaan.


"Jadi, Kenzo yang ngasih tau?" tanya Dzen.


"Iya."


"Emang lo sakit apa Dzen? Katanya kecelakaan? Kok bisa? Dimana?" tanya Shanum.


"Ya, biasalah. Cuma nyium Marka jalan doang. karena ngantuk." kata Dzen sambil meringis kuda.


"Ya elah, sepele banget sih? Makannya, kalo ngantuk tu tidur, bukan nyetir." kata Shanum mengomel.


"Ya makannya itu."


"Eh, betewe, kalian dah tunangan ya?" tanya Shanum.


"Tau dari mana lo?" tanya Dzen.


"Adalah." jawab Shanum.


"Nyebelin banget sih lo." gerutu Dzen.


"Kapan kalian tunangan? Kenapa ga undang-undang?" tanya Zio yang sedari tadi hanya diam saja.


"Kemarin lusa mas." jawab Dzen.


"Maaf pak, kemarin acaranya hanya sederhana kok pak, InshaaAllah nanti kalau sudah tiba hari H, kami undang pak Zio sekeluarga." kata Mutiara menjelaskan.


"Oh. gitu? Emang kapan ijab qobulnya?" tanya Zio.


"InshaaAllah tanggal 25 bulan depan pak." jawab Mutiara.


"What? Ini udha tanggal 30 lho, bulan depan berarti ga nyampe sebulan dong." kata Shanum menyimpulkan.


"Iya Num, kenapa lo? Kaget? Biasa aja lah." kata Dzen.

__ADS_1


"Serius lo? Proses secepat itu? Langsung resepsi juga?" tanya Shanum.


"Iya mbak, InshaaAllah." jawab Mutiara.


"Wah, cakep." komentar Zio.


"Iya sih, cakep, keliatan banget elo ga sabaran tu Dzen." komentar Shanum.


"Enak aja, ini atas permintaan orangtua kita, kita mah cuma ngikut, ya kan Ra?" kata Dzen membela diri.


"Iya mbak."


"Keren... Ya udah, semoga diberi kelancaran sampe hari H ya. Tapi ga tau, nanti gue bisa hadir apa engga, soalnya bulan depan, gue juga udah masuk HPL." kata Shanum sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Oiya, mbak Shanum HPL bulan depan ya?" tanya Mutiara yang memang sudah tau HPL Shanum, saat dia melakukan penelitian di sekolahan Shanum.


"Iya Ra."


"Ya gapapa, yang penting kita saling berdoa'a aja lah." kata Dzen.


"Oya, itu tangan lo kenapa? Manja bener, makan aja disuapin." kata Shanum mengejek.


"Kenapa sih say? Kamu cemburu?" tanya Zio.


"Eh, engga sayang. Aku ga cemburu, aku cuma..."


"Cuma apa? Kamu masih suka ya sama Dzen?" tanya Zio yang sebenarnya dia tau, kalau istrinya benar-benar sudah move on dari Dzen, tetapi ini hanya akal-akalan Zio saja untuk menggoda istrinya.


"Ih. sayang. Suer deh, aku ga ada rasa apapun sama Dzen, lagian Dzen juga udah ada Tiara, dan aku jelas udah ada kamu kan, nih buktinya, hasil cinta kita." kata Shanum mencoba meyakinkan Suaminya.


"Tapi kan... CLBK masih bisa saja terjadi." kata Zio dingin.


Dzen dan Mutiara hanya tersenyum melihat kelakuan dua pasutri yang sedang saling merajuk.


"Jangan gitu lah bikin kepingin yang masih belum halal nih." kata Dzen.


"Hem, mas Dzen pergelangan tangan namanya patah mbak, dan tangan kirinya diinfus, jadi mau ga mau makannya harus di suapi dulu." kata Mutiara memberi penjelasan.


"Oh. gitu?" tanya Shanum.


"Hm..." Zio hanya berdehem.


"Sayang, jangan gitu lah." kata Shanum masih merajuk.


Dzen dan Mutiara melihat mereka hanya tersenyum saja.


"Hehe, iya. Santai aja sayang. Mas ngerti kok, kamu kan emang cintanya sama mas." kata Zio sambil menarik tubuh istri nya ke dalam pelukannya." kata Zio.


"Hadeh... kalo mau mesra mesraan jangan disini napa?" kata Dzen sambil memalingkan pandangannya.


"Kenapa? Pingin ya?" tanya Shanum meledek.


"Kan udah ada wanitanya disitu, kenapa masih ngiri?" tanya Shanum.


"Ya beda lah, ini belum sah, ga boleh sembarang peluk." kata Dzen.


Seketika Shanum melepas pelukan dari Zio, dia bari sadar bahwa pasangan Dzen memang bukan seperti gadis pada umumnya, yang belum sah sudah mau di peluk, disentuh.

__ADS_1


"Sorry." kata Shanum.


"Kita ini baru khitbah, belum nikah. Karena khitbah bukanlah Nikah. Beda!" kata Dzen menjelaskan.


"Kalo sampe aku ngelakuin hal yang sama seperti kalian, dosa yang nanggung kalian ya, abisnya kalian manas manasin sih." kata Dzen sewot.


"Enak aja, dosa ditanggung sendiri dong." kata Shanum tidak terima.


Mutiara hanya tersenyum saja menanggapi orang-orang yang ada di ruang rawat itu.


"Tiara, giman skripsi nya?" tanya Shanum.


"Alhamdulillah lancar mbak. Kemarin kamis sudah sidang, dan alhamdulillah lulus." kata Mutiara.


"Alhamdulillah. Memang kalau bimbingan sama pak Nico itu dipermudah Tiara, ditambah lagi kamu mampu, kamu punya potensi, jadi gampang aja untuk melalui itu." kata Zio.


"Iya pak."


"Oya, kalo elo, udah lulus juga PPDS nya?" tanya Shanum.


"Udah dong." jawab Dzen.


"Makannya, pernikahan kita disegerakan, biar nanti kalo wisuda, kita dah boleh bawa pasangan yang sah." kata Dzen.


"Oh, gitu ya? Ada misi rupanya?"


"Ya begitulah."


Lalu merekapu. mengobrol banyak, hingga kam besuk selesai, Zio dan Shanum mohon ijin untuk pamit pulang.


"Cepet sembuh lo. Kasian Tiara, jagain elo terus nanti tambah kurus gimana?" goda Shanum.


"Iya, makasih." jawab Dzen.


"Lekas sembuh ya, kan udah ada dokter cinta, harus cepat sembuh lah." goda Zio.


"Tiara, jaga Dzen ya. Semangat, jaga kesehatannya." pesan Shanum kepada Mutiara.


"Iya mbak. InshaaAllah." jawab Mutiara.


Setelah itu, Zio dan Shanum pulang. Mutiara yang tadi sempat ijin sholat, disaat ada kedua tamunya, kini Mutiara ijin makan siang terlebih dahulu. Makan, makanan yang dibelikan Kenzo tadi pagi.


"Tiara."


"Ya mas?


"Terimakasih ya."


"Untuk?"


"Semuanya."


"Termasuk kamu mau nerima lamaran mas. Mas udah khawatir banget kalo kamu akan memilih Yusuf, atau laki-laki lain. Karena ilmu agamaku tak seberapa." kata Dzen melo.


"Mas, setiap insan punya kesempatan untuk berbenah diri, Allah saja memberi kesempatan hambanya untuk bertaubat. Tidak ada kata terlambat untuk kita berubah mas. Tiara yakin, mas adalah laki-laki pilihan Allah untuk Tiara. Kita akan belajar sama sama ya mas, untuk meraih JannahNya." kata Mutiara lembut.


"Aku beruntung Ra. Terimakasih." kata Dzen.

__ADS_1


"Hem."


Merekapun saling membisu, hingga makanan Mutiara habis. Dzenpun tertidur pulas, karena pengaruh obat yang tadi diminumnya.


__ADS_2