
Mutiara Hati sudah mulai menjalani hari-harinya seperti dulu lagi, setiap dini hari selalu bangun untuk bersiap ke pasar, dan membantu bu Kanti melayani pembeli. Kalau biasanya hanya sampai jam tujuh pagi, namun, kali ini Mutiara harus bekerja hingga waktu dzuhur. Karena teman kerjanya, Mbak Ipah sedang tidak bisa masuk kerja. dan kebetulan Mutiara juga belum mulai kuliah.
"Ya Ampun mbak Tiara, lama banget ga ketemu ya. Mbak Tiara apa kabar? Tak kirain mbak Tiara udah ga kerja disini lagi." kata salah seorang pelanggan ibu-ibu yang suka banyak tanya.
"Alhamdulillah, baik bu. Iya, kemarin saya pulang kampung dulu kok bu." jawab Mutiara ramah.
Siang itu setelah sholat dzuhur, Mutiara sudah tutup warung bersama bu Kanti, lalu Mutiara pulang ke kosan nya, dan beristirahat. Sore harinya, Mutiara berniat untuk menjenguk Shanum di rumah sakit, karena kemarin dia belum sempat bertemu dengan Shanum, Mutiarapun menggunakan ojek online untuk menuju ke rumah sakit. Dan menuju pusat informasi, untuk menanyakan keberadaan Shanum, apakah masih di ICU ataukah sudah pindah ruangan.
"Maaf pak, pasien atas nama Shanum masih diruang ICU apa sudah pindah?" tanya Mutiara.
"Sebentar ya mbak. Saya cek dulu." jawaba petugas.
"Ya pak."
"Atas nama Shanum, sudah dipindah ke ruang rawat VIP 2 ya mbak, di lantai empat." kata petugas.
"Oh, baik. Terimakasih pak."
"Sama-sama."
Mutiarapun segera menaiki lift menuju lantai empat. Sesampainya di lantai empat, Mutiara berpapasan dengan dokter Andi, sahabatnya Dzen, namun Mutiara belum mengenal dokter Andi, sehingga Mutiara hanya tersenyum menyapa tanpa kata. Begitupun dengan Andi yang membalas sapaan itu dengan senyuman dan anggukan saja.
"Ini kan Tiara, cewek yang deket sama Dzen, ngapain di jam besuk gini dia ke sini? Siapa yang sakit? Kayaknya gue harus bilang sama Dzen." batin Andi.
Sesampainya di ruangan tempat Shanum di rawat, Mutiara mengetuk pintu dan dibukakan oleh tentenya Shanum, bu Mia.
"Assalamualaikum." salam Mutiara.
"Wa'alaikumsalam. Eh, mbaknya yang kemarin ya? Mbak..." kata bu Mia mengingat ingat.
"Tiara." jawab Mutiara.
"Oh, ya. Mbak Tiara. Ada apa ya mbak?" tanya bu Mia.
"Ehm, boleh saya menjenguk mbak Shanum bu?" tanya Mutiara ramah.
"Oh, tentu, silakan." kata bu Mia memeprsilakan Mutiara masuk. Dan saat di dalam, Mutiara melihat Shanum sedang memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum mbak Shanum." salam Mutiara.
"Wa'alaikumsalam. Kamu?" jawab Shanum dengan heran.
"Kamu ngapain ke sini? Darimana kamu tau aku ada di sini?" tanya Shanum terkejut dengan kedatangan Mutiara.
__ADS_1
"Lhoh, kamu ni gimana Num, mbak nya ini kemarin udah ke sini bareng mas Dzen, niatnya mau jenguk kamu, tapi kamu masih koma. Terus pas kamu udah sadar, dia pulang, karena diajak mas Dzen pulang." kata bu Mia.
Shanum kembali terkejut, dengan jawaban tantenya.
"Kamu? Kemarin bareng Dzen?" tanya Shanum.
"Iya mbak. Kemarin kebetulan saya pas lagi bersama mas Dzen, saat tantenya mbak Shanum menelpon. Makannya, kita langsung ke rumah sakit." jawab Mutiara.
"Dzen dari Solo lagi?" tanya Shanum.
"Mbak Shanum tau?" tanya Mutiara heran.
"Pekan lalu dia dari Solo kan, kenapa kemarin dia ke Solo lagi? Dzen udah ngelamar kamu?" tanya Shanum.
"Ehm, kemarin itu, kebetulan mas Dzen ada acara kampus, dan sekalian nganterin Tiara pulang kampung mbak. Kalau kemarin... entah, saya juga ga tau, mas Dzen tiba-tiba datang ke rumah untuk menjemput saya kembali ke Semarang." kata Mutiara.
Shanum tersenyum kecut.
"Beruntung ya kamu?" kata Shanum dengan memalingkan pandangannya.
"Mbak Shanum berhak kok bersama mas Dzen. Tiara ga akan menghalangi kalian. Mbak Shanum suka kan sama mas Dzen?" kata Mutiara mengerti arah perkataan Shanum.
"Ga usah. Percuma juga. Dzen itu udah milih kamu sebagai wanita pilihannya. Dan bukan Aku!" kata Shanum menunjuk Mutiara dengan telunjuknya.
"Num..." kata bu Mia mencoba mengingatkan Shanum agar dia bisa mengendalikan emosinya.
"Maksud mbak Shanum?" tanya Mutiara yang tak mengerti.
"Dzen itu laki-laki baik, Tiara. Dia itu dari dulu selalu tulus dalam melakukan Segala sesuatu, termasuk dalam hal mencintai. Dan dia juga sangat jujur dengan perasaannya, termasuk perasaannya ke kamu. Dzen sudah beberapa kali pacaran Tiara, dan sudah beberapa kali juga dia dicampakkan oleh mantan-mantannya." kata Shanum.
"Dan aku harap, kamu mau menerima Dzen, dan tidak mencampakkannya seperti halnya para mantannya." lanjut Shanum.
"Maaf mbak, Tiara belum paham." kata Mutiara masih bingung.
Shanum menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Hm... Dzen itu tulus mencintai kamu Tiara. Percuma juga kamu mengalah untukku, karena Dzen ga pernah suka sama aku, dia ga pernah cinta sama aku, karena dia hanya menganggap ku Sahabatnya. Ga lebih." kata Shanum.
Mutiara hanya diam membisu.
"Tiara, ada banyak mantan Dzen yang mencoba balikan sama dia, tapi Dzen bukan tipe cowok yang suka CLKB, dia akan membuang jauh masa lalunya yang pahit, dan masa depannya itu adalah kamu. Kenapa dia lebih memilih mengatakan perasaannya pada bapakmu dulu, sebelum mengatakannya padamu, karena dia sudah berpengalaman sering ditolak orangtua pacaranya, sehingga dia sakit hati dan patah hati. Cintai dia Tiara, cobalah kamu belajar untuk menerimanya, karena bapakmupun sudah menerimanya bukan?" kata Shanum panjang lebar.
"Mbak Shanum tau banyak tentang mas Dzen?" tanya Mutiara.
__ADS_1
"Aku sahabatnya, sebelumnya dia ga tau kalo aku suka sama dia. Makannya dia terbuka sama aku, dan sepulang dari Solo pekan lalu, kami banyak bercerita saat kami perjalanan ke Jakarta. Makannya aku tau banyak hal tentang Dzen, karena Dzen itu bukan seorang cowok yang munafik, bukan cowok yang suka menyembunyikan sesuatu." kata Shanum.
"Tapi mbak Shanum?" tanya Mutiara.
Shanum tersenyum tulus,
"Kamu tenang aja, Jodoh udah ada yang ngatur. Termasuk tentang jodohku." kata Shanum tulus.
"Pak Zio?" tanya Mutiara.
"Oh iya, aku lupa. Kamu kan Mahasiswa kesayangannya ya?" tanya Shanum dengan senyum mengejek.
"Bukan mbaak, saya hanya mahasiswa biasa." jawab Mutiara menunduk.
Shanum kembali tersenyum ramah.
"Kamu sangat beruntung, karena kamu sangat diperhatikan dua laki-laki baik, dan setia." kata Shanum.
"Tetapi pak Zio mencintai mbak Shanum kan?" tanya Mutiara.
"Aku masih ragu." jawab Shanum.
"Pak Zio itu laki-laki baik mbak. Keluarganya juga orang baik. Beliau laki-laki yang sulit jatuh cinta mbak, bertahun-tahun dia menutup diri dari perempuan, hingga akhirnya dia jatuh cinta sama mbak Shanum." kata Mutiara.
"Tau banget kamu tentang cowok arogan itu?" tanya Shanum.
"Mbaknya yang cerita mbak." jawab Mutiara.
"Sedekat itu kamu sama keluarganya? Jangan-jangan sebenarnya kamu yang bakal jadi istrinya?" kaya Shanum lagi.
"Saya mau fokus kuliah dulu mbak. Saya memang dekat dengan keluarga pak Zio, karena itu atas permintaan mamanya pak Zio. Tetapi, kami tidak ada hubungan khusus." jawab Mutiara.
Shanum hanya diam membisu.
"Mamanya pak Zio sangat menginginkan pak Zio segera menikah mbak. Dan saya rasa, mbak Shanumlah jodoh yang tepat untuk pak Zio. Tetapi, jika hati mbak Shanum masih menginginkan mas Dzen, saya akan coba utuk menyampaikan pada mas Dzen, agar mas Dzen berkenan mencintai mbak Shanum" kata Mutiara.
"Ga usah. Aku akan memilih untuk dicintai, daripada harus mencintai." kata Shanum singkat.
"Maksudmu Num?" tanya bu Mia terkejut dengan wajah bahagia.
Shanum menoleh pada tantenya, lalu kembali berkata pada Mutiara.
"Lanjutkan saja hubunganmu dengan Dzen. Dan jangan pernah paksa dia untuk mencintaiku. Karena kami akan tetap menjadi sahabat selamanya." kata Shanum tersenyum tulus.
__ADS_1
Mutiara terkesima.
"Aku akan mencoba menerima Zio." kata Shanum dengan tersenyum tulus.