
Selesai makan, Mail mengantar Mutiara kembali pulang, sesampainya di halaman rumah Mutiara, Mail kembali memanggil Mutiara.
"Tiara." panggil Mail.
"Ya?" jawab Mutiara sambil menstandatkan motornya.
"Kamu, udah punya pacar belum?" tanya Mail.
"Kenapa? Mau daftar jadi calon pacarku?" tanya Mutiara bergurau.
"Hehe, masih ada lowongan ga?" tanya Mail cengengesan.
"Belum dibuka pendaftaran. Jelas?" tanya Mutiara.
"Maksudnya? Kamu masih jomblo?" tanya Mail.
"Sudah malam, segera pulang, aku mau packing." kata Mutiara mengusir.
"Heleh, bukane dijawab malah ngusir." kata Mail sewot.
"Eh, tapi... boleh dong aku daftar jadi calon pacarmu." kata Mail memajukan kepalanya di atas stang motornya.
"Hem... kayaknya kamu itu cowok ganteng ya, banyak kan cewek yang ngantri? Kenapa malah nyari cewek yang ga ngantri?" tanya Mutiara mencoba bersabar menghadapi sahabatnya.
"Hehe, kan, kamu unik." kata Mail lagi.
"Emang aku batu giok, unik. Wis, sana pulang." kata Mutiara lagi.
"Okey, nanti kalau pendaftarannya udah dibuka, aku dikabari ya Ra." kata Mail sambil menggenjot motor Vespanya. Mutiara tak bergeming, dan hanya melipat tangan di dadanya sambil menarik napas dalam. Hingga Mailpun pergi dari halaman rumahnya sambil melambaikan tangan.
Malam itu, sepulang dari makan bareng sahabat kecilnya, Mutiara sudah bersiap dengan segala barang yang akan dia bawa berangkat ke Semarang, mulai dari pakaian, oleh-oleh dan barang lainnya.
"Nduk, kamu yakin besok berangkat sendirian?" tanya pak Bowo lagi.
"InshaaAllah Yakin pak." jawab Mutiara mantab.
"Makannya, besok Tiara ambil waktu untuk kembali ke Semarang nya kan pagi pak, biar ga kepanasan, dan ga kehujanan kalo sore." kata Mutiara.
Saat baru membereskan barang-barang, ponsel Mutiara berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
📞Bu Kanti
'Assalamualaikum, Tiara.'
"Wa'alaikumsalam bu. Ada apa bu?" tanya Mutiara.
'Besok senin kamu jadi masuk to nduk?' tanya bu Kanti.
"InshaaAllah bu. Besok abis subuh, Tiara dari Solo bu." kata Mutiara.
'Ya wis kalo gitu. Soale ini Ipah mau mudik genti, adeknya mau nikahan, jadinya dia mau mudik lumayan lama katanya.'
"Oh, ya bu. InshaaAllah senin Tiara masuk bu."
__ADS_1
'Ya wis gitu aja. Salam buat bapak ibu di kampung ya.'
"Ya bu."
Panggilan terputus.
"Tuh kan pak, bu. Tiara juga udah di tunggu bu Kanti." kata Mutiara.
"Ya wis." kata pak Bowo.
"Oya, kamu sudah hubungi Nak Ahmad belum, kalau besok kamu mau ke Semarang?" tanya pak Bowo.
"Belum pak."
"Ya di kabari dulu. Takutnya besok kamu buru-buru, malah lupa ga ngabarin. Kemarin nak Ahmad pesen to, kalau kamu mau berangkat, suruh hubungin dia dulu?" kata pak Bowo.
"Iya pak."
"Hubungi sekarang saja." perintah pak Bowo. Mutiarapun menurut.
📨Mas Salah Sambung
Assalamualaikum mas Dzen. InshaaAllah besok ba'da subuh, Tiara otw ke Semarang mas.
Pesan terkirim, dan tak lama kemudian ponsel Mutiara berbunyi.
📞Mas Salah Sambung
"Wa'alaikumsalam mas."
'Besok kamu jadi otw sepagi itu? Sama Ken kan?' tanya Dzen, karena dulu rencana awal Mutiara akan kembali ke Semarang bersama Kenzo.
"Engga jadi mas. Kata Ken, dia masih harus di rumah, bantuin ibunya ngurusin bapaknya kontrol kontrol gitu." kata Mutiara.
'Oh, trus, kamu sendirian?'
"Iya mas."
'Pulang mu harus besok ya? Ga nunggu Ken aja?'
"Ga bisa mas, terlalu lama. Ini bu Kanti juga udah nelpon terus, nanyain kapan Tiara masuk. Karena temen Tiara mau pulang kampung katanya."
'Oh, gitu? Abis subuh ya siap otw nya?'
"InshaaAllah mas. Biar ga kepanasan dan ga kehujanan. Khawatirnya kalo sore, kehujanan di jalan mas, bapak khawatir."
'Oh, ya. Okey. Hati-hati ya.'
"Ya mas. InshaaAllah." kata Mutiara.
'Ya udah, gitu dulu aja. Kamu istirahat dulu aja, besok kan mau perjalanan jauh.'
"Ya mas. Assalamualaikum."
__ADS_1
'Wa'alaikumsalam.'
Panggilan terputus. Mutiara meletakkan ponselnya diatas meja TV.
"Gimana? Apa kata nak Ahmad?" tanya pak Bowo.
"Gapapa pak. Cuma bilang, iya, hati-hati." jawab Mutiara.
"Oh, ya. Ga ada kata lain?" tanya pak Bowo.
"Endak pak. Ya cuma nanyain, kenapa engga sama Ken. Terus Tiara jelasin alasannya."
"Tapi, dia tau kalau kamu bakal nyepeda sendiri?" tanya pak Bowo.
"Tau pak."
"Ya wis. Lanjutkan kegiatanmu, terus tidurlah, biar besok kamu ga kesiangan. Perjalanan mu besok lama." kata pak Bowo sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ya pak." jawab Mutiara menurut.
Malam itu, Mutiarapun sudah tertidur lelap di kamarnya, setelah tadi dia packing barang bawaannya. Begitupun dengan bu Hindun, yang juga sudah tidur sejak jam sembilan malam tadi, karena seharian bu Hindun di ladang, mengurus panenannya. Sedangkan Pak Bowo masih tampak duduk di ruang tamu dengan sesekali melihat ke jendela.
"Lho, bapak belum tidur?" tanya bu Hindun, yang terjaga dari tidurnya karena mau ke toilet.
"Iya." jawab pak Bowo.
"Kenapa pak?" tanya bun Hindun yang baru saja kembali dari toilet.
"Ndak papa." jawab pak Bowo datar.
"Bapak masih kangen sama Tiara? Apa bapak khawatir sama Tiara?" tanya bu Hindun.
"Orang tua mana yang ga khawatir melepas anak gadisnya perjalanan jauh seorang diri dengan hanya naik motor bu." kata pak Bowo.
"Iya, Ibi mengerti, tetapi Tiara kan dulu juga sudah pernah berpengalaman nyepeda sendiri sampai sana to pak?" kata bu Hindun.
"Beda bu. Dulu itu Tiara berangkat dari sini memang sendiri, tetapi dia bareng sama temennya yang dari Boyolali dan dari Salatiga. Lha ini, dia asli sendiri bu. Biasanya Tiara itu mengambil cuti di bu Kanti lama, lha ini kok ya cuman sebentar." kata pak Bowo.
"Lho, Tiara kan sudah bilang, kalau temannya keburu pulang kampung genti, karena ada hajatan. Dan Tiara kemarin kan sempet sakit, liburnya sudah diambil kemarin-kemarin, sisanya tinggal seminggu ini." kata bu Hindun menjelaskan. Karena pak Bowo yang sudah termakan usia, cara berfikir nya pun berbeda.
"Ini sudah malam yo pak, ayo tidur dulu. Besok kalau Tiara berangkat, bapak bisa menghantarkannya." bu Hindun mencoba memberi pengertian.
"Ibu duluan saja. Bapak menyusul." kata pak Bowo yang masih bersikeras tetap di ruang tamu.
"Ya wis, nanti kalau bapak mengantuk, langsung tidur ya pak." kata bu Hindun dengan kesabarannya.
"Ya." jawab pak Bowo.
Sekembalinya bu Hindun ke kamarnya, untuk melanjutkan mimpi indahnya, pak Bowo masih duduk di ruang tamu dengan terus berharap, mengharapkan sesuatu.
"Kalau Nak Ahmad itu laki-laki baik dan bertanggungjawab, dia mendapat telpon dari Tiara seperti tadi, harusnya dia tidak tinggal diam. Aku masih berharap, dia akan datang malam ini, atau besok subuh, untuk menjemput anakku Mutiara Hati." harap pak Bowo.
"Gusti, sampaikan permohonanku Ini kepada nak Ahmad. Aku ga bisa mainkan HaPe, tapi cukup melalui do'a ini, aku mohon, gerakkan hati nak Ahmad untuk datang ke sini, menjemput anakku Mutiara Hati. Karena aku belum ikhlas betul melepas putriku kembali ke Semarang seorang diri. Aku khawatir Gusti." batin pak Bowo memohon pertolongan Allah.
__ADS_1