
Sesampainya di area parkir apartemennya, sang scuriti tadi sempat pangling dengan sosok dokter Dzen yang mengendarai motor, namun Dzen langsung menyampaikan kalau mobilnya sedang bermasalah. Dzenpun segera masuk ke apartemen dengan keadaan pakaian yang basah kuyub.
"Dzen." panggil seorang wanita berambut panjang dengan pakaian dres mint selutut tanpa lengan, yang kemudian hampir langsung menghambur ke pelukan Dzen, namun spontan Dzen mendorong tubuh wanita itu dan memundurkan dirinya, menjauh dari tubuh wanita itu.
"Lala?" Dzen terkejut melihat wanita itu akan memeluknya, dan dia merasa bersalah, karena Lala hampir terjatuh karena didorongnya.
"Dzen?" kata Lala dengan wajah sedih, sambil membenarkan posisinya yang tadi sempat oleng.
"Sorry, aku ga bermaksud, aku masih basah." kata Dzen sambil mengangkat tangannya ke atas dan menjelaskan alasannya mendorong Lala.
"Basah? Kamu dari mana Dzen? Sampe basah begitu?" tanya Lala, mantan pacar Dzen dengan raut wajah khawatir, memeriksa seluruh tubuh Dzen.
"Dari rumah sakit, kerja. Tadi aku naik motor, ga pake jas hujan, jadi ya begini." kata Dzen.
"Ya ampun Dzen, kamu sampe basah begitu, ya udah, segera masuk aja, ganti baju biar ga masuk angin." kata Lala penuh perhatian.
"Ehm, kamu, ngapain ke sini? Ada perlu?" tanya Dzen menyelidik.
"Iya Dzen, aku butuh kamu, aku mau cerita." kata Lala mendadak sendu.
"Oh. Ya udah, kamu tunggu di dalam, aku mandi dan ganti baju dulu." kata Dzen berlalu menuju apartemennya.
Dzen adalah sosok lelaki yang sabar dan berjiwa sosial tinggi. Meski hatinya tak suka dengan kehadiran wanita itu, tetapi Dzen berusaha tetap memuliakan tamunya, selama tamu itu berada dibatas yang wajar. Dzen juga selalu ingat akan pesan almahrumah mamanya, agar dia tidak suka menyakiti wanita. Dia harus bersikap baik terhadap wanita, agar kelak ketika dia punya anak perempuan, anaknya juga mendapat perlakuan baik, seperti halnya ibu, istri dan saudara perempuan nya.
"Okey." jawab Lala yang tanpa di komando segera berjalan mengikuti Dzen.
"Masuk. Kamu tunggu sini ya, kalau mau minum, ambil sendiri, disini tidak ada asisten." kata Dzen yang kemudian segera ke kamarnya untuk mandi.
"Okey Dzen." jawab Lala yang kemudian dia berjalan ke dapur, tempat yang dulu sering dia kunjungi saat dia masih menjadi pacar Dzen. Lala sering membuatkan makanan juga di dapur itu, dan membuatkan minuman untuk Dzen. Setelah membuat susu hangat untuknya dan tak lupa untuk tuan rumah, Lala kemudian tiduran di sofa dengan kaki yang dia selonjorkan, hingga menampakkan kaki panjangnya yang halus, dan pahanya yang sedikit terbuka dengan memainkan ponselnya.
"Mau cerita apa?" tanya Dzen yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamarnya. Dzen enggan mendekat ke ruang tamunya, karena melihat posisi Lala yang membuatnya risih.
"Eh, kamu udah selesai Dzen? Ini diminum dulu Dzen susu panasnya. Maaf, di dapur ada beberapa minuman sih, tapi mengingat kamu abis kedinginan, aku bikinin susu aja. Gapapa kan?" tanya Lala beranjak dari sofa, sambil menyodorkan secangkir susu panas kepada Dzen yang masih berdiri.
"Hem, makasih." jawab Dzen sambil menerima susu hangat itu, lalu mencicipinya sedikit, Lalu Dzen melangkah duduk di sofa.
"Ada apa kamu ke sini La? Mau cerita apa?" tanya Dzen lagi.
"Dzen."
__ADS_1
"Aku mau minta maaf sama kamu, aku nyesel Dzen, aku ga dengerin kata kamu dulu sama Andi. Aku terlalu teropsesi oleh cinta palsu nya Kevin." kata Lala sambil menangis.
"Lalu?" tanya Dzen datar.
Lalapun merogoh tas kecilnya, dia ambil selembar kertas undangan, lalu dia berikan pada Dzen.
"Kamu lihat ini Dzen." kata Lala.
Dzenpun menerima dan membaca isi undangan itu. Undangan resepsi pernikahan, atas nama Kevin dan Beta. Seketika mata Dzen menatap nama calon pengantin di undangan itu.
"Kevin dan Beta?" tanya Dzen lalu dia menatap Lala.
Lala mengangguk, lalu semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan kedua tangannya yang dia lipat diatas kedua lututnya.
"Laki-laki itu, bener bener b*******." batin Dzen geram.
"Kamu bener Dzen, dia emang cuma manfaatin aku, dia udah dapetin semua yang aku punya, dan sekarang dia tiba-tiba mau nikah sama sahabatku sendiri." kata Lala dengan linangan air mata.
"Aku nyesel Dzen." kata Lala lagi.
"Jadikan penyesalan itu sebagai pelajaran. Dan ambil hikmah dari kejadian ini." kata Dzen. Lala mendongak, dia tak menyangka, Dzen akan berkata seperti itu.
"Kamu yang sabar. Harusnya kamu bersyukur, sekarang kamu udah tau siapa Kevin, sebelum kalian lanjut ke jenjang pernikahan." kata Dzen.
"Dzen?"
"Sorry, aku ga bisa, La." kata Dzen.
"Kenapa?" tanya Lala.
"Dzen, aku masih suka sama kamu. aku masih cinta sama kamu, aku mau kita balikan, Dzen." kata Lala dengan tangisan yang mulai pecah lagi.
Dzen langsung menggeleng.
"Kenapa? Karena cewek itu? Cewek yang jadi pasien kamu waktu itu?" tanya Lala sambil berdiri.
"Apa maksudmu?" tanya Dzen heran
"Aku ga mau balikan sama kamu bukan karena siapa-siapa, La. Ini murni dari hatiku, karena aku udah move on dari kamu." kata Dzen.
__ADS_1
"Kamu bohong Dzen, aku tau kamu susah move on dariku. Kamu masih ngarepin aku. Tapi gara-gara cewek itu kan, kamu sekarang berubah? Kamu lupain aku, kamu ngejauh dari aku, iya kan?" tanya Lala dengan tangisan yang semakin deras.
"Sungguh. Aku move on dari kamu, bukan karna siapa-siapa. Itu karena perbuatan kamu sendiri yang bikin aku ga suka sama kamu, kamu jalan sama Kevin, dan aku juga pernah liat kamu di hotel sama kevin, ga mungkin kan kalian ga ngaoa-ngapain? kamu pernah bilang juga sama aku, 'Kita mulai sekarang masing-masing, ga usah urusin urusan ku, dan aku ga akan ngurusin urusanmu.' Kamu juga pernah bilang, kalau aku terlalu sibuk sama urusanku, dengan profesi ku, kamu kurang perhatian dariku. Kamu dapet apa yang kamu mau dariku, tapi kamu kekurangan perhatian dariku, iya kan? Dan semua itu udah kamu dapetin dari Kevin." kata Dzen mengulas masa lalunya yang menyakitkan.
Lala menggeleng.
"Tapi aku masih sayang sama kamu Dzen. Aku akan berikan semua yang kamu mau Dzen, asalkan kamu mau balikan sama aku." kata Lala yang sudah mulai frustasi sama sikap Dzen.
"Apa maksudmu?" tanya Dzen.
"Aku ga akan biarin cewek itu dapetin kamu Dzen, kamu cuma boleh buat aku." kata Lala sambil melepas kancing dresnya bagian atas.
"Lala, hentikan!" teriak Dzen lalu berdiri, saat dia melihat apa yang dilakukan Lala.
"Tapi Dzen, aku tulus mencintaimu. Aku akan berikan diriku sepenuhnya buat kamu." kata Lala berjalan semakin mendekati Dzen. Seketika Dzen menjauh, dia berjalan ke arah pintu.
"Sekarang juga kamu keluar! Keluar!" Usir Dzen sambil menunjuk pintu.
"Tapi Dzen? Kalau cewek itu bisa dapetin perhatianmu, harusnya aku juga dapetin itu." kata Lala lagi.
"Cewek itu? cewek siapa? aku ga ngerti maksud kamu." kata Dzen.
"Cewek yang udah ngerubah kamu seperti sekarang." kata Lala sambil semakin mendekati Dzen dengan baju bagian atasnya sudah dia buka.
"Lala, hentikan!" kata Dzen memberi peringatan. Seketika Dzen mengambil Jaketnya dari Mutiara yang dia pakai saat kehujanan tadi, lalu dia tutup kan di tubuh Lala, lalu Dzen menarik tangan Lala untuk dibawa keluar apartemennya.
"Sorry, kamu harus keluar La." kata Dzen sambil mendorong tubuh Lala yang dia tutupi dengan jaketnya.
"Tapi Dzen..." kata Lala menolak.
"Pergi, pergi!" kata Dzen mengusir Lala dari rumahnya, Dzen membuka kunci pintunya, Lalapun dia dorong keluar pintu.
"Dzen, kamu..." kata Lala dengan menangis sambil memegang jaket Dzen yang masih menempel menutupi tubuh bagian atasnya.
"Tutup tubuhmu, dan pulanglah. Hari sudah malam. Maaf." kata Dzen saat Lala sudah di luar rumahnya.
"Dzen...." rintih Lala lagi.
"Maaf." kata Dzen lalu menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
"Dzen!" teriak Lala dari luar pintu.
Dzen sebenarnya tak tega mengusir seorang gadis begitu saja dari rumahnya, mengingat waktu sudah masuk waktu malam. Tapi tidak ada pilihan, dia hampir terjebak dalam situasi yang berbahaya. Dzen teringat akan pesan Mutiara, bahwa setiap langkah menuju taubat, tentunya tidak mudah, akan banyak ujian yang Allah berikan. Sehingga Dzen berusaha untuk tetap kembali pada tujuannya, yaitu Hijrah.