
Mutiara sudah dibawa ke IGD, dan diberi pertolongan pertama, dan diinfus. Dengan bantuan dokter Dzen, Mutiara sudah bisa langsung proses masuk kamar rawat inap, karena keadaannya yang lemah, membuat Dzen memutuskan Mutiara untuk dirawat inap terlebih dahulu.
Sampai di ruang VIP, Mutiara belum juga sadarkan diri. Namun, tak lama kemudian, jari tangan Mutiara bergerak, dan perlahan, matanya membuka.
"Hhhh, aku dimana?" suara Mutiara sangat lemah, namun mampu terdengar oleh Dzen yang duduk dekat disamping Mutiara.
"Tiara, kamu sudah sadar?" tanya Dzen sambil memegang stetoskopnya, yang dia tempelkan di lengan dan dada Mutiara.
"Mas Dzen?" kata Mutiara saat melihat sosok Dzen yang ada disana.
"Iya Tiara, ini saya. Gimana? Sudah enakan?" tanya Dzen halus dengan menatap Mutiara lekat sambil menunduk.
"Masih sedikit pusing mas." kata Mutiara sambil memegang kepalanya.
"Buat berbaring dulu aja, ga usah dipaksa bangun." kata Dzen memerintahkan.
"Aku dimana mas?" tanya Mutiara sekali lagi sambil menyapu pandangan.
"Kamu ada di rumah sakit, Tiara. Tadi kamu pingsan di depan pasar." jelas Dzen.
"Astaghfirullah. Jadi merepotkan banyak orang dong mas." kata Mutiara dengan wajah sendu.
"Tidak masalah. Kebetulan tadi yang bawa kamu ke sini juga saya kok." kata Dzen dengan tersenyum.
"Lho, kok bisa?" tanya Mutiara heran.
"Mas Dzen ke pasar juga?" lanjut Mutiara.
"Ya, kebetulan tadi saya juga ada pasien yang tinggal di kompleks pasar. Kebetulan, pas mau pulang ke parkiran mau ambil mobil. saya lihat kamu, dan kamu sudah lemah gitu, eh, pas udah deket, kamunya malah pingsan.." cerita Dzen.
"Ya Allah mas, maaf ya jadi ngerepotin." kata Mutiara merasa ga enak hati.
"Gapapa Tiara, santai aja. Saya sudah anggap kamu keluarga saya sendiri kok." kata Dzen tulus.
"Terimakasih mas." kata Mutiara bersemu merah.
"BeTeWe, siapa nih yang harus dihubungi?" tanya Dzen memegang ponsel Mutiara.
"Ehm, mas Dzen sibuk ga?" tanya Mutiara.
"Ya, sibuk nya kalau nanti ada pasien di IGD sih. Tapi jadwal piket saya masih nanti jam dua siang. Kenapa? Minta dijagain?" tanya Dzen dengan tersenyum menggoda
Mutiara hanya tersenyum tipis, dan menjawab sambil menunduk.
"Ya, kalau ga keberatan, mas Dzen aja yang disini. Ga usah kasih kabar siapa-siapa mas." kata Mutiara.
"Kenapa?" tanya Dzen.
"Tiara ga enak, harus ngerepotin mereka."
__ADS_1
"Ehm, gitu?"
"Kalau mas Dzen kan sekalian tugas." Mutiara memberi alasan yang masuk akal.
"Ayah ibu mu, perlu dikasih tau ga?" tanya Dzen.
"Jangan mas. Bapak ibu sudah sepuh, jauh pula mereka, kalau tau Tiara sakit, mereka pasti khawatir dan keburu-buru mau ke sini." kata Mutiara.
"Oh, gitu?"
"Iya, biar nanti Tiara atur sendiri aja mas. Mungkin nanti yang Tiara hubungin cuma Kenzo, sepupu Tiara." kata Mutiara.
"Oh, ya udah kalo gitu. Oya, ada yang sakit ga? Perut, kepala atau apa gitu?" tanya Dzen.
"Alhamdulillah, cuma pusing sih mas." kata Mutiara.
"Ya udah, istirahat dulu aja, nanti saya akan panggil kan perawat untuk kasih obat buat kamu." kata Dzen berjalan keluar.
"Mas Dzen mau ke mana?" tanya Mutiara.
"Mau ke ruang perawat. Kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dzen.
"Eh, engga kok mas." jawab Mutiara gugup.
"Takut ditinggalin sendirian?" tanya Dzen dengan senyum canda nya.
"Ah. engga kok mas. Ya udah, cuma nanya." jawab Mutiara bersemu merah.
"Ya Mas."
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Dzen kembali bersama dua orang perawat, yang akan membantu Dzen memeriksa dan memberi obat.
"Maaf, saya cek suhu dulu ya mbak, sama tensi nya." kata seorang perawat. Lalu saat tau suhu tubuh dan tensi nya, dia tulis dan dia sampaikan pada Dzen. Kemudian seorang perawat satunya maju, dengan membawa beberapa obat yang sudah disiapkan .
"Saya suntikan obatnya dulu ya mbak." kaya seorang perawat sambil memegang infus yang masuk kedalam tubuh Mutiara.
"Sudah ya mbak, selamat beristirahat." kata perawat itu.
"Terimakasih mbak." jawab Mutiara ramah.
Perawat itu keluar bersama Dzen juga keluar sebentar.
"Kamu istirahat dulu ya." kata Dzen penuh perhatian.
"Ya mas, terimakasih." jawab Mutiara.
Tak berapa lama, terdengar kembali suara pintu diketuk. Dan setelah diberi ijin Mutiara untuk masuk, seorang ibu paruh baya datang mendekatinya.
"Yaa Allah Nduk, kamu kenapa? Ibu bilang juga apa? Tadi kamu biar diantar Rendi aja, ga mau." kata bu Kanti langsung mengelus kepala Mutiara penuh rasa sayang.
__ADS_1
"Sungguh ibu, Tiara gapapa. Tiara cuma kecapekan aja kata dokter tadi." kata Mutiara.
"Kamu sendirian nduk?" tanya bu Kanti celingak celinguk.
"Kebetulan, yang nemenin Tiara baru keluar kok bu." jawab Mutiara.
"Ow ya brati udah ada yang jagain?" tanya bu Kanti.
"Alhamdulillah, sudah bu."
"Ini tadi tu, si Dul lari-lari ngasih tau ibu, kalo kamu pingsan didepan pasar. Terus katanya dibawa mas mas gitu, ngakunya temenmu, dokter RSUD gitu, ya ibu malah panik. Ibu marahin si Dul, ibu tanya ada yang ngikutin engga, katanya ga ada. Ibu kan khawatir, ya kalo orang itu beneran temennya, kalau cuma orang ga baik yang ngaku-ngaku temenmu, ibu kan jadi panik. Terus ibu nunggu mbakmu Ipah, baru ibu ke sini untuk memastikan, orang itu beneran baik engga. Alhamdulillah, ternyata bener." cerita bu Kanti membuat Mutiara justru terharu.
"Iya bu. Alhamdulillah, dokter Dzen ini temen saya kok bu." kata Mutiara.
"Temen kuliah?" tanya bu Kanti.
"Ehm, bukan."
"Lha?"
"Temen ketemu di jalan." jawab Mutiara.
"Pacar mu?" tanya bu Kanti.
"Eh, bukan kok bu. Kami ga pacaran, kami hanya berteman." kata Mutiara mengelak.
Saat sedang mengatakan itu, tiba-tiba pintu diketuk.
"Assalamualaikum." Suara Dzen mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." seketika bu Kanti menoleh ke sumber suara.
"Eh, bu. Ada tamu rupanya." kata Dzen.
"Beliau juragan saya di pasar dok, kenalkan." kata Mutiara.
"Oya, saya Dzen, dokter di rumah sakit ini bu." kata Dzen memberi salam.
"Oh, yaya. Kenalkan. Saya bu Kanti, saya pemilik toko bumbu, tempat Mutiara kerja." kata bu Kanti.
"Terimakasih banyak mas dokter sudah menolong Tiara." kata bu Kanti.
"Sama-samaa Ibu. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter." kata Dzen tersenyum tulus.
"Mas Dokter ini, sudah kenal ya sama Tiara?" tanya bu Kanti.
"Iya bu, alhamdulillah kami sudah saling kenal, cukup lama juga." kata Dzen.
"Pacarnya ya mas?" tanya bu Kanti.
__ADS_1
Dzen dan Mutiara hanya berpandangan. Sudah dibilang Mutiara, kenapa bu Kanti masih tak percaya??