
Satu pekan sudah Zio menjalankan tugasnya sebagai pengganti papanya yang telah menghadap Tuhan. Banyak yang perlu dia pelajari dan dia urus bersama pak Yuda selama satu pekan ini, yang membuat beberapa tugasnya sebagai dosen agak terbengkalai.
Malam itu, pukul 22.00, Zio seperti biasa langsung masuk kamar, seusai makan malam bersama mamanya. Karena Nilam, kakaknya sedang tinggal dirumahnya sendiri bersama suaminya yang baru pulang dari berlayar.
"Fiuh, ga mungkinlah gue harus mengoreksi tugas mahasiswa segini banyaknya sendiri, sambil mempelajari beberapa file dari pak Yuda." gumam Zio sambil menekan kepalanya yang mulai pusing karena seharian belum beristirahat.
"Apa gue minta tolong mahasiswa aja ya? Untuk jadi asisten gue?" idenya muncul.
"Tapi siapa?"
"Ah, apa besok coba gue tes aja ya? Siapa tau ada yang terpancing, dan dialah yang bakal jadi asisten gue di kampus. Dengan begitu, gue bisa fokus dulu di pabrik." kata Zio berbicara sendiri.
"Okey Zioda, saatnya elo istirahat. Biar semua ini, dikoreksi asisten lo besok." kata Zio sambil merapikan beberapa makanan yang berserakan.
πππ
Di kampus
"Okey, dari yang saya jelaskan tadi, ada pertanyaan?" tanya Zio seperti biasanya disetiap akhir pemberian materi.
Hening
"Okey, kalau sudah paham, silakan salah satu maju ke depan, untuk menyimpulkan, apa saja materi yang saya sampaikan di hari ini. Silakan angkat tangan." kata Zio sambil berjalan menuju para mahasiswa.
Tiba-tiba sebuah tangan mungil seorang wanita berdiri juga untuk menyimpulkan materi yang dijelaskan pak Zio.
"Ya, anda. Silakan." kata Zio menunjuk wanita berjilbab yang tak lain adalah Mutiara Hati.
Mutiara pun membacakan resum yang dia catat dalam buku catatannya, di depan kelas, dan sedikit memberi contoh sesuai apa yang di jelaskan dosennya tadi. Dan tak disadarinya, Dosen yang memperhatikan nya, telah tertarik untuk menjadikannya sebagai Asisten Dosen untuknya.
"Yap, bagus. Terimakasih Mutiara." kata pak Zio yang puas dengan penjelasan Mutiara yang detail.
"Sama-sama pak." jawab Mutiara santun.
Jam mata kuliah Manajemen pendidikan telah usai, pak Zio memanggil Mutiara sebelum dirinya meninggalkan ruang kelas.
"Mutiara Hati." panggil Zio dingin.
"Ya pak Zio?"
"Saya mau bicara. Bisa ikut saya dulu?" tanya Zio.
"Ehm, baik pak." jawab Mutiara.
Mutiarapun mengikuti langkah dosennya, hingga tiba disebuah kafe dekat kampus.
__ADS_1
Tanpa ditawari, Zio memesankan coklat panas untuknya.
"Ehm, jadi gini. Saya ngajak kamu ke sini, karena saya mau, kamu jadi..." kata Zio terputus, karena pesanannya datang.
"Silakan pak." kata pelayan.
"Hem."
"Pak Zio mau aku jadi apa coba? Jadi bikin penasaran aja. Istri? Ah, ga mungkinlah. Pacar? Ih, masa' iya aku selera dia?" batin Mutiara.
"Jadi? Jadi apa pak?" Mutiara tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.
"Oya, jadi gini, saya tu ngajak kamu ke sini, karena saya mau kamu jadi Asisten saya. Jadi asisten dosen. Kamu ga keberatan 'kan?" kata Zio optimis.
"Apa pak?" Mutiara Syok.
"Hm, jadi asisten dosen. Jelas? Apa masih kurang jelas?" tanya Zio yang mulai tersulut emosi.
"Asisten dosen?" gumam Mutiara.
"Ya. Mau kan?" tanya Zio sambil menyeruput es capuccinonya.
"Tapi pak..."
"Tapi kenapa? Kamu ga mau?"
"Kalau saya sudah nunjuk kamu, ya brati saya yakin, kamu bisa." kata Zio optimis.
"Ehm,,,"
"Pokoknya ga ada alasan penolakan. Karena kamu sudah saya anggap siap menerimanya." kata Zio.
"Dan ini, file file makalah mahasiswa semester satu sampai lima, tolong kamu bantu untuk mengoreksi, deadline satu pekan. Karena dalam waktu satu pekan ini, saya ada banyak urusan di pabrik." kata Zio.
"Pabrik?" tanya Mutiara yang masih tak mengerti.
"Iya. Jadi, saya sekarang diberi tanggungjawab untuk memegang perusahaan papa saya. Karena papa saya sudah meninggal, jadi tidak ada orang lain lagi yang bisa menggantikan posisi papa saya, kecuali saya. Jadi, mulai sekarang saya akan sering ijin mengajar, dan akan banyak waktu di kantor perusahaan papa saya. Dan kamu, saya tugaskan untuk menggantikan saya, ketika saya berhalangan hadir, dan juga membantu saya untuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswa. Kamu mengerti?" kata Zio panjang lebar.
"Ya pak. Saya mengerti." kata Mutiara tanpa banyak membantah.
"Oya, untuk cara mengoreksi tugasnya, nanti pulang kuliah saya akan tryning kamu di restonya Rey. Jadi nanti pulang kuliah kamu bareng saya saja, motor kamu, kamu minta untuk bawa teman kamu saja, karena kemungkinan nanti bakal pulanh malam, sehingga saya akan antar kamu pulang. Kamu mengerti?" tanya Zio lagi.
"Langsung nanti pak?" tanya Mutiara masih tak percaya.
"Ya."
__ADS_1
"Tapi bapak kan tidak tau agenda saya. Apa saya sibuk atau tidak." protes Mutiara.
"Hm... Saya anggap kamu tidak sibuk, misal kamu sibuk, cancle dulu urusan kamu itu." kata Zio dengan arogannya.
Mutiara hanya mampu menarik napas panjang sambil ngedumel dalam hati.
"Huh, Ternyata pak Zio lumayan nyebelin juga. Bisa ga ya aku jadi asisten beliau."
"Ya udah, kamu habisin minumnya, saya harus segera kembali ke kampus, ada banyak urusan yang harus saya selesaikan." kata Zio.
"Ya pak." kata Mutiara yang langsung menghabiskan minumannya langsung dalam sekejab.
Mutiara dan Zio pun kembali ke kampus untuk melanjutkan kegiatan mereka masing-masing, sampai nanti setelah ashar, Mutiara akan diajak Zio untuk belajar mengoreksi tugas.
πππ
Mutiara tak langsung ke kelasnya, dia justru menuju kelasnya Kenzo, sepupunya di gedung Fakultasnya Biologi.
π¨Kenzo
Kamu dimana Ken?
Tak lama kemudian Kenzo tampak keluar dari kelasnya, dia berjalan menuju kakak sepupunya.
"Ada apa mbak?" tanya Kenzo.
"Nanti mbak nitip motor, nih, motornya kamu bawa aja. Karena mbak ada urusan, pulang sampe malem." kata Mutiara sambil memberikan kunci motor sekaligus STNKnya.
"Widih...rejeki nomplok nih. Emang mau kemana mbak?" tanya Kenzo penasaran.
"Ada urusan sama temen. Nanti pulangnya dianter." kata Mutiara lagi.
"Owh, gitu? Okey. Dengan senang hati." kata Kenzo dengan tersenyum senang.
"Hati-hati, jangan buat balapan, diisi bensin, ga usah dijemping-jempingn" kata Mutiara memberi banyak pesan.
"Okey, siap." kata Kenzo sambil memberi hormat.
"Ya udah, mbak balik dulu ya." kata Mutiara.
"Yap."
Mutiara pun segera menuju ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat dzuhur, sebelum kemudian dia masuk kelas untuk melanjutkan mata kuliahnya di kelas. Di sana dia mengutarakan kebimbangannya dalam menerima tugas dari dosen killer nya itu
Namun dengan penuh keyakinan, dia akan berusaha untuk menerima semua konsekuensinya.
__ADS_1
πππ