
Dzen tak kuasa menunggu lama, melihat istrinya yang terus merasa kesakitan, diapun segera menggendong istrinya keluar dari mobilnya dan mencari pertolongan.
"Ibu, Dzen bawa Tiara dulu ya." kata Dzen panik.
"Ya Dzen, sebaiknya begitu, karena ketuban nya sudah pecah, keburu kering nantinya." kata bu Hindun.
Mutiara sambil menahan rasa sakit karena kontraksi, melingkarkan tangannya di leher Dzen, dan Dzen setengah berlari sambil membopong Mutiara sepanjang jalan yang sepi, jauh dari pemukiman, sambil mencari bantuan. Keringatnya sudah bercucuran, apalagi setiap melihat Mutiara yang terus menahan rasa sakit di perutnya. Sedangkan bu Hindun sambil membawa ransel dan tas bayi, wadah baju ganti persalinan nanti, terus mengikuti Dzen dibelakangnya.
"Itu, bukannya mobil Suaminya Tiara?" batin Mail yang kebetulan lewat jalan itu. Kemudian Mail mendekati mobil itu, ternyata kosong, tidak ada orang, dilihatnya ban nya kempes, lalu Mail melajukan motornya terus mengikuti jalan itu. dan tampak olehnya seorang laki-laki menggendong seorang wanita dan ada ibu-ibu paruh baya dibelakangnya. Mail segera melajukan motornya menyusul mereka bertiga.
"Bu Hindun?" sapa Mail.
"Eh, nak Mail."
"Itu?" Belum sempat Mail melanjutkan pertanyaannya, bu Hindun sudah menjelaskan.
"Itu, Mutiara mau melahirkan nak. Tapi sedari tadi tidak ada mobil lewat." kata bu Hindun, lalu Mail mendekati Dzen.
"Mas, mas pakai motor saya ini saja, langsung ke depan situ mas, ada klinik bersalin disitu mas. Ke situ aja mas, keburu lahir itu baby nya." kata Mail yang langsung turun dari motornya.
"Oh, ya. Tepatnya dimana?" tanya Dzen.
"Anda ikuti saja jalan aspal ini mas, nanti kanan jalan udah kelihatan kok plakatnya. Tinggal sekitar satu kilometer lagi kok mas. Daripada ke rumah sakit, lebih beresiko mas, jauh." kata Mail yang memahami keadaan genting itu.
"Okey." jawab Dzen yang langsung mendudukkan Mutiara di jok belakang, dan dia langsung melakukan motor milik Mail, menuju klinik bersalin yang dimaksud. Wajar saja. karena Dzdn tidak mengerti daerah itu, begitupun Mutiara dan bu Hindun, karena daerah itu adalah daerah tempat Mail bekerja.
Sedangkan Mail menemani bu Hindun berjalan dan membantu membawakan barang bawaan untuk persalinan Mutiara.
Sesampainya di klinik, Dzen langsung membopong Mutiara kedalam dan disambut hangat oleh pada bidan praktek.
"Bu, tolong istri saya bu, dia mau melahirkan." kata Dzen panik.
"Baik pak." jawab seorang bidan dan langsung mengambil brankar untuk Mutiara. Dzenpun segera meletakkan Mutiara di brankar yang sudah disediakan
Bidan langsung membawa Mutiara ke ruang bersalin untuk dilihat bukaannya.
Seorang bidan langsung melepas bawahan Mutiara, dan mengecek jalan lahirnya. Dzen terus mengikuti Mutiara.
"Saya suaminya bu, boleh saya mendampingi istri saya?" tanya Dzen dengan wajah panik.
__ADS_1
"Sementara bapak tunggu diluar dulu ya pak." kata bidan itu.
"Tapi saya harus disamping istri saya bu, saya sudah berjanji."
"Nanti silakan menyusul jika sudah kami kabari." kata bidan itu.
Dzenpun terpaksa menunggu Mutiara diluar dengan perasaan tak menentu, dia sangat khawatir dengan keadaan istri dan anaknya. Karena semua rencana meleset, dan ini diluar dugaannya.
"Bukaan lengkap bu, segera siapkan perlengkapannya." Kata bu Bidan berusia lanjut, tampaknya dia adalah senior dari semuanya.
"Pak, jarik, bedong bayi sudah disiapkan?" tanya bidan PKL yang keluar dari ruang bersalin.
"Dibawa ibu saya mbak, masih perjalanan di belakang saya." kata Dzen.
"Oh, baik."
"Ehm, mbak, saya boleh masuk?" tanya Dzen lagi.
"Biarkan suaminya masuk mbak." kata bidan senior yang sedang menangani Mutiara.
"Bu... " panggil Mutiara lemah sambil mencengkram besi brankar, karena menahan rasa sakit yang memuncak, membuatnya tidak mampu menahannya lagi, karena sesuatu dalam perutnya sudah ingin seger a keluar.
"Huh...huh..." Keringat Mutiara keluar banyak.
"Ayo bu, kepalanya sudah terlihat. Ayi di ejan lagi ibu, hebat. Terus..." kata bidan senior menyemangati Mutiara.
"Sayang, ayo semangat, laa haula walaquwwata illabillah." kata Dzen menguatkan istrinya.
"La...haula walaquwwata illabillah." kata Mutiara sambil menarik napas dalam. dan mengejannya.
"Huh....Laa haula walakuwwata illabillah." Mutiara mulai ngejan dengan kuat, dan akhirnya...
Terdengar suara bayi.
Tepat saat bu Hindun dan Mail tiba di klinik itu. Bu Hindun langsung bersujud syukur di depan pintu. Mail pun tersenyum bahagia.
Bu Hindun langsung memberikan semua keperluan baby dan memberikan semua keperluan administrasi persyaratan proses persalinan kepada perawat dan bidan.
Sedangkan di ruang bersalin, Mutiara tetap dengan keadaan sadar, dia dihujani kecupan oleh Dzen,
__ADS_1
"Terimakasih sayang, terimakasih. Kamu hebat, kamu kuat. Terimakasih sayang, i love full forever." kata Dzen.
Mutiara hanya diam dan melihat proses baby nya di bersihan, sambil merasakan area jalan lahirnya dibersihkan bidan dan perawat.
"Selamat bu, pak, ini baby nya Laki-laki." kata bidan sambil menggendong baby itu dan diserahkan pada Mutiara untuk di lakukan inisiasi menyusui dini. Dengan bahagia Mutiara mengelus baby nya.
"Terimakasih sayang." kata Mutiara.
Dzen melihat itu, dan lagi lagi dia menghujani ciuman untuk istrinya.
Setelah itu, baby nya di bedong dan diadzani Dzen.
Setelah proses dibersihkan nya jalan lahir, bu Hindun dan Mail diijinkan masuk ke ruang bersalin.
"Sayang selamat ya nak." kata bu Hindun memeluk putrinya.
"Terimakasih bu."
"Tiara, selamat ya."
"Mail?" tampak raut wajah Mutiara kaget atas kedatangan Mail.
"Ya."
"Dia yang tadi minjemin mas motor, untuk membawamu ke sini." kata Dzen.
"Kok bisa?" Mutiara masih heran.
"Jadi tadi tu aku rencananya mau ke luar bentar, bertugas, tapi aku ngelihat ada mobil suamimu, pas ku lihat, ga ada orang terus aku lihat suamimu gendong kamu, ya aku samperin, ternyata kamu udah mau lahiran. Ya aku rekomendasiin untuk lahiran di klinik ini aja." kata Mail.
"Dan kau tau sayang, kamu sadar ga tadi, sampe di dalem katanya kamu udah bukaan lengkap. Coba tadi mas nekad nganter kamu ke RS, belum tentu sampe. Si baby pingin lahiran sama bidan, ga mau sama dokter." kata Dzen tersenyum sambil menoleh ke arah baby nya.
"Iya, ayahnya udah dokter sih." kata Mail.
Kemudian, Dzen bersama Mail ijin pulang duluan untuk mengurus mobilnya yang bocor, sekaligus membawa ari-ari itu pulang. (adat jawa, plasenta itu masih di kubur dirumah).
Setelah beres mengurus mobilnya yang bocor, Dzen pulang dengan diantarkan Mail dengan motornya. Setelah mengantar Dzen, Mail segera melanjutkan pekerjaannya yang masih di jam kerja. Sepanjang jalan dia terus tersenyum bahagia. Meski dahulu hatinya sempat terluka karena patah hati, kini dia melihat nyawa wanita yang dia cintai selamat saat akan perang sabil, dengan perantaranya, dia sudah puas. Rasanya sudah terbayar segala rasa cemburu an sakit hati itu, dengan hadirnya malaikat kecilnya Mutiara.
"Meski ku tak bisa bersanding denganmu, namun alhamdulillah, aku masih diijinkan Allah untuk bisa menjadi penolongmu Tiara, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Semoga kamu dan keluarga kecilmu bahagia selalu." kata Mail sambil melihat foto gadis itu di ponselnya.
__ADS_1