
Sesampainya di kosan, Mutiara segera mandi, lalu merebahkan dirinya diatas kasur. Dia menutup matanya sebentar, lalu membukanya perlahan setelah melepas penat seharian di kampus.
Teringat kembali olehnya tingkah gokil kedua sahabatnya yang membuat dirinya geleng-geleng kepala. Ditatapnya dua hadiah dari sahabatnya itu, lalu tatapannya bergeser pada buket bunga yang diberikan oleh pria masa depan nya. Mutiara pun tersenyum.
"Rasanya baru kemarin mas, Tiara kenal mas Dzen, kenapa rasanya begitu cepat ya, tau tau aku udah lulus, yang berarti waktu untuk bersama dirinya semakin dekat." kata Mutiara.
Saat Mutiara sedang asyik dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk.
📩Mas Dzen
Tiara, nanti kita dinner yuk. Kata Nadia dan Mila tadi, kamu puasa ya.
📨Mas Dzen
Ehm, nanti Tiara udah ada janji sama Nadia dan Mila tu mas. Maaf.
📩Mas Dzen
Ga masalah. Dimana? Mas ikut ya.
"Ha? Mas Dzen mau ikut? Yang bener aja sih?" gumam Mutiara.
📨Mas Dzen
Ehm, maaf mas, ga enak mas sama temen-temen. Lain waktu aja gimana ya mas?
📩Mas Dzen
Oh, gitu ya? Ya udah, besok sore ya, kita dinner😉
📨Mas Dzen
InshaaAllah
Sorenya, Mutiara dan kedua sahabatnya makan malam bersama sambil berbuka puasa. Mereka menghabiskan waktu bersama, sambil melepas tawa bahagia.
💞💞💞
Pagi itu, sepulang dari pasar, Mutiara segera mandi meski hari ini dia tidak ada jadwal ke kampus. Saat Mutiara sedang membaca buku novel, ponselnya berdering.
📞Ibu
"Halo, assalamualaikum ibu."
'Wa'alaikumsalam nduk. Gimana kabarmu nduk?'
"Alhamdulillah baik bu."
'Katanya kemarin habis ujian, gimana hasilnya?' tanya bu Hindun.
"Alhamdulillah bu, Tiara lulus." jawab Mutiara.
'Alhamdulillah. Ibu seneng deh dengernya.' kata bu Hindun.
'Terus, kapan rencana kamu mau pulang nak?' tanya pak Biwo tiba-tiba.
"Ehm, InshaaAllah hari sabtu ya pak, soalnya ini Tiara masih harus masuk kerja di pasar." kata Mutiara.
'Ya Nduk, santai saja. Oya. kapan Kamu ketemu nak Ahmad? Nak Ahmad udah kamu kabari belum kalo kamu sudah lulus?' tanya Pak Bowo.
"Ehm, sudah pak." jawab Mutiara.
'Sudah ketemu dia?' tanya pak Bowo.
"InshaaAllah nanti Tiara ketemu sama mas Dzen pak." jawab Mutiara.
'Oh, ya wis. Nanti kalau kamu ketemu dia, kamu telpon bapak ya.' kata pak Bowo .
"Ehm, ya pak." jawab Mutiara.
Setelah telponan dengan bapak ibunya di kampung, Mutiara mendapat kiriman pesan lagi dari Dzen.
__ADS_1
📩mas Dzen
Jangan lupa nanti malam ya Tiara.😉
Mutiara tak segera membalas pesan itu, dia justru tersenyum sendiri sambil terbayang wajah tampan calon suaminya itu.
"Astaghfirullah." kata Mutiara sambil mengisap wajahnya.
📩Mas Dzen
Ya mas.
Sore hari telah tiba, Mutiara sudah siap dengan dress warna maroon yang diberi oleh Dzen. Notif pesan masuk.
📩Mas Dzen
Mas sudah didepan 😊
Seketika Mutiara langsung membalas pesan itu
📨Mas Dzen
Ya mas.
Mutiara segera keluar kosan dan berjalan ke jalan raya, dimana mobil Dzen sudah terparkir di sana.
"Mas." sapa Mutiara sambil mengetuk kaca mobil.
"Oh, ya Ra. Langsung Masuk aja." kata Dzen sambil membuka pintu mobil. Lalu Mutiarapun masuk mobil, Dzen suda senyum bahagia melihat Mutiara ternyata memakai dress yang dia beri beberapa waktu lalu, karena sore ini, Dzen juga mengenakan baju koko senada dengan dress yang Mutiara pakai.
"Kita coupelan lagi nih? Padahal ga janjian ya." kata Dzen tersenyum senang.
"Ha? Oh, iya ya? Kok bisa sih?" kata Mutiara yang batu sadar, lalu merasa gugup.
"Santai aja kali Ra. Ya bisa lah, InshaaAllah kita kan jodoh." kata Dzen yang berhasil membuat wajah Mutiara bersemu merah.
"Kita mau berangkat sekarang?" tanya Dzen.
"Ya, boleh." jawab Mutiara.
Sesampainya di sebuah kafe, yang notabene pengunjungnya anak muda, Mutiara merasa canggung, tetapi Dzen terus memaksanya untuk masuk. Sesampainya di sebuah tempat, Dzen mempersilakan Mutiara duduk.
"Silakan." kata Dzen dengan senyum manisnya.
"Terimakasih mas."
Mutiara menyapu pemandangan disekitarnya, suasana yang terbilang romantis memang. Lampu neon di beberapa sudut, menampakkan suasana senja yang remang-remang, dan rangkaian bunga diatas meja bundar tempat mereka makan malam. Lantunan lagu melankolis, membuat suasana lebih terasa hidup, disertai dengan suara gemericik air di dekat mereka duduk, ada sebuah kolam ikan di sana.
"Ehm, mushola cuma di situ Ra, nanti kalau adzan maghrib, kita bisa sholat duku di situ." kata Dzen menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka duduk. Dzen mengira, Mutiara mencari cari mushola.
"Eh, ehm. Ya mas." jawab Mutiara gugup, karena suasana senja ini dirasa sangat romantis.
"Kamu suka tempat ini Ra?" tanya Dzen dengan menatap Mutiara full senyuman.
"Aduh mas Dzen, please, jangan senyum terus dan jangan pandangi Tiara terus dong, Tiara kan jadi malu.". batin Mutiara.
"Ehm, iya. Tiara suka kok mas." kata Mutiara gugup.
"Eh, oh ya, mas. Anu, ini, bapak tadi bilang, katanya kalau Tiara ketemu mas Dzen, bapak mau telpon." kata Mutiara.
"Oh, ya. Okey. Telpon aja sekarang Ra, nanti kita makannya abis sholat maghrib sekalian aja ya. Biar ga nanggung." kata Dzen.
"Ya mas." kata Mutiara.
Lalu Mutiara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya.
📞Bapak
'Halo, Assalamualaikum.' suara ibuny ada di seberang.
"Wa'alaikumsalam. Ibu, bapak ada bu?" tanya Mutiara.
__ADS_1
'Ada. Mau bicara sama bapak?'
"Iya bu."
'Ya tunggu sebentar.'
Tak lama kemudian,
'Halo, assalamualaikum nduk.'
"Wa'alaikumsalam pak. Ehm, pak, ini Tiara sudah bersama mas Dzen pak, bapak jadi mau bicara sama mas Dzen tidak?"
'Oh, ya jadi dong. Mana?'
"Ini mas." kata Mutiara sambil menyerahkan ponselnya kepada Dzen.
"Halo, assalamualaikum bapak."
'Wa'alaikumsalam nak Ahmad, apa kabar nak?'
"Alhamdulillah kabar baik pak. Bapak ibu bagaimana keadaannya?"
'Alhamdulillah, kami juga baik.'
"Ehm, ada apa ya pak? Kata Mutiara tadi, bapak mau bicara sama saya."
'Oh, iya. Nak, begini. Alhamdulillah kan, kemarin Mutiara sudah dinyatakan lulus kuliahnya. Jadi, begini nak. Bapak mengundang nak Ahmad, besok hari ahad, silakan datang ke rumah kami ya, ajak juga orangtua nak Ahmad.' kata pak Bowo.
"Besok ahad ya pak? Baik pak, siap InshaaAllah."
'Tau maksud bapak kan?' tanya pak Bowo.
"Tau pak." jawab Dzen sambil melirik ke arah Mutiara. Mutiara penasaran dengan percakapan bapaknya dan Dzen.
'Ya sudah, begitu saja. Bapak titip putri bapak ya Nak.' kata pak Bowo.
"Baik pak, InshaaAllah." jawab Dzen lagi.
'Ya sudah, begitu saja.'
"Sudah Ra." kata Dzen mengerjakan ponsel Mutiara.
"Oh, ya mas."
'Nduk, kamu lanjut saja acaramu dengan nak Ahmad yo. Sudah dulu, itu, sudah adzan. Bapak mau ke masjid dulu. Assalamualaikum.' kata pak Bowo dari seberang.
"Oh, ya pak. Wa'alaikumsalam " jawab Mutiara.
Setelah meletakkan ponselnya di tas, Mutiara yang kepo mencoba untuk mencari tau, ada pembicaraan apa antara bapaknya dengan Dzen.
"Ehm, mas. Tadi bapak bicara apa memangnya?" tanya Mutiara kepo.
"Ehm, mau tau aja, apa mau tau banget?" goda Dzen.
"Ish, mas Dzen nih, ditanya serius juga." kata Mutiara sewot.
"Kamu tambah imut tau kalau seperti itu." goda Dzen lagi.
"Astagfirullah mas. Ya udah deh, ga jadi." kata Mutiara berusaha menunduk menyembunyikan wajah merahnya.
"Ga ngomongin apa-apa kok. Bapak cuma titip putri kesayangannya kepada Mas." jawab Dzen santai.
"Ga ada yang lain?" tanya Mutiara yang merasa masih janggal.
"Ehm, Yang jelas, besok ahad, mas dan kedua orang tua mas akan berkunjung ke rumahmu di Solo. Tiara siap-siap ya." kata Dzen dengan penuh rasa bahagia.
"Ha? ahad besok ini?" tanya Mutiara kaget.
"Yap." jawab Dzen dengan santai sambil menyeruput jus jeruknya.
"Udah adzan tuh Ra, sholat dulu yuk, mau kan jadi maklum mas?" tanya Dzen dengan kerlingan mata.
__ADS_1
"Eh. ehm...I iya mas." jawab Mutiara dengan hati yang tidak karuan rasanya. Mutiara sangat gugup menanggapinya.
Merekapun melangkah ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.