
Disaat bu Hindun masih tertegun, tiba-tiba pintu kamar Mutiara terbuka, dan Mutiara keluar dari kamarnya.
"Assalamualaikum bu." sapa Mutiara.
"Wa'alaikumsalam nduk." jawab bu Hindun.
"Ada siapa to bu di rumah kita? Tadi kok kaya ada suara rame gitu? Kaya bukan cuma suara bapak." tanya Mutiara.
"Kamu semalem menghubungi nak Dzen untuk datang ke sini?" tanya bu Hindun.
"Engga bu. Kenapa memangnya?" tanya Mutiara heran.
"Coba liat keluar." perintah bu Hindun. Mutiarapun menurut. Tampak olehnya ditengah gelapnya waktu subuh, sebuah mobil yang sangat familiar baginya, terparkir di halaman rumahnya. Mutiarapun segera berbalik badan dan menoleh ke ibunya.
"Mas Dzen bu?" tanya Mutiara terkejut. Bu Hindun hanya mengangguk.
"Mas Dzen ke sini? Kapan? Siapa yang menghubungi?" tanya Mutiara bingung.
"Kamu ndak menghubungi nak Dzen, nduk?" tanya bu Hindun. Mutiara menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Terus, siapa? Bapak? Ga mungkin, bapak ga ngerti Hape." tanya bu Hindun.
"Apa mungkin Ken?" tebak Mutiara.
"Ya coba kamu hubungi dia, biar ga jadi prasangka." perintah bu Hindun.
"Ibu tinggal sholat dulu nduk, tadi ibu sudah masak air, tinggal nunggu mendidihnya saja." pesan bu Hindun.
"Ya bu." jawab Mutiara sambil mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi adik sepupunya.
📞Kenzo
'Halo mbak, kenapa to, pagi bener udah nelpon?' kata Kenzo dari seberang dengan suara khas bangun tidur.
"Assalamualaikum Ken, apa kamu semalem menghubungi mas Dzen?" tana Mutiara.
'Wa'alaikumsalam mbak. Engga tu mbak. Kenapa memangnya?' tanya Kenzo penasaran.
"Apa bapak semalem ke rumahmu?" tanya Mutiara lagi.
'Endak juga. Emang kenapa to mbak?'
Belum juga Mutiara menjawab, terdengar suara salam dari luar rumah. Pak Bowo bersama Dzen masuk rumah dan mengucap salam.
"Assalamualaikum." salam pak Bowo.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara dari dalam kamarnya.
"Bapak?" sapa Mutiara sambil mencium tangan bapaknya. Lalu menoleh ke arah Dzen.
"Mas Dzen kapan datang?" tanya Mutiara.
"Tadi malam." jawab Dzen.
"Ada keperluan kah mas?" tanya Mutiara lagi.
__ADS_1
Dzen menoleh ke arah pak Bowo, dan pak Bowo mengerti maksud Dzen.
"Iya." jawab Pak Bowo.
Belum sempat Mutiara bertanya lagi, peluit dari teko berbunyi, tanda air sudah mendidih.
"Sebentar ya pak, mas." kata Mutiara pamit ke dapur.
Pak Bowo tampak tersenyum pada Dzen.
"Katakan saja tidak apa-apa." kata pak Bowo pada Dzen.
"Ehm, baik pak." jawab Dzen mencoba mengusir keraguan nya.
Tak berapa lama kemudian, Mutiara sudah kembali dengan membawa nampan berisi kopi panas dan setoples roti kering serta keripik singkong buatan dia kemarin saat liburan.
"Ini pak, mas. Kopinya." kata Mutiara sambil meletakkan kedua cangkir kopi dan camilan nya.
"Terimakasih Tiara." kata Dzen tersenyum pada Mutiara.
"Sama-sama mas." jawab Mutiara.
"Ehm, mas Dzen rencana mau ada acara di Solo sampai jam berapa?" tanya Mutiara yang masih belum paham maksud kedatangan Dzen.
"Nduk, kamu ini belum paham ya? Nak Ahmad ini, semalem langsung ke sini, setelah mendapat telpon darimu, untuk menjemput mu." kata pak Bowo menjelaskan. Sedangkan Dzen menunduk malu. Dan Mutiara justru bingung, dia menoleh ke arah Dzen dan pak Bowo bergantian.
"Kenapa begitu?" tanya Mutiara heran.
"Naluri seorang laki-laki yang baik, dia tidak akan tinggal diam jika mendapat kabar tentang sesuatu yang kiranya cukup mengkhawatirkan dan beresiko. Sehingga Nak Dzen segera mengambil keputusan untuk menjemputmu, karena dia khawatir terhadapmu. Dia tak mau kamu naik motor seorang diri sampai ke Semarang." kata pak Bowo menjelaskan.
Mutiara seketika terdiam dan menunduk. Bu Hindunpun sudah selesai menunaikan ibadah sholat subuh nya lalu ikut serta bergabung dalam forum di ruang Tamu.
"Koyo bapak ki bisa dolanan Hape saja. Yo ndak. Bapak menelpon lewat batin, dan alhamdulillah tembus." kata pak Bowo.
"MaasyaaAllah... memang kalian itu cocok jadi mertua dan menantu." celoteh bu Hindun sambil beranjak ke dapur.
"Ya wis, Tiara, segera bersiap. Kamu boleh balik ke Semarang, tapi harus sama Nak Ahmad yo. Uhuk uhuk." kata pak Bowo sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.
"Nanti, motormu biar diambil Ken. Disana nanti kamu bisa minta tolong Nak Ahmad kalau mau kemana-mana yang kiranya jauh." lanjut pak Bowo.
"Ehm, baik pak." jawab Mutiara menurut.
Jam menunjukkan pukul enam pagi, Mutiara dan Dzen sudah rapi, dan mereka sudah sarapan yang sudah disiapkan bu Hindun. Merekapun berpamitan kepada pak Bowo dan bu Hindun.
"Hati-hati ya nduk. Jaga diri baik-baik." kata pak Bowo mengelus punggung Mutiara saat dia mencium punggung tangan bapaknya dengan khidmad.
"Nggih pak. InshaaAllah. Maturnuwun pak." kata Mutiara dengan mata berkaca-kaca.
Mutiara beralih mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati ya nduk. Jaga diri baik-baik. Tetap semangat." kata bu Hindun.
Saat Dzen berpamitan kepada pak Bowo,
"Hati-hati ya nak. Maaf, jika bapak merepotkan mu. Bapak titip putri bungsu bapak. Mutiara Hati." kata pak Bowo mengelus punggung Dzen.
__ADS_1
"Ya pak. InshaaAllah." kata Dzen.
"Kami pamit dulu ya bu, pak." kata Mutiara sambil berjalan menuju mobil.
Dzen dan Mutiara segera memasuki mobil Dzsn, setelah semua barang bawaan sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Mobil itu. keluar dari halaman Mutiara dan melaju meninggalkan kampung halaman Mutiara.
Sepasang mata melihat sebuah mobil yang didepan ada Mutiara dan seorang laki-laki disampingnya yang sedang mengemudi.
"Siapa laki-laki itu. Siapa nya Tiara? Kenapa kemarin dia ga cerita apa-apa tentang laki-laki lain?" batin orang itu yang tak lain adalah Mail.
Didalam mobil
"Maaf jika kedatangan saya kurang membuatmu nyaman." kata Dzen membuka percakapan. Dzen jadi tidak enak hati sendiri, saat melihat sikap Mutiara berubah dingin kepadanya.
"Ehm, ya mas. Gapapa." jawab Mutiara.
"Kamu marah?" tanya Dzen menoleh pada Mutiara.
"Engga kok mas." jawab Mutiara singkat.
"Ehm, apa maksud bapak tadi mas, kenapa bapak menitipkan Tiara pada mas Dzen?" tanya Mutiara yang tiba-tiba membuat Dzen menghentikan mobilnya.
"Ehm, memangnya kenapa Tiara? Apa kamu kurang nyaman?" tanya Dzen.
Mutiara menunduk.
"Ada percakapan apa diantara kalian mas, yang Tiara tidak tau?" tanya Mutiara lagi dengan masih menunduk.
"Ehm..." Dzen tampak ragu untuk mengatakannya.
"Tolong jawab saja mas, dengan jujur." kata Mutiara.
"Ehm, bapak... bapakmu..." kata Dzen dengan keringat dingin yang mulai keluar. Jujur dia belum siap untuk menyampaikan perasaannya kepada Mutiara. Dia masih trauma dengan kejadian beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita lain. Kali ini, dia merasa belum siap, jika Mutiara meninggalkannya karena Mutiara mengetahui perasaannya.
"Bapak tau kalau mas Dzen Suka sama Tiara?" tanya Mutiara menoleh ke arah Dzen dengan tatapan lembut.
Seketika Dzen terkesiap. Dugaannya benar, Mutiara mampu membaca semua yang dia lakukan selama ini.
Dzenpun mengangguk membenarkan dugaan Mutiara. Kemudian Mutiara menatap lurus kedapan.
"Kenapa mas ga bilang sama Tiara dulu?" tanya Mutiara.
Dzen menatap Mutiara lekat.
"Maksudmu?" tanya Dzen.
Mutiarapun tersenyum.
"Terimakasih sudah menjadikan Tiara spesial dalam diri mas Dzen." kata Mutiara menatap Dzen lembut.
Seketika Hati Dzen berdesir hebat. Dia menelan Saliva nya dengan kasar, dan tatapannya tak lepas dari gadis disampingnya.
"Kamu..."
"Kita lanjutkan saja perjalanan kita mas." kata Mutiara mengalihkan pembicaraan sambil menunduk.
__ADS_1
"Ehm, okey." jawab Dzen gugup.
Merekapun melanjutkan perjalanan dengan saling membisu. Tampaknya mereka sedang merasakan perasaan yang tak menentu, sehingga mereka merasa canggung untuk saling bercakap.