
Setelah makan selesai, Zio dan Nilam sudah siap duduk menghadap Diego, menunggu anak itu bercerita alasan dia kabur dari asrama. Begitupun dengan bu Suyamti, yang begitu menyayangi cucu tunggalnya itu.
"Sudah kenyang sayang?" tanya bu Suyamti.
"Sudah oma." jawab Diego.
"Mau cerita sekarang, atau nanti?" tanya Nilam yang sudah menahan emosi atas kelakuan anaknya yang kemudian mendapat tatapan tajam dari bu Suyamti. Zio memegang tangan mbak nya, isyarat memberi kode mbaknya agar bersabar.
Diego hanya diam, dan menunduk. Dia tau bahwa dirinya bersalah.
"Maafin Diego mah, om, oma." kata pembuka Diego sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Kami sudah maafkan kamu sayang, tapi tolong, kamu kasih penjelasan pada kami, alasan kamu pergi dari asrama tanpa pamit." kata bu Suyamti.
"Mama papa ga pernah maksa kamu sekolah di boarding school, mama bahkan menginginkan kamu sekolah umum saja, biar mama ada teman di rumah. Tapi kamu bersikeras minta sekolah di sana, tinggal di asrama, beralasan agar bisa lebih mandiri. Lalu sekarang apa? Kamu justru kabur, bikin kami cemas. Kamu ga tau apa perasaan mama kaya gimana Diego?" kata Nilam mencurahkan semua kemarahannya dengan linangan air mata.
"Nilam..." tegur bu Suyamti dengan menatap tajam anaknya dan tangannya memeluk tubuh Diego penuh cinta.
"Tapi ma..."
"Mbak." Zio langsung memutus kata-kata Nilam.
"Biarkan Diego menenangkan dirinya dulu, dia pasti akan cerita kok." lanjut Zio.
"Maafin Diego ma." kata Diego lagi dengan menunduk, tampak matanya mulai berkaca-kaca.
"Diego takut..." kata Diego dengan masih menunduk.
Bu Suyamti, Nilam dan Zio tercengang mendapat alasan satu kata itu. 'Takut'? takut kenapa? suara yang bergejolak dalam hati tiga orang itu.
Kini terdengar suara isakan dari Diego, Bu Suyamti memeluk erat tubuh cucunya. Nilam menatap anaknya tajam, begitupun dengan Zio, yang menuntut alasan ketakutannya.
"Takut kenapa Sayang?" tanya Bu Suyamti.
__ADS_1
"Diego takut di nakalin lagi sama mereka. Diego ga mau di asrama, Diego takut oma." kata Diego.
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Nilam.
"Cerita sama om, sama mama dan oma. Kamu dinakalim gimana, dan siapa yang nakalin kamu?" tanya Zio lembut, agar Diego tidak merasa tertekan.
"Diego, Diego diancam om." kata Diego lagi sambil memeluk erat omanya.
"Astaga." desah Nilam sambil menangis menutup mukanya.
"Sejak kapan kamu dinakalin?" tanya Zio.
"Sejak kembali ke asrama yang terakhir ini om. Diego diancam, Diego ga berani lapor siapa-siapa." kata Diego dengan menangis.
"Sudah, Diego jangan takut lagi ya. Di sini ada oma, om Zio dan mama. Diego ceritain semua apa yang mau Diego ceritain. Okey?" kata bu Suyamti lembut.
"Tapi, nanti jangan dilaporin ke asrama ya oma. mana. om Zio." pinta Diego.
"Diego takut, nanti dia tambah marah sama Diego om." kata Diego.
"Ga akan sayang. Kamu aman di sini." kata Bu Suyamti.
"Ceritakan Diego." pinta Nilam sudah tidak sabar.
"Nilam. Sabar." tegur bu Suyamti.
"Sejak Diego kembali ke asrama, pas papa pulang itu, Diego sudah mulai di jahatin mah. Diego dipalak, uang saku Diego yang dikasih mama sama papa diminta dia semua. Terus, pas Diego udah ga punya uang, barang-barang Diego diminta. Seperti celana, baju dan alat sekolah. Terus terakhir, kemarin Diego di kurung di gudang mah, Dia bilang, kalau Diego lapor ke bapak pengurus asrama atau bapak ibu guru, dia bilang, dia akan ke rumah kita, dan akan bikin hidup Diego engga tenang mah." kata Diego sambil menangis, membuat Nilam semakin lemas, dan Nilam pun menghambur kepada anaknya, dia peluk anaknya penuh kasih sayang, dia ciumi Diego dengan pinangan air mata.
"Maafin mama sayang, maafin mama." kata Nilam sambil menciumi kepala anak ya.
"Aduh, mah, sakit." kata Diego spontan, saat tangan Nilam memegang bahu Diego.
"Ya ampun sayang, maaf. Kata Nilam sambil membuka sedikit baju Diego untuk melihat adakah luka disana. Ternyata ada luka lebam di area bahu Diego. Dan saat ditelisik Nilam, ada banyak luka memar pada tubuh anaknya yang tertutup baju.
__ADS_1
"Diego tau, kenal siapa pelakunya itu?" tanya Zio.
"Engga om. Diego engga kenal. Tapi, teman-temannya sering manggil dia dengan panggilan bos Roy." kata Diego.
"Apa Diego pernah bikin masalah, sampai dia jahatin kamu Diego?" tanya Nilam.
"Engga mah, Diego aja ga kenal kok, Diego juga ga suka bikin masalah di sekolahan, seperti kata mama papa, Diego ga boleh nakal di sana, ga boleh bikin keributan. Tapi, beberapa kali kemarin, Diego harus masuk ruang BK mah, karena Diego disering melanggar aturan karena ulah mereka mah." kata Diego.
"Okey, Diego. Kamu tenang ya. Kamu ga usah balik ke asrama dulu. Biar urusan ini om urus dulu, om beresin dulu. Diego tenang aja, kamu ga akan kembali ke sana. Om akan urus perpindahan kamu. Kamu boleh pilih, mau sekolah dimana, asalkan jangan kembali ke sekolah itu lagi." kata Zio.
"Ya Om." kata Diego.
"Ya sudah, sekarang Diego istirahat ya. Bobok dulu, sini tasnya biar dibawain bi Saodah ke kamar. Diego tidur di kamar tamu dulu ya." kaya bu Suyamti.
"Diego ga mau oma. Diego mau dikamar om Zio aja." kata Diego.
"Diego, kamu sudah besar nak, ga boleh dong masak mau tidur di kamar om?" kata Nilam.
"Tapi Diego takut mah tidur sendiri di sana." kata Diego.
"Kalau ada papa, Diego mau tidur sama papa." kata Diego sendu.
"Tapi sayang..." kata-kata Nilam diputus oleh bi Suyamti.
"Okey, ayo masuk Diego, buka pintu kamarmu Zio." kata bi Suyamti menggiring cucunya masuk ke kamar Zio.
"Pokoknya, jangan takut sama om. kamu ceritain apapun yang mau kamu ceritain ya." pinta Zio.
"Ya om" kata Diegio.
🌾🌾🌾
Buat para reader, menurutmu, kesehatan nak itu lebih utama ya? Boleh dong sharing, tentang perasaan ibu ketika anak dalan kasusnya Diego.
__ADS_1