Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Emosi


__ADS_3

Malam itu, sepulang dari pasar malam, Mutiara segera menjalankan apa yang menjadi pesan dari dokter baiknya. Dia makan dan minum obat dahulu, namun saat akan merbahkan tubuhnya, dia mengecek ponselnya terlebih dahulu, ada pesan masuk dari seseorang.


📩Mas Ahmad


Assalamualaikum. Mbak Tiara, besok jadi bisa untuk hadir ke kajian ahad pagi kan?


📨Mutiara


Wa'alaikumsalam mas Ahmad. InshaaAllah mas, bisa.


📩Mas Ahmad


Kalau bisa, ba'da subuh ya mbak, bantuin ibu-ibu menyiapkan snack untuk peserta dan juga untuk pembicara.


📨Mutiara


Ya mas


📩Mas Ahmad


Oya, besok saya minta tolong juga, antum jadi pembawa acaranya ya. Karena kebetulan mbak Rumaisha sedang sakit, baru saja tadi memberi kabar. Untuk susunan acara dan lainnya, sudah dibuatkan mbak Rumaisha.


📨 Mutiara


Wah, mendadak sekali mas? Apa saya mampu.


📩Mas Ahmad


InshaaAllah bisa


📨Mutiara


Bismillah. Baik mas.


"Hem, semoga besok keadaanku sudah baik-baik saja. Kesempatan emas, besok bisa bersua dengan KH. Gym Nastiar." gumam Mutiara.


📩mas Ahmad


Jazakumullah khoir


📨 Mutiara


Afwan.


Malam itu, setelah membalas Chat Ahmad, yang dulu kakak tingkat Mutiara di LDK, dan kini Ahmad sudah lulus tiga tahun yang lalu, kini hubungan mereka masih dekat karena urusan masjid agung di kota tempat dia tinggal saat ini.


Pagi itu, seperti biasa, Mutiara terjaga dari tidurnya. Dia bangun pukul dua malam, dia mendirikan sholat malam, namun setelah itu tidak seperti biasanya dimana dia harus segera keluar kosan untuk menyusuri jalan menuju pasar, kini dia lanjut mengaji lalu saat sudah mendekati waktu subuh, Mutiara kemudian mandi dahulu. Adzan subuh berkumandang dari kejauhan, Mutiara sudah bersiap melangkahkan kakinya keluar kosan untuk menuju masjid agung yang memang lokasinya tidak terlalu jauh.


Sampai di lokasi, Mutiara segera ikut sholat subuh bersama, lalu turut serta bergabung dengan panitiap pengajian ibu-ibu yang juga menyiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan ulama besar di negeri ini.


"Mbak ini siapa ya? Kita kaya belum kenal." kata seorang ibu menyapa dengan ramah.


"Saya Mutiara Hati bu, biasa dipanggil Tiara." kata Mutiara memperkenalkan diri.


"MaasyaAllah, nama yang sangat bangus. Kenalkan, nama saya bu Yuli." kata bu Yuli memperkenalkan diri.


"Mbak Tiara sibuk apa kesehariannya?" tanya bu Yuli lagi sambil memasukkan roti ke dalam plastik.


"Saya masih kuliah bu." jawab Mutiara santun.

__ADS_1


"Oh, masih kuliah? Dimana mbak?" tanya bu Yuli lagi.


"Di UNES bu." jawab Mutiara.


"Aslinya sini juga mbak?" tanya bu Yuli yang sudah mulai akrab.


"Saya asli Solo bu, saya disini ngekos." jawab Mutiara.


Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk.


"Ibu, maaf, saya angkat telfon dulu ya." kata Mutiara mohon ijin.


"Ya mbak." jawab bu Yuli ramah.


📞mas Salah Sambung


Halo, assalamualaikum


"Wa'alaikumsalam mas."


"Bagaimana keadaanmu, Tiara?" tanya Dzen di seberang.


"Alhamdulillah sudah lebih baik mas. Setelah minum obat kemarin, saya sudah merasa lebih baik." kata Mutiara.


"Alhamdulillah kalau begitu. Untuk sarapannya, perlukah saya kirim gofood?" tawar Dzen.


"Ga usah mas. Nanti saya beli sarapan saja." kata Mutiara menolak.


"Oh, ya sudah Sekarang lagi apa?" tanya Dzen.


"Ehm, gimana ya? Kalau aku bilang jujur, mas Dzen bakal marah ga ya? Tapi kalau ga jujur, hem, ga baik juga." batin Mutiara galau.


"Ehm, saya di masjid agung mas, lagi bantuin ibu-ibu panitia pengajian ahad pagi menyiapkan acara safari dakwahnya KH. Gy Nastiar." kata Mutiara.


"Saya tidak apa-apa mas." kata Mutiara mulai tegang.


"Kamu pulang, kamu istirahat saja ya. Nanti kamu kecapekan." kata Dzen.


"InshaaAllah ketika kita sakit, dengan menghadiri majlis ta'lim, Allah akan mengangkat sakit kita. Ketika kita niatkan ibadah, InshaaAllah sakit ini akan berubah menjadi obat. Mas Dzen ga usah khawatir, karena obat dari suatu penyakit bukan hanya obat medis. Maaf mas, saya masih banyak pekerjaan. Assalamualaikum." kata Mutiara yang sudah mulai merasakan dadanya sesak karena perasaan marah. Dia tidak suka ada orang yang mengatur dirimu, dan bahkan melarangnya untuk berkegiatan positif.


Tut tut tut


"Astaghfirullahal'adzim, astagfirullahal'adzim Astagfirullahal'adzim." gumam Mutiara sambil memegang dadanya untuk mengontrol emosi.


Mutiara menekan tombol merah di layar ponselnya. Dia menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dia tidak ingin hawa amarahnya diketahui orang lain. Memang itulah cara Mutiara dalam mengontrol emosi. Mutiarapun kembali ke ruangan tempat dimana para ibu-ibu sibuk memasukkan snack ke dalam plastik.


"Siapa mbak Tiara?" tanya bu Yuli yang tadi sempat mendengar Mutiara menyebut nama 'mas'.


"Temen kok bu." kata Mutiara.


"Oh, kirain pacarnya." goda bu Yuli.


"Ehm, saya tidak pacaran bu." jawab Mutiara ramah.


"Oya, sama dong mbak sama mas Ahmad. Mas Ahmad itu juga ga pacaran mbak, dia itu laki-laki idaman mbak. Banyak ibu-ibu di sini yang juga pingin jadiin mas Ahmad mantunya. Mbak Tiara sama mas Ahmad aja mbak." celoteh seorang ibu yang cukup banyak bicara diantara para ibu-ibu yang lain.


"Iya mbak, bener kata bu Atun, mbak Tiara sama mas Ahmad aja. Cocok lho mbak, sama-sama sarjana, mas Ahmad ganteng Sholih aktif berkegiatan, dan kalau ngajarin ibu ibu itu lucu dan sabar mbak." kata bu Ika, seorang ibu yang lain yang juga nge fans sama sosok Ahmad.


"Mbak Tiara juga cantik, Sholihah, baik. Wis pokoknya gathuk mbak." kata bu Atun.

__ADS_1


Saat mereka sedang menjodoh jodohkan, tiba-tiba Ahmad muncul dari pintu.


"Assalamu'alaikum. Mbak Tiara." panggil Ahmad.


"Wa'alaikumsalam. Ya mas?" jawab Mutiara.


"Bisa ikut saya sebentar?" tanya Ahmad.


"Bisa mas bisa. Apalagi kalau diajak nikah mas, wis pokoknya mbak Tiara mau mas." kata bu Atun, tim hore kelompok ibu-ibu.


"Walah, ibu-ibu ini. Ada-ada saja Katanya saya mau dijodohin sama anak bu Atun?" kata Ahmad bercanda.


"Weleh, mas Ahmad ini guyonan. Anakku masih kecil mas, baru umur sepuluh tahun, mau nunggu berapa taun lho mas Ahmad ini. Hahaha." jawab bu Atun terhibur.


"Hehehe, bercanda bu. Saya permisi dulu ya bu. Saya pinjam mbak Tiara nya dulu." kata Ahmad lagi.


"Iyo mas, ojo di nakali lho mas. Mbak Tiara anak baik soale." jawab bu Yuli.


"Siap bu Yuli." jawab Ahmad.


Sepeninggal Ahmad dan Mutiara ibu-ibu sibuk dengan gosipnya masing-masing.


💞💞💞


"Wa'alaikumsalam. Tiara kenapa ya? Dia marah sama aku?" gumam Dzen saat mendengar kata-kata Mutiara diakhir telponnya.


"Ga biasanya dia kaya gitu. Kenapaa dia? Apa aku terlalu mengatur dia? Tapi aku ngelakuin semua ini, karena aku peduli sama dia. Aku khawatir sama keadaannya." gumam Dzen membela dirinya.


"Tiara, kamu benar-benar membuatku berubah. Aku harus nyusul dia ke sana." kata Dzen.


"Eh, tapi sama siapa? Masak sendiri?" kata Dzen berfikir.


"Aah, iya. Andi."


Dzenpun menelpon Andi, sahabatnya.


📞Andi


Halo. Ada apa Bro?


"Ndi, sibuk ga?" tanya Dzen.


"Engga. Hari minggu free." kata Andi di seberang.


"Temenin gue yuk. Ke pengajian." kata Dzen.


"Widih, Ngipi apa lo semalem? Tobat lho?" kata Andi mengejek.


"Sialan lo ngatain gue tobat tobat Segal." umpat Dzen.


"Hahaha, sorry, sorry. Abisnya ga biasanya lo kaya gini." kata Andi.


"Ada pengajian A' Agym di masjid Agung. Ke sana yuk." ajak Dzen.


"Oh, iya. Mertua gue udah berangkat dari tadi juga kok." kata Andi.


"Lhah, kalo lo ikutan, bini sama anak lo gimana?" tanya Dzen.


"Santai. Ada baby sister nya boy." kata Andi santai.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu, gue jemput ya." kata Dzen.


"Siap." jawab Andi semangat.


__ADS_2