
Bel rumah Dzen berbunyi tanda ada tamu, Dzen yang baru saja menyelesaikan ibadah sholat maghribnya, berdiri dari duduknya lalu berjalan ke pintu, untuk menerima tamunya.
"Ndi? Ada apa?" tanya Dzen saat melihat Andi datang.
"Tadi, bini gue bilang, di rumah lo abis ada keributan. Ada apa Dzen?" tanya Andi, sahabat sekaligus tetangga Dzen.
"Gapapa. Cuma masalah kecil. Tadi Lala dateng ke sini." kata Dzen sambil duduk di sofa ruang tamunya.
"Lala? Ngapain?" tanya Andi penasaran.
"Tuh, lo liat itu." kata Dzen menunjuk sebuah undangan pernikahan di atas meja tamunya. Andipun mengambil undangan itu, dan membacanya.
"Kevin?" tanya Andi mengernyitkan alisnya.
"Hem. Kevin, yang dulu bersama Lala di hotel saat kita ketemu waktu itu, dan saat itu Lala terang-terangan bilang ke gue, kalo kita udah masing-masing." kata Dzen.
"Tapi, ini calon mempelai wanitanya bukan Lala kan?" tanya Andi.
"Ya. Itu sebabnya dia kesini." kata Dzen.
"Ngapain? Ngajak lo balikan?" tebak Andi.
"Yah, gitulah. Namanya juga abis dikhianatin cowok dan sahabatnya." jawab Dzen santai sambil berjalan ke dapur untuk membuatkan minum sahabatnya itu.
"Trus, lo terima?" tanya Andi.
"Menurut lo?" tanya Dzen.
"Kalo lo nerima dia, elo tu Bodoh." kata Andi memberi pendapat.
"Brati gue pinter?" tanya Dzen sambil menyodorkan secangkir kopi untuk Andi.
"Di minum."
"Thank's." jawab Andi sambil menerima kopi itu.
"Hahaha, brati lo tolak dong." kata Andi.
"Ya secara logika udah jelas kan Ndi? Kata bini lo tadi di rumah gue ada keributan, ga mungkin kan kalo gue nerima dia, kita bakal ribut? Ya pasti gue tolak lah, makannya dia marah-marah, nangis-nangis." kata Dzen sambil menyeruput kopinya.
"Cakep lo Dzen." puji Andi.
"Hem, gue udah berusaha berubah Ndi, gue ga mau mengulang kebodohan gue yang lalu." kata Dzen.
"Iya Dzen, lagipula tu cewek udah keliatan banget kalo dia itu bukan cewek baik-baik." kata Andi.
"Kalo menurut gue, lo fokus aja sama orang yang ngerubah elo kaya gini." kata Andi.
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Dzen.
"Kaya gue ga tau aja. Elo tu dulu sholat aja masih bolong bolong, bahkan ga sholat seharian. Pengajian juga engga apalagi ngaji. Hahaha." kata Andi meledek.
"Ya, iya juga sih." kata Dzen sambil mikir.
"Trus gimana kabar hubungan elo sama Tiara?" tanya Andi.
"Yah. Gitulah." jawab Dzen sambil mengangkat bahunya.
Dzen dan Andipun berlanjut mengobrol hal lain, hingga malam, Andipun pamit pulang karena mendapat telpon dari istrinya.
๐๐๐
Waktu semakin larut Zio sudah tertidur di sofa yang disediakan pihak rumah sakit untuk yang menjaga pasien. Sedangkan Bu Suyamti juga sudah tidur dengan tenang karena efek obat, begitupun dengan Mutiara yang ketiduran di kursi samping ranjang bu Suyamti dengan kepala yang dia taruh di ranjang pasien.
Jam tiga dinihari, ponsel Mutiara bergetar, tanda alarm untuk sholat malam berbunyi. Mutiarapun terbangun, lalu melangkah pergi dari ruangan itu, karena di ruangan itu tidak ada alat sholat, sedangkan dirinya juga tidak membawa alat sholat, Sehingga Mutiara memutuskan untuk sholat ke mushola rumah sakit yang berada di lantai empat itu.
Sedangkan saat adzan subuh, bu Suyamti terjaga dari tidurnya, dan melihat ada yang kurang, dia mencari Mutiara.
"Zi, Zio." panggil bu Suyamti.
"Hem? Ya mah? Ada apa mah? Ada yang perlu Zio bantu?" tanya Zio sambil mengerjap matanya yang masih berat untuk membuka mata.
"Tiara mana?" tanya Bu Suyamti tampak sedih dan panik.
"Duh, Zio juga ga tau mah. Ke toilet mungkin ma." kata Zio.
"Ga ada." jawab bu Suyamti.
"Coba Zio lihat HP dulu. Mungkin dia ngechat Zio." kata Zio sambil mengambil ponselnya yang dia taruh di sofa tempat dia tidur tadi. Dan benar saja, ada pesan masuk dari Mutiara sejak jam tiga dini hari.
๐ฉMutiara
Maaf pak Zio, saya ijin ke mushola dulu, mau sholat. Tadi saya mau pamit, pak Zio dan bu Suyamti kaya lagi nyenyak tidurnya, saya tidak tega mau membangunkan.
"Oh, dia lagi sholat ma." kata Zio.
"Tiara sholat kemana?" tanya bu Suyamti.
"Ke mushola." jawab Zio.
"Susul dia Zi, ikutlah sholat subuh di sana." perintah bu Suyamti.
"Tapi mah, yang jagain mama siapa?" kata Zio bermaksud menolak.
"Do'akan mama, dengan kamu ikut sholat subuh berjamaah. Mama nanti bisa minta tolong perawat." kata Bu Suyamti.
__ADS_1
"Ehm, ya mah." kata Zio menurut.
Ziopun menyusul Mutiara ke mushola. Dilihatnya sosok Mutiara yang masih duduk khusyuk di shof sholat putri, saat dirinya akan masuk mushola setelah mengambil air wudlu.
Setelah selesai sholat, Zio segera keluar masjid, dia toleh kembali sosok gadis berjilbab itu di bagian putri, gadis itu masih khusyuk dengan duduk panjangnya, dengan menengadahkan do'a. Zio bermaksud menunggu Mutiara hingga Mutiara selesai sholat di teras mushola.
Dengan tersenyum, Zio membatin,
"Tiara, beruntung saya kenal kamu. Kamu gadis unik. Gadis berbeda. Pantesan aja mama begitu nyaman denganmu. Ga tau kamu punya apa, sehingga mama bisa sadar melewati masa kritisnya. Yang jelas, kamu wanita yang berbeda. Kamu gadis baik-baik, polos, dan gigih. Pekerja keras. Ku akui, Cantik pula." batin Zio sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga dia terkaget oleh panggilan seseorang.
"Assalamualaikum." sapa Mutiara.
"Eh, Wa'alaikumsalam. Kamu sudah selesai?" tanya Zio berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Sudah pak. Alhamdulillah." kata Mutiara dengan tersenyum tulus, dengan wajah berseri seusai sholat. Tidak ada raut wajah bantal di sana. Dan tidak pula wajah berpoles make up disana.
"Oh My God, bidadari turun dari surga. Cantik alami. Plis, jangan senyum." batin Zio sambil menelan Saliva nya dengan kasar.
"Bu Suyamti sama siapa pak?" tanya Mutiara sambil duduk disebelah Zio. Namun Zio masih tampak fokus menatap wajah gadis ayu itu.
"Pak, Pak Zio?" panggil Mutiara lagi dengan melambaikan tangannya didepan wajah Zio.
"Eh. ya?" jawab Zio dengan gugup.
"Ibu sama siapa pak di kamar?" tanya Mutiara mengulang pertanyaannya.
"Ehm, Katanya sama perawat." jawab Zio.
"Mama yang minta saya ke sini, ikut sholat subuh berjamaah." kata Zio.
"MaasyaaAllah." komentar Mutiara.
"Oh ya pak. Nanti saya pamit sekitar jam enam ya pak." lanjut Mutiara.
"Kenapa?" tanya Zio yang ternyata dalam hatinya masih berharap Mutiara masih membersamainya.
"Nanti saya ada acara kampus pak, Kongres Mahasiswa, kebetulan saya diamanahi jadi sie acara. Dan saya belum packing barang sama sekali pak." kata Mutiara.
"Oh, ya. Nanti biar saya bilang sama mama." kata Zio.
"Ya pak. Terimakasih." jawab Mutiara.
"Ehm, kita cari sarapan dulu yuk, saya lapar." kata Zio.
"Tapi pak, ibu..." kata Mutiara ragu.
"Udah, ayok." ajak Zio sambil berjalan meninggalkan mushola.
__ADS_1
"Baik pak." jawab Mutiara yang kemudian mengikuti langkah Zio untuk ikut serta sarapan.