Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Ya Sudahlah


__ADS_3

Sesampainya di depan gedung fakultasnya, Mutiara segera turun dari boncengan, tak lupa dia mengucap terimakasih kepada dokter baik hati yang sudah mengantarnya.


"Terimakasih ya dok, maaf, saya buru-buru dok. Saya langsung permisi dulu ya dok." kata Mutiara sambil memberikan helem yang dipakainya kepada Dzen.


"Ya Tiara." jawab Dzen menerima helem yang dipakai Mutiara.


Dzen tak segera melaju, dia melihat punggung gadis itu, yang tegopoh-gopoh berlari kedalam ruangan dan naik tangga menuju kelasnya.


Sambil tersenyum, Dzen bergumam, "Gadis unik, baik. Semoga hal baik membersamaimu Tiara."


Hingga bayangan Mutiara sudah hilang dibalik tembok. Dzen pun melakukan motor pinjamannya menuju rumah sakit lagi, untuk dikembalikan pada si pemilik.


Sedangkan Mutiara yang sudah sampai di lantai tiga dengan berlari menaiki anak tangga, dia segera menuju pintu ruang kelasnya yang tertutup.


Tok tok tok


"Assalamualaikum." sapa Mutiara.


Terdengar sayup-sayup suara dosen bermata elang itu sedang memberikan materi kuliah.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu kelas terbuka, sesosok laki-laki berbadan tegap, dengan sebuah spidol di tangan kanannya, menatap tajam Mutiara.


"Wa'alaikum salam. Ada apa?" tanya Zio.


"Ehm, maaf pak. Saya terlambat." kata Mutiara mendunduk tanda merasa bersalah


"Ini jam berapa?" tanya Zio.


"Jam 10 pak." jawab Mutiara masih berusaha untuk tetap tegar menerima segala konsekuensinya. Masih ada setitik harapan untuk bisa di toleransi atas keterlambatannya.


"Harusnya jam kuliah saya mulai jam berapa?" tanya Zio lagi.


"Jam... jam sembilan pak." jawab Mutiara lirih.


"Mutiara Hati pak."


"Hm...Kamu tau, kalau hari ini kamu ada jadwal tugas persentasi?" tanya Zio.


"Ya pak. Saya tau, dan ini materi saya." kata Mutiara sambil menyodorkan makalahnya berupa hardfile.


"Okey, silakan tunggu diluar, sampai jam kuliah saya selesai." kata Zio sambil memegang gagang pintu.

__ADS_1


Seketika Mutiara mendongak, menatap wajah tampan dosen mudanya tak percaya. Meski dia tau, bahwa ini yang pasti akan terjadi, tetapi rasanya berat. Karena baru kali ini dia ditolak seorang dosen untuk masuk ruangan mengikuti mata kuliah. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, tangannya bergetar dengan memegang makalah, dan jantungnya sudah tak karuan iramanya, badannya terasa lemas tak bertenaga.


Begitupun dengan dua teman dekat Mutiara, Nadia dan Mila. Mereka saling tatap menanggapi apa yang sudah terjadi dihadapannya dan teman sekelasnya.


"Silakan anda tunggu diluar , karena saya harus melanjutkan materi saya." kata Zio sambil tangannya menunjuk keluar, dan tangan kanannya memegang hendel pihtu lalu menutupnya.


Mutiara masih berdiri mematung di depan pintu kelasnya. Dia tak kuat berjalan menuju tempat duduk di dekat kelasnya. Sudah pasti, dengan ditolaknya tugasnya, itu berarti dosen itu marah besar kepadanya, dan berakibat pada nilai matakuliah Menejemennya akan buruk, yang mengancam beasiswanya.


Dengan sekuat tenaga, Mutiara berjalan terseok-seok menuju tempat duduk didepan kelasnya, dia terduduk lesu di sana. Giliran air mata berhasil meloloskan diri dari kedua matanya yang sedari tadi memanas. Kedua tangannya masih gemetar menegang makalahnya dengan kuat.


"Yaa Allah, aku pasrah." Batin Mutiara.


"Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik bagiku."


Tak berapa lama kemudian, pintu ruang kelasnya terbuka, seorang laki-laki keluar membawa tas kerjanya, dan berjalan begitu saja melewati Mutiara tanpa permisi.


Mutiara yang tak patah semangat, berlari menemui dosen muda itu lagi.


"Pak Zio. Maaf pak jika saya lancang. Ehm, masihkah ada toleransi untuk saya pak, untuk mempresentasikan tugas saya?" tanya Mutiara.


"Tidak." jawab Zio pendek. Lalu melanjutkan jalannya.

__ADS_1


Kembali, Mutiara menelan kekecewaan.


"Yah, sudahlah." kata Mutiara pasrah.


__ADS_2