
Siang itu Zio menatap lekat keponakannya yang masih tertidur lelap. Setelah tadi berunding dengan bu Suyamti dan Nilam, Zio akhirnya memutuskan untuk meminta tolong pada asistennya, pak Yuda. Karena jika Zio turun tangan sendiri untuk menyelidiki kasus ini, maka Diego akan terancam lagi oleh orang itu. Zio sengaja tidak menampakkan diri, karena dikhawatirkan pelaku akan melarikan diri.
πZio
Assalamualaikum pak Yuda
π Wa'alaikumsalam pak Zio. Ada yang bisa saya bantu pak? tanya pak Yuda dari seberang.
"Pak Yuda, nanti bisa ketemu?" tanya Zio.
"Ehm, untuk hari minggu ini, saya kebetulan ada acara keluarga pak. Ada apa ya pak?"
"Ehm, begini pak. Saya tu mau minta tolong, tapi kalau lewat telpon saja, memang tidak masalah ya pak?" tanya Zio sungkan.
"Oh, ya tidak masalah pak. Silakan." jawab pak Yuda.
"Ehm, begini pak, Keponakan saya hari ini dia kabur dari asrama, setelah tadi kami tanya, alasan dia kabur, katanya karena disana dia kerap dianiaya, dan dibully oleh kakak kelasnya anak SMA yang juga tinggal satu asrama dengan Keponakan saya. Nah. Maksud saya , motif pembullyan ini apa, saya mau cari tau dulu pak. Kalau pak Yuda bisa membantu, saya mau minta tolong pak Yuda saja." kata Arjuna.
"Sekolahnya dimana pak?" tanya pak Yuda.
"Di yayasan Pelita Insani pak. Dia masuk di SMPnya." jawab Zio
"Pelita Insani?" pak Yuda memastikan.
"Ya pak."
"Kebetulan sekali pak, ini keponakan saya, si Shanum juga bekerja di sana. Dia memang guru TK disana, tetapi dia juga menjadi penanggungjawab di asrama putri." kata Pak Yuda.
"Shanum? Wah, kebetulan sekali. Ehm, apa aku coba hubungi dia, biar aku bisa kenal lebih dekat dengannya ya? Sepertinya, aku.. " ah sudahlah." batin Zio.
"Pak Zio?" panggil Pak Yuda dari seberang.
"Oh, ya pak Yuda?"
"Bagaimana pak, apa perlu saya sampaikan pada Shanum, siapa tau dia bisa membantu." kata pak Yuda.
"Oh, ya pak. Boleh boleh. Kebetulan sekali. Kalau boleh, saya minta contacnya dulu atau saya mau ketemu dulu pak, untuk menceritakan kejadian sesungguhnya." kata Zio.
"Baik pak. Nanti saya kirimi. Dan saya akan sampaikan pada Shanum." jawab pak Yuda.
"Terimakasih banyak pak Yuda. Mohon maaf, jika saya mengganggu waktu liburan anda." kata Zio.
"Tidak masalah pak." jawab pak Yuda.
__ADS_1
Sambungan telpon terputus, Zio tersenyum setelah melakukan sambungan telpon dengan asisten papanya.
"Mungkin memang ini jalan jodohku. Siapa tau." gumam Zio sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Gimana Zi? Pak Yuda bisa bantu?" tanya Nilam dengan wajah cemas.
"Kemungkinan bisa mbak." jawab Zio.
"Syukurlah." kata Nilam.
"Kebetulan, keponakan pak Yuda itu juga bekerja di yayasan Pelita Insani, mbak. Tapi dia guru TK nya, namun meski begitu, dia juga penanggungjawab di asrama putri. Jadi, ya, kemungkinan besar, keponakan pak Yuda bisa bantu menyelidiki kasusnya Diego." kata Zio yang tiba-tiba terbayang wajah judes gadis cantik keponakan pak Yuda itu.
"Oh, kebetulan dong. Dia bisa bantu?" tanya Nilam.
"Sepertinya bisa, baru mau ditanyakan dulu." jawab Zio.
"Oh, ya syukurlah. Semoga rencana kita membuahkan hasil." kata Nilam.
"Ya semoga." jawab Zio.
πΎπΎπΎ
Di sebuah rumah sederhana ditengah perkampungan, Pak Yuda sudah selesai berbicara dengan orang diseberang.
"Biasa, bos muda." jawab pak Yuda.
"Tumben ngobrol di telponnya lama. Biasanya kalau mau ngobrol, ngajak face to face 'kan?" tanya bu Mia.
"Iya, tadi papa juga udah bilang kok kalau papa ada acara keluarga." jawab pak Yuda.
"Ehm, ya. Ini pa, kopinya." kata bu Mia.
"Okey, terimakasih ma." jawab pak Yuda sambil menyeruput kopi buatan istrinya.
"Oya ma, Shanum dimana?" tanya pak Yuda.
"Ada di kamar mbah. Tadi mbah minta disuapin sama Shanum." kata bu Mia.
"Owh, sepertinya ibu lagi kangen sama mbak Hera." kata Pak Yuda, yang tau betul kasih sayang ibunya itu cukup besar kepada ibu Shanum bernama Hera.
"Ehm, memangnya ada apa pa, kok tumben mas Bos telpon?" tanya bu Mia.
"Ehm, ada masalah keluarga. Keponakan pak Zio kabur dari asrama, dia pulang ke rumah pak Zio tanpa pamit pihak asrama. Kala ditanya, jawabnya karena dia kena bullying oleh kakak tingkatnya. Dan ternyata, Keponakan pak Zio ini sekolah di yayasan yang sama dengan tempat Shanum bekerja." kata pak Yuda.
__ADS_1
"Owh, begitu? Ya siapa tau, dengan alasan ini, Shanum bisa kenal sama mas bos, terus bisa berjodoh." canda bu Mia.
"Mama nih, ngayal." tukas pak Yuda.
"Ya kan ngayal yang baik baik ga ada salahnya kan pa. Siapa tau jadi beneran." bela bu Mia.
"Ya ya ya. Sepertinya memang, pak Zio itu ada sinyal pada Shanum ma." kata pak Yuda sambil mengingat saat Shanum pernah diajak ke kantor.
"Oya? Memangnya pak Zio pernah ketemu Shanum pa?" tanya bu Mia.
"Ehm, sudah. Sekali."
"Kapan?"
"Belum lama sih, waktu pulang kontrolin Shanum, dia langsung papa ajak ke kantor. Karena papa ada meeting." jawab Pak Yuda.
"Ehm, ya semoga aja deh, mereka berjodoh. Kasian juga Shanum, sudah terlalu lama dia sendiri." kata bu Mia.
"Tapi mama ga keberatan kan Shanum masih bersama kita?" tanya pak Yuda.
"Ya engga lah pa. Shanum itu anak cerdas, baik, rajin. Mama sayang banget sama dia pa. Ya kan wajar pa, semua temen Shanum udah pada berkeluarga. Umur Shanum juga udah hampir kepala tiga, nanti jadi bahan gunjingan lagi, dibilang perawan tua." kata bu Mia.
"Sabar ma. Anaknya aja masih santai aja kok." kata pak Yuda.
"Iya pa."
"Jodoh itu rejeki ma. Kalau emang rejekinya Shanum cepet, pasti udah kemarin-kemarin dia nikah kan? Ya karena rejeki jodohnya memang masih di uji, ya masih kudu sabar." kata pak Yuda.
"Iya pa."
"Ya udah, papa mau nemuin Shanum dulu, nanti jam tiga kita pamit pulang ya, Shanum sudah harus segera kembali ke asrama kan?" kata pak Yuda.
"Iya pa. Mama mau nyariin Fathan dulu." kata bu Mia.
"Emang Fathan kemana?" tanya pak Yuda yang sudah berjalan sampai ambang pintu.
"Katanya tadi mau main sama Raka. Tetangganya mbah." jawab bu Mia.
"Oh, anaknya si Wawan itu kali ya?" kata Pak Yuda.
"Oh, iya. Bapaknya namanya Wawan pa." jawab bu Mia.
Pak Yuda pun melanjutkan langkahnya menuju kamar ibunya, dilihatnya keponakan kesayangannya, putri semata wayang kakaknya, tampak begitu sabar mendengarkan cerita mbahnya dengan wajah penuh ceria.
__ADS_1
"Semoga kamu segera menemukan jodohmu Num." batin pak Yuda sambil melihat Shanum penuh cinta.