
Siang itu, Setelah sholat dzuhur di masjid, dan hanya berjamaah berdua saja, Dzen dengan Andi, karena tadi mereka menangani pasien terlebih dahulu, sehingga ketinggalan sholat berjamaah. Seusai sholat, mereka ke teras sambil memakai sepatu mereka.
"Dzen, udah ngabarin gadis ayu lo belum?" tanya Andi.
"Gadis ayu? Maksud lo?" tanya Dzen tidak mengerti, sambil menghentikan kegiatannya yang memakai kaos kaki.
"Ya Tiara lah." kata Andi.
"Oh, iya. Sampe lupa. Belum gue kabarin." kata Dzen.
"Payah lo, emang lo ga takut dia bakal telat makan siang ini, gara-gara nunggu kabar dari lo?" tanya Andi.
"Eh, maksud lo! Elo tu kalo ngomong yang jelas dong, bikin gue tambah bingung." protes Dzen.
"Gue tadi liat kali ekspresi dia pas lo bilang ga boleh ikut, kayaknya dia kecewa.
"Ehm, gitu ya? Ya gue juga ngerasa sih, kalau dia kecewa. Ohiya. gue emang harus telpon dia, dia udah makan belum ya? Obatnya udah diminum belum ya?" kata Dzen yang juga teringat tentang kesehatan Mutiara.
"Mulai deh, mulai." ledek Andi.
"Dia abis sakit Ndi, wajar dong kalau gue khawatir?" kata Dzen sambil mencoba telpon Mutiara.
Saat Dzen sedang telponan dengan Mutiara, Andi juga mendapat telpon dari keluarga pak Anggoro, keluarga yang biasa menggunakan jasanya ketika ada yang sakit.
"Eh, gue ada pasien, gue pinjem mobil lo dulu ya." kata Andi.
Dzen hanya memberi isyarat jempol, tanda mengijinkan.
💞💞💞
"Tiara?" panggil seorang laki-laki saat Mutiara sedang melepas jas hujannya.
"Eh, Kak Yusuf?" kata Mutiara sambil mengibaskan jas Hujannya.
"Dari mana atau mau kemana Ra?" tanya Yusuf.
"Ini kak, abis ketemu pak Zio, dosen menejemen. Ada tugas dari beliau." kata Mutiara.
"Oh iya, kabarnya, kamu jadi asisten dosennya pak Zio ya?"
"Ya begitulah kak." jawab Mutiara.
"MaasyaaAllah, keren." kata Yusuf.
__ADS_1
"Ehm, kak Yusuf dari rumah sakit atau dari mana?" tanya Mutiara.
"Iya, dari rumah sakit, Ra. Gantian sama ayah." kaya Yusuf.
"Ehm, lalu bagaimana keadaan bundanya kak Yusuf?" tanya Mutiara lagi.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Tiara, karena kamu tadi langsung nolongin bunda, dan tadi kebetulan juga ada dokter Dzen sama dokter Andi, jadi tadi bunda langsung tertangani. Kalau engga, entahlah tadi. Kata dokter jantungnya tadi, terlambat dikit aja bisa fatal. Minimal, bunda kena serangan stroke." kata Yusuf.
"Innalillahi. Iya kak. Alhamdulillah, berarti memang bundanya kka Yusuf masih diberi panjang umur dan kesehatan." kata Mutiara.
"Oya, tadi gimana sih Ra kejadiannya?" tanya Yusuf.
Namun belum sempat Mutiara menjawab, petir menggelegar, dengan suara memekakan telinga
Duarrrrr
Seketika suasana gelap mencekam, aliran listrik mati, dan gerakan Refleks Mutiara juga membuat kaget Yusuf. Mutiara melompat dalam pelukan Yusuf, dengan wajah di tenggelamkan di dada Yusuf, dan kedua tangannya melingkar di perut Yusuf. Yusuf yang tadinya tidak melihat ke arah Mutiara juga sama sekali tidak menduga, akan mendapat pelukan dari gadis di sebelahnya.
"Astaghfirullahal'adzim, astaghfirullahal'adzim, astagfirullahal'adzim." Mutiara terus melafalkan kalimat istighfar karena saking kaget nya.
"Subhanalladzi ashro bihamdihi wal mala ikati minhifatih." kemudian Mutiara yang masih belum tersadar dari apa yang dia lakukan, terus melafalkan do'a ketika ada petir.
*Di kedalaman hatiku
Tersembunyi Harapan yang suci
Lewat keshalihanmu
Yang terukir menghiasi dirimu
Tak Perlu dengan kata kata
-Nasyid by Edcoustic- (ini kata Author, dikasih backsound ini buat Yusuf😍*)
"Astaghfirullahal'adzim, Subhanalladzi ashro bihamdihi walmalaikati min hifatih." lafal Yusuf juga dengan tetap tenang, tanpa membalas pelukan Mutiara. Yusuf yang terkejut hanya diam membisu dengan terus melafalkan istighfar. Namun, jantung Yusuf semakin kencang berdetak, karena pelukan yang belum halal baginya.
"Ehem." Yusuf pun mengeluarkan suara deheman, agar Mutiara tersadar sendiri dari gerakan refleksnya. Dan benar saja, seketika Mutiara tersadar.
"Astagfirullah. Apa yang aku lakukan?" Batin Mutiara, yang kemudian segera melepaskan pelukannya.
"Astagfirullah. Maaf kak. Maaf. Saya refleks. Maaf." kata Mutiara menunduk menahan rasa malu yang tiada tara.
"Ehm, iya. Gapapa." jawab Yusuf yang juga menunduk, karena wajahnya terasa panas karena menahan rasa yang belum seharusnya muncul saat itu.
__ADS_1
Keduanya pun terdiam, saling canggung dan mereka kembali asyik dengan pikiran masing-masing.
"Astaghfirullah. Tiara, bisa-bisanya kamu bersikap konyol kaya gitu? Malu-maluin aja kamu ini, mana sama kak Yusuf lagi? Mau ditaruh mana ni muka saking malunya." batin Mutiara merutuki dirinya sendiri.
"Astagfirullah yaa Allah. Ampunilah dosaku ya Allah, tak seharusnya aku refleks memeluk yang bukan mahromku. Ampunilah aku Yaa Allah, betapa aku sangat berdosa telah melanggar Aturan mu. Lindungilah hamba dari godaan syaitan, ditengah suasana seperti ini. Yaa Allah mana ini gelap banget lagi, hujannya juga kenapa ga reda-reda sih, aku ga enak banget sama kak Yusuf." batin Mutiara.
Sedangkan hati yang berada di sebelah Mutiara berkata juga
"Astagfirullah. Yaa Allah, ampunilah saya. Atas kejadian yang baru saja terjadi. Tentunya, ini bukan sebuah kebetulan, ini tak lepas dari skenarioMu ya robb. Hamba mohon ampunan Mu. Kuatkan Hati hamba untuk teguh memegang syariatMu. Lindungi hamba dari bisikan syaitan, dimana saat ini kamu sedang dalam sebuah ujian Darimu, berupa kholwat. Ampunilah segala dosaku yaa Robb." batin Yusuf yang juga merutuki dirinya sendiri
"Yaa Allah. Aku pernah mendengar sebuah nasehat, bahwa ketika Hujan, itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Aku memohon kepadaMu yaa Allah, berikan kesembuhan untuk bunda hamba di rumah sakit, berikan kekuatan untuknya, beri kesabaran untuk nya." Batin Yusuf mendo'akan bundanya.
"Dan... Yaa Allah, jika ini pelukan pertama yang masih belum halal untukku, maka hamba mohon, suatu saat engkau ijinkan kami berpelukan lagi dengan ridho dan ijinMu dengan status Halal." batin Yusuf berdoa dengan berharap agar dia berjodoh dengan gadis disampingnya.
Yusuf yang merasa canggung atas kejadian tadi, diapun mencoba untuk mencairkan suasana yang kian mencekam, karena hari sudah semakin malam, dan suasana gelap gulita tanda ada lampu yang menyala, hanya sesekali terkena sorotan lampu mobil dan motor yang lalu lalang nekad menerjang hujan badai.
"Hujannya ga reda-reda ya, anginnya juga masih kenceng aja. Mana gelap banget ya. Jam berapa sih ini?" kata Yusuf bergumam sendiri sambil melihat arloji di tangan kirinya.
"Udah jam Enam kurang sepuluh menit, berarti udah masuk waktu maghrib ya ini " kata Yusuf lagi tanpa butuh sebuah jawaban, karena memang tidak menunjuk lawan bicara.
"Hah, sudah jam enam kak?" tanya Mutiara tak percaya.
"Iya." jawab Yusuf.
"Astaghfirullah. Mana gelap banget, belum reda juga ini angin sama hujannya." gumam Mutiara.
"Ehm, Tiara?" sapa Yusuf lagi.
"Ya kak?" tanya Mutiara.
"Ehm, gimana tadi ceritanya? Kok bunda saya bisa jatuh di toilet? Kata dokter Dzen, yang tau kejadiannya itu, kamu." tanya Yusuf.
Suasana keduanya pun mencair, Mutiara pun menderitakan kejadiannya kepada Yusuf.
"Sebenarnya, saya juga sudah bilang kak, bahwa di situ licin, awalnya bunda hati-hati, tapi setelah keluar dari toilet, mungkin lupa, jadinya kurang berhati-hati dan akhirnya terpeleset jatuh, lalu pingsan." kata Mutiara.
"Ehm, gitu? Jazakumullah khoir ya Tiara, udah nolongin bunda." kata Yusuf.
"Iya kak, waiyyakum." jawab Mutiara.
"Oya, gimana LPJnya? Sudah selesai?" tanya Yusuf.
"Alhamdulillah,sudah ready kak. InshaaAllah besok pas kongres siap di presentasi kan." kata Mutiara.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Jazakumullah khoir Tiara." kata Yusuf.
Kemudian, anginsudah mulai tenang, dan hujan perlahan mulai reda, Mutiarapun pamit pulang lebih dulu, karena dia masih memakai mantol.